Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Puasa Pertama Sean


__ADS_3

Hari ini hari pertama Sean berpuasa. "Bangun Dad. Sahur." Ucap Sabrina sambil menepuk pelan pipi suaminya. "Nanti dulu Yang. Masih ngantuk." Jawabnya malah memeluk erat pinggang sang istri. "Nanti keburu imsak lo. Ini puasa pertama kamu. Jangan sampai tengah hari nanti merengek kelaparan. Ayo bangun dulu ah." Ajaknya mengusap lengan kekar itu dengan lembut. "Iya Sayang." Sean bergegas duduk.


"Bangun juga akhirnya." Kata Ayah terkekeh melihat kedatangan menantunya. "Maaf Yah. Sean nggak terbiasa bangun pagi." Jawabnya tidak enak sembari duduk. "Nggak papa. Namanya juga belajar." Ucap pria itu memaklumi. Sabrina menyiapkan makan untuk suaminya. "Makasih Yang." Kata Sean tersenyum. "Sama sama." Jawab Bri sambil duduk. "Nanti ke pasar yuk Bun." Ajak wanita hamil itu. "Mau beli apa sih? Kamu lagi hamil. Puasa juga. Apalagi cuaca panas begini nanti kecapean." Jawabnya lembut khawatir dengan keadaan Bri. Tadinya semua melarang wanita itu untuk berpuasa namun Bri tetap bersikeras karena dokter mengizinkan. "Nggak papa kok Bun. Aku nggak akan cepek." Ia mulai merengek. "Iya iya. Nanti kita ke pasar." Jawabnya menyerah jika Bri sudah begini.


Pagi hari sekitar jam 7 Sabrina dan Bunda sudah sampai di pasar tradisional tentu saja di temani Sean. Pria itu mana rela pisah sama istrinya barang sebentar saja. "Kenapa nggak di swalayan aja sih Yang?" Tanyanya berbisik karena merasa tak nyaman dengan orang orang yang memperhatikan Istri cantiknya. "Yang aku beli nggak ada di swalayan Dad." Jawab Bri buru buru mengikuti Bundanya yang sudah berjalan beberapa langkah di depan.

__ADS_1


Sabrina dan Bunda membeli bahan bahan untuk membuat es dawet. "Pakai tape Bun." Kata wanita itu. "Jangan. Lagi hamil nggak boleh makan tape." Jawab Bunda. "Kenapa?" Bri penasaran. "Nggak baik buat janin. Tidak pakai tape juga enak kok Sayang." Ia mengangguk paham dengan penjelasan Bundanya.


Sean mengikuti Istri dan mertuanya sambil membawa belanjaan mereka. "Mau beli apa lagi?" Tanya Bunda. "Manggis. Mau." Bri berhenti di depan penjual buah lokal. "Sama apalagi?" Tanya Bunda mengambilkan manggis untuk putrinya. "Sawo juga Bun. Sudah bertahun tahun nggak makan sawo." Jawabnya sambil tertawa kecil.


"Capek?" Tanya Ayah melihat menantunya datang sambil membawa belanjaan yang cukup banyak. "Lumayan Yah. Di pasar pengap. Orangnya banyak banget." Jawab Sean. "Memang begitu." Kata Ayah menepuk bahu kekar pria itu. "Sean ke dapur dulu Yah." Pamitnya langsung mendapat anggukan.

__ADS_1


Sabrina terbangun dari tidur siangnya. Perlahan wanita itu menyingkirkan lengan kekar Sean dan turun dari ranjang. Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan hati hati agar suaminya tidak bangun.


"Nduk." Sapa Bibi melihat kedatangan anak majikannya. "Bikin apa Bi?" Tanyanya. "Bikin rica rica ayam. Ibu tadi minta di masakin rica rica ayam." Jawabnya. "Sebentar tidurnya." Bunda menghampiri putrinya. "Sudah nggak ngantuk Bun." Jawab Sabrina tersenyum. "Suami kamu mana? Biasanya menempel." Tanyanya sambil tertawa kecil. "Masih tidur." Jawab Bri. "Kita bikin es dawetnya sekarang ya Bun. Sudah jam 2. Nanti taruh di kulkas." Ajak Bri dan Bunda mengangguk menurutinya.


Suasana tampak berbeda di puasa tahun ini dengan kehadiran Sean yang melengkapi. Ini juga pertama kalinya bagi Sabrina menjalankan Ibadah puasa dengan sang suami. Kini wanita itu sedang makan sambil menyuapi suaminya. Sean tak malu meskipun ada Ayah dan Bunda. Dia merindukan momen seperti ini dengan Sabrina. Semenjak kembali ke rumah Ia sama sekali tak pernah di suapi Sang Istri. "Kalau Ayah sama Bunda nggak ada setiap hari begini?" Tanya Ayah tersenyum melihat sikap manja menantunya. "Iya. Nggak papa kan Yah?" Sean bertanya setelah menelan makanannya. "Enggak justru makan sepiring berdua dengan istri itu baik. Bisa menjalin hubungan yang semakin erat." Jawab mertuanya membuat Sean mengangguk.

__ADS_1


Semua berkumpul setelah sholat taraweh berjamaah di masjid rumah. "Enak?" Tanya Sean menyuapi istrinya manggis. "Enak." Jawab Bri. "Belanja kebutuhan bayi kapan?" Tanya Bunda begitu antusias. "Masih empat bulan lagi lahirannya Bun." Jawab Ayah. "Nggak Papa dong." Jawab wanita itu mengusap perut putrinya dengan lebut. "Rencana mau punya momongan berapa?" Tanya Ayah. "Satu aja cukup Yah." Jawab Sean membuat sepasang suami istri itu mengernyitkan kening. "Satu. Kasian kalau nggak ada temannya." Kata Bunda sedikit keberatan namun Ia juga tak mau ikut campur dengan keputusan anak dan menantunya.


__ADS_2