
Napas sean terengah engah setelah mencapai puncaknya. Pria itu menggulingkan tubuh kekar berkeringat nya di samping sang istri. Memeluk wanita yang masih polos di bawah selimut itu dengan hangat. "Kenapa ini sangat nikmat." Ucapnya membelai yang ada di bawah sana. "Dad. Aku mau sesuatu." Kata Bri. "Mau apa? Daddy belikan. Rumah, mobil baru, atau perhiasan? Kamu mau apa? Semua yang kamu mau Daddy turuti." Kata Pria itu. Sabrina tidak menjawab milih untuk memeluk tubuh Sean. "Nanti saja setelah mandi." Ucapnya menenggelamkan kepala di dada bidang sang suami.
Sean menghela napas. Ia sedang memakaikan sepatu istrinya. "Yang lain saja ya." Kata Pria itu keberatan karena Sabrina menginginkan jajanan pinggir jalan. Ia khawatir dan ragu akan kebersihannya. "Kata Daddy aku minta apapun Daddy belikan. Kok sekarang begini." Jawabnya sambil cemberut membuat Sean gemas. Pria itu mencium sambil menggigit kecil pipi kenyal Sabrina. "Bukan begitu Sayang. Daddy khawatir saja kalau tidak bersih." Ucapnya memeluk wanita hamil itu. "Bersih kok. Yang dulu kita awal nikah beli itu lo. Dady juga yang antar." Sean mengangguk menuruti apa yang diinginkan istrinya. Kalau dulu kan masa merayu jadi dia menuruti apapun yang sabrina inginkan meskipun tidak rela. Kalau sekarang beda, Sean sudah mendapatkan hati istrinya jadi akan pikir pikir dulu sebelum menuruti keinginan sang istri.
__ADS_1
Sabrina menggandeng tangan suaminya menuju penjual bakso. "Pelan pelan sayang." Tegur pria itu. Bri mengangguk kemudian segera memesan. "Di bungkus pak." Ucap Sean. "Nggak di makan disini?" Tanya Sabrina. "Tidak. Dibungkus saja." Tegasnya membuat wanita itu pasrah. "Mau apa lagi?" Tanya Sean. "Mau kelapa muda. Oh, martabak manis juga." Jawabnya memperhatikan para pedagang yang berjajar. Lama tidak seperti ini membuat Sabrina kalap. Mupung di turuti Ia akan meminta banyak. Sudah lama Ia ingin jajan namun Sean selalu melarangnya.
Pukul 7 malam Sean mengajak istrinya untuk pulang. Pria itu membawa makanan Sabrina dan memasukkan ke bagasi mobil. "Haus?" Tanyanya saat sudah masuk. "Minum dulu." Ia membuka botol air mineral dan memberikannya pada Sabrina. "Kita tidak mampir ke rumah kak Tamara Dad?" Tanya Sabrina. "Tidak. Langsung pulang saja. Kita keluar sudah lama. Apa kamu tidak merasa lelah sayang? Daddy saja lelah." Ia menggeleng pelan menanggapi suaminya. "Berarti nanti malam masih bisa kan?" Tanya Sean membuat wanita itu membulatkan mata. Sean benar benar maniak. "Katanya Daddy lelah." Ucap membuat Suaminya tersenyum. "Tidak jadi lelah kalau mendapat pelayanan dari istri." Jawab Pria itu sambil mengedipkan matanya genit.
__ADS_1
Selesai makan bakso kini Sabrina beralih memakan martabak manisnya. "Mau tambah es batu Dad." Ucap wanita itu sedikit tidak jelas karena sambil mengunyah. "Nggak. Ini sudah malam. Jangan minum dingin dingin. Pilek kamu nanti." Tegasnya mau tak mau membuat Bri menurut. "Daddy nggak mau?" Tanya Bri karena sedaritadi hanya dia yang makan. "Kamu saja." Jawab Sean sembari mengusap sudut bibir istrinya yang makan berantakan. "Lain kali jangan minta yang begini dong Yang. Kamu kok makannya sembarangan." Tutur pria itu dengan lembut.
Sean hanya menuruti keinginan istrinya untuk jalan jalan kerena wanita itu belum bisa tidur. Ia selalu menggenggam erat tangan sang istri tak membiarkan terlepas sedetikpun. "Belum mengantuk juga?" Tanyanya. "Daddy sudah mengantuk?" Sabrina berhenti kemudian menatap wajah suaminya. "Sedaritadi Sayang." Jawab Sean sambil tersenyum. "Yasudah kita tidur." Kata Bri langsung di angguki semangat.
__ADS_1
Sabrina tidur dengan nyaman menikmati dekapan erat suaminya. "Bilangnya tidak mengantuk." Gumam sean tersenyum memandangi wajah damai wanita cantik itu yang sedang terlelap dengan tenang. Jemari lentiknya mengusap rona di pipi Bri kemudian turun ke bibir mungil nan lembab itu. "Kenapa kamu imut sekali? Padahal sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu. Baby face. Apa kamu tidak akan menua di saat suamimu sudah tua seperti ini?" Sean menyunggingkan senyumnya. Umurnya dengan Sabrina terpaut jauh. Ia khawatir ketika dia tua nanti akan ditinggalkan sang istri.