Mengejar Cinta Nona Sabrina

Mengejar Cinta Nona Sabrina
Hukuman Bagi Yang Mengusikmu


__ADS_3

Sabrina hari ini akan menemani suaminya kantor. "Ke restorannya nanti sekalian pulang ya Sayang. Daddy ada meeting pagi." Ucap Sean. "He'em." Jawab wanita itu sembari meneguk jus jeruknya. "Sudah selesai? Kita berangkat sekarang." Sean mengecup bibir istrinya kemudian membantu untuk berdiri.


Sepanjang perjalanan Sabrina menatap ke arah jendela mobil sambil bersandar pada lengan kekar suaminya. "Kenapa hm?" Tanya Sean lembut sembari mengusap kepala sang istri. "Pagi ini mendung." Kata Bri. "Ya. Kemarin cerah. Cuaca sering berubah ubah akhir akhir ini." Jawab Sean. "Makanya kamu harus rajin minum vitamin supaya tidak gampang sakit." Lanjutnya.


Tak terasa perjalanan penuh obrolan ringan itu membuat Sean tak sadar jika sudah sampai. "Ayo turun Dad. Sudah sampai." Sabrina menyadarkan suaminya yang sedaritadi masih berceloteh. "Iya Sayang." Jawab Pria itu segera turun setelah pintu mobil di bukakan oleh supirnya.

__ADS_1


"Daddy meeting dulu. Jika kamu ingin sesuatu panggil seseorang untuk menyiapkan." Kata Sean saat memastikan Istrinya duduk di ruangan. "Iya." Jawab Bri. "I love you sayang." Sean mengecup kening dan bibir istrinya sebelum pergi. "Love you too Dad." Jawab Bri tersenyum.


Sabrina menutup Al quran kecil yang selalu Ia bawa kemana mana. Wanita itu telah membaca ayat demi ayat untuk menjaga hafalannya agar tidak luntur. Manik matanya tertuju pada kulkas besar di sudut ruangan suaminya. Semenjak hari pertama menemani Sean di kantor, Ia langsung dibelikan lemari es besar dengan dua pintu dan diisi macam macam makanan katanya agar Bri tidak bosa.


Binar mata Sabrina menunjukkan kebahagiaan. Wanita itu mengambil beberapa coklat dan sebotol yogurt lalu di bawa kembali duduk di sofa. "Assalamualaikum Bunda." Jawab Bri mengangkat panggilan Video dari Bundanya. "Waalaikumsalam Sayang. Kamu sedang dimana?" Tanya Wanita di sebrang sana sambil tersenyum. "Sedang berada di kantor. Ayah dimana Bun?" Tanyanya balik. "Ayah sedang bertemu dengan rekan kerjanya. Ini Bunda sedang menunggu di ruangan."

__ADS_1


Beberapa menit mengumpat dan memaki Sabrina tak membuatnya puas. Ia mendorong wanita berpakaian syari di depannya hingga tersungkur di lantai. Ada yang mencoba mencegah namun tak berhasil hingga Sabrina merasakan sensasi dingin yang membasahi tubuh. Ya, Es teh manis yang di pegang sedari tadi oleh karyawan baru itu di guyurkan ke tubuhnya. "Kalian bilang dia istrinya pak Sean? Tidak salah? Memangnya pak Sean Buta menyukai wanita seperti ini." Ucapnya sambil tertawa. "Matamu yang buta." Jawab salah satu dari mereka memberikan handuk pada Sabrina.


"Kau apakan istriku?" Nada bariton terdengar menghampiri kerumunan orang orang. "Sayang." Sean memeluk tubuh Bri dan membantu berdiri. Ia melepaskan jasnya lalu membalutkan pada tubuh sang istri. Pria itu mengecup kening Bri dengan lembut dan masih memeluk tubuh ramping itu dengan erat. "Kau membuat kesalahan besar." Ucap Sean menatap wanita di belakangnya dengan penuh amarah. Suasana menjadi tegang seketika. "Maaf Tuan." Kata Wanita itu menyesali kebodohannya. "Dad." Ucap Bri menahan suaminya namun terlambat. Pria itu mendorong wanita sialan dengan kasar hingga tersungkur. Ia mengambil beberapa jus dan mengguyurkan sama persis yang di lakukan pada Bri namun lebih parah karena Sean membanting tiga gelas itu sampai hancur. "Pecat dia. Jangan beri kesempatan bekerja di perusahaan manapun." Kata Sean pada Adrian lalu membawa istrinya untuk segera pergi.


Sabrina sudah mandi dan berganti dengan gamis baru yang di siapkan oleh suaminya. "Minum dulu Bri." Adrian datang membawa teh jahe karena melihat dari tadi istri sahabatnya itu bersin bersin. "Biar aku yang berikan." Kata Sean menerimanya tak mengizinkan Adrian berinteraksi dengan Sabrina. "Dasar." Kesal pria itu lalu duduk di singgle sofa. "Makasih Om." Ucap Bri di jawab senyuman. "Pulang nanti kita ke rumah sakit." Kata Sean langsung mendapat penolakan. "Hanya pilek. Di rumah ada obat." Jawab Sabrina. "Kalau dokter yang memeriksa kan jadi cepat sembuh." Bri tetap menggeleng. "Aku tidak mau ke dokter." Ucapnya membuat Pria itu pasrah.

__ADS_1


Sampai di rumah Sean langsung menemani istrinya istirahat setelah menyuapi makan dan minum obat. Kini Pria itu sedang mengupas jeruk lalu menyuapkan pada Sabrina. "Manis?" Tanyanya di jawab anggukan. "Daddy." Panggil Bri. "Ya Sayang." Jawab Sean dengan lembut. "Daddy tidak perlu berlebihan seperti tadi. Kasihan." Ucapnya. "Tidak berlebihan. Yang Daddy lakukan itu tidak seberapa. Daddy bisa bertindak lebih terhadap mereka yang mengusik kamu." Jawab Sean membuat Sabrina diam seketika.


__ADS_2