Menikah Karena Keadaan

Menikah Karena Keadaan
BAB 61 DUKA


__ADS_3

keesokan harinya mendiang ibu rianti sudah di tempatkan di dalam peti dan sudah berada di pesawat , begitupun pak Ridwan dan yang lainnya.


hari ini mereka semu berangkat pulang ke Indonesia.


Aldi duduk bersebelahan dengan Silfia, Alya bersam pak Ridwan, Zikra bersam Zahra sedangkan anak sikra bersam baby sister


Aldi mengusap wajah nya dengan kasar menenggelamkan wajah nya di kedua tangan nya sambil menangis di dalamnya terasa ini semua tidak mungkin terjadi.


sedangkan Alya menatap keluar jendela pesawat dengan air mata yang tak ada henti hentinya.


begitupun yang lain, hari yang tidak pernah di harapkan kini telah terjadi.


20 jam lebih sudah perjalanan. akhirnya mereka semua sampai di indonesia. sang ibu yang sudah di naiki ambulan di temani oleh Aldi dan Zikra sedangkan yang lainnya menaiki mobil pribadi yang sudah menjemput mereka


hampir 30 menit perjalanan mereka semua sampai di kediaman pak Ridwan, rumah tersebut sudah di datangin keluarga besar Aldi begitupun keluarga Silfia, dan keluarga dari Zahra.


tangisan pecah saat peti yang berisi raga Bu rianti turun dari ambulan dan memasuki rumah.


Silfia memeluk sang ibu yang juga menangis sedangkan sang ayah silfia ikut menggotong peti ibu rianti.


kakak sepupu Silfia mendekati Alya dan memeluk nya. kini seluruh keluarga masuk ke dalam rumah, dan almarhum ibu rianti sudah di keluarkan dari peti. sekarang hanyalah suara tangisan yang terdengar di rumah ini sekarang.


tetangga teman dari almarhum ibu rianti pun turut datang dan turut berbelasungkawa atas kepergian ibu rianti.


Aldi tak kuat melihat sang ibu yang terbaring tak bernyawa di hadapannya, Aldi berlari menaiki tangga lalu memasuki kamar milik nya.


Silfia yang melihatnya saat ingin menyusul Aldi, sang ibu yang merangkul Silfia pun berkata


"sayang temui lah suami mu, tenangkan dia, hancur rasanya di tinggal sang ibu, kamu sebagai istri coba kuatkan dia ya sayang" mamah Silfia berbicara dengan tangisan yang masih terukir di wajahnya


"iya mah, fia izin temui bang Aldi dulu ya mah, dia titip Alya" mamah Silfia mengangguk

__ADS_1


Silfia berdiri lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar yang pernah iya tinggali, Silfia membuka perlahan kamar tersebut, dan melihat Aldi terduduk di lantai dengan bersandar di sisi ranjang.


tangisan Aldi pecah sambil melihat foto di tangannya.


kini Aldi benar-benar hancur, dada nya sangat sakit menerima kenyataan ini. sekuat apapun seorang lelaki bagaimanapun sifat laki laki, mereka akan hancur jika wanita yang sudah melahirkannya meninggal kan mereka untuk selama-lamanya, begitupun Aldi


Silfia berjalan perlahan mendekati Aldi, dia tidak lagi memikirkan ke egoisan nya, Silfia kini berada di samping Aldi menekuk kedua kaki nya.


