MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
MAKAN BAKSO


__ADS_3

"Tidurlah sayang, beristirahatlah dengan tenang." bisik Qianu tepat ditelinga Imel dan perbuatannya itu diakhiri dengan sebuah kecupan dikening Imel.


Setelah memastikan Imel beristirahat dengan tenang, Qianu melangkah kebawah menuju ruang kerjanya, terlebih dahulu, dia menyuruh Hugo untuk menghadap kepadanya dan beberapa pelayan yang ada dirumahnya.


Para pelayan yang dipanggil oleh Hugo dan menghadap pada tuan besar mereka ketakutan, mereka jadi berfikir kesalahan apa yang telah mereka lakukan sehingga membuat tuan besar sampai memangil mereka ke ruang kerjanya, karna kalau Qianu meminta para pekerjanya ke ruang kerjanya, sudah pasti terjadi sesuatu yang salah atau tidak mereka akan dimarahi, atau yang lebih horor lagi adalah dipecat, mending dipecat dengan baik-baik, kalau dipecat dengan tidak hormatkan bikin nyesek tuh.


"Hugo, memangnya ada apa ya tuan Qianu memanggil kami, kami rasanya kami tidak melakukan kesalahan." tanya Irma dengan takut-takut.


"Hmmm, sayapun juga tidak tahu kenapa saya diminta memanggil kalian, sudahlah jangan banyak tanya, nanti juga kalian akan tahu kenapa kita dipanggil oleh tuan."


"Kamu juga dipanggil oleh tuan Qianu Hugo."


"Hmmm."


Saat tiba didepan disebuah pintu berwarna coklat yang terbuat dari kayu jati, Hugo dan para pelayan berhenti, Hugo kemudian mengepalkan tangannya untuk mengetuk pintu tersebut.


"Masuk." suara itu terdengar menakutkan sehingga membuat orang yang mendengarnya merinding.


Hugo dengan pelan mendorong pintu tersebut, dan dengan langkah hati-hati, orang-orang tersebut memasuki ruangan itu satu persatu.


Terlihat Qianu duduk dibalik meja kerjanya, dia hanya memberikan tatapan sekilas saat Hugo dan para pelayannya memasuki ruangannya, dia kembali memfokuskan perhatiannya pada leptop yang ada dihadapannya untuk beberapa waktu membiarkan Hugo dan yang lainnya berdiri tanpa kepastian dan ketakutan, namun mereka hanya bisa diam tanpa protes.


Setelah beberapa saat, Qianu pada akhirnya menutup leptopnya, dan kini matanya sepenuhnya tertuju pada para pelayannya, tatapan menakutkan yang membuat Hugo dan para pelayan itu langsung menunduk karna takut kalau pandangan yang dilayangkan oleh Qianu itu membuat mereka hangus dan terbakar, emang mereka fikir Qianu punya pandangan laser apa.


Setelah menatap Hugo dan juga para pelayannya yang lain, Qianu bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekat dan berdiri ditengah-tengah para pekerjanya yang hanya bisa menunduk dibawah tatapan tuan mereka, Qianu menyilangkan tangannya didada.


"Jadi, apa kalian tahu kenapa kalian saya panggil kemari."


Hugo dan para pelayan itu kompak menggleng karna memang mereka tidak tahu kenapa mereka dipanggil.


"Apa selama saya pergi, ada sesuatu yang terjadi dirumah ini." tanya Qianu tajam, dia bertanya akan hal itu setelah kejadian Imel yang dikunciin ditoilet umum didaerah wisata yang dia kunjungi.


Mengingat pesan Imel untuk tidak memberitahukan Qianu akan hal ini, begitu para pelayan curi-curi pandang ke arahnya, Hugo menggeleng pelan yang artinya meminta mereka untuk diam dan tidak memberitahukan apa yang dulu menimpa nona mereka, dan melihat kode dari Hugo, para pelayan itu menutup bibir mereka rapat-rapat dan membiarkan Hugo mengambil alih masalah tersebut, mereka mempercayai Hugo untuk menjawab pertanyaan sang tuan demi keselamatan bersama.


"Tidak ada yang terjadi tuan, semuanya berjalan dengan baik." saat mengatakan hal tersebut Hugo menunduk dan tidak berani menatap mata tuannya karna dia takut kebohongannya akan terbaca.


"Apa selama aku pergi istriku baik-baik saja, apakah selama aku pergi tidak ada yang berniat jahat kepadanya."


