MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
MASUK SEKOLAH


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan hah, masak bikin teh saja tidak becus, kamu mau bikin saya diabetes hah." bentak Qianu emosi.


Teh tersebut memang kemanisan karna Imel memasukkan banyak gula, maklumlah, diakan memang tidak pernah bikin teh sebelumnya.


"Maafkan saya kak, saya baru baru pertamakalinya bikin teh." Imel mengkeret.


"Dasar gadis manja, kerjaanmu hanya minta maaf saja, satupun tidak ada hal yang kamu bisa, percuma saja aku menampungmu disini." Qianu berdiri menatap Imel dengan tatapan horornya yang selalu bisa  membuat Imel mati ketakutan.


Tangan Qianu kemudian menyeret lengan Imel dengan kasar.


"Kak, aku mohon jangan hukum aku, huhu." Imel sudah mulai menangis.


Qian menyeret Imel ke kamar mandi, dia mendorong tubuh Imel sampai jatuh dilantai marmer yang dingin.


"Hiks hikss."


"Kamu harus tidur disana semalaman sebagai hukuman bagi gadis yang tidak bisa apa-apa sepertimu." setelah mengatakan hal tersebut, Qian menutup pintu kamar mandi, Imel buru-buru berdiri dan berlari ke arah pintu untuk menahan pintu yang akan ditutup oleh Qian, sayangnya Imel terlambat karna Qian sudah dulu menutup pintu tersebut dengan sempurna.


"Kak...buka pintunya kak, jangan kunciin aku disini, disini sangat dingin."


Namun Qian tidak memperdulikan jeritan tangisan Imel, dia terus berjalan meninggalkan Imel tanpa belas kasih.


"Kak...kak Qianu, buka pintunya kak."


Tubuh Imel merosot saat mendengar suara kaki menjauh, kini dia duduk bersandar dipintu kamar mandi sambil meratapi nasibnya.


"Huhu, papi, tolong Imel, Imel takut." Imel memeluk lututnya, saat seperti ini dia selalu ingat papinya, laki-laki yang selalu menyayanginya tanpa batas.


Dari tempat tidurnya, Qian bisa mendengar suara Imel yang terisak, sebenarnya ada rasa kasihan sieh sedikit, tapi dia berusaha untuk mengenyahkan rasa pedulinya tersebut, dia berusaha mengingat apa yang dilakukan oleh Satya dimasa lalu, dan hal tersebut ternyata berhasil menghilangkan rasa kasihan yang sempat hinggap dihatinya.


"Papamu dulu melakukan hal yang sangat kejam kepada keluargaku, sekarang kamu juga harus merasakan apa yang telah diperbuat oleh papamu."


Setelah setengah jam kemudian, Qianu sudah tidak mendengar suara isakan dari gadis tersebut, "Kenapa dia berhenti menangis, apa dia tertidur."


Karna penasaran, Qian beranjak dari tempat tidurnya dan beranjak untuk melihat apakah gadis itu sudah tidur apa belum, dan saat membuka pintu kamar mandi, dia menemukan gadis itu meringkuk seperti janin dilantai sambil memeluk lututnya, rasa kasihan yang tadi sempat dia hilangkan dengan paksa kini sirna tidak bersisa melihat gadis yang meringkuk tersebut, biar bagaimanapun kejamnya seorang Qian, dia tetap memiliki hati apalagi ibunya juga seorang perempuan, sehingga tanpa basa-basi Qian mengangkat tubuh Imel dengan sangat enteng dan membawanya ke tempat tidurnya.


Setelah membaringkan Imel ditempat tidurnya, Qian berdiri disamping tempat tidur, yang dia lakukan adalah menatap wajah polos gadis cantik itu untuk beberapa saat, gadis yang sempat mencuri hati Qianu, namun perasaannya itu hilang begitu saja saat mengetahui kalau gadis tersebut ternyata adalah anak dari laki-laki yang telah menghancurkan keluarganya dimasa lalu.


Qianu kembali berusaha menghampaskan rasa kasihan dihatinya, "Baiklah, hanya kali ini, kali ini aku berbuat baik kepadamu, setelah ini, jangan berharap kamu akan mendapatkan belas kasih dariku."


Qian berjalan ke arah sofa, karna Imel yang tidur ditempat tidurnya, otomatis dia tidurnya disofa meskipun itu pasti tidak akan nyaman.


*****


Imel tidur sangat nyenyak dan mimpinyapun sangat indah, hari masih gelap saat Imel terbangun, bias sinar rembulan masuk melalui celah-celah gorden.


"Lho, dimana aku." herannya saat merasakan berada ditempat yang sangat  nyaman karna seingatnya dia semalam dikunci dikamar mandi oleh laki-laki kejam bernama Qianu.


