Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Menyakiti


__ADS_3

Sean sedang sarapan berdua dengan istrinya. Meja makan besar dan ruangan mewah itu belum lagi hadangan yang bermacam macam hanya mereka berdua yang menikmati. Sabrina tak banyak tanya. Ia hanya bisa menurut dengan apa yang dikatakan suaminya. Sudah cukup beberapa hari ini di bentak oleh pria itu membuatnya sedikit takut. Entah kenapa hal hal kecil yang di langgar membuat Sean begitu emosi. Terlebih lagi saat Ia hanya menginjakkan kaki di halaman depan rumah. Itu yang paling mampu menyulut emosi suaminya.


"Sudah kenyang." Keluh Bri sambil meneguk jus jeruknya. Sean mengangguk kemudian meletakkan garpu yang sedang di pegang. Pria itu menghela napas. Ia benar benar tak mau bernada tinggi dengan sang istri. Namun rasa khawatir mendominasi membuat Ia tak mampu mengontrol emosi. "Maaf." Ucap Sean mengelus lembut pipi istrinya. Sabrina terlihat mengangguk kemudian tersenyum. Ia mengusap lengan kokoh yang tertutup oleh kemeja di dobeli jas itu. "Daddy berangkat dulu. Ana akan menemanimu jika bosan." Sean memberikan ciumannya kemudian segera melangkah pergi meninggalkan ruang makan setelah Sabrina mencium punggung tangannya.


Sabrina melangkahkan kaki menuju taman belakang di temani Ana. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Laptopnya sudah di sita dan Ia tak bisa menulis lagi. Mungkin dengan jalan jalan sebentar di tempat yang setiap hari Ia kunjungi akan sedikit mengatasi rasa bosannya. "Bibi. Ayo duduk." Ajaknya. Wanita itu tersenyum dan mengangguk kemudian duduk di samping Nyonya nya yang sudah duduk duluan. "Bibi sudah menikah?" Tanya Sabrina. "Saya tidak menikah Nyonya." Jawabnya sambil tersenyum. Bri hanya bisa mengangguk. Wanita dengan umur tiga puluhan itu mungkin punya pilihan sendiri dalam hidupnya.

__ADS_1


Matahari sudah naik. Sabrina sedang sholat dhuhur. Wanita itu sangat khusyuk hingga tak menyadari sepasang mata sedang mengamatinya dengan intens di balik jendela kamar yang terbuka lebar. Sosok itu melompat keluar dari balkon menuju bawah. Menaiki pagar pembatas hingga menghilang di balik rimbunnya hutan.


Sean datang dengan napas yang memburu. Pria itu langsung menuju kamar setelah memberikan pukulan telak pada para penjaga yang tidak becus menjada istrinya. Mereka dengan ceroboh membiarkan seseorang mengintai Sabrina. Sean mendapati hal itu dari CCTV saat hendak mengecek kegiatan sang istri. Sosok laki laki yang tak begitu jelas Ia lihat tengah berdiri di balik jendela yang terbuka dengan gorden yang melambai lambai tertiup angin. Sean langung pulang ketika mendapati hal itu dan menyuruh para penjaga di rumah untuk bergerak namun tidak ada yang berhasil menangkap.


Suara jeritan seorang wanita menggema di sebuah ruangan. Pukulan rotan yang mengenai punggungnya benar benar sangat sakit hingga tubuhnya bergetar. "Kenapa kau tidak menjaga istriku dengan baik. Dia terjatuh." Emosi Sean sudah menggebu karena tadi melihat memar di lengan Sabrina. Saat pria itu mengecek CCTV ternyata istrinya terjatuh saat berjalan dengan pelayan bodoh yang Ia pukuli saat ini. "Maaf Tuan." Kata itu berkali kali muncul namun tak bisa menurunkan emosi seorang Sean Fernandes.

__ADS_1


"Hentikan." Sabrina merengkuh tubuh Ana hingga pukulan keras mendarat di punggungnya. Sean terperanjat. Tanpa sengaja Ia melukai istrinya sendiri. Hatinya seakan di hujam ribuan belati mengingat kejadian yang beberapa detik lalu terjadi. "Jangan menyiksanya. Dia tidak salah." Ucap Sabrina dengan suara lemas. Pukulan terakhir itu akan Sean jadikan pukulan penutup. Tentu saja kekuatan yang di berikan di akhir berkali kali lipat dari sebelumnya. "Sayang." Sean buru buru meraih tubuh istrinya sebelum membentur dinginnya lantai. "Nyonya." Gumam Ana meloloskan air mata. Sean dengan segera menggendong tubuh ringan itu meninggalkan tempat.


Sean menggenggam tangan istrinya sambil mengecup beberapa kali lalu mengusap dengan lembut. Dokter telah memeriksa. Keadaannya baik baik saja hanya syok dan butuh istirahat. Pria itu beberapa kali menghela napas. Ia menyakiti Sabrina dengan tangannya sendiri. Meskipun tak sengaja namun Ia terus merasa bersalah. Hati dan otaknya yang tadi membara kini berubah di selimuti kabut tebal yang membuatnya sendu.


Dua jam berlalu. Sabrina mengerjapkan matanya. "Sayang." Ucap Sean mengecup kening mulus itu dengan lembut. "Jangan sakiti Bibi Ana. Dia tidak bersalah." Kata Sabrina lemah. Sean hanya bisa mengangguk menuruti keinginan sang istri. Membuat wanita itu tenang untuk menebus rasa bersalahnya. "Istirahat. Daddy temani." Sean ikut menidurkan diri di samping istrinya kemudian memeluk dengan pelan karena tak ingin menyakiti luka yang di buatnya di punggung Sabrina. "Maaf. Maafkan Daddy menyakitimu." Sean berkata dengan menahan sesak di dadanya. "Tidak apa." Jawab Sabrina pelan.

__ADS_1


__ADS_2