Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Ancaman Berbuah Manis


__ADS_3

"Sean kemana?" Tanya Tamara saat mengunjungi rumah adiknya. "Tuan sedang pergi bersama Asistennya sejak tadi Nyonya." Jawab Seorang penjaga. "Gila. Pagi pagi sudah kabur entah kemana." Ucap Wanita itu menggerutu sambil berjalan pergi ke luar rumah.


Sebuah mobil terparkir di komplek perumahan elit. Dua orang di dalamnya sedang mengamati gerak gerik di dalam rumah yang kebetulan gerbangnya sedang terbuka lebar. "Itu Nona Sabrina Tuan." Ucap Jhon. "Ikuti mobil itu." Kata Sean ketika gadis itu masuk ke dalam mobil. "Baik Tuan." Jawab Jhon mulai bersiap memegang setir kemudi.

__ADS_1


Mobil Sabrina berhenti di sebuah taman. Sean bergegas keluar lalu mengikuti kemana perginya gadis itu. "Aku merindukanmu Sayang." Ucapnya sembari memeluk erat tubuh Bri yang akan duduk di bangku. "Lepaskan Om." Sabrina memberontak. "Kau tau betapa tersiksanya aku saat kau pergi meninggalkanku." Lirih Sean. "Aku mohon jangan seperti ini. Lepaskan." Ucapnya. Kali ini laki laki itu memilik mengalah. Ia melepaskan pelukannya dari Sabrina. "Om keterlaluan." Bri menatap Sean kesal. "Tolong jaga batasan Om." Ucapnya penuh penekanan. "Maaf. Tapi kita perlu bicara." Ucap Sean. Bri mengangguk kemudian duduk di bangku. "Jangan duduk disini. Duduk disana." Tunjuk Sabrina pada bangku di depannya.


Beberapa saat kedua insan itu sama sama diam. Sabrina menunduk sementara Sean menatap gadis itu dari ujung kepala hingga kaki. Bahkan Sean tak melihat kulitnya. Hanya wajah dan jemari lentik Bri yang terbuka. "Om mau bicara apa?" Tanyanya sambil mendongak tapi tidak menatap Sean. "Mari menikah." Ucap laki laki itu masih sama seperti yang lalu. "Dan jawabaku masih sama Om." Ucap Sabrina. "Kenapa? Aku kurang apa? Apa karena umur? Atau kamu sudah punya lelaki impian? Atau sikapku? Coba jelaskan agar aku bisa mengubah apa yang ada di dalam diriku yang tidak kamu sukai." Sean begitu frustrasi. Tidak pernah Ia mengejar seseorang sampai segila ini. "Bukan masalah itu semua Om. Memang aku tidak bisa saja." Bri menghela napas. "Berhentilah seperti ini. Om akan tersiksa sendiri. Carilah wanita yang mencintai Om. Semoga Om mendapatkan yang terbaik." Bri berkata dengan sangat hati hati. "Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Sampai kapanpun akan seperti itu. Jangan sampai aku berbuat nekat." Ucapnya menjadi sebuah ancaman.

__ADS_1


Sean baru pulang pukul 8 malam. "Kenapa lagi dia?" Tanya Tamara menghampiri Jhon yang sedang membopong tubuh Tuannya. "Kebanyakan Minum Nyonya." Jawabnya langsung mendudukkan Sean di sofa di bantu oleh Bill. "Sean. Berhentilah seperti ini." Ucap Tamara. "Sabrina menolakku lagi kak. Tidakkah kakak mengerti perasaanku seperti apa? Aku tidak ingin hidup lagi." Rancunya tidak jelas sembari menegang pistol yang selalu di bawanya. Tamara menghela napas atas kelakuan sang adik. "Pa. Antarkan Mama ke rumah kak Araon." Ucapnya tegas. "Ini sudah malam Ma." Kata pria itu.


"Tamara." Brisia dan Araon menghampiri Tamara yang sedang duduk bersama suaminya. "Kakak. Bantu aku. Pintanya sembari menggenggam tangan Bunda Sabrina. "Ada apa? Duduk dulu." Ucap wanita itu menenangkan. "Sean telah jatuh cinta pada Sabrina." Kata Tamara membuat sepasang suami istri itu menatap heran. "Aku serius. Kami kenal Sabrina sejak lama. Adik bodohku itu juga telah menculik putrimu. Jangan marahi Sabrina. Dia tidak bersalah. Sean yang bersalah. Sekarang bantu aku. Sean ingin bunuh diri karena Bri menolak untuk menikah dengannya." Tamara menangis tersedu-sedu membuat dua orang itu mengangguk.

__ADS_1


"Om." Bri menutup mulutnya menyaksikan Sean sudah terluka di lengan. "Ini yang kamu mau kan? Kamu mau aku lenyap. Kenapa kamu menolakku? Tidak ada gunanya lagi aku hidup." Ucap Sean menodongkan senjata apinya ke pelipis. "Jangan lakukan itu. Sadarlah." Sabrina melangkah mendekat. "Berjanjilah untuk menikah denganku." Ucapnya namun Bri tetap menggeleng. "Om sadarlah. Jangan memaksakan sesuatu." Ucapnya terus mendekat. "Baik jika itu maumu. Selamat Tinggal." Ucap Sean sembari memejamkan mata dan mendorong senjata api itu semakin ke pelipisnya. "Oh baiklah... baiklah... Jangan lakukan hal itu. Aku berjanji akan menikah dengan Om." Kata Bri sedikit berteriak membuat pengagumnya itu mengurungkan niat. Sean seketika pingsan kerena telah kehilangan cukup banyak darah. Laki laki itu langsung di bawa ke kamar untuk mendapat penanganan dari dokter pribadi yang datang di saat yang tepat.


Semuanya bernapas lega mendengar kabar Sean baik baik saja. Kedua orang tua Sabrina dan gadis itu sudah pulang karena sudah pukul 12 malam. "Tidak malu kamu?" Tanya Tamara sambil berkacak pinggang. "Aku akan menikah dengannya kan kak?" Itu pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Sean dengan wajah sumringah. "Iya. Puas kau. Dua hari lagi kamu akan melamarnya. Dasar bodoh. Memalukan. Jika kakak jadi kamu kakak tidak sanggup lagi bertemu dengan mertua dan calon istrimu. Apa apaan ini. Menikah karena ancaman." Ucap Tamara namun Sean tak peduli. "Bagaimana acara lamaran itu?" Tanya Sean. "Kamu mendatangi orang tuanya untuk meminta izin. Setelah itu menentukan tanggal pernikahan." Ucap Tamara menjelaskan.

__ADS_1


__ADS_2