Dibalik gelapnya malam Imel mengarahkan matanya kesekelilingnya untuk melihat dimana dia berada, namun karna suasana yang gelap, jadinya Imel tidak bisa mengetahui dengan jelas dimana dia berada saat ini.


Kamar itu tiba-tiba menjadi terang benderang yang membuat mata Imel menjadi silau.


"Sudah bangun tuan putri, bagaimana tidurmu, apa kamu tidur dengan nyenyak." gumam suara serak itu, rambut Qian terlihat basah dengan handuk melilit dipinggangnya, rupanya laki-laki itu baru selesai mandi.


Imel kaget saat mengetahui kalau saat ini dia tidur ditempat tidur Qianu, "Astaga, jangan bilang aku tidur ditempat tidur Qianu, tapi siapa yang membawaku kemari, tidak mungkin aku berjalan sambil tidurkan mengingat pintu kamar mandi terkunci semalam." batinnya ketakutan karna takut Qian marah.


"Oke, sudah cukup tuan putri, saat kamu bangun dari tempat tidurku, dan kini saatnya kamu kembali pada realita, kerjakan tugasmu dengan baik kalau tidak mau aku hukum."


"Ba...baik kak." Imel langsung berdiri untuk melakukan tugasnya, apalagi kalau tidak menyiapkan stelan pakaian Qianu, Imel bergegas menuju lemari.


Imel memilih beberapa stelan pakaian dan memilihnya, dia kemudian mengambil satu yang menurutnya klik dihatinya dab dia berharap Qianu akan suka dengan pilihannya, setelah itu dia lalu memilih dasi dan mengambil yang matching dengan stelan jas yang dia pilihkan untuk Qian, setelah dia mendapatkan apa yang dia butuhkan, Imel meletakkannya ditempat tidur.


Qianu melihat hasil kerja Imel, dan meskipun tidak terang-terangan memuji secara lisan, tapi dalam hati dia sangat puas melihat perpaduan baju dan dasi yang dipilih oleh Imel.


"Saya sudah melakukan tugas saya kak, bisakah saya keluar untuk melakukan tugas saya yang selanjutnya."


"Hmmm." Qianu hanya bergumam untuk menjawab pertanyaan Imel.


Imel kembali berbalik sebelum mencapai pintu keluar, "Kak." panggilnya takut-takut.


"Apa lagi."


"Mmm, bolehkah hari ini aku mulai sekolah, aku sudah cukup lama tidak masuk."


Qianu tidak langsung menjawab, dia terlihat mempertimbangkan, "Baiklah, kamu bisa masuk sekolah hari ini."


Imel tersenyum lebar, senyum yang begitu sangat manis, dan diluar yang dia inginkan, hati Qian terasa menghangat melihat senyum itu, namun berusaha ditepisnya.


"Jangan terpesona dengan gadis kecil itu, ingat, dia adalah putri dari laki-laki yang telah menghancurkan keluargamu Qian." dia mengingatkan dirinya dalam hati.


"Terimakasih kak."

__ADS_1


Setelah mengucapkan hal tersebut, Imel kembali melanjutkan niatnya untuk keluar, namun lagi-lagi dia kembali berbalik saat tangannya sudah memegang kenop pintu.


"Kak."


"Apa lagi." kesal Qianu karna sejak tadi Imel terus memanggilnya.


"Mmmm." agak ragu juga Imel mengatakan keinginannya apalagi Qianu terlihat kesal.


"Katakan ada apa lagi, kamu mau aku hukum lagi karna aku kelamaan menunggu apa yang akan kamu ucapkan."


"Apa boleh setelah pulang sekolah aku menjenguk papi, aku…"


"Jangan ngelunjak kamu, aku sudah berbaik hati membiarkan kamu masuk sekolah, dan sekarang jangan meminta hal yang lebih."


"I..iya, maaf." Imel buru-buru membuka pintu karna takut Qianu akan bertambah marah.


****


Imel tidak sempat memakai ini itu seperti yang biasa dia lakukan saat masih menjadi princes kayak dulu, seperti make upan, mencatok rambutnya, kalau dulunya penampilan Imel paripurna dari atas sampai bawah kaki, kini penampilan Imel sangat sangat biasa saja dengan pakaian seragam kusut dan rambut hanya dijepol saja, meskipun penampilannya seperti itu, aura kecantikan Imel tetap terpancar karna dia memang cantik alami.


Setelah mengambil tasnya, Imel buru-buru keluar guna melayani Qian saat sarapan karna itu adalah salah satu tugasnya yang wajib untuk dia lakukan.


Acara sarapan itu berjalan dengan khidmat, tidak terjadi drama-drama seperti sebelumnya, Qian bahkan terlihat anteng dan tidak minta macam-macam saat dilayani oleh Imel, Imel hanya mengoleskan roti bakar untuk Qianu, dan menuangkan jus.


