Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Mulut Sean


__ADS_3

Setelah beberapa hari menginap di rumah mertuanya Sean mengajak Sabrina untuk pulang. "Wah.." Ucap Wanita itu takjub dengan taman indah di dalam rumah dengan akuarium besar sebagai wadah berbagai jenis ikan. "Kamu suka sayang?" Tanya Sean dengan lembut sembari memeluk istrinya dari belakang. "Suka. Terimakasih." Bri membalikkan badan memeluk sang suami. "Kita lihat perpustakaan baru kamu. Ayo."


Lagi lagi apa yang di berikan suaminya membuat terpukau. Perpustakaan sangat luas menghadap ke taman belakang dengan buku yang memenuhi setiap dindingnya. Desain kuno di dominasi warna putih tulang memberikan kesan begitu nyaman. Belum lagi terdapat sofa besar untuk bersantai yang menghadap ke jendela.

__ADS_1


Sudah puas mengajak istrinya berkeliling kini Sean sedang mendurkan kepalanya dengan manja di paha Sabrina. "Mami." Panggil seorang gadis kecil menerobos masuk diikuti beberapa ora di belakangnya tak lain tak bukan yaitu Adrian, Andre dan Victor yang menyebalkan. "Mama. Mama kemana saja. Andre kangen." Ucapnya mulai memeluk Sabrina manja tak memperdulikan Sean yang masih tiduran. "Jangan protes sama Mama. Protes sama Om Sean. Dia yang tidak memperbolehkan kalian ketemu Mama." Kata Adrian sambil duduk. "Kalian ini. Baru saja tenang." Ia dengan terpaksa duduk karena momen kebersamaanya dengan sang istri sudah tak mungkin di lanjut lagi jika sudah begini.


Baru saja duduk posisi Sean langsung di gantikan dua bocah menyebalkan itu. "Kalian ini." Kesalnya kemudian berpindah ke singgle sofa. "Vi. Mamimu kemana?" Tanya Sean asal. "Mami Vi ini." Jawabnya sembari memeluk Sabrina. "Bukan. Mami yang melahirkan Vi." Jelas Sean lagi. "Kata Papa Mami nggak mau Vi lahir. Dulu Vi sempat mau di bunuh saat di dalam perut. Jadi Vi tidak di besarkan Mami sejak kecil. Papi membawa Vi pergi dengan meninggalkan uang yang banyak sebagai rasa terimakasih karena mau melahirkan Vi." Jelas gadis itu membuat mata semua orang membulat. "Kau menceritakan itu semua pada anakmu?" Tanya Adrian tidak percaya. "Buat apa di sembunyikan. Toh kenyataannya memang begitu. Biar dia tau Maminya tidak menginginkannya dan tidak menanyakan wanita sialan itu lagi." Jawab Victor. "Om." Tegus Sabrina karena pria itu berkata kasar di depan anak anak. "Ayo makan eskrim." Ajak Bri dan keduanya mengangguk semangat. "Jangan banyak banyak Sayang." Tutur Sean saat ketiga orang itu melangkah pergi.

__ADS_1


"Om Sean." Panggil Andre sambil berlari menghampiri tiga orang pria yang masih dalam mode saling beradu argumen. "Ada apa?" Tanya Sean ikut panik. "Mama pingsan." Jawab bocah itu sembari mengatur napasnya.


Sean dengan setia menggenggam tangan Sabrina yang masih memejamkan mata. "Gimana Dok?" Tanyanya. "Nyonya hamil Tuan. Selamat" Jawab wanita paruh baya itu sambil tersenyum. "Hamil?" Tanya Sean memastikan apa yang di dengarnya tidak salah. "Iya Tuan. Nyonya hamil." Victor dan Adrian saling padang. "Selamat. Kami sekarang percaya." Ucap Keduanya sedikit meledek.

__ADS_1


"Sayang." Ucap Sean ketika istrinya membuka mata. "Selamat Bri kamu akan jadi Ibu." Tamara menyampaikan dengan wajah girang. Bri tersenyum kemudian duduk di bantu suaminya. "Gimana rasanya?" Sean mengusap tangan sang istri dengan lembut. "Masih sedikit mual." Jawab wanita itu pelan. "Makan dulu Aunty. Bella bawakan mangga." Ia membuka kotak yang sedaritadi di pegang. "Apa apaan kamu? Jangan sembarangan." Kesal Sean. "Kamu yang apa apaan. Minggir. Orang mual itu pengennya makan yang seger seger." Jawab Tamara. Sean pasrah melihat Sabrina di suapi mangga oleh keponakannya. "Enak?" Tanyanya di jawab anggukan. "Nah setelah ini kamu akan merasakan bagaimana melayani istri yang ngidam." Kata Adrian sambil terkekeh. "Ngidam itu apa Pa?" Tanya Andre. "Ngidam itu ibu hamil yang pengen sesuatu. Minta yang aneh aneh Bri. Buat suamimu kalang kabut." Victor tertawa membayangkan pria kejam itu akan kerepotan menuruti keinginan sang istri. "Jangan khawatir Sayang. Minta apapun akan aku turuti. Semuanya. Tanpa kecuali. Bahkan rumah mereka berdua sekalipun." Ucapnya menyombongkan diri. "Lagi. Kalian sekarang harus mengakui jika aku masih gagah dan Strong. Buktinya benihku jadi kan? Kalian mau bukti lagi? Akan aku buat....." Sabrina membulatkan mata mendengar apa yang dikatakan suaminya. "Daddy." Pekik wanita itu sembari membungkam mulut Suaminya. "Kenapa mulut Daddy vulgar sekali? Siapa yang mengajari? Ada anak anak disini." Ucapnya membuat semua orang terkekeh.


__ADS_2