Menikah Karena Keadaan

Menikah Karena Keadaan
BAB 60 LUKA TERDALAM


__ADS_3

"ketiga buat pasangan baru, anak tengah mamah..."


Aldi mendekati sang ibu sambil menggenggam tangan nya.


"mamah gak banyak berpesan buat kamu Al, mamah cuman mau kamu coba belajar mencintai, coba lah sedapatnya mencintai istrimu, maaf karna keegoisan mamah kalian harus menikah tanpa melibatkan perasaan, maaf karna mamah kalian harus melawan rasa sendiri" Aldi yang mendengarkan hanya menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan kalau hal ini bukan sepenuhnya salah sang ibu


"Al tolong cintai Silfia, jadilah keluarga yang penuh cinta, kalaupun mamah gak sempat lihat anak kalian nanti tapi mamah tetap bahagia kalau kalian bisa saling mencintai," lanjut buk Rianti


Aldi tidak bisa berkata apa apa, Aldi meneteskan air mata nya lalu memeluk sang ibu. di susul oleh Alya dan zikra dan sang ayah pak Ridwan


mereka hanyut dalam kesedihan begitupun Zahra dan Silfia yang saling memeluk satu sama lain.


tak lama kemudian dokter datang dengan para suster untuk menjemput Bu Rianti, mereka melepaskan pelukan mereka, lalu para suster mengambil alih ranjang dan mendorongnya keluar ruangan tersebut, di susul oleh Aldi Alya Zikra dan lainya.


dokter dan suster mendorong ranjang menuju ruang operasi, Zikra Aldi dan pak Ridwan membantu mendorong nya, di tengah perjalanan Aldi bicara


"dok sembuhkan ibu saya" Aldi (dalam bahasa Inggris)


"kami akan melakukan sebisa kami pak" dokter


sesampainya di depan ruang operasi Bu rianti di masukkan langsung ke ruang operasi sedangkan yang lain menunggu di luar sesuai arahan dokter.


1 jam


2 jam


3 jam


4 jam operasi berlangsung


ruangan operasi tersebut masih senyap


sedangkan di luar semuanya masih tegang Zahra kembali ke hotel karna kedua anak. sedangkan Alya dan Silfia berada di kursi tunggu, sang ayah berdiri di hadapan pintu ruang operasi, sedangkan Aldi berdiri bersandar di tembok dan Zikra duduk dengan kepala bertumpu di lengan yang di sanggah oleh kaki


tak lama kemudian terdengar suara berisik di dalam ruang operasi di mana para dokter yang melakukan operasi mendadak sangat sibuk.


salah satu dokter mengambil alat pacu jantung lalu di gesek dan di letakkan di bagian dada pasien.


Ting*


kemudian tak lama di atas pintu lampu berubah menjadi hijau yang tadi nya semula berwarna merah. Zikra dan yang lain melihat lampu tersebut berubah menjadi hijau pertanda opersi berakhir. namun tak ada dokter yang keluar satu pun.


"apa yang terjadi yah?" Aldi

__ADS_1


"entah lah ayah pun tidak tau, di dalam terdengar suara bising semoga tidak terjadi apa apa" pak Ridwan


5 menit kemudian salah satu dokter keluar dari ruang operasi tersebut dengan mata yang memerah. semua menghampiri dokter yang keluar dari ruang operasi itu.


"dok bagai mana apa operasi berjalan dengan lancar? (bahasa inggris)" Zikra


dokter itu terdiam


"dokter jawab (bahasa Inggris)" Aldi


tangan pak Ridwan gemetar, sedangkan Silfia yang merasa tidak enak hati merangkul pundak Alya dengan erat.


dokter mengangkat kepalanya nya menatap keluarga pasien


(percakapan selanjutnya dalam bahasa Inggris)


"syukur puji Tuhan operasi yang kami lakukan Lancar, sampai kami menutup dan menjahit tubuh yang kami lakukan operasi tersebut." dokter


"Alhamdulillah" Aldi Zikra pak Ridwan, dan lainnya


"tapi entah kenapa setelah kami mengakhiri operasinya, detak jantung pasien mendadak tidak stabil, tapi dari awal salah satu dokter mengatakan hanya 30% keberhasilan operasi ini, oleh karena itu saat selesai operasi jantung pasien mengalami kebocoran yang tidak bisa kami pungkiri" jelas dokter panjang lebar