"Tidak ada tuan, nona baik-baik saja." jawab Hugo dengan sangat meyakinkan kali ini.


Dan melihat jawaban yang penuh keyakinan yang diberikan oleh orang kepercayaannya itu membuat Qianu mengangguk, Qianu yakin Hugo akan menjaga istrinya bahkan dengan nyawanyapun sekalian saking setianya Hugo kepadanya, dia memang tidak salah mempercayakan orang yang dia cintai kepada Hugo.


"Kalau tuan tahu apa yang terjadi dengan nona saat dia pergi, tuan pasti marah besar dan tidak akan pernah mempercayaiku lagi." bathin Hugo merasa bersalah, "Ini adalah salahku karna tidak bisa menjaga nona dengan baik."


"Kalian tahu, nona kalian adalah wanita yang sangat saya cintai, jadi saya harap, jaga dia dengan baik, saya tidak ingin hal yang buruk terjadi sama dia sama seperti kejadian barusan." Qianu memperingatkan para pekerjanya, "Terutama kamu Hugo, saat Imel berada diluar, saya harap kamu lebih mengetatkan penjagaanmu kepadanya, saya tidak ingin terjadi hal buruk terjadi pada Imel." Qianu menekankan pesan tersebut secara khusus kepada Hugo.


"Maafkan saya tuan karna saya telah mengecewakan tuan." permohonan maaf yang hanya bisa diucapkan oleh Hugo dalam hati.


"Baik tuan." mereka mengangguk patuh.


"Saya akan menjaga nona meskipun nyawa saya sendiri yang jadi taruhannya tuan." jawab Hugo mantap.


"Bagus." Qianu tampak puas mendengar jawaban Hugo.


"Baiklah, sekarang kalian boleh pergi."


"Terimakasih tuan." kompak mereka sebelum pergi dari ruangan sang tuan, para pelayan itu tampak lega setelah keluar dari ruangan yang mengintimidasi tersebut.


"Hugo." tahan Qianu yang membuat Hugo tidak jadi melanjutkan langkahnya.


"Iya tuan."


Qianu menepuk pundak Hugo pelan, "Terimakasih karna telah menjaga istriku dengan baik."


Rasanya Hugo ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada tuannya, tapi mengingat pesan Imel yang tidak ingin dirinya dan para pelayan lainnya kena amuk Qianu membuat Hugo mengurungkan niatnya itu, Hugo merasa tidak pantas saja menerima ucapan terimakasih dari tuannya.


"Tuan tidak perlu berterimakasih, menjaga nona Imel merupakan kewajiban saya tuan."


"Meskipun begitu, saya harus tetap berterimakasih kepadamu Hugo, kamu benar-benar setia dan bisa diandalkan."


Hugo hanya bisa tersenyum tipis menanggapi hal itu, karna dia benar-benar merasa tidak pantas mendapatkan pujian begitu dari tuannya.


"Baiklah Hugo, kamu juga sebaiknya istirahat, kamu pasti capekkan."


"Terimakasih tuan." Hugo berbalik dan berjalan menuju pintu keluar, namun langkahnya terhenti saat Qianu kembali memanggilnya.


"Hugo."


Hugo kembali berbalik menghadap tuannya.


"Benar yang dikatakan oleh istriku Hugo, kamu sepertinya harus mencari pendamping hidup, disaat seperti ini ada yang menyambutmu, dan yang paling penting adalah malamnya ada yang menemanimu saat tidur." Qianu mengatakan hal itu dengan senyum jail tersungingg dibibirnya.


"Iya tuan, saya akan mempertimbangkan saran tuan." jawab Hugo pada akhirnya karna bosan juga dia mendengar nona dan tuan majikannya yang terus memintanya untuk mencari pendamping hidup.


"Fikirkanlah baik-baik Hugo, kamu itu manusia bukan robot, kamu juga butuh kehangatan saat musim dingin tiba nantinya."


Hugo bukanlah anak kecil yang tidak tahu maksud dari kata-kata tuannya barusan, "Iya tuan saya mengerti."


"Kalau saya boleh saran Hugo, pertimbangkanlah keinginan Imel yang ingin menjodohkanmu dengan ART sahabatnya itu, sepertinya dia ingin banget melihat kamu berjodoh dan bersama dengan wanita pilihannya itu, ya belum tentu cocok juga sieh, tapi seenggaknya kenal sajalah dulu agar Imel tidak terlalu kecewa."


