Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Kau Menghina Istriku


__ADS_3

Semuanya sedang berkumpul untuk sarapan bersama. Sean tampak lahap memakan sarapan yang disiapkan istrinya. "Bunda. Nanti pulangnya jam berapa?" Tanya Sabrina. "Selesai nanti kita langsung pulang. Sebentar kok Sayang. Yang lama itu make up nya." Jawab Bunda sambil terkekeh. Bri mengangguk paham. "Kamu nggak masalah kan Sean? Bunda mau bawa Sabrina sebentar?" Lanjut wanita itu bertanya pada menantunya. "Nggak kok Bun." Jawabnya sambil tersenyum. Mau bilang keberatan kan juga tidak mungkin. Ayah hanya tersenyum. Pria itu tau sebenarnya Sean keberatan namun tak berani menolak keinginan mertuanya.


Sabrina mengantarkan suaminya sampai ke depan. Wanita itu tersenyum pada Jhon. "Jangan senyum sama dia. Jangan melihat dia." Ucap Sean posesif sembari menangkup wajah cantik sang istri. "Daddy berangkat dulu." Sean mengecupi wajah istrinya membuat Sabrina malu karena disana masih ada Jhon. "Jangan malu begitu." Sean terkekeh melihat reaksi lucu sang istri. "Hati hati." Bri mencium tangan sang suami. Sean mengangguk kemudian segera menuju mobil setelah meninggalkan kecupan lembut di kening istrinya.

__ADS_1


Sean masih dalam perjalanan. Pria itu sibuk dengan tabnya. Ia sedang menelisik akun sosial media sang istri. "Banyak pengikut." Gumamnya ada berapa juta follower di akun Instagram Sabrina. Kebanyakan wanita cantik itu mengunggah buku karyanya, makanan dan foto foto tempat yang pernah di kunjungi dari berbagai negara. Sean melihat satu video istrinya sedang membaca Qur'an mendapat banyak like dan komentar memuji kecantikan alami sang istri. "Harus di hapus." Kata Sean. "Ini juga." Lanjutnya lagi tak suka istrinya menjadi konsumsi publik. "Nanti aku akan memintanya untuk menghapus." Ia beralih ke majalah fashion milik mertuanya. "Kalau ini aku tidak bisa berkutik." Sean menghela napas melihat berbagai foto cantik sang istri dengan busana muslimah yang tertutup.


Dua puluh menit mobil sudah terparkir mulus di depan gedung pencakar langit. Seorang pria turun saat pintu di buka oleh asistennya. Ia berjalan tegap memasuki kantor dengan wajah datar dan aura dinginnya yang begitu mendominasi. "Selamat Pagi Tuan." Sapa Karyawan menyambut kedatangan Sean. Pria itu tak menjawab kemudian berhenti sebentar. Mata elangnya menelisik mengamati sekitar. "Sudah Saya bilang rok harus di bawah lutut. Apa kalian tidak tau?" Tanya Sean dengan Sura baritonnya. "Maaf Tuan. Saya akan segera mengganti." Ucap seorang wanita ketakutan. "Ok. Jika kejadian yang sama terulang lagi saya tidak segan untuk memecat." Kata Sean berlalu pergi.

__ADS_1


"Jhon." Panggil Sean yang sedang duduk di kursinya sambil memeriksa berkas. "Ya Tuan." Pria itu mendongak mengabaikan berkas yang sedang di periksa nya. "Em...Menurutmu. Wanita itu suka apa? Dari semua yang kau sarankan untuk di berikan pada istriku rasanya dia biasa saja. Kau membohongiku Jhon?" Tanya Sean menuding. "Bukan Tuan. Menurut survey wanita memang suka di beri hadiah mewah seperti itu. Namun Jika nyonya tidak suka berarti Nyonya berbeda dengan perempuan lain." Sean menatap Asistennya itu dengan tajam. "Maksudmu apa?" Tanya Pria itu mengira Jhon mengatai jika Sabrina Wanita tidak berkelas. "Maksud saya. Mungkin Nyonya suka hal yang sederhana. Misalnya jalan jalan berdua atau pergi beli makanan pinggir jalan. Dulu kan saya pernah bilang ke Tuan jika Nyonya suka makanan pinggir jalan yang sederhana itu." Kata Jhon menjelaskan. "Bukannya itu tidak bersih dan tidak sehat?" Jhon mengangguk lemah membenarkan apa yang dikatakan Tuannya.


Seorang wanita memasuki ruangan Sean dengan pakaian yang cukup terbuka. "Siapa dia Jhon?" Tanya Sean masih fokus pada berkas yang di bacanya. "Saya Belinda Tuan. Saya ingin mengantarkan minum Tuan." Ucapnya dengan nada yang dilembut lembutkan. "Bukannya aku meminta seorang laki laki untuk mengantar. Kamu tidak mendengarkan perintahku Jhon?" Tanya Sean. "Saya memerintahkan laki laki Tuan. Tapi saya tidak tau kenapa dia malah yang datang." Jawab Jhon. "Maaf Tuan. Orang yang Tuan John perintahkan sedang ada urusan." Wanita itu berjalan mendekati meja Sean. Ia menunduk rendah sembari memperlihatkan dadanya yang terbuka. Sean tersenyum miring. Pria itu menghempaskan cangkir kopi panas hingga mengenai wanita itu. "Kamu ingin menggoda saya ya? Kamu tidak tau siapa Saya? Lihatlah dirimu. Apa kamu bisa disandingkan dengan istri saya?" Ucap Sean membentak. "Tentu Tuan. Istri Tuan pakaiannya tertutup. Pasti tidak menarik." Jawab Wanita itu. "Sangat menarik. Siapa bilang tidak? Aku bahkan tergila gila padanya." Sean memakai sarung tangan hitamnya. Pria itu berdiri kemudian menjambak rambut wanita itu dengan kasar. "Kau berani menghina istriku. Kau berurusan denganku." Ucapnya menyeret wanita itu dengan kasar lalu menghempaskan keluar ruangan setelah memberi tamparan. Sean tak peduli degan kondisi memar dan bekas tersiram kopi panas ditubuh wanita itu. Ia bergegas menutup pintu dengan kasar. "Dasar penggoda. Rasakan." Bisik para karyawan mencibir.

__ADS_1


__ADS_2