
Sosok laki laki sedang berjalan di bandara. Ia baru saja mendarat beberapa menit yang lalu setelah menempuh perjalanan yang jauh. Matanya menatap seorang gadis berbalut pakaian putih yang tertutup. Ia nampak memeluk sepasang suami istri yang di duga adalah orang tuanya. "Tuan." Jhon heran karena tiba tiba Sean berhenti. Ia lalu mengikuti arah kemana mata Tuannya itu tertuju. Sabrina. Tatapan Sean mengarah pada gadis cantik yang sedang memasuki mobil. Meskipun pakaiannya berbeda apalagi dengan Jilbab besar yang menutup kepalanya. Namun Jhon tidak melupakan wajah Sabrina. "Kita ke mansion Jhon." Ucap Sean.
Sepanjang perjalanan Sean hanya terdiam menatap ke arah luar. Hatinya masih bergetar sampai sekarang. Aura yang keluar dari Sabrina membuatnya segan. Apalagi dengan penampilan baru gadis itu yang sangat tertutup. Sabrina memang tidak mengenakan pakaian terbuka. Pakaiannya serba panjang. Namun yang membedakan kali ini adalah pakaian yang mengidentifikasikan gadis itu seorang yang baik dalam agama. "Sudah sampai Tuan." Ucap Jhon. Tak banyak bicara Sean hanya mengangguk kemudian segera turun dan masuk ke dalam huniannya.
Sean memasuki kamar mewahnya. Laki laki itu membersihkan diri sebentar. Ia masih mengenakan handuk utuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Sean memberhentikan pantulan dirinya di cermin. Badan kekarnya dengan perut kotak kotak menandakan sering berolah raga. Kulitnya memang tidak terlalu putih karena gen dari sang Papa yang Asli Indonesia sementara Mamanya berdarah Eropa.
__ADS_1
Baru saja duduk ingin memikirkan sesuatu. Suara teriakan membuat Sean menghela napas. "Kakak kenapa kesini? Oh kalian juga." Ucap Laki laki itu terkejut melihat Ipar dan keponakannya juga datang. "Kakakmu meminta kami untuk menetap disini juga." Ucap Bill merebahkan tubuhnya di sofa. "Hah." Sean membelalakkan mata. "Kami akan tinggal di rumah lama Nenek Om. Yang di sebelah itu." Jelas Bella. "Kalian ini. Tidak memberiku kebebasan." Ucap Sean kesal karena Tamara tak bisa membiarkannya mandiri. "Kamu tinggal dengan kakak saja urakan apalagi dibiarkan sendiri." Ucap wanita itu. "Bagaimana? Kamu akan ke rumah Sabrina hari ini?" Lanjutnya bertanya. "Entahlah. Masih di pikirkan." Jawab Sean. Tamara menatap adiknya dengan heran karena semangat Sang adik tiba tiba saja surut. "Apa yang membuatmu seperti ini?" Sean hanya bisa menggelengkan kepala. "Kakak akan tau sendiri." Jawabnya.
Di sisi lain seorang gadis sedang menghabiskan waktu dengan kedua orang tuanya setelah beristirahat sebentar. "Yah. Nanti malam Bri jalan jalan ya. Pengen martabak yang depan Mall itu." Ucap Sabrina meminta izin. "Duh Sayang. Di tunda dulu ya. Nanti malam ada acara makan bersama. Teman Ayah yang baru datang mengundang. Bunda sudah janji mau bawa kamu sama Bunda. untuk bertemu mereka. Tidak enak menolak. Sudah belasan tahun kita tidak bertemu." Jawab Ayah. Bri mengangguk sambil tersenyum. "Terimakasih." Ucap Ayah sambil mengelus rona pipi di wajah Putrinya.
Malam hari.
__ADS_1
Sebuah mobil berhenti di hunian yang cukup besar dan mewah. "Silahkan masuk Tuan Nona." Ucap Seorang pelayan mengantarkan ketiga orang untuk masuk dan segera menuju ke ruang makan.
"Kak Araon. Kak Briasia." Ucap Tamara melihat sepasang suami istri itu memasuki ruang makan. "Hey Ra." Jawabnya keduanya sambil tersenyum. "Apa kabar?" Tanya Wanita itu sembari memeluk istri dari kawan lamanya. "Alhamdulillah baik. Kalian apa kabar?" Tanyanya. "Baik. Mana Putri kalian? Pasti sangat cantik." Ucap Tamara celingukan. "Dia sedang mengangkat telpon sebentar. Nanti juga datang. Bella sudah sebesar ini. Sangat cantik. Kamu seumuran anak Tante." Wanita itu mengelus pundak gadis berkacamata tebal yang sedang berdiri di dekat mamanya. "Oh. Ini adik kamu?" Tanyanya. "Iya. Dia Sean. Tau tuh. Masih mengejar gadis sampai sekarang belum menikah juga." Ucap Tamara tergelak mengajak dua orang itu untuk segera duduk.
"Permisi." Ucap seorang gadis memasuki ruang makan setelah beberapa saat membuat mereka membelalakkan mata. "Sabrina." Tamara dan Bella berdiri memeluk gadis itu. Walaupun dengan pakaian berbeda namun Ia tetap mengenali Sabrina. "Kalian saling kenal?" Tanya Bunda membuat ketiganya kesulitan. "Bella teman kuliah Bri Bun." Jawab gadis itu cepat. Ia sedikit terintimidasi dengan tatapan Sean yang tak lepas darinya.
__ADS_1
Bri agak canggung karena sedaritadi Sean selalu menatapnya. Apalagi posisi tempat duduk mereka yang berhadapan. "Sekarang sedang sibuk apa Bri?" Tanya Bill tau jika Sabrina tidak nyaman. "Menulis buku dan mengurus restoran Om. Sesekali juga membantu Bunda di butik." Jawabnya sambil tersenyum. "Wah hebat. Lain kali ajari aku memasak lagi ya Bri." Kata Bella langsung mendapat anggukan. "Sering sering kesini ya Bri. Sering main biar Tante dan Bella tidak kesepian." Ucap Tamara. "Kalian tidak kesepian jadi aku yang kesepian." Jawab Bunda sambil terkekeh. "Maklum anak satu satunya dan cucu satu satunya." Tamara tersenyum kedua sahabatnya itu hanya punya Sabrina seorang.
Tamara memukul lengan Sean dengan kencang. Ia kesal dengan adiknya itu. Ia tak menyangka ternyata yang telah di culik Sean adalah anak dari teman lamanya. "Mau taro di mana muka kakak dengan kelakuan kamu itu. Sean. Bagaimana jika Sabrina bercerita pada kedua orang tuanya?" Kesal Tamara. "Dia bukan tipe orang yang banyak bicara hal yang tidak penting seperti kakak. Jadi tenang saja." Jawab Sean dengan santai. "Kamu masih berani mengejarnya?"Tanya Bill. "Masih. Bahkan sangat bersemangat. Jantungku masih bergetar sejak tadi hanya karna melihat senyum gadis itu." Ucapnya sambil memegangi dada. "Oh Tuhan. Adikku sudah gila." Tamara melemparkan bantal sofa namun Sean tak menghiraukan.