
Sean baru pulang. Disana sudah ada kakak, Ipar dan keponakannya sudah menunggu. Pria itu sebenarnya sudah tinggal sendiri semenjak kedua orang tuanya meninggal. Namun kakak perempuannya meminta untuk tinggal bersama sampai Sean menemukan jodoh. Sudah seperti bocah bukan? "Om tumben pulang sore." Kata Gadis berkacamata tebal yang sedang sibuk membaca sesuatu. "Pekerjaan Om sudah selesai semua." Jawabnya sambil merebahkan tubuh di sofa. "Mandi sana. Dasar perjaka tua. Di usia sekarang kamu belum juga menikah. Lihat teman temanmu bahkan sudah punya anak." Sean tak peduli. Baginya hal seperti ini sudah biasa. "Bel. Mamamu cerewet sekali." Ucapnya sambil memejamkan mata. "Dasar. Apa yang kamu cari? Wanita seperti apa yang kamu inginkan Sean? Kakak rasa banyak yang mengejarmu. Atau kamu pengen kakak jodohkan dengan seseorang?" Ucap Tamara. "Sudah Ma. Jangan di tekan terus. Biarkan Sean mencari wanita idamannya sendiri." Bill menenangkan istrinya takut jika wanita itu menjodohkan Sean dan berakhir buruk seperti yang lalu.
__ADS_1
Sean membuka mata. Pria itu menajamkan penglihatannya melihat foto seorang gadis yang masih dalam penyelidikan terpampang jelas di majalah yang sedang di baca keponakannya. "Om." Kaget Bella karena tiba tiba saja majalahnya di rebut oleh Sean. "Bel. Gadis ini siapa?" Tanyanya menunjuk foto Sabrina. "Baca sendiri. Itu kan ada profilnya." Jawab Bella. "Om malas membaca. Jelaskan saja." Gadis itu tampak menghela napas. "Dia Sabrina. Dulu pernah satu kelas dengan aku. Sekarang sudah lulus duluan. Dia mahasiswi terbaik di kampus. Oh lagi....Dia sangat pintar sampai mengambil 3 jurusan dan lulus dalam waktu bersamaan." Jelasnya panjang lebar. "Kamu mengenalnya?" Tanya Sean. "Tidak terlalu dekat. Hanya saja dia pernah menolongku beberapa kali waktu aku di bully. Sampai sekarang aku tidak di bully lagi." Jawabnya. "Kenapa kamu tidak cerita ke Mama nak?" Tanya Tamara. "Maaf Ma." Bella tersenyum. "Lagi lagi....Ceritakan semuanya sama Om." Ucap Sean membuat Kakak dan Iparnya tersenyum. Baru kali ini laki laki itu sangat tertarik pada seorang gadis. "Mandi sana Om. Bau..Bella mau mengerjakan tugas dulu." Ucapnya berlalu pergi. "Dasar menyebalkan. Seperti Mama nya..."Lirih Sean. "Apa kamu bilang...?" Tamara memukul adiknya itu dengan bantal sofa.
__ADS_1
Sabrina menoleh menatap Seseorang yang tiba tiba duduk di dekatnya. "Hy...Lupa denganku?" Tanya Sean membuat gadis itu mengernyit. "Aku yang makan di restoran tadi siang dan yang barusan kamu tabrak." Jawabnya dan Bri mengangguk setelah mengingat "Maaf." Ucapnya singkat. "Kamu benar tidak tau siapa aku?" Tanyanya di jawab gelengan. "Itu aku." Ucap Sean menunjuk Billboard yang terpasang di gedung pencakar langit yang menunjukkan dirinya sebagai pengusaha sukses. Bri mengamati keduanya bergantian. "Kenapa? Aku tampan ya?" Tanyanya begitu narsis. "Biasa saja." Jawab Sabrina sambil meneguk sodanya. Sean menghela napas. Baru kali ini ada gadis yang tidak tertarik padanya. Mereka di luar sana bahkan akan dengan sukarela menawarkan diri untuk di sentuh oleh Sean. "Minta." Pria itu merebut kaleng soda Sabrina dan meneguknya. "Itu bekasku." Ucapnya dengan mata yang membola. "Lebih enak." Jawab Sean sambil mengusap bibir gadis di depannya. "Keterlaluan." Ucap Bri menepis tangan Sean kemudian bergegas pergi.
__ADS_1