Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
My Beloved Little Wife


__ADS_3

Mobil berhenti di sebuah mansion mewah. Seorang pria dengan setelan serba hitam turun lalu berjalan tegap diikuti dua laki laki kekar di belakangnya. "Selamat datang Tuan." Sambut para penjaga mempersilahkan pria itu untuk masuk.


Suara langkah kaki semakin mendekat. Pintu ruangan terbuka lebar. Sosok pria yang sedang duduk disana seketika berdiri. "Tuan." Sapanya sembari menunduk memberi hormat. "Duduk." Jawab Pria itu singkat. Mereka sama sama duduk berhadapan. "Kesepakatan kita telah tercapai Tuan. Saya kemari ingin mengantarkan uang cash untuk pembelian kemarin. Lalu saya juga membawa pesanan anda." Ucap pria di sebrang sana sembari meletakkan kotak di atas meja. Sosok pria berpakaian hitam itu meraih kotak yang baru diletakkan kemudian membukanya. "Bagus. Ini yang aku mau." Ucapnya merasa puas.


Sean baru keluar dari kamar mandi. Pria itu memeluk istrinya yang tidur begitu lelap. Jemarinya membelai lembut wajah cantik Sabrina. Ia mengusap bibir mungil itu dengan gerakan yang begitu pelan. "Um..." Bri mengerjapkan mata. "Kamu terganggu sayang. Maaf." Ucap Pria itu merengkuh tubuh sang istri lebih dalam dan menepuk punggung Sabrina dengan lembut. "Kamu mandi lagi?" Tanya Bri di jawab anggukan suaminya. "Tidur lagi. Daddy memelukmu." Sean mengecup bibir mungil itu kemudian ikut memejamkan mata merasakan kehangatan dari tubuh istrinya.

__ADS_1


Pagi hari semuanya berkumpul untuk sarapan bersama. "Terimakasih Sayang." Ucap Sean. "Sama sama." Jawab Bri sambil duduk. "Sean. Kamu tidak bekerja?" Tanya Ayah pada menantunya. "Bekerja Yah. Nanti agak siangan baru berangkat." Jawabnya. "Sayang. Kamu di rumah, Ikut bunda atau ikut suami?" Sabrina menoleh. Wanita itu menatap suaminya. "Boleh ikut Bunda Mas?" Tanyanya. "Tentu saja boleh." Jawab Sean sambil tersenyum. "Bri ikut Bunda. Tapi nanti mampir ke restoran dulu ya. Ada beberapa hal yang harus di urus. Cuma sebentar Bun." Bunda mengangguk menanggapi putrinya.


Sean sedang duduk memangku sang istri yang sedang sibuk mengikat dasi untuknya. "Nanti kamu pulang jam berapa sayang?" Tanya Sean sembari mengecup bibir yang berada di depan matanya. "Makan siang nanti aku pulang kalau tidak ya jam 2."Jawab Bri sambil merapikan kerah kemeja suaminya kemudian membantu pria itu memakai jas. "Hm. Baiklah. Selain ke restoran dan butik jangan pergi kemana mana." Ucap Sean langsung di jawab anggukan. "Sayang aku punya sesuatu untuk kamu." Sean mengeluarkan kalung dari sakunya. Ia melepas jilbab sang istri dan memakaikannya. Sebuah kalung dengan huruf S begitu cantik di leher mulus Sabrina. "Sangat cantik. Jangan di lepas." Kata Pria itu memberikan peringatan tegas kemudian menciumi leher sang istri membuat Bri merasa geli. Wanita itu tertawa. Hati Sean menghangat melihat istrinya. Ia merengkuh tubuh Sabrina. Memeluk wanita itu dengan erat sambil memejamkan mata menikmati aroma yang begitu menenangkan.


"Kamu sudah pulang Sayang?" Ucap pria itu begitu lembut berbicara dengan istrinya lewat ponsel saat berjalan di lobi. "Kalau datang sama istri nggak marah marah. Kenapa Nyonya Sabrina tidak ikut sih." Keluh para karyawan. Meraka tau jika Sean membawa sang istri pria itu tak akan sekejam ini. "Em...Daddy akan pulang. Love you." Lanjutnya lagi sesaat sebelum menaiki mobil mewahnya.

__ADS_1


Begitu sampai di rumah Sean langsung ke kamar untuk segera bertemu istri tercinta. "Sayang." Pria itu langsung memeluk Sabrina yang sedang memangku laptop sambil bersandar di headboard ranjang. "Sudah pulang." Sedang mengangguk kemudian mencium bibir dan pipi sang istri. "Bersih bersih dulu. Mau makan?" Pria itu menggeleng. "Mau tidur saja." Ucapnya.


Selesai membersihkan diri dan minum air yang di berikan istrinya Sean bergegas ikut tidur bergabung bersama Sabrina. Pria itu memeluk tubuh Sang Istri dengan erat sembari tangan bergerak liar. "Mas." Bri menatap suaminya. "Daddy ingin. Sudah tidak tahan lagi." Keluhnya. Tanpa mendapat jawaban. Sean mengungkung tubuh Bri. Tau apa yang akan terjadi Sabrina menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Suaminya sudah menciumi setiap inchi tubuh tanpa terlewat. Meninggalkan jejak. Menambah jejak semalam yang belum pudar. "Ouh. Akh...Sayang...." Ucap Sean merasa begitu nikmat. Pria itu mendorong pinggulnya dengan gerakan lembut hingga semakin cepat.


Suara erangan panjang terdengar untuk yang kesekian kalinya. Sean mendongak menatap langit langit kamar sambil menggertakkan giginya setelah mencapai pelepasan. Ia menggulingkan tubuhnya ke samping memeluk istrinya dengan erat. "My beloved little wife." Ucapnya mencium bibir Sabrina penuh kelembutan. "Mau mandi." Kata Bri setelah pangutannya terlepas. "Daddy akan memandikanku Sayang." Ucap Sean segera menggendong sang istri ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2