Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Kebahagiaan Sederhana


__ADS_3

Sabrina dan Bunda baru sampai di rumah. "Assalamualaikum." ucap Keduanya. "Waalaikumsalam." Jawab Ayah yang sedang mengobrol dengan Sean. Sabrina mencium tangan suami dan Ayahnya bergantian. "Kamu beli apa sih Sayang? Sudah Ayah bilang jangan kebanyakan minum es." Tuturnya sementara Bri hanya tersenyum. "Tadi minta Boba. Biarlah. Sesekali." Jawab Bunda. Sean tersenyum memperhatikan istrinya. Wanita itu tak berhenti mengunyah dengan kedua pipi yang menggembung begitu menggemaskan. Jika tidak ada mertuanya Sean pasti akan mencium habis bibir mungil itu. "Mau?" Tanya Sabrina. "Tidak Sayang. Minumlah." Jawabnya dengan lembut sembari mengusap kepala Bri. "Tadi bagaimana kerjasama kalian? Lancar?" Tanya Ayah sambil terkekeh. "Lancar dong Yah. Kita tim Ibu anak yang solid." Jawab Bunda bangga. "Sean. Istrimu itu diam kan kalau sudah sibuk dengan minumannya." Sindir Ayah karena Sabrina begitu menikmati. "Iya. Jika menangis diberi ini pasti langsung diam." Kata Sean mencari mencubit pipi sang istri membuat mereka tergelak.


Sean menggandeng tangan istrinya memasuki kamar. Pria itu langsung membantu Sabrina melepaskan jilbab. "Kita tidur dulu sebentar Sayang. Nanti sore Daddy ajak jalan jalan." Ia kemudian melepas sepatu istrinya dan menaikkan kaki Sabrina ke ranjang. "Kemana?" Tanya Bri sambil menyesap minumannya. "Ke suatu tempat. Kamu pasti suka." Sean mengecup bibir sang istri. "Mau kemana?" Tanya Pria itu melihat Sabrina hendak turun. "Mau tutup gorden. Aku nggak bisa tidur kalau terang." Jawabnya. "Biar Daddy saja." Pria itu bergegas menutup gorden lalu kembali lagi ke ranjang sambil melepas kaosnya menyusul istrinya yang sudah berbaring duluan. Sean mendekap tubuh Sabrina kemudian mengecupi wajah mulus sang istri membuat Sabrina tertawa geli. "Sudah Mas." Keluhnya memeluk sang suami agar berhenti. Tangan Sean menelusup ke baju Istrinya membelai lembut punggung wanita itu. "Geli." Ucap Bri. "Bayi kecilku ini mudah geli ya. Uh...Jadi gemas. Sekarang mari tidur. Nanti sore kita jalan jalan." Sabrina dengan cepat mengangguk kemudian memejamkan mata. Sean tersenyum melihat wajah damai istrinya. Semua kebahagiaannya terasa lengkap karena memiliki Bri.

__ADS_1


Sore hari Sean selesai mandi bersama sang istri. Pria itu mendudukkan Sabrina di depan meja rias. "Jangan pakai itu Mas. Tidak usah pakai apa apa. Pakai pelembab saja langsung berangkat." Kata Bri. "No. Matahari masih bersinar sore ini. Nanti kulit kamu bisa rusak. Pakai sun screen dulu." Sean mulai mengaplikasikan gel pelindung sinar UV itu ke wajah istrinya. "Lihat. Pipi mulus merona kamu ini akan terbakar sinar matahari jika tidak dilindungi." Kata Sean mengusap lembut kedua pipi istrinya. "Sudah. Cantiknya bayi kecil Dady." Sean menggoda sambil menarik hidung mancung istrinya. "Ih. Sakit." Keluh Sabrina. "Maaf sayang." Ucap Sean mengecup pipi dan hidung istrinya. "Mari berangkat." Kata Pria itu menggandeng tangan Bri.


Sean dan Sabrina menghampiri Ayah dan Bundanya yang terlihat sedang berbincang dengan beberapa pekerja. "Kalian mau kemana?" Tanya Mereka. "Mau jalan jalan Bun. Bunda sama Ayah mau dibawakan apa?" Tanya Sean. "Nggak perlu. Pulangnya jangan malam malam ya." Pasangan beda usia jauh itu mengangguk kemudian segera berpamitan.

__ADS_1


Sean hanya mengikuti istrinya. Meskipun khawatir namun Sean juga tak berani mencegah. Melihat istrinya sebahagia itu karena hal kecil seperti ini membuatnya lega. "Sudah adzan magrib. Kamu tunggu disana ya Mas. Aku ke mushola sebentar." Ucap Wanita itu. Sean hanya mengangguk. Pria itu mengecup kening Bri sebelum wanita itu pergi. Setidaknya Ia tak perlu Khawatir karena memberikan pengawasan ekstra pada sang istri. Hanya saja Bri tak menyadari itu.


Sabrina menghampiri suaminya yang duduk menunggu di bangku taman. "Sudah selesai?" Tanya Sean. "Sudah." Jawab Sabrina duduk kemudian meneguk air yang di berikan suaminya. "Bunda telpon." Ucap Sean segera mengangkat. "Ya Bunda." Jawabnya. "Oh. Sedang minum Bunda. Mungkin tidak tau kalau Bunda telpon." Pria itu tampak mengangguk. "Iya Bunda." Jawabnya menyimpan kembali ponselnya di saku celana. "Kenapa Mas?" Tanya Sabrina. "Bunda khawatir telpon kamu daritadi tidak diangkat." Kata Sena mengelap bibir lembab istrinya dengan ibu jari. "Oh. Tidak tau." Jawab Bri. "Sayang. Daddy minta hapus semua foto atau video kamu yang ada di Instagram bagaimana?" Tanya Sean sambil merangkul bahu Sabrina. Wanita itu mendongak menatap suaminya. "Maksud Daddy yang ada kamu di dalamnya. Daddy tidak suka kamu jadi konsumsi publik apalagi para laki laki." Sabrina mengangguk menuruti kemauan suaminya. "Terimakasih Sayang." Ucap Sean mencium kening istrinya dengan lembut.

__ADS_1


Semuanya sedang berkumpul setelah makan malam bersama. Sean tadi langsung mengajak istrinya pulang karena takut mertuanya khawatir. Maklum karena mereka hanya punya Bri seorang. Ayah dan Bunda membiarkan Sabrina menikmati makanan yang dibeli tadi. Meskipun khawatir tapi sesekali keduanya membiarkan apa kemauan putrinya itu. "Enak banget ya?" Tanya Sam mengusap bibir istrinya. "Enak. Ayah, Bunda sama kamu nggak doyan rugi." Jawabnya membuat mereka tersenyum. "Kita lihat kamu makan saja sudah kenyang sayang." Kata Ayah mengusap kepala putrinya dengan lembut.


__ADS_2