"kak..." Silfia dengan suara bergetar


Aldi mengalihkan wajah nya ke Silfia


"fia.... mamaahhhhh, jamaah fia, ini gak mungkin mamah gak mungkin ninggalin aku fi..." Aldi menangis terseduh di hadapan Silfia


Silfia yang melihatnya langsung memeluk aldi dari samping menepuk nepuk bahu Aldi


tangisan Aldi makin pecah sambil menepuk dadanya


Aldi tak membalas sepatah katapun kini dia hanya bisa menangis di pelukan Silfia. tangisan yang lepas begitu terasa seisi ruangan tersebut.


sedangkan di bawah tepat di samping tubuh almarhum ibu rianti, Alya memeluk sang ibu sambil menangis, Alya enggan melepaskan pelukan itu, sampai akhirnya Alya pingsan, tubuh Alya di ambil dan di tidurkan dengan kepala di tumpu paha sepupu Silfia


Zahra mencoba mendekati Alya yang terbaring lemah, mereka mencoba menyadarkan Alya dengan memberi minyak wangi di hidung Alya, tak lama Alya kembali sadar


" kak mamah mamah mana? ini semua mimpi kan kak?" tanya Alya pada Zahra, Zahra hanya menggeleng kan kepalanya. Alya melihat ke samping dan melihat sang mamah yang ternyata bukan mimpi kalau mamahnya sudah tiada


"mamaaahhhhh" Alya berteriak sambil menangis, sedangkan Zahra mencoba menahan alya


"Alya, Alya cukup kakak mohon, biarkan mamah tenang Al, kalau kamu seperti ini kasihan mamah di sana gak tenang" Zahra


"enggak enggak mau, aku gak mau ini terjadi kak aaaa" Alya

__ADS_1


"Alya sayang, lihat mamah sekarang nak lihat mamah kamu beliau terbaring dengan wajah cantiknya, ada sedikit ukiran senyum di bibir mamah kan nak? sayang kita harus iklas ya... wali berat kita harus coba" mamah Silfia


Alya menggeleng kan kepala nya perlahan


"Alya kamu kuat sayang" Zahra


Alya kembali menangis di pelukan zahra, berat rasanya mengiklankan sang ibu untuk pergi, terlebih Alya yang bisa di bilang sangat manja pada sang ibu. Alya menatap sang ibu yang sudah tidak bernyawa, sambil menangis di pelukan zahra


sedangkan Zikra hanya menatap semua di hadapannya termaksud sang ibu yang tidak lagi bernyawa. Zikra benar-benar hancur seperti yang lain, namun dia adalah kakak tertua dia harus terlihat kuat untuk menguatkan adik adiknya terlebih anak nya yang berulangkali bertanya apa yang terjadi pada nenek mereka.


semua berlalu begitu saja, setelah memandikan jasad Bu rianti lalu menyolat lainnya , kemudian mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir, dan menguburkan nya dan mendoakannya. kemudian semua kembali ke rumah masih masing sedangkan keluarga besar tetap berada di kediaman pak Ridwan


hari ini begitu sulit sulit untuk di jalanin, Aldi kembali ke kamar nya begitupun Silfia yang menemani Aldi.


Alya yang tidak mau di ganggu kini berada di dalam kamar sang ibu, Zahra yang khawatir mencoba ikut masuk tapi Alya tidak mengizinkan. mamah Zahra yang ikut datang mencoba untuk mengerti kan Zahra untuk memberikan ruang pada Alya


"tapi mah Zahra takut" Zahra


"dia sudah dewasa sayang" mamah Zahra


satu persatu keluarga pulang kerumah untuk persiapan tahlilan nanti malam. pak Ridwan Zahra dan Zikra mengucapkan terimakasih pada keluarga. begitupun keluarga Silfia, setalah berpamitan mereka pergi


pakk Ridwan duduk dengan keadaan yang rapun, sangat rapuh istri yang menemani nya bertahun tahun kini telah usai.


kedua anak Zikra di asuh oleh baby sister, sedangkan Zikra pergi ke taman belakang rumah merenungi kejadian hari ini, Zikra mengusap wajah nya dengan kasar, lalu menangis, tangisan Zikra pecah setalah menahan semua nya .


Zahra yang melihat sang suami menangis pun mendekati Zikra, memeluk tanpa mengatakan apapun.


mereka mnangis bersama dalam pelukan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2