
Pintu ruangan terbuka membuat seorang pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya mengangkat pandangan. "Cepat katakan Jhon." Ucap Sean begitu tidak sabaran ingin mendengar laporan dari Sang Asisten. "Baik Tuan." Jawab Pria itu mulai menceritakan hasil penyelidikannya tentang gadis yang mengusik kehidupan Bosnya. "Nona Sabrina Alexander merupakan putri tunggal dari Tuan Araon Alexander dan Nyonya Brisia Alexander. Nona menempuh studi di sini sambil merintis restorannya dan tinggal sendiri di apartemen A. Kedua orang tuanya berada di Indonesia." Jhon terus melaporkan apa yang di dapatnya."Putri tunggal dari keluarga terpandang." Gumam pria itu sambil terus mendengarkan.
Sabrina baru saja keluar dari apartemennya hendak pergi ke restoran. Ia di kejutkan dengan beberapa kotak hadiah dan buket bunga yang tertata rapi di depan pintu. Gadis itu meraih amplop merah lalu membukanya. Sebuah tulisan tangan begitu rapi dengan wangi maskulin yang menyeruak saat lipatan kertas terbuka. 'Selamat pagi Sabrina Sayang.' Pesan singkat yang sukses membuatnya mengerutkan kening kebingungan. "Siapa ini?" Gumamnya pelan kemudian memasukkan barang barang itu ke dalam dan bergegas pergi.
__ADS_1
Sosok gadis memasuki dapur setelah mengganti pakaian. Ia langsung mengerjakan pekerjaannya untuk menyiapkan pesanan para pelanggan yang sudah menunggu. Suasana Restaurant tampak ramai seperti biasanya membuat aktivitas di dapur begitu sibuk. "Ruang VVIP 03. Minta di layani sendiri oleh Chef. Chef harus memasak dan mengantarnya kesana." Ucap seorang pramusaji menghampiri Sabrina. "Bilang saja kalau di dapur sangat sibuk." Jawab gadis itu sambil meneruskan kegiatannya. "Aku tadi sudah bilang Chef. Katanya tidak mau. Jika dia tidak mendapatkan apa yang di mau dia mengancam akan memberi penilaian buruk di restauran dan di sebarluaskan ke publik." Ucapnya dengan nada serius.
Sabrina mendorong pintu perlahan hingga terbuka sempurna. Sosok pria tersenyum bahagia melihat kedatangan gadis itu. "Selamat Siang Tuan." Sapanya dengan ramah. "Siang Sayang." Jawabnya membuat Bri sedikit terkejut namun memilih untuk mengabaikan. "Silahkan di nikmati. Saya permisi." Ucapnya namun Sean dengan cepat mencekal pergelangan tangan gadis itu. "Temani aku disini." Pintanya dengan nada menuntut. "Saya masih sibuk Tuan. Pekerjaan saya banyak." Sabrina menahan rasa kesalnya. Gadis itu tersenyum namun mengumpat dalam hati. "Temani aku atau aku akan menciummu. Bibirmu ini sangat menggoda sayang. Ouh...Jika kau tidak takut aku cium setidaknya takutlah jika aku akan menghancurkan restoranmu. Dan tebak apa yang akan terjadi? Karyawan mu akan jadi pengangguran." Ancam Sean sambil tersenyum. "Menjauh dariku. Jangan keterlaluan. Duduklah. Aku akan temani." Jawab Bri pada akhirnya setuju membuat laki laki di depannya bersorak menang dalam hati.
__ADS_1
Malam hari Sabrina baru saja pulang. Ia menatap barang barang yang masih bertumpuk di lantai. Ia membuka satu kotak dengan ukuran sedang. "Kenapa senekat ini." Gumamnya melihat kalung berlian cantik di dalamnya. Sabrina tak ambil pusing. Gadis itu bergegas membersihkan dirinya sebentar kemudian memilih untuk segera tidur dengan nyaman.
Sosok laki laki tiba tiba muncul di sebuah kamar dengan suasana temaram. Ia mendekat ke arah ranjang menghampiri seorang gadis yang tertidur pulas. "Cantik." Gumamnya menghirup kan sesuatu hingga Sabrina terlelap lebih dalam. Ia kemudian melepas atasannya ikut tidur bergabung sembari memeluk erat tubuh Sang pujaan. Sean mencium bibir manis yang membuatnya begitu hanyut meski ciuman tak terbalas. "Ini akan membuatku candu." Gumamnya mengusap bibir Bri dan menenggelamkan kepala gadis itu dalam dadanya yang bidang.
__ADS_1