
Minggu pagi yang cerah. Di sebuah hotel mewah seorang laki laki sudah siap dengan tuxedo nya. Ia komat Kamit membaca hapalan ijab qobul yang akan dilaksanakan beberapa saat lagi. "Sean. Ayo." Ucap Bill menghampiri adik iparnya. "Sabrina sudah disana?" Tanyanya. "Belum lah. Kalian akan di pertemukan saat sudah SAH. Ketara tidak sabaran sekali." Jawab Bill sambil membantu Sean berdiri kemudian menuntun Laki laki itu keluar.
Sean memasuki tempat acara. Semuanya begitu mewah dengan dominasi warna putih yang melambangkan kesucian. Ia duduk di depan calon mertuanya yang akan menikahkan sendiri. Ayah Sabrina menjabat tangan calon menantunya. "Bismillahirrahmanirrahim. Saudara Sean Gelel Fernandes bin Muhammad Ali Fernandes Saya kawinkan engkau dengan pinanganmu puteri Saya Sabrina Chairunisa Alexander dengan mas kawin seperangkat alat sholat, Tiga jenis logam mulia berbentuk perhiasan dengan berat masing masing 250 gram, dan 25 sertifikat tanah dan 1 unit mansion di bayar tunai.” Semua orang terkejut dengan mas kawin yang di berikan oleh Sean termasuk Ayah dan Bunda Sabrina sendiri. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Sabrina Chairunisa Alexander binti Araon Jusuf Alexander dengan maskawinnya yang tersebut, tunai." Jawab Sean dalam sekali tarikan napas. "Sah." Ucap Semua orang.
__ADS_1
Sabrina di tuntun Buda menuruni tangga. Semua mata tertuju pada gadis cantik dengan make up natural dengan balutan kebaya putihnya. Ia menuju ke arah Sean yang sekarang sah menjadi suaminya. Laki laki itu tersenyum menyambut kedatangan sang istri. Keduanya bertukar cincin. Bri mencium tangan suaminya kemudian di balas kecupan di kening oleh Sean.
"Selamat Nak." Ucap Ayah dan Bunda memeluk Putrinya. "Terimakasih." Jawab gadis itu. "Selamat Bri." Tamara dan Bella yang sekarang memeluk Sabrina. "Terimakasih." Balasnya sambil tersenyum. "Sean. Aku titip putriku." Kata Ayah dengan mata berkaca kaca. Ia tak menyangka akan berpisah dengan Bri nya. Ya meskipun tidak berpisah juga. Hanya dia sadar jika putrinya sudah berkeluarga maka prioritas utama adalah suami. "Pasti Yah." Kata Sean membalas pelukan mertuanya.
__ADS_1
Sabrina sudah berada di kamar bersama suaminya. Mereka akan menginap karena malam nanti masih ada acara resepsi. "Lelah ya?" Tanya Sean menghampiri Sabrina yang duduk sambil mencari pakaian ganti. "Tidak Om." Jawabnya. "Kamu panggil aku apa?" Sean menarik lengan sang istri dan memeluk tubuh Bri dengan erat. "Maaf." Ucapnya dengan lirih. "Jangan panggil begitu. Aku suami kamu." Ucapnya menangkup wajah Sabrina kemudian mencium bibir mungil itu. Merasa tidak ada penolakan Sean melakukannya lagi. Bri memang tidak menolak. Toh bagaimanapun juga Sean adalah suaminya. "Mau di panggil apa?" Tanya Sabrina. "Mas." Jawab Sean membuat Brin mengernyitkan kening. "Kata Jhon panggilan seperti itu sangat manis." Ucapnya sambil tersenyum.
Sabrina sangat cantik memukau dengan gaun pernikahan mewah yang di rancang oleh Bundanya sendiri. Semua mata tertuju pada pasangan suami istri yang sah secara hukum dan agama pagi tadi. "Selamat Tuan." Ucap Jhon yang beberapa hari ini memang tidak terlihat karena sedang mengurusi surat kepindahan Sean. "Terimakasih." Ucap Sean dan Sabrina bersamaan.
__ADS_1
Tamara memandangi adiknya. Sean tak pernah sebahagia ini. Terlebih saat kedua orang tuanya meninggal. Senyum saja bahkan sangat jarang. Namun di hari Ia mengenal Sabrina, dan di hari semenjak Ia melamar gadis itu senyuman tak luntur dari bibir Sean. "Terimakasih Bri. Telah membawa kebahagiaan untuk adikku. Maaf memaksakan." Ucapnya.
Sean menggenggam tangan istrinya. Mereka sedang duduk berdua untuk beristirahat kerena sedaritadi lelah berdiri menyambut tamu yang datang. "Minum dulu." Ucap pria itu membantu istrinya untuk minum. Sikap laki laki itu tak luput dari perhatian semua orang. Sean bersikap sangat manis dan lembut pada Sabrina. Ibu jarinya mengusap bibir mungil Bri yang tampak basah karena air minum. "Mas. Mau tanya sesuatu." Lirih Sabrina. "Tanya saja Sayang. Mau tanya apa?" Sean kembali menggenggam tangan sang istri. "Kenapa mas kawinnya sebanyak itu. Terlalu berlebihan." Ucap Bri langsung mendapat gelengan dari suaminya. "Tidak berlebihan sama sekali. Mas hanya ingin membahagiakanmu." Ia merengkuh tubuh ramping Bri untuk di bawa ke pelukan yang hangat.
__ADS_1