Dan setelah sarapan itu berakhir, mereka berjalan menuju pintu keluar.


Imel sieh niatnya naik angkutan umum, namun ternyata Qian malah memintanya untuk ikut bersamanya.


Imel buru-buru menolak, "Tidak usah kak, aku pergi sekolah sendiri saja naik angkot." Imel hanya tidak mau berdekatan dengan Qianu, Qianukan memiliki aura negatif yang membuat orang yang berada didekatnya takut.


"Berangkat bersamaku." itu artinya Qianu tidak bisa dibantah.


Akhirnya, terpaksa deh Imel ikut bersama Qianu, dan karna tidak mau dekat-dekat dengan Qianu, Imel duduk meper dengan jendela mobil.


Mobil mulai berjalan meninggalkan area rumah besar milik Qianu, Imel benar-benar tidak sabar ingin sampai disekolah dan bertemu dengan teman-temannya, mungkin karna rasa antusiasnya atau mungkin karna dia satu mobil dengan Qianu sehingga perjalanan itu terasa lama bagi Imel.


"Pulang sekolah, kamu akan dijemput oleh Hugo."


Imel mengangguk, "Iya."


Imel mendesah lega saat melihat bangunan sekolahnya, ini untuk pertamakalinya dia begitu sangat bahagia saat melihat bangunan sekolahnya.


Saking bahagianya karna bisa kembali ketempat dia menuntut ilmu selama satu tahun lebih sehingga begitu mobil berhenti, dia langsung membuka pintu mobil tanpa mengucapkan sepatahkatapun kepada Qianu.


"Maafkan aku, aku begitu sangat bersemangat pergi kesekolah."


"Baiklah, sepulang sekolah kamu tidak boleh kemana-mana, kamu tunggu sampai Hugo datang menjemputmu."


"Baik." Imel mengangguk patuh.


"Sana keluar."


"Baik." Imel buru-buru keluar dan langsung masuk ke gerbang sekolahnya tanpa bersusah-susah untuk berbalik.


"Dasar bocah." dengus Qian.


"Jalan Hugo."


"Baik tuan."


Hugo akan selalu bilang baik apapun perintah dari tuannya.


****


"Ya Tuhan, terimakasih karna engkau telah memberikan hambamu ini kesempatan untuk kembali ketempat ini." batin Imel memandang bangunan sekolahnya dengan senyum tercetak dibibirnya.


Imel melangkah dengan pasti, sudah pastilah tempat yang dia tuju adalah kelasnya, salah satu tempat yang dia rindukan juga.


Saat dia berada diambang pintu, Imel menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kegaduhan dari teman-teman kelasnya yang sudah datang, melihat hal tersebut membuat mata Imel sampai berkaca-kaca, dia terharu, ternyata dia masih bisa bertemu dengan teman-temannya, teman yang menyebalkan tapi juga ngangenin disaat bersamaan.


"Ehhh itu sik Cahyo." teriak Miun begitu melihat Imel yang berdiri didepan pintu kelas.


Otomatis semua yang ada dikelas melarikan pandangan mereka ke arah yang ditunjuk oleh Miun.


Yang paling antusias melihat Imel tentu saja adalah Nuri dan juga Juli, dua gadis itu berdiri dan berlari menyongsong sahabatnya yang sudah beberapa hari ini tidak pernah masuk.


"Imellll." heboh Nuri dan langsung menubruk tubuh Imel saking senangnya dia melihat Imel yang kembali masuk.


Nuri memeluk tubuh Imel dengan sangat kuat sehingga membuat Imel kesulitan bernafas.


"Lo senang sieh senang Nur, tapi jangan kenceng kayak gini juga donk meluknya, gila, lo mau bunuh gue apa."

__ADS_1


Namun Nuri tidak memperdulikan protes Imel, buktinya gadis itu makin kencang meluk Imel.


"Sik sialan ini, dia benar-benar mau bunuh gue ternyata."


Setelah puas menyalurkan rasa rindunya, Nuri mengurai pelukannya, dan kini giliran Julilah yang mendapat kesempatan untuk melepas rindu.


"Cahyo, kemana aja sieh elo, kangen tahu gak sieh." Juli sieh lebih kalem, meluknya biasa aja.


Tidak ketinggalan, Miun dan Raskin juga mendekat, saat Juli melepaskan pelukan mereka, Miun dengan cepat memeluk Imel dan kemudian Raskin juga melakukan hal yang sama sebelum Imel sempat menolak.


"Ihhh sialan, lo berdua main peluk-peluk saja, kayaknya gue harus membasuh tubuh gue tujuh kali dengan air dan satunya dicampur dengan tanah."