"Ya Tuhan, tuan juga ngebet banget ternyata ingin melihatku bersama dengan wanita yang direkomendasikan oleh nona Imel itu, hmm, untuk menyenangkan hati tuan dan nona Imel, aku fikir tidak ada salahnya hanya sekedar bertemu dengan wanita itu, hanya bertemu doankkan." suara hati Hugo.


"Baiklah tuan, saya akan memikirkannya."


Qianu menepuk pundak Hugo pelan, "Fikirkanlah baik-baik Hugo, percayalah, Imel dan aku melakukan ini karna kami itu peduli kepadamu."


"Iya tuan saya mengerti."


Qianu mengangguk, "Kamu sekarang lebih baik beristirahat."


"Baik tuan."


Dan sekarang Hugo benar-benar bisa keluar dari ruang kerja tuannya tanpa ditahan-tahan lagi.


*****


Imel menggeliat, rasanya dia sudah tertidur cukup lama, dan hal itu membuatnya kelaparan, bahkan perutnya berbunyi nyaring untuk memberitahunya kalau tuh perut minta diisi.


"Sudah berapa lama aku tidur, kenapa jadi lapar begini." Imel memegang perutnya.


"Uhkk lapar, pengen makan bakso diabang-abang gerobakan." tiba-tiba saja Imel ingin makan bakso, dan ingin makan langsung ditempatnya, dia sudah seperti orang ngidam saja.


Imel mencari-cari keberadaan ponselnya yang ternyata tergeletak dinakas samping tempat tidur, Imel menyeret tubuhnya kepinggir tempat tidur hanya untuk mengambil ponselnya hanya untuk mengetahui jam berapa sekarang, jam digital yang tertera diponselnya telah menunjukkan Angka setengah sebelas malam, sudah cukup malam dan bisa dibilang Imel tidurnya cukup lama, dan wajar saja kalau dia lapar dan perutnya sampai berbunyi begitu.


"Laper, ingin bakso." lirihnya, "Ingin gofood, tapi mana ada orang yang mau gofood dijam segini."


Imel juga baru melihat keadaan sekelilingnya, dia sendirian dikamar, entah dimana keberadaan Qianu saat ini.

__ADS_1


Dan saat tengah bertanya-tanya dimana keberadaan sang suami, pintu kamar tiba-tiba terbuka yang memperlihatkan tubuh tegap sang suami.


Qianu tersenyum saat melihat istrinya sudah bangun, karna tidur Imel sangat pulas sehingga dia rasanya tidak tega untuk membangunkannya hanya sekedar untuk makan malam.


"Kamu sudah bangun." sebuah pertanyaan bodoh memang mengingat Qianu melihat dengann mata kepalanya sendiri kalau istrinya duduk dengan mata mlek.


Imel mengangguk untuk menjawab pertanyaan suaminya tersebut.


Qianu berjalan masuk, dia dari ruang kerjanya menyelsaikan beberapa pekerjaan, Qianu kemudian mengambil tempat duduk disamping sang istri dan bertanya, "Bagaimana keadaamu sekarang." Qianu bertanya begitu karna saat pulang jalan-jalan dan karna terkunci ditoilet umum selama berjam-jam membuat Imel jadi linglung.


"Aku baik-baik saja kak."


"Ahh syukurlah." desah Qianu lega.


"Apa kamu lapar."


Imel mengangguk antusias saat Qianu menanyakan hal tersebut.


"Baiklah, aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan dan membawanya kemari." Qianu akan meraih telpon rumah untuk meminta pelayannya untuk membawakan makanan untuk istrinya yang saat ini tengah kelaparan.


"Aku ingin makan bakso." beritahu Imel.


Otomatis Qianu kembali menarik tangannya yang sudah menggenggam gagang telpon mendengar keinginan dari sang istri.


"Baiklah, biar aku suruh Hugo yang membelinya untukmu."


"Tidak mau." tolak Imel cepat yang membuat kening Qianu mengerut.


"Katanya tadi ingin makan bakso."


"Iya, aku memang ingin makan bakso, tapi diabang-abangnya langsung."


"Yang dijual dipinggir-pinggir jalan itu." Qianu mengernyitkan keningnya tidak setuju saat mendengar keinginan Imel karna berfikir kalau makan dipinggir jalan itu tidak higenis.


