Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Kapan Aku Punya Keponakan?


__ADS_3

Pukul setengah lima Sabrina terbangun dari tidurnya. Wanita itu melepaskan sang suami dengan pelan kemudian segera beranjak dari ranjang.


Setelah sholat dan menyiapkan kebutuhan Sean Sabrina langsung menuju ke dapur untuk membuat sarapan. "Nyonya." Sapa mereka semua melihat kedatangan Wanita cantik itu. "Selamat pagi." Bri tersenyum ramah. "Selamat pagi Nyonya." Jawab mereka bersamaan. "Biar kami yang siapkan sarapannya Nyonya." Ucap salah satu dari mereka. "Biar aku saja. Hari ini ingin makan pancake." Bri mulai mengambil bahan bahan di bantu mereka semua.


Sean terbangun dari tidurnya. Tidak mendapati sang istri pagi pagi buta seperti ini sudah menjadi hal biasa. Sangat jarang ketika Ia membuka mata dan Sabrina masih ada di tempat. Wanita itu selalu bangun subuh untuk sholat dan menyiapkan segala keperluannya. Ia masih enggan untuk sekedar mendudukkan diri. Berbaring seperti saat ini rasanya sangat nyaman. Sembari menikmati aroma wangi istrinya masih tertinggal.

__ADS_1


"Oh. Sudah bangun." Ucap Sabrina cukup terkejut mendapatkan pelukan tiba tiba dari suaminya. "Iya. Ayo mandi. Hari ini temani Daddy di kantor ya." Pintanya hanya di jawab anggukan oleh sabrina. Seminggu sudah Ia terus terkurung di rumah membuatnya merasa bosan. Meskipun keluar dengan suaminya tak akan bebas juga namun setidaknya bisa melihat jalanan cukup menjadi hiburan tersendiri.


Sean dan Istrinya sedang sarapan berdua. "Kenapa tidak makan pancake?" Tanya Pria itu melihat sang istri hanya menyiapkan pancake untuknya. "Aku ingin makan apel saja." Jawab Sabrina sambil mengambil potongan apel di atas piring dengan garpu. "Apa kenyang hanya makan apel saja? Daddy suapi." Kata Sean langung mendapat gelengan dari istrinya. Pria itu hanya bisa pasrah menuruti keinginan Sang Istri. Ia tak mau memaksa Sabrina dan membuatnya tak nyaman.


"Kenapa cemberut begitu?" Tanya Adrian saat sahabatnya memasuki ruangan. "Tidak apa." Jawab Pria itu datar. "Katanya datang dengan istrimu. Mana si cantik sabrina?" Sean menatap tajam Adrian seakan ingin melahapnya hidup hidup. "Kamu bilang apa?" Ucapnya dengan nada tinggi dan raut wajah emosi. "Hey. Santai saja. Tidak perlu seperti itu." Adrian tertawa karena jika menyangkut sang istri Sean sangat sensitif. "Dimana Istrimu?" Tanyanya lagi karena tidak mendapat jawaban. "Di Mall depan bersama Bella." Jawabnya sambil menyandarkan punggung di sofa. "Bergegaslah. Ada meeting penting hari ini. Sebagai asisten dan sekertaris pribadimu yang sekarang karena Jhon sedang bertugas akan ada peraturan baru. Bukan lagi Tuan menurut pada asisten melainkan asisten yang harus di turuti Tuan. Jadi bergegaslah." Adrian berdiri sambil merapikan jasnya. "Keparat kau." Kesal Sean kemudian pergi begitu saja.

__ADS_1


"Aunty. Mau beli apa?" Tanya Bella begitu senang bisa jalan jalan berdua dengan istri Omnya. "Bagaimana kalau kita nonton film dulu. Ada film baru." Ajak Sabrina langsung mendapat anggukan dari keponakannya. Keduanya mulai berjalan menuju ke loket.


Sean baru saja selesai meeting. Pria itu langsung panik karena belum mendapati sang istri kembali. "Sebenarnya kemana bocah itu membawa istriku." Gumamnya khawatir bercampur kesal. Ia membalikkan badan saat mendengar pintu ruangannya terbuka kemudian langsung memeluk Bri yang datang dengan Bella diikuti Adrian di belakangnya. "Baru juga empat jam Om. Seperti tidak bertemu bertahun tahun saja." Sindir Bella melihat sikap Sean yang berlebihan. "Diam kamu." Jawabnya. "Sudah makan?" Tanya sean di jawab gelengan. "Mau makan di kantin saja." Ucap Bri sambil tersenyum.


Sesuai keinginan Sabrina. Kini mereka berempat sudah duduk di kantin dengan makanan di depan masing masing. Sean tidak menyentuh makanannya. Pria itu hanya mengamati Sabrina yang sedang berdoa kemudian mulai melahap spaghetti bolognese dengan pelan. "Enak ya?" Tanya Sean tersenyum sembari menyangga kepalanya menghadap sang Istri. "Enak." Jawab Bri singkat. "Dasar Bucin. Dunia milik berdua yang lain numpang." Gumam Adrian kesal dengan tingkah sahabatnya. "Aku dengar. Jangan kira aku dikira tuli ya." Sean menyindir. "Aunty. Kapan aku punya keponakan?" Tanya Bella membuat Sabrina tersedak. "Pelan pelan sayang." Sean dengan sigap memberi minum sembari menepuk punggung istrinya dengan lembut. "Bel. Setelah makan pulanglah dengan supir di depan. Om akan susul nanti." Bella menatap Sean dengan kesal. "Kenapa nggak bareng aunty saja?" Tanyanya. "Aunty harus temani Om sebentar. Kamu jangan banyak tanya. Lakukan saja." Tegas pria itu tak mungkin bisa dibantah lagi.

__ADS_1


__ADS_2