"Brengsekk, lo fikir kami najis Mel."


Nuri dan Juli terkekeh.


Belum sempat mereka ngobrol, Gebi yang berada dipenjurusan IPA yang otomatis membuat kelasnya dan ketiga sahabatnya berbeda muncul diambang pintu, tadi dia mendapat chat dari Juli yang mengatakan kalau Imel sudah masuk.


"Cahyoooo, ya Tuhan, sahabatku." kembali Imel mendapat pelukan, pokoknya Imel benar-benar laris manis deh hari ini.


"Kemana saja lo sialan, lo bikin kami khawatir saja, dicariin dirumah sakit gak ada, nomer lo juga gak aktif." omel Gebi.


"Panjang ceritanya, ntar gue ceritain, tapi gak disini."


"Wahhh, gue udah gak sabar Cahyo ingin dengerin cerita elo." timbrung Miun.


"Idihhh, siapa juga yang mau cerita sama lo, lo mah ke laut saja sono."


"Dihhh pelit."


"Eh eh." Juli baru menyadari sesuatu, dia memperhatikan penampilan Imel dengan seksama, sahabatnya yang biasanya heboh dalam berpenampilan itu kini terlihat biasa-biasa saja, "Kok penampilan sekarang jadi kucel begini sieh Mell, kayak bukan  elo aja."


Yang lain ikut memperhatikan dan menyadari.


"Iya benar, penampilan lo kayak orang yang segan untuk hidup saja." Nuri membenarkan.


"Apa yang sebenarnya terjadi Mel, kenapa lo menghilang, dan saat masuk penampilan lo berubah drastis seperti ini."


"Intinya, ceritanya panjang, nanti deh gue ceritain dikantin saat jam istrihat."


Ketiga sahabat Imel mengangguk.


Bertepatan dengan itu, terdengar bunyi bel masuk sekaligus membubarkan temu kangen antara ketiga sahabat tersebut.


****


Dan kini, mereka berempat sudah berkumpul dikantin, dengan masing-masing satu mangkuk mi instan buatan mbak Dijah salah satu pedagang kantin, mi instan yang merupakan paforit mereka dan segelas es teh dihadapan mereka.


Juli, Nuri, dan juga Gebi sudah siap menunggu cerita Imel, mereka sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan sahabat mereka selama tidak pernah masuk.


Namun Imel bukannya cerita, dia malah menyantap mi instannya dengan sangat lahap seolah-olah tidak pernah makan tiga hari saja.


Dirumah Qianu tentu saja makanannya enak-enak semua, tapi karna dirumah itu batin Imel dalam keadaan tertekan sehingga dia tidak bisa makan dengan baik, karna apapun yang masuk ke mulutnya rasanya seperti gabus, dan ini dia bisa menikmati makannya makanya dia makan dengan sangat lahap.


"Etdahh, katanya mau cerita, kenapa lo malah makan." protes Gebi yang sudah sejak tadi penasaran ingin mendengar cerita sahabatnya itu."


"Guekan lapar."


Terpaksa deh mereka bertiga harus menahan rasa penasaran mereka lagi selama beberapa saat lagi karna harus menunggu Imel menyelsaikan makannya.


"Pelan-pelan Imel makannya, ya Allah, kayak gak pernah makan mi instan saja lo." peringat Juli yang melihat cara makan sahabatnya yang sudah seperti orang kesurupan namun tidak dipedulikan oleh Imel.


"Mmmm." Imel memejamkan matanya dan mengelus perutnya setelah mi instan beserta kuah-kuahnya itu sudah tandas.


"Alhamdulillah kenyang."


"Oke, sekarang lo mulai bisa cerita Mel." todong Nuri.


"Entar dulu elahh, tunggu mi gue yang gue makan masuk ke lambung gue dulu."


"Kelamaan amet sieh lo Mel, lo mau bikin kami mati penasaran."


"Iya iya."


Setelah menarik nafas sejenak dan menghembuskannya, Imel kemudian mulai menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya pada ketiga sahabatnya tanpa terlewat sedikitpun, dan ketiga sahabatnya fokus mendengarkan tanpa menyela cerita Imel.


"Itulah yang terjadi." Imel mengakhiri ceritanya.


"Serius lo demi apa." gumam Gebi setengah percaya setengah tidak mendengar cerita Imel, "Lo beneran udah nikah Mel."


"Itu terpaksa gue lakukan supaya pengobatan papi tetap berjalan, lo pada tahukan kalau perusahaan papi sudah bangkrut, rumah juga disita begitupun aset-aset yang lainnya, papi sudah jatuh miskin sehingga gue terpaksa harus menerima tawaran Qianu untuk menikah dengannya."

__ADS_1


*****


__ADS_2