
Sean menggandeng tangan Sabrina memasuki kantor. Pria itu berjalan tegap sambil tangan kiri menenteng tas laptop milik istrinya. "Syukurlah ada Nyonya Sabrina." Batin mereka dalam hati karena beberapa hari ini Sean datang sendiri dan sikapnya begitu kejam. "Selamat Pagi Tuan, Nyonya." Sapa mereka. "Pagi." Jawab Sabrina sambil tersenyum ramah. Tak mau istrinya jadi pusat perhatian Sean bergegas membawa wanita cantik itu masuk ke lift. "Pakai name tag mu." Tegas pria itu saat melewati seorang karyawan laki laki. "Baik Tuan." Jawabnya.
Sean menghampiri Sabrina yang sudah duduk di sofa lalu membawa istri kecilnya dalam pangkuan. "Silahkan di hapus." Kata Sean memberikan ponsel sang istri yang tadi di bawanya. "Apa?" Tanya Bri kebingungan. "Semua foto atau video kamu yang ada di media sosial." Kata Sean sambil mengecup bibir lembab di depannya. "Harus ya?" Tanyanya di jawab anggukan. "Baiklah." Wanita itu segera melakukan apa yang diinginkan suaminya. "Semua kontak laki laki di ponsel kamu sudah Daddy hapus. Hanya ada nomor Ayah dan aku." Sabrina menatap suaminya. "Ini berlebihan." Ucap Bri. "Tidak sayang. Daddy hanya tidak mau kamu berkomunikasi dengan laki laki lain." Kata Sean mengusap pipi mulus sang istri. Sabrina kecewa. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur. Hilang sudah silaturahmi dengan kawan kawan sekolah dulu karena sikap posesif Suaminya.
__ADS_1
Sean duduk di kursi kerjanya sementara Sabrina duduk di sofa. Keduanya sama sama sibuk dengan urusan masing masing. Sean mencuri pandang. Ia melihat Sabrina begitu sibuk memangku laptopnya dengan jemari yang lincah bergerak di keyboard. "Kenapa sedari tadi tidak menoleh padaku sama sekali. Apa pekerjaannya itu lebih menarik dari suami sendiri?" Gumam Sean. "Sayang." Panggil Pria itu sambil berjalan membawa berkasnya kemudian duduk menempel pada Sabrina. "Iya." Jawab Bri masih asik dengan kegiatannya. "Kamu sedang sibuk apa?" Tanya Sean. "Sedang meneruskan menulis Novel. Beberapa hari ini aku tidak menulis." Jawab Bri. Pria itu melempar berkas ke atas meja kemudian menarik istrinya untuk duduk di pangkuan. "Mas. Katanya mau kerja. Kenapa begini?" Bri mencoba duduk sendiri namun Sean mencegahnya. "Pekerjaanku membosankan." Ucap Pria itu. "Ayo pulang ke rumah Daddy." lanjutnya lagi sembari mengecup pipi sang istri. "Selesaikan dulu." Jawab Sabrina. "Aku malas Sayang." Keluh Sean. "Sejak kapan malas? Kata Kak Tamara kamu gila kerja." Sabrina menoleh menatap suaminya. "Sejak mempunyai istri kecil ini. Aku malas bekerja ingin terus berdua bersama kamu." Kata Sean. "Selesaikan dulu. Setelah itu kita pulang ke rumah Daddy." Sean mengangguk kemudian segera menyelesaikan pekerjaannya sembari memangku sang istri.
Kini Sean dan Istrinya sudah berada di rumah. Selesai mengganti pakaian dengan cepat Sean bergegas menghampiri istrinya. Wanita itu tampak sibuk memasak makan siang. "Sudah selesai?" Tanya Bri merasakan pelukan hangat dari Sean. "Sudah." Jawab pria itu mengecup pipi sang istri. "Tunggu di meja makan. Nanti akan siap." Kata Sabrina namun suaminya menggeleng. "Ingin seperti ini." Jawab Pria itu.
__ADS_1
"Mau kemana kamu Sean?" Tanya Bill melihat Iparnya berdiri. "Mau ajak Istriku pulang. Kalian mengerubunginya terus. Bikin pusing." Ucap Sean menarik tangan Sabrina untuk diajak pulang. "Eh...Jangan begitu. Iya. Duduk saja sama istri kamu. Kita disini." Kata Tamara mengalah takut Sabrina benar benar diajak pulang suaminya. Mau ketemu dengan Iparnya itu kan sulit.
Sean duduk kembali sambil merangkul sang istri. "Aunty. Aku boleh kan main ke rumah aunty?" Tanya Bella. "Tidak boleh." Jawab Sean cepat. "Aku tanya Aunty. Boleh kan?" Sabrina mengangguk sambil tersenyum. "Boleh. Datang saja." Jawab istrinya membuat Sean menghela napas.
__ADS_1
Sore hari setelah mandi Sean mengajak istrinya jalan jalan di taman belakang. "Langitnya bagus." Tunjuk Sabrina melihat semburat jingga. "Kamu suka?" Tanya pria itu sembari mengecup tangan sang istri yang berada dalam genggaman. Bri tampak mengangguk. "Ayo duduk dulu." Ajak Sean. Ia menyandarkan kepala Sabrina di dadanya sambil memeluk wanita itu. "Jangan tinggalkan Daddy sampai kapanpun." Ucapnya mengecup kepala sang istri yang tertutup jilbab. Sean bahagia. Namun semakin hari Ia semakin khawatir tentang masa kedepannya.