
Qianu kemudian membuka pintu mobil dan kekeluar menerjang hujan deras menuju kap mobil untuk memeriksa kerusakan pada mobil.
"Kak Qianu, kakak mau ngapain." teriak Imel namun pertanyaannya tidak diindahkan sama sekali oleh Qianu.
Imel yang melihat Qianu berada dibawah guyuran shower alami dari langit juga ikutan turun, dia tidak peduli kalau gaun yang saat ini dia kenakan adalah gaun mahal, Imel berjalan mendekati Qianu, meskipun tidak berarti banyak, namun Imel menengadahkah tangannya diatas kepala Qianu supaya Qianu tidak basah kuyup.
"Apa yang kamu lakukan Imel, kenapa kamu ikut turun, sana kamu lebih baik tunggu aku didalam, kamu bisa basah." teriak Qianu untuk mengalahkan derasnya suara air hujan supaya bisa didengar oleh Imel.
Imel menggeleng, "Bagaimana aku bisa enak-enak berada didalam sedangkan kak Qianu basah kuyup kayak gini, kalau kakak sakit gimana."
Jauh dilubuk hatinya, Qianu terharu juga dengan perhatian Imel kepadanya, gadis itu benar-benar mengkhawatirkannya, "Kamu tidak perlu mencemaskan aku Imel, aku laki-laki, hujan batu sekalipun tidak akan membuat aku sakit."
"Jadi, masuk sana."
Imel menggeleng, gadis itu memang susah untuk dikasih tahu, "Gak mau, aku mau nemenin kakak disini."
"Terserah kamu saja." akhirnya Qianu membiarkan Imel melakukan apa yang dia inginkan.
Qianu berkutat beberapa saat dengan mesin mobil untuk mencari tahu penyebab kerusakan mobilnya, meskipun dia adalah seorang petinggi perusahaan, Qianu juga sedikit mengerti dengan dunia permesinan.
Dan setelah 20 menit kemudian, dengan usaha yang keras, akhirnya Qianu bisa memperbaiki mobilnya sendiri, terbukti, mobil itu bisa hidup saat dia mencoba untuk menstaternya, suara deru mesin dari mobil itu terdengar membelah gelapnya malam dan bersaing dengan suara air hujan.
"Yeyyy hidup." Imel bertepuk tangan sebagai selebrasi atas keberhasilan Qianu.
Qianu sendiri tidak bisa menyembunyikan senyum kepuasan dibibirnya saat kerja kerasnya membuahkan hasil.
"Ternyata kemampuanku masih belum hilang."
"Wahh, kak Qianu benar-benar hebat, selain pemimpin perusahaan, jago fotografi, kak Qianu jago mesin juga." puji Imel, "Benar-benar perfect."
Qianu hanya tersenyum puas karna bangga dengan dirinya sendiri.
"Hachiii, hanchiii." Imel tiba-tiba bersin-bersin.
"Hachi Hachi." sepertinya gadis itu flu.
__ADS_1
Qianu sebenarnya khawatir, tapi dia malah memarahi Imel, "Nahh tuhkan aku bilang juga apa, bandel seih gak mau ngedengerin orang, jadi bersin-bersinkan sekarang."
"Hachii Hachii." Imel tidak membalas.
Qianu melepaskan jas yang saat ini dia kenakan dan menyampirkannya ditubuh Imel, sayangnya itu tidak membantu banyak karna jas Qianu juga basah, jadi tidak bisa membuat tubuh Imel menghangat.
Sementara Imel masih saja bersin-bersin.
"Makanya lain kali kalau orang ngomong itu didengar, kalau kamu sakit beginikan aku juga yang repot." Qianu ngomel, dia persis seperti ibu yang tengah mengomeli anaknya yang bandel yang tidak mau mendengarkan omongannya.
"Bisa tidak kak Qianu tidak usah ngomel-ngomel, kakak sebaiknya menjalankan mobil supaya kita cepat sampai dirumah, aku kedinginan kak, aku butuh ganti pakaian."
Membenarkan apa yang dikeluhkan oleh Imel, Qianu mulai menstater mobilnya dan melaju.