"jadi maksud dokter apa? kesimpulan nya apa dok? istri saya selamat kan?" pak Ridwan


"maaf.... kami sudah melakukan semaksimal mungkin, tapi pasien tidak bisa kami selamat kan" dokter menundukkan wajah nya dari hadapan keluarga pasien


seketika Zikra terjatuh ke lantai begitupun Alya namun tangan Silfia masih senantiasa merangkul Alya, pak Ridwan menjatuhkan dirinya ke tembok, sedangkan Aldi yang mematung langsung mencoba masuk ke ruang operasi namun di cagar oleh dokter


"izinkan saya masuk dok" Aldi memaksa masuk ke ruang operasi namun dokternya menghalangi


"maaf pak ini masih ruang operasi anda bisa menjenguk nya setelah kami mengeluarkan pasien" dokter


"TIDAK, SAYA MAU MASUK SEKARANG" Aldi meninggikan nada bicaranya


dokter yang tidak bisa menahan nya pun akhirnya Aldi bisa masuk dan langsung memeluk sang ibu sedangkan Zikra masih terdiam di tempat nya. begitupun Alya yang menangis di pelukan Silfia


"kaaak mamah hiks hiks" Alya menangis terisak


Silfia tidak bisa berkata, dia pun juga merasa hancur.


pak Ridwan yang terduduk menghapus air matanya dan masuk ke ruang operasi itu juga.


"Mah bangun mah, mah.... mamah janji mamah baka balik kan mah, mah jangan tinggalin Aldi seperti ini mah tolong bangun" Aldi terisak nangis memegang tangan sang ibu, sambil menciumnya

__ADS_1


seluruh dokter dan suster hanya bisa menundukkan kepalanya, pak Ridwan berjalan sempoyongan sambil menatap sang istri yang terbaring tak bernyawa di hadapannya


"dokter tolong ku mohon, ini tidak benar, Masri ada cara lain, selamatkan ibu saya dok" Aldi menghampiri salah satu dokter namun dokter tersebut tidak berbicara sedikit pun, biar bagaimana pun para dokter bersedih karena pasien yang mereka tangani telah gagal mereka selamatkan


"maaaahhhhh bangun" Aldi menangis histeris sambil bergemetar


Alya yang semula di pelukan Silfia kini mencoba berdiri dan memasuki ruang operasi tersebut memastikan ini semua adalah prank atau semacamnya,


"Al..Alya" Silfia mengikuti Alya


saat memasuki ruang operasi itu salah satu dokter berbicara


"hari ini tepat 3 Maret 2021 pasien bernama Rianti putri usia 59 tahun sudah dinyatakan meninggal"


"gak gak gak mungkin, mamaaahhh" Alya memeluk sang ibu begitupun Aldi


"gak mungkin, maahh banguuunn ku mohon mah" aldi dengan suara gemetar


sedangkan Silfia yang melihat ibu mertuanya terbaring tidak bernyawa dengan di peluk kedua anak nya itu pun, menangis tak menyangka akan berakhir seperti ini, Silfia menutupi setengah wajahnya dan menangir tersedu-sedu


pak Ridwan berjalan mendekati sang istri mencoba memastikan ini semua hanya lah mimpi namun semu sebaliknya istrinya yang sekarang sudah tidak lagi bernyawa.


ruangan tersebut penuh tangisan yang sangat mendalam, begitupun dokter yang merasa bersalah.


Silfia keluar dari ruang operasi itu untuk mengabari kakak ipar nya,


tiiit tiiit suara panggilan


"ka...kaaak" suara Silfia gemetar di dalam panggilan


"halo fia gimana operasi nya berjalan dengan..."


"mamah kak" Silfia memotong pembicaraan Zahra


"mamah sudah tidak ada" tangisan Silfia pecah Zahra yang mendengarnya langsung menjatuhkan ponsel nya dan terjatuh kelantai. baby sister yang melihat nya pun langsung menghampiri Zahra, telfon terputus


"buk ibuk tidak apa apa?" baby sister


Silfia terduduk bersandar di tembok dengan kedua kaki di peluk Silfia. tangisan Silfia makin menjadi namun tangisan itu terbungkam di dalam tangan Silfia.


rumah sakit yang tadinya sunyi sekarang terisi dengar tangisan duka...


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2