"Iya, yang jualnya itu pakai gerobakan kakak."


"Bagaimana kalau makan baksonya direstoran saja ya, kan lebih bersih dan higenis."


"Gak mau, maunya yang diabang-abang gerobakan kak Qianu." Imel ngeyel.


"Tidak bisa dibeliin saja oleh Hugo hemm."


"Gak mau, maunya makan langsung kak Qianu, dan mau makan sama kak Qianu juga, soalnya lebih nikmat saat dimakan ditempatnya langsung."


"Hmm, baiklah, ayok kita cari tukang baksonya." Qianu pada akhirnya terpaksa menuruti rengekan dari istrinya, ya begitulah ya yang namanya cinta, selalu melakukan apapun demi orang yang dicintai selagi mampu.


"Yesss." Imel mengepalkan tangannya diudara saat keinginannya dikabulkan.


Qianu mengambil dua jaket tebal dari dalam lemari, satu dia kenakan sendiri karna udara malam hari dingin, dan satunya lagi dia pakaikan ditubuh Imel, "Pakai, diluar sangat dingin."


"Terimakasih suamiku." ujar Imel saat Qianu memakaikan jaket tersebut ditubuhnya.


"Nahh, ayok kita berangkat." ajaknya setelah memakaikan jaket tersebut ditubuh sang istri.


"Ayokk." Imel merangkul lengan Qianu manja.


****


"Kak itu pedagang baksonya, hentikan mobilnya kak." tunjuk Imel pada pedagang bakso yang mangkal dipinggir jalan.


Qianu hanya berjengit saat melihat tukang bakso pilihan Imel, "Ini kamu tidak mau berubah fikiran apa, tidak mau makan direstoran saja, lihat itu tempatnya dipinggir jalan, pasti banyak debu-debu yang beterbangan yang membuat bakso itu kotor, kalau nanti kamu sakit perut gimana." didetik terakhir Qianu masih berusaha membujuk Imel supaya berubah fikiran.


Akhirnya Qianu berhenti membujuk Imel karna gadis itu kukuh mau makan disana, dia kemudian menghentikan mobilnya tepat disamping tukang bakso.


"Pak, baksonya dua ya." pesan Imel pada sik tukang bakso saat dia sudah turun dari mobil.


"Baik neng."


"Kok dua, emang bisa habis."


"Kan kakak juga."


"Aku gak mau makan, kamu saja yang makan."


"Ihh aku gak mau makan sendiri, kakak juga harus makan donk." bujuk Imel.


"Baiklah." lagi-lagi Qianu menuruti keinginan istrinya itu.


Sambil menunggu pesanan bakso yang dipesan oleh Imel, mereka duduk dikursi kayu dipinggir trotoar, dan gak lama kemudian, sik abang-abang mengantarkan pesanan mereka.


"Terimkasih abang." kata Imel dengan senyum manis sebagai sebuah keramahan.


"Sama-sama neng." sik abang balas tersenyum sebagai sopan santun.


"Bisa tidak jangan ganjen begitu." protes Qianu saat melihat istrinya tersenyum sama sik tukang abang bakso begitu sik abangnya telah berlalu.


"Kak Qianu selalu saja bilang kalau aku ganjen, itu bukan ganjen kakak, itu namanya ramah, ramah ya kakak, diingat itu."


"Ramah juga tidak perlu pakai senyum begitukan, jangan sembarangan mengumbar senyum terhadap setiap laki-laki, aku tidak suka." sewotnya.


"Terus aku harus gimana, berwajah datar gitu seperti kak Qianu."


"Ya, itu lebih baik."


"Ntar aku dikira sombong kak, ihh gak maulah aku, kakak sendiri saja yang datar kayak tembok, ntar aku cantiknya hilang lagi."


Qianu mendesah berat mendengar jawaban Imel, "Cantiknya saat didepan aku saja, gak perlu cantik dihadapan orang lain."


Imel melengkungkan bibirnya mendengar kata-kata Qianu tersebut, "Oh, jadi kakak itu cemburu ya ceritanya kalau aku senyum gitu dihadapan laki-laki lain."


Qianu mendelik, "Jangan sembarangan ya kamu kalau ngoomong, yang bilang aku cemburu siapa."


"Ya itu, kakak tidak ngebolehin aku senyum-senyum didepan laki-laki lain."


"Nanti sik laki-lakinya nyangkanya kamu suka Mell sama mereka."


