
Seorang gadis cantik sedang duduk. Tangan dan kaki tampak masih diikat agar tidak melawan dan mencoba untuk kabur untuk kesekian kali percobaan. "Waktunya Sarapan Sayang." Ucap Sean memasuki kamar diikuti beberapa pelayan yang menyajikan makanan di atas meja. "Lepaskan aku." Ucap Sabrina sambil menatap tajam laki laki yang sekarang sudah duduk di depannya. "Oh Sayangku. Jangan menatapku seperti itu." Ia terkekeh sembari mengelus wajah cantik Sabrina dengan lembut membuat gadis itu memalingkan wajahnya. "Sarapan dulu." Ucap Sean meraih piring untuk menyuapi gadisnya. "Buka mulutmu." Tegasnya namun tidak di hiraukan. "Jangan uji kesabaranku. Buka mulutmu." Tegasnya sedikit membentak. Dari semalam Bri tidak mau makan membuatnya Khawatir. "Aku tidak mau. Lepaskan aku." Teriaknya sudah lelah karena dua hari terkurung di tempat terkutuk ini. Sean juga menyita ponselnya untuk mengirim pesan palsu pada keluarga Jika putri mereka baik baik saja. "Sudah aku bilang kamu hanya bisa lepas ketika mau menikah denganku." Laki laki itu berbicara sambil menahan emosinya.
Sean sudah hilang kesabaran karena tak berhasil membujuk Sabrina agar mau memakan. "Mau apa Om?" Ucapnya ketika laki laki itu semakin mendekat. "Memberimu pelajaran berharga." Jawabnya Sembari menggendong tubuh Bri dan menjatuhkan di ranjang. Sean mengungkung tubuh Sabrina kemudian menyatukan keningnya dengan kening gadis itu. Napasnya tersengal sengal karena menahan gejolak yang sudah berada di puncak. "Jangan menguji kesabaranku." Ucapnya dengan suara begitu dingin. Ia kemudian beranjak membiarkan Gadisnya sendiri. Berlama lama disini membuatnya takut akan terjadi sesuatu hal yang berujung fatal.
"Iya. Aku akan pulang." Ucap Sean menghela napas sembari memasukkan ponselnya ke saku celana setelah panggilan berakhir. Tamara terus menanyakan keberadaanya karena semenjak Sabrina disini memang tidak pulang ke rumah. Ia memutuskan untuk kembali lagi ke kamar untuk memeriksa keadaan Gadisnya itu.
__ADS_1
Sean berjalan kemudian duduk di ranjang. Ia melepas ikatan di tangan dan kaki gadis yang kini telah terlelap. Ia mengusap pergelangan tangan dan kaki Bri yang tampak memerah. Laki laki itu mengecup kening dan pipi Sabrina kemudian mengambil obat di laci dan mengoleskan dengan hati hati.
"Mau kemana kita?" Tanya Sabrina mengahmpiri Sean yang sudah duduk menunggu. Laki laki itu tak menjawab begitu takjub dengan penampilan gadisnya yang memukau dengan dress selutut yang di pilihkan nya. "Kita akan datang ke sebuah acara Sayang." Jawabnya sambil menggandeng tangan Bri. "Baik. Setelah semua urusanmu selesai lepaskan aku sesuai yang Om katakan tadi." Ucapnya menuntut. Sean tak menjawab memilih untuk mengajak gadisnya segera berjalan.
Sabrina hanya diam tak peduli dengan Sean yang sedang mengobrol dengan beberapa orang. "Nona ini sugar baby mu tuan? Jika iya bolehlah berbagi denganku. Dia sangat cantik." Kata Seorang pria sambil terkekeh membuat Sabrina memanas. Gadis itu berdiri dari duduk kemudian menampar pria yang menghinanya dengan sangat kencang. "Tutup mulutmu. Memangnya aku ini terlihat seperti gadis yang membutuhkan uang? Sekali lagi kamu menghinaku. Aku tidak akan segan bertindak lebih." Ucapnya berlalu pergi. "Kau menganggu calon istriku. Bereskan dia." Ucap Sean pada bawahannya kemudian menyusul Sabrina.
__ADS_1
"Maaf." Ucap Sean memeluk gadisnya. Pria itu merasa bersalah karena kurang cepat mengatasi hingga Bri bertindak sendiri. "Lepaskan aku. Om sama saja." Kesalnya sambil mendorong tubuh Sean. "Lepaskan aku. Kita sudah sepakat." Ucapnya lagi. "Satu tepat lagi. Kita akan mengunjungi rumah kakakku dulu." Pinta Sean menggandeng tangan Sabrina untuk segera pergi.
"Bella. Papa. Sean membawa seorang gadis." Ucap Tamara girang membuat Ayah dan anak yang sedang minum itu seketika tersedak. "Kenapa kalian ramai begitu?" Tanya Sean sembari menggandeng tangan Sabrina mendekati mereka. "Om. Tante." Sapa Bri Ramah. "Kamu cantik sekali." Ucap Tamara memeluk Sabrina. "Sabrina." Bella menghampiri. "Oh Bella. Kamu..." Gadis berkacamata tebal itu mengangguk. "Om Sean itu Omku." Ucapnya sambil tersenyum. "Namamu Sabrina nak?" Tanya Bill ramah. "Iya Om." Jawab Sabrina tersenyum membuat Sean menghela napas. Dengannya saja gadis itu sangat jutek.
Tamara dan Bella mengajak Sabrina mengobrol. Mereka sangat antusias dengan kedatangan gadis cantik itu. "Oh jadi kamu mengelola restoran ya sambil kuliah?" Tanya Tamara. "Iya Tante. Tapi rencananya Bri akan pulang ke Indonesia karena Ayah sudah mendesak. Kalau restorannya mungkin tetap jalan sesekali Bri akan berkunjung ke sini." Jawabnya membuat Sean membelalakkan mata. Ia tak akan membiarkan Bri pulang. Ia akan terus membuat gadis itu selalu berada bersamanya.
__ADS_1