
Sabrina mengerjapkan mata. "Sayang. Kamu bangun?" Tanya Sean tak lupa memberikan kecupan lembut di kening dan bibir sang istri. "Jam berapa?" Tanyanya. "Jam 3. Tidur lagi saja. Aku temani." Sabrina menggeleng kemudian segera duduk. "Lenganmu pasti pegal sedaritadi menjadi bantal untuk kepalaku." Ucapnya merasa bersalah. "Tidak sama sekali." Sean ikut mendudukkan dirinya. "Aku mau sholat dulu." Pamit Sabrina menurunkan kakinya dari ranjang. "Tunggu. Aku antar." Dengan cepat pria itu menggendong istrinya menuju kamar mandi. "Aku bisa jalan sendiri Mas." Ucap Sabrina mengalungkan lengan di leher suaminya. "Aku mau jadi kaki kamu." Jawabnya kemudian mengecup bibir Bri.
Sean menurunkan istrinya. Wanita itu mencuci mukanya terlebih dahulu kemudian segera berwudhu. "Masih disini? Mau cuci muka juga?" Tanya Sabrina. "Menunggu kamu. Ayo Mas gendong lagi untuk kembali." Jawab Sean mendekati istrinya. "Jangan. Nanti wudhuku batal." Sabrina menjauh dari sang suami. "Kenapa?" Tanyanya sambil mengerutkan kening. "Sentuhan kulit antara laki laki dan perempuan bukan mahram itu membatalkan wudhu. Nanti tidak bisa sholat." Jawab Sabrina. "Mahram itu apa?" Sabrina membenarkan lengan gamisnya yang sempat Ia gulung. "Mahram itu yang haram untuk di nikahi. Pada intinya tidak boleh di nikahi." Jawanya terus menjelaskan sembari berjalan keluar kamar mandi.
__ADS_1
Sean menggelar sajadah untuk di pakai sholat sang istri. "Terimakasih." Ucap Sabrina sambil tersenyum. "Sama sama Sayang." Jawab Pria itu kemudian berjalan menjauh menuju ranjang agar Ibadah istrinya tidak terganggu.
Sore hari setelah mandi Sean mengajak istrinya turun ke lantai bawah. "Aunty." Bella begitu girang langsung memeluk Sabrina hingga terhuyung ke belakang. Untung saja Sean dengan sigap menangkap tubuh isterinya sehingga tidak jatuh. "Hati hati. Kamu membuat Istri Om hampir jatuh." Kesalnya. "Maaf." Bri tersenyum kemudian segera mengajak keponakan yang seumuran dengannya itu untuk duduk. "Ayo bikin kue Aunty." Ajaknya. "Mau apa? Beli saja sana. Kamu bikin istri Om capek." Sahut Sean dengan nada ketus seperti biasa. "Mau bikin kue apa?" Tanya Sabrina membuat Bella berbinar. "Bikin brownies. Ayo." Sabrina mengangguk. "Tapi kita harus belanja dulu." Ucapnya.
__ADS_1
Sean menghela napasnya beberapa kali. Dia sekarang sedang berada di swalayan mendorong troli mengikuti dua orang yang sedang sibuk memilih belanjaan. "Sebentar Bunda telpon." Sabrina buru buru mengangkatnya. "Assalamualaikum Bunda." Ucap Bri sambil memilih beberapa belanjaan yang belum di beli. "Bri sedang belanja Bunda." Jawabnya. "Baik. Iya. Waalaikumsalam." Wanita itu menyimpan kembali ponselnya di saku gamis. "Ada apa Sayang?" Tanya Sean. "Hanya menanyakan kabar." Jawab Sabrina. "Aunty. Ini sudah lengkap semua. Sudah sesuai daftar." Lapor Bella sembari menunjukkan daftar belanja yang sudah di cek list. "Ayo kita bayar." Ucapnya sambil menggandeng tangan sang keponakan.
Bella pulang dengan girang. "Kenapa anak itu?" Tanya Bill yang sedang duduk dengan istrinya. "Sudah dibilang jangan ganggu pengantin baru. Dia pasti dari rumah Sean." Jawab Tamara. "Lihat Ma. Aku dan Aunty membuat brownies." Ucapnya sambil membuka kotak di meja. "Kamu atau aunty kamu yang buat?" Tanya Bill mengambil satu dan memakannya. "Aku ikut andil Pa." Jawab gadis itu ikut makan juga. "Kalian jangan makan banyak banyak." Ucap Tamara memakannya kemudian membawa kotak itu pergi. "Mama." Teriak Bill dan Bella kesal.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain Sean sedang menikmati waktunya bersama sang istri setelah makan malam. Keduanya berjalan jalan di taman belakang. "Ayo masuk. Udaranya dingin." Ucap Pria itu karena merasakan tangan istrinya begitu dingin. Sabrina mengangguk kemudian mengikuti langkah suaminya.
Sean datang menghampiri istrinya yang duduk bersandar di headboard ranjang. "Diminum dulu." Ucapnya sambil membawakan susu hangat. "Terimakasih." Kata Sabrina meniup kemudian meneguknya perlahan. Sean ikut naik ke ranjang. Pria itu mencium bibir istrinya sesaat setelah Bri meletakkan gelas di atas nakas. "Ada bekas susu di bibirmu Sayang. Aku membantu membersihkannya." Sean tersenyum jahil. "Pakai tangan bisa." Ucap Bri. "Pakai bibir lebih lembut." Jawabnya. Pria itu kemudian membawa istrinya berbaring. Ia memeluk tubuh ramping itu dengan hangat. Sean merasa sangat nyaman ketika memeluk sang istri. Rasanya sangat tenang dengan kehangatan dan aroma yang begitu membuatnya nyaman hingga tidurnya begitu nyenyak. "Kenapa kalau tidur tidak memakai baju Mas?" Tanya Sabrina karena Sean selalu menggunakan boxer ketika sedang tidur. "Begini lebih nyaman. Lebih mudah dan hangat." Jawabnya sambil terkekeh. "Mudah bagaimana?" Tanya Sabrina masih dalam dekapan suaminya. "Mudah untuk itu. Tinggal lepas boxer sudah beres." Tangan pria itu menelusup ke dalam baju tidur sang istri. "Mas aku mengantuk." Ucap Sabrina. "He'em. Istirahatlah Sayang." Ucap Sean terpaksa menahannya. Ia kasihan pada Sabrina yang kelelahan mengurus ini itu. Apalagi sejak malam pertama Wanita itu tidak di biarkan Sean untuk istirahat. Sean begitu candu pada tubuh istrinya. Di tambah gegara Kakak dan keponakannya Bri juga di buat repot hari ini. "Tidurlah Sayang." Kata Sean mengecup kening sang istri kemudian menepuk punggung Sabrina dengan pelan.
__ADS_1