Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Perusuh


__ADS_3

Semuanya berkumpul untuk sarapan bersama. Seperti biasa Sabrina mengambilkan makan untuk suaminya. "Makasih Sayang." Ucap Sean sambil tersenyum membuat hati dua orang di depannya menghangat. Ayah dan Bunda senang ada yang mencintai dan menyayangi putri satu satunya dengan tulus. Wanita itu mengangguk kemudian segera duduk untuk makan sarapannya sendiri. "Ayah, Bunda. Hari ini Sean akan mengajak istri untuk menginap di rumah Sean boleh?" Tanyanya meminta izin pada kedua mertua. "Boleh. Sabrina sudah menjadi istri kamu. Kamu boleh membawanya kemanapun. Jangan lupa kasih kabar ya." Tutur Ayah dan Sean mengangguk.


Sean menggenggam tangan istrinya dengan tangan yang satu memegang kemudi. "Fokuslah menyetir." Tegur Sabrina saat suaminya itu mencuri curi pandang padanya. "Iya Sayang. Jangan khawatir. Aku ini sudah ahli meskipun sering menggunakan supir." Jawabnya sambil terkekeh. "Minta cium dong." Lanjut Pria itu. "Kan sedang di jalan." Jawab Bri. "Nah sekarang berhenti." Kata Sean ketika lampu lalu lintas sedang merah. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah sang istri dan mencium bibir mungil Sabrina dengan rakus. Suara klakson dari belakang membuat Sabrina memukul dada suaminya. "hahahaha." Sean tertawa melihat pipi Sang istri yang memerah. "Bernapaslah Sayang." Ucap Pria itu sembari mengelus kepala sang istri kemudian melajukan mobilnya.


"Adik Ipar..." Tamara langsung memeluk Sabrina begitu wanita itu turun dari mobil. "Kakak." Ucapnya sembari membalas pelukan. "Jangan peluk peluk." Kesal Sean menarik tangan sang istri lalu menyembunyikan di belakang tubuhnya yang kekar. "Kau ini kenapa?" Tamara menatap adiknya dengan sengit. "Kakak yang kenapa? Peluk peluk istri aku. Pagi pagi sudah disini. Memangnya tidak ada kerjaan apa?" Cerocos pria itu. "Tidak ada kerjaan makannya kesini. Minggir. Aku mau mengobrol dengan adik Iparku. Dulunya aku ingin adik perempuan eh yang keluar kamu." Sean memutar bola matanya malas mendengar penuturan sang kakak. "Jangan sampai lecet." Ucap Pria itu membiarkan Sabrina bersama kakaknya. "Ouh...Ayo masuk. Kakak merindukanmu. Bella pasti senang jika kamu akan menginap disini. Berhari hari dia menanyakan kamu. Katanya kapan aunty kesini? Ouh...aku pusing menjawabnya. Dia sedang kuliah. Paling nanti pulangnya siangan." Tamara terus mengajak Sabrina mengobrol sambil menggandeng tangan wanita cantik itu untuk masuk ke dalam rumah. "Dasar wanita jadi jadian." Kesal Sean karena waktunya berdua dengan sang istri terganggu oleh kakak sengkleknya.

__ADS_1


Tamara dan Sabrina sedang berada di dapur karena mereka akan masak makan siang bersama. Sean hanya bisa mengikuti. Sebenarnya kesal. Tapi mau bagaimana lagi. Istrinya juga mau mau saja di suruh mengajari kakaknya memasak. Yang dia rasa tidak ada progressnya sama sekali. "Hari ini kita mau masak apa?" Tanya Tamara begitu antusias sambil memegang pisaunya. "Heh. Jangan sembarangan pegang benda itu di depan istriku. Kakak bisa melukainya. Suruh pelayan saja yang masak." Ucap Sean dengan kesal. "Daripada kamu mengomel tidak jelas disini. Pergi sana." Tamara mengusir sambil mengibaskan tangan. Keduanya berdebat sementara Sabrina sibuk menyiapkan bahan bahan dan bumbu. "Oh adik ipar. Gara gara suamimu ini kamu bekerja sendiri. Mari aku bantu." Tamara menghampiri iparnya. "Potongnya bukan begitu kak. Agak tipis lebar. Jika kecil begitu akan hancur ketika di ungkep." Ucapnya membenarkan Tamara yang sedang memotong daging begitu kecil.


Selesai masak, Sean mengajak istrinya ke kamar karena wanita itu ingin sholat dhuhur. "Kamar mandinya di sini sayang." Ia mengandeng tangan Bri. Wanita itu mengangguk kemudian melepas jilbabnya. "Biar aku bawakan." Kaya Sean dengan sigap mengambil Alih jilbab istrinya. "Terimakasih." Pria itu mengangguk kemudian mencium bibir Bri singkat sebelum wanita itu berwudhu.


"Aunty." Bella langsung memeluk Sabrina begitu wanita itu memasuki ruang makan. "Sudah pulang?" Tanyanya. "Sudah. Ayo makan. Katanya Aunty dan Mama yang memasak." Bri mengangguk kemudian segera duduk di kursi yang sudah di siapkan suaminya. Ia langsung menyiapkan makan untuk Sean. "Terimakasih Sayang." Ucapnya begitu lembut.

__ADS_1


"Ini namanya apa Aunty? enak sekali." Tanya Bella sembari makan dengan lahap. "Itu namanya Rendang." Jawab Sabrina sambil tersenyum. "Jangan banyak tanya kamu. Kalau makan makan saja " Ketus Sean terganggu dengan mulut keponakannya yang begitu cerewet. "Kenapa sih Om. Muka datar kaya triplek begitu. Senyumnya sama istri saja. Dasar." Bella kesal sambil melahap makanannya. "Pelan pelan Bel. Kamu itu." Tegur Tamara. "Jangan di dengarkan mereka berdua Bri. Mereka memang tidak bisa akur " Lanjutnya sambil terkekeh.


Tamara dan Bella terus mengajak Sabrina mengobrol sementara Sean hanya menjadi penonton saja. Mulut kakak dan keponakannya itu terus bercerita kesana kemari. "Sean istrimu tertidur." Lirih Tamara menyenggol bahu adiknya. "Kalian banyak bicara. Dia mengantuk." Ucapnya kemudian segera menggendong sang istri agar tidur dengan nyaman di kamar. "Mau kemana Bel?" Tamara mencekal tangan anaknya. "Mau ikut aunty." Wanita itu dengan cepat menggeleng. "Kita pulang. Biarkan Bri Istirahat." Tuturnya.


Sean tersenyum. Pria itu melepaskan jilbab istrinya. Ia ikut berbaring kemudian mendekap tubuh Sabrina dengan erat sambil menepuk punggung wanita itu. "My Baby." Gumamnya kemudian tersenyum sembari mengecup bibir mungil sang istri dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2