
Sabrina sudah siap dengan gamis dan Jilbabnya. Gadis itu akan mulai belajar hari ini. "Ayo sayang. Gurumu sudah menunggu." Bunda menggandeng tangan putrinya untuk turun ke lantai bawah.
Seorang wanita sudah menunggu di ruang tengah. "Assalamualaikum." Ucap Bunda. Sabrina mencium tangan seorang wanita yang usianya dua kali umur sang Bunda. "Waalaikumsalam. Ini Sabrina ya. Cantik sekali. Terakhir Aku melihatnya waktu berumur 4 tahun." Ucapnya sembari mengelus pipi Bri. Gadis itu hanya tersenyum menanggapi. "Saya tinggal dulu ya Umi. Silahkan di mulai. Mohon ajarannya." Bunda berpamitan.
Keduanya duduk bersama. "Sekolahnya sudah selesai?" Tanya Umi Kulsum mengawali obrolan ringan. "Alhamdulillah sudah Umi." Jawab Bri dengan sopan. "Kita bahas yang ringan dulu ya untuk pertemuan pertama. Karena bacaan Al Quran dek Sabrina sudah bagus nanti tinggal hafalannya saja. Sekarang kita bahas fikih terlebih dahulu." Sabrina mengangguk mendengarkan segala penjelasan yang keluar dari mulut gurunya. Gadis itu juga sembari membaca buku yang menjadi acuan untuk pelajaran hari ini.
__ADS_1
Umi Kulsum sudah pulang beberapa saat yang lalu. Kini tinggal Sabrina dan Bunda yang tersisa di ruang tengah. "Bun. Bri mau keluar sebentar beli buku ya." Ijinnya. "Bunda nggak bisa temani. Pekerjaan Bunda belum selesai. Nanti malam saja." Gadis itu menggeleng pelan. "Sekarang saja. Bri berangkat sendiri Bun. Hanya sebentar. Nanti cepat pulang." Bunda mengangguk setuju. "Minta di antar pak supir." Ucapnya. "Iya. Bri berangkat dulu. Assalamualaikum." Ucapnya mencium tangan Bundanya kemudian bergegas pergi.
"Nduk Bri." Sapa Pak Budi melihat Sabrina keluar rumah. Itu adalah panggilan pekerja di rumah yang biasa di tujukan untuk Sabrina yang artinya Nak (untuk anak perempuan) kerena para pekerja dan Ayah, Bunda Sabrina berdarah Jawa. Mereka sudah sangat akrab dengan Sabrina jadi memanggil seperti itu sudah biasa. "Pak. Antar Bri ke Mall ya Pak. Bri mau beli buku." Ucapnya sambil tersenyum. "Iya Nduk. Ayo." Pria itu membukakan pintu mobil untuk anak majikannya. "Bri bisa sendiri Pak." Ia merasa tidak enak diperlakukan seperti ini. "Iya Nduk. Sesekali. Biasanya Nduk selalu menolak." Jawabnya.
Mobil berhenti di sebuah Mall terbesar di kota. "Pak Budi ikut masuk nggak?" Tawarnya. "Engga. Bapak tunggu disana saja." Jawab Pria itu sambil menunjuk bangku yang tak jauh dari parkiran. Sabrina mengangguk kemudian segera masuk ke dalam.
__ADS_1
Sabrina memutuskan untuk pulang setelah ngopi sebentar di cafe terdekat bersama Pak Budi. "Terimakasih Traktirannya ." Ucap Pria itu sembari menurunkan barang dari mobil. "Sama sama Pak." Jawabnya tersenyum kemudian masuk diikuti pak Budi di belakangnya.
Bunda hanya memperhatikan putrinya yang sibuk menata buku di ruang baca. Sabrina memang suka membaca tapi komik dan novel. Kini selera gadis itu berubah hingga menambah koleksi bukunya yang berbau religi. "Sudah selesai semua sayang?" Tanya Bunda mengelus lembut kepala Bri yang kini sudah duduk di sampingnya. "Sudah Bunda." Jawabnya sambil memperhatikan rak buku yang tertata rapi.
Di sisi lain Seorang wanita tengah tergopoh gopoh memasuki kamar adiknya. Ruangan begitu berantakan dengan bau alkohol tajam. "Sean." Panggilnya menghampiri laki laki yang sedang duduk bersandar di dinding ruangan. "Dia meninggalkanku." Ucapnya sambil menyembunyikan kepala di antara kedua lutut. "Kamu keterlaluan. Kakak tidak menyangka ternyata kamu menyembunyikan Sabrina." Ucapnya. "Sekarang ikut kakak pulang. Jangan seperti ini. Mama dan Papa akan kecewa padamu." Lanjutnya lagi membantu sang adik berdiri. "Dia meninggalkanku kak." Ucapnya lagi. "Tutup mulutmu. Biarkan dia pergi. Jika memang kalian berjodoh pasti akan bertemu. Jangan mengekangnya Sean. Jangan paksakan orang." Tutur Tamara.
__ADS_1
Sean sudah berada di rumah kakaknya. Laki laki itu tampak duduk dengan wajah datar selesai membersihkan diri sebentar. "Aku akan ke Indonesia Kak." Ucapnya membuat semua yang ada di sana membelalakkan mata. Cinta membuat Sean benar benar gila. "Mau apa kamu kembali lagi kesana?" Tanya Tamara. "Mencari Sabrina. Aku akan menetap disana sambil membuka cabang baru. Besok akan mulai proyeknya. Menunggu sampai selesai di proses, aku akan terus berusaha menemukan alamatnya." Ucapnya bersungguh sungguh. "Sean. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Kejarlah selagi bisa." Ucap Bill membuat sang istri menatap tajam. "Biarkan Ma. Dia sudah dewasa bahkan sudah tua." Ucap Pria itu sambil tersenyum. Pertamakali jatuh cinta Ia akan mendukung Iparnya itu. Setidaknya Sean akan berjuang. Dapat atau tidak itu masalah belakangan.