
Sean langung bergegas setelah menemukan keberadaan sang istri yang sudah genap sepekan menghilang. Kini pria itu sudah berada di new york. Menempuh perjalanan menuju tempat dimana Victor menyembunyikan istrinya.
Rombongan mobil berhenti di sebuah hunian megah. Dua orang Pria turun diikuti beberapa orang berbadan kekar yang berjalan di belakangnya. Tidak ada yang berjaga membuat mereka dengan leluasa masuk ke dalam. "Victor." Teriak Sean memenuhi ruangan. "Aku fi sini." Jawabnya sembari berjalan menuruni tangga. "Kau kemanakan istriku?" Tanyanya segera memberikan pukulan bertubi tubi saat mantan sahabatnya itu sudah berada di pijakan paling dasar. "Keparat kau. Urusanmu denganku bukan dengan istriku." Ucapnya lagi tak mau berhenti memukuli. "Kau membuat adikku bunuh diri. Hanya dia yang aku punya. Kau menghancurkan hidupku." Tadinya tak memberi perlawanan kini Victor dengan gencar memberikan pukulannya hingga dua orang itu saling serang. "Kau. Kau yang membuat adikmu begitu. Bukan aku. Sebagai kakak kau tidak berguna." Bentak Sean membuat Victor berhenti. "Apa maksudmu?" Tanya Pria itu menghentikan pukulannya. "Kembalikan istriku aku akan menceritakan semuanya." Victor mengangguk setuju. Ia tau Sean orang yang selalu menepati janji. "Dia ada di atas." Jawabnya.
__ADS_1
"Daddy." Sabrina meneteskan air matanya buru buru memeluk erat sang suami. "Sayang. Maafkan Daddy lalai menjagamu. Maafkan Daddy membuatmu terlibat dengan semua ini." Ucap Victor ikut menangis. "Kamu baik baik saja? Apa bajingan itu memperlakukanmu tidak baik?" Tanyanya sembari mengecek keadaan sang istri. Sabrina dengan cepat menggeleng. "Ayo kita pulang." Ajak wanita itu langung di jawab anggukan.
"Mami." Panggil seorang gadis kecil membuat Sabrina dan Victor menghentikan langkahnya. "Mami mau kemana?" Tanyanya memeluk Bri dengan erat. "Mami harus pulang sayang." Jawabnya sambil mengelus lembut kepala Violet. "Mami jangan pergi." Ucap gadis itu sudah menangis.
__ADS_1
Victor menghampiri mereka. "Sean. Kita perlu bicara. Biarkan mereka dulu. Kau harus menjelaskan sesuatu padaku." Ucapnya. Pria itu mengangguk kemudian berjalan mengikuti Victor setelah mengecup kening sang istri dengan lembut.
Semuanya duduk berkumpul dengan damai. Tidak ada aura permusuhan sama sekali. Hanya saja situasi sedikit canggung sekarang. "Kenapa Papa terluka?" Tanya Violet melihat Papanya diobati oleh Adrian. "Hanya main main saja." Jawab Pria itu sambil tersenyum pada putrinya. "Kenapa Mami tidak mengobati Papa?" Tanyanya lagi membuat Sean jengkel. "Tidak boleh sayang. Mami hanya boleh menyentuh suami Mami." Jawab Bri dengan lembut. "Sejak kapan anakmu memanggil istriku begitu?" Sean menatap pria di sebrang sana dengan kesal. "Entah. Tanya saja sendiri." Jawabnya malas.
__ADS_1
Sean mengajak Istrinya untuk pulang. Adrian, Victor dan putrinya juga ikut serta dalam satu pesawat. "Sean." Panggil Victor pada Pria yang sedang duduk dengan kesal karena istrinya tidur dengan Violet. "Hm." Jawabnya. "Kamu sudah menikah beberapa bulan kenapa belum punya anak? Apa benihmu itu tidak...." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Victor sudah mendapat pukulan keras. "Apa maksudmu? Membuat selusin pun aku bisa jika mau. Aku ingin berdua dengan istriku. Lihat belum punya anak saja sudah banyak yang mengganggu." Kesalnya.
Sabrina menggeliat merasakan pelukan erat dari seseorang. "Daddy." Ucap wanita itu. "Vi mana?" Tanyanya kebingungan. "Sudah Daddy pindahkan ke kamar sebelah. Aku merindukanmu. Aku tidak bisa tidur dan makan dengan baik saat kamu tidak ada." Ungkapnya. Sabrina menelisik wajah suaminya yang pucat dan sedikit tirus. "Aku juga merindukan Daddy." Jawab Bri membalas pelukan suaminya. "Istirahat. Perjalanan masih lama." Ucapnya menciumi seluruh wajah sang istri kemudian ikut memejamkan mata.
__ADS_1