Sepanjang dalam perjalanan, Qianu beberapa kali melirik ke arah Imel karna khawatir, wajah gadis itu terlihat pucat, bibirnyapun terlihat memutih, Qianu melajukan kecepatan mobilnya supaya cepat sampai rumah, karna yang saat ini dibutuhkan oleh Imel adalah tempat tidur yang nyaman dan kehangatan.
***
"Mell, bangun." Qianu berusaha membangunkan Imel, namun gadis itu tidak bergerak sedikitpun.
"Bangun Mel, bukannya kamu akan sekolah." masih tidak ada respon dari Imel yang membuat Qianu mendekati Imel, dia mencoba membangunkan Imel dengan menggerakkan tubuh gadis itu, namun Qianu kaget saat merasakan panas yang menjalar ke telapak tangannya saat menyentuh kulit lengan Imel yang terekpos karna Imel hanya memakai pakain lengan pendek.
"Astaga." Qianu kemudian beralih menyentuh kening Imel, kulit Imel benar-benar panas, menyentuhnya sudah seperti memegang bara api saja, "Kenapa bisa sepanas ini." Qianu mulai khawatir.
Lewat telpon yang terdapat dinakas samping tempat tidur dia meminta salah satu pelayan dirumahnya untuk membawakan baskom berisi air es dan handuk kecil untuk mengompres Imel untuk menetralisir rasa panas ditubuh Imel.
Gak lama setelah memberi perintah, pintu kamarnya diketuk dari luar, "Tuan, saya membawa apa yang tuan pinta."
"Masuk." perintahnya tidak sabaran.
Ternyata pelayan yang datang adalah Irma, pelayan yang sudah dianggap teman oleh Imel, dibelakang Irma ternyata mengekor Agnes, dia kepo ingin tahu apa yang terjadi.
"Ini tuan air esnya dan handuknya." Irma menyerahkan apa yang dibawanya sama Qianu.
Setelah mengambil alih apa yang disodorkan oleh pelayannya itu, Qianu segera mencelupkan handuk tersebut ke air es dan mengompres dahi Imel.
__ADS_1
"Nona Imel kenapa tuan." Irma bertanya karna khawatir.
Qianu menjawab dengan suara bentakan, "Kamu tidak lihat apa yang saya lakukan hah, kamu fikir Imel baik-baik saja."
Irma menunduk ketakutan, "Maafkan saya tuan."
"Apa sieh yang dilakukan oleh Qianu, kenapa coba dia harus khawatirnya berlebihan begini, padahal cuma panas biasa doank." Agnes tentunya tidak suka melihat hal tersebut.
"Panas, panas, panas." Imel menggigau dalam tidurnya.
"Iya ini aku kompres ya Mel agar gak panas." Qianu berusaha untuk menenangkan Imel
Qianu kembali mencelupkan handuk tersebut ke air dingin dan mengarahkannya didahi Imel, Qianu benar-benar telaten merawat Imel yang tengah sakit dan hal itu tentunya membuat Agnes semakin tidak suka.
"Qianu, bukannya kamu harus kerja ya." Agnes memperingatkan, "Kamu sebaiknya tinggalkan Imel, biar para pelayan kamu yang merawatnya."
"Aku tidak akan masuk kerja hari ini, aku akan merawat istriku." ucap Qianu dengan penuh penekanan.
Kata-kata Qianu tersebut semakin membuat Agnes semakin meradang, "Sialan, Qianu benar-benar sudah dibuat bertekuk lutut oleh gadis bodoh itu, tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan ini semua terjadi begitu saja."
Qianu kemudian berbalik dan kembali menyemprot Irma saat dilihatnya pelayannya itu masih berada dikamarnya, "Kenapa kamu masih berdiri disana seperti orang bodoh hah, sana cepat kembali ke dapur, buatkan bubur untuk istriku."
Irma berjengit saking kagetnya, "Ba..baik tuan." suara Irma mencicit saking takutnya.
"Qianu, kamu gak perlu berlebihan juga hanya gara-gara gadis kecilmu itu." timpal Agnes.
"Diam kamu Nes, aku tidak meminta pendapatamu." tandas Qianu, "Kamu juga sebaiknya keluar dari kamarku." usir Qianu.
"Tapi Qianu aku..."
"Keluar aku bilang." suara Qianu meningggi.
Dengan memendam kejengkelannya Agnes melangkahkan kakinya keluar dari kamar Qianu.
****
__ADS_1