Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Rahasia


__ADS_3

Beberapa mobil sampai di sebuah hunian megah. Dua orang dengan pakaian formal turun di ikuti beberapa orang berbeda kekar. Semuanya tampak tenang tidak seperti biasa. Seakan mereka memberikan jalan membiarkan masuk dan menemui tuan pemilik rumah ini.


"Victor." Panggil Sean dengan nada tinggi menerobos memasuki ruangan. "Hy kawan. Lama tidak bertemu." Ucapnya sembari membalikkan kursi menatap Sean dan Adrian yang baru datang. "Kau main main denganku bajingan. Kau membuat istriku terluka." Sean berjalan mendekat mencengkram kerah kemeja mantan sahabatnya itu. "Urusamu denganku. Jangan libatkan istriku." Ia menatap tajam penuh emosi. "Aku hanya menguji cintamu." Jawabnya sambil terkekeh. "Keparat kau. Kau membuat istriku terluka. Sialan." Sean memberikan pukulan bertubi tubi hingga hidung dan sudut bibir Victor mengeluarkan darah. "Yang kau lakukan pada adikku lebih parah." Ujarnya. "Jagan ganggu istriku. Kau akan menyesal jika mengetahui semuanya." Ucap Sean penuh makna kemudian bergegas pergi.


Viktor masih duduk di kursinya sembari mengobati luka. Ia memikirkan apa maksud dari perkataan Sean barusan. "Apa yang tidak aku ketahui?" Tanyanya dalam hati. "Papa." Seorang gadis menghampirinya dengan wajah khawatir. "Papa kenapa?" Tanya Violet melihat memar di wajah pria itu. "Papa hanya berlatih." Jawabnya sambil tersenyum. "Papa. Apa Papa tau. Aunty Sabrina mengirim hadiah." Ucapnya tersenyum sembari meletakkan kotak di atas meja kerja Papanya. "Apa itu?" Tanya Victor. "Belum tau. Vi akan membukanya." Jawab gadis itu sembari melepaskan pita kemudian membuka kotak perlahan. "Wah..Manisan dan kue." Ucapnya. "Makanan manis membuat orang bahagia. Aunty membuatnya sendiri. Semoga violet suka." Ia membaca surat kecil di dalamnya. "Kamu senang?" Tanya Victor. "Sangat senang. Baru kali ini ada yang begitu perhatian dengan Vi." Jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Sean masih berada di kantor setelah menyelesaikan meetingnya. "Sampai kapan kau akan menyembunyikan semuanya?" Tanya Adrian. "Entahlah. Aku hanya memegang amanat gadis itu." Jawab Sean. "Tapi kau yang di rugikan. Bukan hanya kau. Pikirkanlah sabrina juga." Tutur Adrian.


"Ya. Ada apa?" Jawab Sean mendapat panggilan dari salah satu orang di rumah. "Nyonya pingsan tuan." Ucapnya. Tanpa banyak bicara Sean langung bergegas pulang. "Ada apa?" Tanya Adrian. "Istriku pingsan." Jawabnya berjalan cepat.


Sean langsung melesat keluar dari mobil dan memasuki rumah begitu sampai. Pria itu nampak berlari langsung menuju kamar. "Bagaimana?" Tanyanya pada dokter yang sedang memeriksa. "Hanya demam dan kelelahan." Jawab Dokter kemudian memberikan obat.

__ADS_1


"Kamu belum makan kan?" Tanya Bri sedang di suapi oleh Sean. "Aku makan nanti saja. Masih kenyang." Jawabnya sambil tersenyum. "Kamu juga makan." Ia meraih sendok yang di pegang suaminya lalu mulai menyuapi pria itu. "Sayang. Jangan sampai kelelahan. Daddy tidak mau kamu sakit." Ucap Sean sembari mengusap lembut pipi sang istri. Sabrina mengangguk patuh menanggapi suaminya.


Malam hari Sean tak berhenti mengikuti sang istri. Wanita itu sibuk memasak untuk makan malam karena suaminya hanya makan sedikit jika koki di rumah yang memasak. "Sudah siap." Kata Bri menyajikan tumis daging sebagai menu terakhir. "Biar pelayan yang bawa. Kita tunggu di ruang makan saja." Pria itu mencuci tangan istrinya lalu segera menggandeng untuk diajak pergi.


Sean rencananya ingin makan berdua. Namun kedatangan Adrian dan anaknya membuat semua itu gagal. "Mama. Sudah baikan?" Tanya Andre. "Alhamdulillah sudah." Jawab Bri sambil tersenyum. "Mama harus makan yang banyak supaya tidak sakit. Oh ini luka apa Ma?" Andre memperhatikan luka kecil di tangan Sabrina. "Hanya terjatuh." Jawab Bri. "Mama harus hati hati. Jangan jatuh lagi." Ucapnya hanya di tanggapi anggukan. "Andre sama sepertimu. Bermulut manis." Gumam Sean masih bisa di dengar semua Adrian.

__ADS_1


Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga. Sean membiarkan istrinya makan cemilan yang di bawa oleh anak sahabatnya itu. "Mamanya tidak pernah menanyakan keadaan Andre?" Tanya Sean. "Tidak. Dia mana peduli. Bahkan semenjak kami bercerai dia sudah gonta ganti pasangan berkali kali." Jawab Adrian. "Oh. Kau kalah dengannya. Apa jangan jangan sulit melupakan." Pria satu putra itu berdecak. "Bukannya sulit melupakan. Aku kini jijik dengan wanita. Tapi entah kenapa melihat istrimu tidak demikian. Aku malah merasa damai dan bahagia. Boleh aku bawa pulang?" Sean mencengkram lengan Adrian seakan ingin meremukkan tulangnya. "Berkata begitu lagi. Aku tidak segan membuangmu." Geramnya. "Papa. Aku ingin belajar mengaji dengan Mama boleh?" Tanya Andre meminta izin. "Boleh. Tentu saja boleh." Jawab Adrian sambil tersenyum menahan sakit di lengannya.


__ADS_2