Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Istri Hebat


__ADS_3

"Dad. Aku boleh ya jalan jalan sama Andre dan Vi. Sudah lama mereka minta tapi belum juga aku turuti." Kata Sabrina sembari menyiapkan sarapan untuk suaminya. "Kemana?" Tanya Sean. "Ke Mall. Yang dekat kantor Daddy itu lo. Sebentar kok. Nggak lama lama." Jawabnya sambil duduk dan mulai menyuapi sang suami. Keduanya selalu makan sepiring berdua bahkan minum dari gelas yang sama. Tapi berhubung Sabrina harus minum susu hamil yang tidak mungkin Sean juga minum pria itu minum dengan gelasnya sendiri. "Boleh. Ikut Daddy ke kantor dulu. Nanti biar Victor dan Adrian bawa anak anak mereka kesana." Sabrina mengangguk senang. "Terimakasih." Ucap wanita itu sangat bahagia dengan hal sederhana seperti ini. "Masa begitu saja terimakasihnya. Cium dong." Sean menggoda wanita hamil itu sembari tangannya mengusap paha Sabrina yang berada di bawah meja.


Sean berjalan merangkul pinggang Istrinya. Ia menjawab semua sapaan karyawan karena dalam suasana hati yang sangat baik. Pria itu sangat bahagia karena menang banyak pagi ini. Lain kali akan dia ulangi lagi. Meminta imbalan atas permintaan sang istri begitu menyenangkan. "Pak Sean kenapa?" Bisik salah satu karyawan. "Entah. Mungkin dapat jatah lima rode dari istrinya." Jawab salah satu dari mereka.


"Mau minum apa sayang? Atau kamu mau sesuatu?" Tanya Sean setelah keduanya sampai di ruangan mewah itu. "Tidak mau apa apa Dad." Jawab Sabrina sambil duduk di sofa. Sean memeluk istrinya. Menikmati aroma wangi tubuh Bri yang menenangkan. "Tadi itu sangat menyenangkan Sayang. Daddy mau lagi." Kata Sean berbisik. "Dad. Ini di kantor. Lagipula aku juga malas harus mandi lagi. Pagi ini aku sudah mandi dua kali Dad." Jawab Sabrina. "Kalau begitu nanti malam." Sean mengecup pipi istrinya sampai basah.

__ADS_1


Pintu ruangan Sean terbuka membuat pria itu berdecak. "Mama." Panggil Andre dan Violet langsung memeluk wanita yang duduk dengan suaminya itu. "Hati hati. Mama sedang hamil asal tubruk saja." Ucap Victor berjalan diikuti Adrian di belakangnya. "Kita jalan jalan sekarang?" Tanya Bri langsung di jawab anggukan. "Dad. Kita berangkat." Bri mencium tangan suaminya diikuti anak anak. "Iya. Hati hati."Jawabnya mengecup kening sang istri. "Kita berangkat Om." Pamit Bri pada dua sahabat suaminya. "Iya. Jangan lama lama. Nanti suamimu mengamuk." Jawab Adrian sambil terkekeh.


"Kenapa?" Tanya Victor menelisik ekspresi sahabatnya. "Biasa. Paling dapat jatah full dari Sabrina. Kan sudah boleh begitu." Sean menatap Adrian. "Aku yang melakukan kenapa kamu yang tau?" Tanya Sean. "Halah. Tau saja. Aku kan juga mengalami itu. Yang tidak itu Victor. Sekali masuk sudah tidak lagi." Pria itu tergelak membuat Victor kesal. "Oh iya. Ada yang mau aku tanyakan. Benar kan kamu tidak macam macam dengan istriku saat kamu culik waktu itu." Ekspresi wajah Victor seketika berubah membuat Sean dan Adrian curiga. "Jawab." Kesalnya. "Tidak hanya..." Ia tak meneruskan kata katanya. "Hanya apa?" Adrian menyenggol lengan pria yang duduk di sampingnya itu. "Hanya mencium saat Bri tidur. Dia tidurnya kan sama anakku." Jawab Victor lirih. "Bajingan." Umpat Sean memberikan pelajaran pada duda anak satu itu.


"Pelan pelan sayang. Nanti jatuh." Tegur Sabrina saat kedua bocah itu berlarian. Wanita itu mengikuti Andre dan Violet sambil tersenyum membalas sapaan karyawan suaminya.

__ADS_1


Sabrina memasuki ruangan suaminya bersama anak anak. "Assalamualaikum." Ucapnya. "Waalaikumsalam. Kenapa bawa berat berat?" Kata Sean buru buru membantu istrinya. "Makan siang. Bibi An tadi yang mengantar." Ucap Bri. "Om Adrian sama Om Victor makan sekalian. Ini aku yang masak lo. Bibi tinggal angetin aja." Lanjutnya sembari duduk di sofa.


Selesai sholat dhuhur mereka makan siang bersama. "Wajah Om kenapa?" Tanya Sabrina. "Di pukul suamimu." Jawab Victor jujur. "Dia pantas mendapatkannya. Ini diminum dulu." Kata Sean ikut duduk bergabung setelah membuatkan susu untuk istrinya. "Memangnya Om Victor salah apa Dad?" Tanyanya. "Salah besar Bri. Kalau kamu tau juga marah. Sudah kita makan saja." Kata Adrian agar emosi Sean tak tersulut lagi.


Sabrina makan burgernya sambil menyuapi Sean. "Belum bisa makan nasi?" Tanya Victor di jawab gelengan. "Nggak usah tanya tanya sama istriku." Kata Victor memeluk posesif sang istri. "Dasar." Gerutu pria itu. "Papa. Kenapa Papa tidak menikah dengan Mama saja?" Taya Vi membuat Sean tersedak. "Hati hati Dad." Bri menepuk punggung suaminya sembari memberi minum. "Lihat, anakku saja setuju." Kata Victor menggoda. "Om." Tegur Bri. "Mama kan sudah punya suami Sayang. Om Sean kan suami Mama." Lanjutnya memberi pengertian sambil mengusap kepala gadis itu. "Ayah teman Vi ada yang punya tiga istri. Mama kan juga bisa." Jawabnya. "Beda sayang. Kalau laki laki boleh punya lebih dari satu istri. Kalau perempuan hanya boleh punya satu suami." Ucap Bri. "Kenapa begitu?" Tanya Adrian. "Islam tidak membolehkan poliandri karena ditakutkan munculnya masalah dalam menentukan ayah dari anak yang dikandung sang istri." Jawab Bri. "Nah. Sean, Kamu mau poligami nggak? Boleh tuh punya lebih dari satu istri." Tanya Victor. "Nggak. Cukup istriku tercinta saja untuk selamanya. Tidak ada yang menandingi. Dia sangat hebat dalam urusan agama, dapur dan Sangat luar biasa di ranjang. Dia bisa bertahan..." Kata Sean langsung di bungkam oleh istrinya. "Dasar tukang pamer." Kesal Adrian.

__ADS_1


__ADS_2