"Akhh kakak mah banyak bacotnya, bilang saja cemburu saja kek gitu, akukan senang tahu kalau kakak itu cemburu." Imel cembrut, karna bicara dengan suaminya itu tidak pernah simple, selalu berbelit-belit.


"Sudah makan saja, gak usah manyun gitu, tadi katanya lapar."


"Suapin."


"Makan sendiri Imel, jangan manja kayak gitu."


"Ishh kak Qianu ini, tidak bisa diajak romantis-romantisan." keluh Imel sembari melahap baksonya.


****

__ADS_1


"Heii, pulang sekolah langsung gas kuy kerumahnya Juli." imbuh Nuri saat mata pelajaran terakhir telah berakhir, bahkan bel pulangpun sudah berdering.


"Oke." balas Imel.


Mereka bertiga rencananya mau menyelsaikan tugas matimatika yang tadi pagi diberikan oleh pak Top.


Imel sudah minta izin sama Qianu dan suaminya itu sudah mengizinkannya, ya iyalah diiizinkan, ya kali tidak diizinkan, kan ngerjain tugas.


"Ehh ajak Gebi juga donk sekalian untuk ngajarin, yang paling bisa diandelinkan dia." saran Juli yang saat ini tengah memasukkan peralatan tulisnya ditasnya.


"Sudah gue chat, dan dia bersedia untuk ngajarin."


"Oke gas kuy, om Hugo sudah nungguin tuh didepan."


Ketiga remaja itu berjalan keluar kelas, namun terlebih dahulu mereka berjalan ke kelas IPA I untuk nyamperin Gebi sahabat mereka, dan ternyata Gebi sudah menunggu mereka didepan kelas.


"Ayok kuy cabut."


Dan didepan gerbang, mobil suaminya yang dibawa oleh Hugo telah nangkring didepan, begitu melihat nona majikannya, Hugo keluar dari mobil.


"Selamat siang nona." sapa Hugo.


"Siang om Hugo." jawab mereka berempat kompak.


"Ihh om Hugo mah makin hari makin cakep saja, makin mirip dengan Vin Diesel saja." goda Nuri.


"Ahh nona bisa saja." tanggap Hugo malu-malu, siapa sieh yang tidak suka disama-samakan dengan aktor holywood terkenal itu.


"Oh iya Hugo, aku mau ngerjain tugas di rumahnya Juli, anterin ya, aku juga sudah izin kok sama kak Qianu." beritahu Imel.


"Baiklah nona."


"Sekalian juga ya om Hugo ketemu sama ayangnya." goda Gebi sambil senyum-senyum begitu.


Juli turut menimpali, "Mbak Atun pasti senang banget lho Hugo, pas saya bilang ada laki-laki tampan yang mau kenalan dengannya, dia itu sangat berbunga-bunga lho."


"Ya Tuhan, apa sieh sebenarnya yang sedang terjadi, kenapa mereka sangat ingin menjodohkan aku dengan sik Atun ini." keluhan yang hanya bisa dikeluhkan oleh Hugo dalam hati.


"Cie om Hugo yang sebentar lagi akan bertemu dengan ayang, pasti grogikan ya."


"Akhh nona, jangan menggoda saya nona."


"Ehh, lebih kita berangkat sekarang saja agar Hugo cepat ketemu sama sik pujaan hati." intrufsi Imel yang diangguki oleh sahabat-sahabatnya.


"Kelihatan dari wajahnya kalau om Hugo sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mbak Atun."


"Fitnah saja nona Gebi itu." rutuk Hugo dalam hati.


Hugo membuka pintu belakang untuk nona majikannya dan teman-temannya, sementara Nuri, seperti biasa duduk dikursi depan.


Hanya butuh waktu 20 menit untuk sampai dirumahnya kakaknya Juli, dijam segini biasanya Agus tidak ada dirumah karna dia masih berada dikantor.


"Nona, saya sebaiknya tunggu nona dimobil saja ya."


"Ehh, mana bisa begitu om Hugo." bantah Juli saat mendengar kata-kata Hugo, "Ayok masuk, katanya mau ketemu sama mbak Atun."


"Tidak usah nona, beneran saya disini saja."


Tanpa basa-basi, Nuri menarik pergelangan tangan Hugo, "Ayok masuk om Hugo, mbak Atun pasti sangat senang melihat kehadiran om Hugo."


