
Sean menghampiri istrinya yang sedang menyusui bayi tampan yang tiga bulan lalu telah lahir. Anak pertama mereka yang diberi nama Sky Gala Fernandes. "Minum terus. Ini harusnya jadi jatah Ayah." Keluhnya mentoel pipi gembul Sky yang sedang minum dengan lahap. "Ayah harus mengalah." Jawab Bri membuat suaminya berdecak. "Kamu sayang aku atau Sky?" Sean memberikan pertanyaan sulit untuk istrinya. "Sayang kalian." Jawabnya. "Harus pilih salah satu Yang." Ucap Sean. "Suami dan anak bukan pilihan Dad. Aku sayang kalian dan akan selalu seperti itu selamanya." Bri menatap lekat manik suaminya membuat pria itu tersenyum melihat ketulusan sang istri.
"Wah....Pangerannya datang." Kata Tamara begitu antusias melihat Sean dan Sabrina datang sembari menggendong si tampan. "Tumben nggak tidur." Kata Bunda meraih cucunya. "Nggak Bun." Jawab Bri membiarkan putranya di bawa Bunda sementara Ia memilih untuk duduk bergabung bersama Vi dan Andre. "Mama. Sky sudah mandi?" Tanya Vi. "Sudah dong. Kalian sudah mandi belum?" Tanya Sabrina di jawab anggukan. "Jangan nangis jangan nangis." Kata Bella panik anak Omnya mulai merengek. "Sini sini ikut Ibu." Bri bergegas mengambil alih Sky dari gendongan gadis itu. "Lihat. Sama ibunya langsung tenang. Dia takut sama kamu Bel." Andre meledek. "Om juga bikin takut." Kesalnya. "Kalian ribut mulu kalau ketemu. Jadi jodoh bau tau rasa." Kata Victor. "Ogah." Tolak Bella mentah mentah. "Tamara. Boleh nggak anak kamu nikah sama Adrian?" Tanya Ayah Sabrina. "Terserah deh kak. Mau sama siapapun boleh." Jawabnya sambil tertawa.
__ADS_1
Sabrina makan eskrim bersama Bella dan anak anak. "Masa nggak pengen tambah momongan lagi? Masa cuman satu. Kesepian nanti anak kamu." Kata Victor sambil menyenggol bahu sahabatnya. "Biar main sama anak kamu." Jawabnya santai. "Bisa bisanya." Adrian berdecak. "Sean. Yakin kamu punya satu aja. Kalau satu itu malah nempel terus sama Ibunya lo." Ayah memprovokasi. "Iya. Nempel terus sama Ibunya. Kalau punya saudara kan bisa main bareng. Tidur bareng. Nah kalau sendiri paling Sky ikut tidur sama Ibunya terus." Bunda menambahkan. Sean tampak memikirkan apa yang diucapkan mertuanya. "Sean pikirkan lagi." Jawab Pria itu mulai goyah.
"Jagan minum es terus sayang." Tegur Sean. Istrinya tadi sudah makan eskrim dan sekarang minum es teh juga. "Masih haus." Jawab Bri. "Sudah cukup." Tegas pria itu merebut gelas istrinya. "Ah Daddy. Aku habiskan dulu. Masih haus." Keluhnya. "Pilek kamu nanti." Jawabnya. "Ayolah Dad. Masih haus." Ia mulai merengek dan pada akhirnya membuat Sean luluh. "Terimakasih." Ucap Bri mengecup pipi suaminya kemudian segera menghabiskan es tehnya.
__ADS_1
"Terimakasih." Sean memeluk tubuh polis istrinya setelah kegiatan panas mereka berakhir. "Sky memang pengertian. Dia membiarkan Ayahnya enak enak. Buktinya tidak menangis." Kata Sean sambil tersenyum. "Dady senang?" Tanya Sabrina langsung di jawab anggukan cepat. "I love you. Terimakasih sudah menyempurnakan hidupku." Ungkapannya penuh cinta dan ketulusan. "Love you too my husband. Sama sama dan terimakasih untuk sinta yang luar biasa." Jawab Bri memeluk erat tubuh suaminya.
-Tamat."
__ADS_1