
Sean selesai membersihkan diri menyusul istrinya yang duduk bersandar di headboard ranjang. Tangannya terulur menyentuh wajah Bri dengan lembut. Mengusap rona merah di pipi gadis itu. Sabrina meletakkan buku yang Ia baca di atas nakas kemudian mendongak menata laki laki yang kini sudah sah menjadi suaminya. "Bolehkah?" Tanya Sean meminta izin dengan nada yang begitu lembut. Sabrina mengangguk. Ia tak mau di kutuk malaikat sampai pagi gegara tidak mau melayani suaminya.
Di sebuah kamar mewah dengan pencahayaan temaram. Sean mengungkung tubuh istrinya. Pria itu mulai membuka satu persatu kancing bajunya kemudian membuang asal. Sean mengecup kening Bri dengan lembut lalu turun menyusuri kedua mata dan hidung gadis itu hingga mendarat mulus di bibir merah Cherry yang lembab. Napas pria itu mulai memburu karena hasratnya telah berada di puncak. Ia mulai membuka kancing baju istrinya hingga tubuh putih mulut tanpa cacat itu terpampang jelas di depan mata. Sean mencumbu tubuh indah Sabrina. Menyusuri nya hingga tak terlewat sedikitpun kemudian naik mencium bibir istrinya dalam dalam. Tangan Sean bergerak ke bawah tanpa melepaskan pangutannya. "Mas. Sakit." Sabrina mencengkram lengan Sean merasakan yang di bawah selimut sana ada benda besar panjang yang menerjang. "Sabar Sayang. Mas akan lembut. Setelah ini tidak akan sakit. Bertahan sedikit lagi." Ucap Sean mendorong lebih hingga Sabrina menjerit pelan sambil menangis diiringi darah segar yang keluar dari bawah sana. Sean mulai mendorong pinggulnya dengan pelan sambil bibir tak berhenti bermain di tubuh istrinya. Satu jam berlalu suara erangan panjang terdengar dari mulut pria itu. Sean mendongak menggerakkan giginya menatap langit langit kamar saat yang di bawah sana tumpah. Ia menggulingkan tubuhnya ke samping untuk istirahat sejenak. Pria itu menciumi wajah istrinya dan memeluk dengan erat sembari mengusap punggung Bri yang begitu mulus. "Terimakasih." Ucapnya lirih.
Sabrina menggeliat. Wanita itu mendongak menatap suaminya yang ternyata masih terjaga. "Masih sakit?" Tanya Sean. Bri mengangguk. "Mau mandi." Lirihnya pelan. "Ini masih malam Sayang. Besok saja ya." Sabrina menggeleng. "Biar nanti bisa langsung sholat subuh." Jawabnya. "Baiklah. Mas siapkan airnya dulu." Kata Sean meraih jubahnya kemudian segera pergi ke kamar mandi setelah mengecup bibir sang istri. Sean menyiapkan air hangat kemudian memasukkan aroma mawar. Ia bergegas kembali ke kamar untuk menjemput Sabrina.
__ADS_1
"Tunggu Mas kan bisa." Ucap Sean sedikit berlari menghampiri istrinya yang berdiri sambil meringis menahan sakit. Pria itu menggendong tubuh ringan Bri untuk di bawa ke kamar mandi. "Maaf." Ucapnya sambil mengecup bibir sang istri.
Sean meletakkan tubuh Sabrina dengan hati hati di bathup. Ia ikut masuk ke dalam sambil memangku tubuh Bri yang polos. Wanita itu merasa tak nyaman karena di bawah sana ada yang mengganjal. Tangan Sean bergerak menyusuri tubuh sang istri. "Kita lakukan lagi. Mas jamin tidak akan sakit ketika kita sering melakukannya." Ucap Sean sembari mengecup punggung mulus wanita di depannya. Tanpa mendapat persetujuan pria itu melakukannya lagi. Kini dengan gerakan yang begitu lembut. Sekali menjamah tubuh istrinya Sean seperti kecanduan. Ia bahkan tak membiarkan Sabrina beristirahat hingga subuh menjelang.
Sean menemani istrinya. Wanita itu masih tertidur pulas dalam dekapannya yang hangat. Bel berbunyi membuat Sean mengumpat dalam hati. Perlahan Ia menarik lengan kekarnya yang menjadi bantalan sang istri. Pria mengecup bibir dan kening istrinya lalu beranjak pelan pelan menuruni ranjang.
__ADS_1
"Kakak." Ucap Sean terkejut melihat Tamara yang datang. "Ada apa?" Lanjut Sean bertanya. "Mau panggil kamu sama Sabrina untuk sarapan." Kata Tamara sambil celingukan mencari keberadaan Bri lewat pintu yang sedikit terbuka. "Nanti saja kita sarapan. Istriku sedang mandi." Jawab Sean berbohong. "Ada apa Tante?" Suara Sabrina terdengar dari dalam diiringi pintu yang terbuka lebar. "Mau panggil kalian untuk sarapan. Eh...Jangan panggil aku Tante. Aku ini kakak iparmu loh." Tamara menggoda. "Eh..Iya kak." Jawab Bri sambil tersenyum.
"Sarapan di kamar saja ya Sayang. Kamu pasti masih lelah." Bujuk Sean yang sedang berjalan pelan sambil menggandeng tangan istrinya. "Nggak enak sama semuanya sudah menunggu." Jawab Sabrina.
"Aunty." Bella berlari memeluk Sabrina dengan erat. "Lepaskan. Dasar." Ucap Sean menarik telinga keponakannya agar menjauh dari sang istri. "Kenapa sih Om." Ucapnya kesal sambil mengusap telinganya yang memerah. "Punya Om nggak usah kamu usik." Kata Sean mengajak istrinya untuk segera duduk. Pria itu juga menyapa kedua mertuanya yang sudah duduk di sana. "Maaf ya. Nunggu lama." Kata Sabrina tidak enak. "Enggak kok. Kita juga baru kumpul." Jawab Bill sambil tersenyum.
__ADS_1