Tidak bisa menolak, akhirnya Hugo terpaksa menuruti keinginan gadis-gadis remaja tersebut, dan Nuri baru melepaskan tangannya saat sudah berada diruang tamu, yang lainnya juga ikutan duduk.


"Oke tunggu ya, aku cari mbak Atun dulu untuk bawain minuman dan cemilan." Juli berlalu untuk meninggalkan teman-temannya dan Hugo diruang tamu.


"Lihat deh, tangannya om Hugo bergetar, dia pasti nieh grogi mau ketemu sama ayang." Gebi lagi-lagi menggoda Hugo, gadis-gadis itu memang tidak ada putus-putusnya menggoda Hugo.


"Santai saja om Hugo, gak usah tegang begitu." Imel berusaha menenangkan bodygourd suaminya itu.


"Saya tidak tegang kok nona." bantah Hugo, dia memang tidak tegang kok.


"Saya kasih tahu ya om Hugo, intinya om tidak akan menyesal kenal sama mbak Atun, mbak Atun itu benar-benar oke." Nuri bahkan mengacungkan dua jari jempolnya untuk menggambarkan cantiknya mbak Atun.


Hugo mah tidak peduli apakah yang namanya Atun itu cantik atau tidak, karna memang saat ini dia tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun, meskipun dia selalu bilang akan mempertimbangkan saat ditanya oleh Qianu, tapi itu dilakukan untuk menyenangkan hati sang tuan saja.


Gak lama kemudian, Juli kembali muncul, Juli senyum-senyum sendiri, dan dibelakangnya, dia datang bersama dengan mbak Atun yang membawa minuman dingin dan camilan, sontak saja, ketiga gadis yang duduk diruang tamu itu pada berdehem gak jelas.


"Ekhem ekhem."


Hugo yang sejak tadi menunduk mendongak dan mengikuti arah pandang ketiga gadis tersebut, dan matanya bertemu dengan mata seorang wanita yang berusia sekitar 30 puluhan, wanita itu tersenyum malu-malu kepadanya, Hugo menduga, wanita itulah yang namanya Atun yang dijodoh-jodohkan dengannya, ya Hugo tidak menampik sieh, kalau menurut Hugo, wanita itu cantik untuk ukurannya.


Imel berbisik, "Nahh om Hugo, itu tuh yang namanya mbak Atun, cantik ya, sampai gak kedip gitu lho matanya."


Mendengar kata-kata nona majikannya, Hugo yang memang bener tidak berkedip menatap mbak Atun menoleh ke arah nona Majikannya.


"Gimana, cantikkan mbak Atunnya om Hugo." Imel kembali menanyakan hal tersebut.


"Hmmm, iya cantik." jawab Hugo malu-malu.


"Wiehh kayaknya ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama nieh." Gebi juga turut menggoda.


"Gak sia-sia donk ya kita maksa-maksa om Hugo untuk datang kemari untuk bertemu dengan mbak Atun." Nuri turut menimpali.


"Hai gays, sorry ya lama nunggunya, ada yang kudu dandan dulu tuh." goda Juli, tahu dirinya yang dimaksud membuat mbak Atun menunduk malu.


Mbak Atun kemudian meletakkan minuman dan cemilan yang dibawanya dimeja, mbak Atun curi-curi pandang ke arah Hugo, begitu juga dengan Hugo.


Keempat remaja yang yang kesemsem menjodohkan mbak Atun dan Hugo dibuat gemes olehnya.


"Ekhem ekhemm, ciee ceiee." Nuri kembali menggoda, kan jadi malulah itu mbak Atunnya dan juga Hugo.


"Nahh om Hugo, kenalin, ini mbak Atun, dan mbak Atun, ini om Hugo." Imel memperkenalkan kedua orang itu.


"Salam kenal, saya Hugo." ujar Hugo.


"Salam kenal juga, saya Atun."


"Duhh, jadi gemes deh." lisan Gebi.


"Gayss, biarkan om Hugo dan mbak Atun kenalin lebih dekat, kita sebaiknya ngerjain tugas diruang tengah." intrufsi Juli.


"Oke." jawab mereka serempak.


"Nahh, kalian berdua mending ngobrol dulu oke, kenalan lebih dekat, kami mau ngerjain tugas dulu." kata Imel.


"Baik nona." jawab Hugo.


"Baik-baik ya berdua." pesan Nuri sebelum berlalu dari ruangan tersebut.

__ADS_1


*****


__ADS_2