
Agnes menangis sesenggukan, "Tega kamu sama aku Qianu, hanya karna gadis yang baru kamu kenal itu kamu tega menamparku." mata Agnes berkaca-kaca.
"Dia adalah istriku Agnes, jadi tidak mungkin aku hanya diam saja saat kamu menghinanya."
"Tapi aku sahabat kamu Qianu, aku lebih dulu mengenal kamu, dan seharusnya kamu tidak lupa Qianu, karna andil papakulah sampai kamu sebesar seperti sekarang ini." Agnes mengungkit-ngungkit tentang balas budi lagi.
"Jangan bawa-bawa om Ardan Agnes, beliau tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini." tandas Qianu meradang, dia paling tidak suka kalau diungkit-ungkit tentang budi seseorang yang telah menolongnya dimasa lalu, hal tersebut membuatnya merasa terbebani.
"Emang kenapa kalau aku bawa-bawa papa, kamu seharusnya malu Qianu, tidak seharusnya kamu menyakiti putri dari orang yang telah berjasa mengangkat derajatmu."
"Diam Agnes, aku bilang diam." ketus Qianu, "Aku bukanlah seseorang yang tidak tahu cara berterimakasih pada orang yang telah menolongku, dan kamu, pantas mendapatkan semua ini karna kamu sudah keterlaluan, bisa-bisanya kamu itu berniat untuk mencelakai istriku, kalau tidak ingat kamu adalah anaknya om Ardan, aku sudah melemparkan kamu ke jalanan." suara Qianu menggelegar.
"Kamu tidak perlu melemparkanku ke jalanan, Aku akan pergi dari sini, dan aku pastikan papa akan tahu perbuatanmu kepada putrinya."
"Pergilah Agnes, mungkin tempatmu bukan dirumahku, dan aku harap, setelah ini kamu cukup bijak dengan tidak membawa-bawa nama papamu yang terhormat."
Dengan menahan amarah Agnes berbalik menuju kamarnya, dia memasukkan pakaiannya ke kopernya, Agnes benar-benar sangat marah, "Sialan, kamu akan menyesal Qianu karna telah membuat aku seperti ini, aku akan menghancurkan kamu dan Imel istri bodohmu itu, camkan itu." rutuk Agnes dan menarik resleting kopernya dan menariknya keluar kamar dengan emos yang sangat kentara diwajahnya.
Saat Agnes keluar dengan menarik kopernya, Qianu sudah tidak berada ditempatnya lagi, bagi Qianu, menghabiskan waktu bersama dengan istrinya meskipun saat ini Imel tengah tidak baik-baik saja ketimbang dia harus berada dipesta mewah yang sangat menjengkelkan ini.
Dan sebelum benar-benar pergi dari rumah besar dan megah Qianu, Agnes menatap bangunan kokoh itu dengan mata memancarkan kebencian yang begitu sangat kentara.
"Tunggu pembalasanku Imel." geramnya sembari mengepalkan tangannya, "Kalau aku tidak bisa memiliki Qianu, berarti Imell juga tidak akan bisa." ucapnya dalam hati sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah besar milik Qianu.
****
Beberapa hari telah berlalu saat Agnes pergi dari rumahnya, Qianu berusaha mencari dokter terbaik untuk menyembuhkan dan membuat wajah istrinya kembali seperti dulu, dia kasihan melihat kondisi istrinya, hal tersebut sampai membuat Imel tidak mau masuk sekolah saking frustasinya dia dengan kulit wajahnya sendiri.
Setiap kali ngaca, Imel selalu saja menangisi kondisi wajahnya yang tidak baik-baik saja, wajahnya yang kemarin putih dan mulus kini rusak akibat ulah Agnes, kini tidak ada lagi gelar primadona dan wanita tercantik untuknya di sekokahannya, yang ada hanya gadis buruk rupa yang malu keluar rumah.
Qianu tentu saja tidak tinggal diam melihat kondisi sang istri, berbagai macam perawatan dia bayarkan hanya untuk melihat wajah istrinya seperti semula, mulai dari mendatangkan dokter kulit terbaik, sampai obat-obatan herbal dia usahakan untuk menyembuhkan istrinya, dan usahanya memang sedikit-demi sedikit sudah berhasil, buktinya wajah Imel setelah satu minggu lebih, pelan tapi pasti sudah mulai membaik.
Dan saat Qianu akan membaringkan tubuhnya ditempat tidur, Imel menyampaikan rasa terimakasihnya kepada Qianu.
"Kak Qianu."
"Hmmm." tanpa menoleh sedikitpun pada Winter yang menyapanya.
Imel menggeser tubuhnya mendekati Qianu, Imel kemudian memeluk suaminya, "Terimakasih."
"Untuk."
"Karna peduli kepadaku saat aku tengah terpuruk akibat ulah dari sahabatmu itu."
"Kamu tidak perlu berterimakasih Imel, lagian apa yang dilakukan oleh Agnes sudah diluar batas, kalau tidak ingat dia adalah anak om, aku sudah menjebloskannya ke penjara."
__ADS_1
"Kasihan ya Agnes, sekarang dia tinggal dimana ya."
"Kenapa kamu kasihan sama perempuan jahat seperti itu Imel, ingat, dia telah membuat wajah kamu menjadi rusak begini."
"Aku tahu sieh kak, tapi tetap saja aku merasa kasihan dengan Agnes, biar bagaimanapun, diakan tetap sahabatmu kak."
"Sudahlah Mell, aku malas ngebahas tentang gadis itu, lebih baik kita tidur saja ya."
"Hmmm, baiklah." Imel mengangguk patuh, "Tapi peluk ya kak Qianu."
"Dasar manja, udah gede masih saja minta peluk."
"Biarin aja, gak dosakan manja-manja sama suami sendiri, hehe."
Qianu yang gemes menjawil hidung istrinya itu, "Duhh, bisa aja ya kalau ngejawabnya."
"Istri siapa dulu donk."
"Hmm, sudahlah, jangan ajak aku ngobrol lagi, lebih baik sekarang kamu tidur oke."
Imel mengangguk.
Dan dalam pelukan Qianu Imel memejamkan matanya, bagi Imel, tidak ada hal yang lebih membahagiakan daripada tidur dipeluk oleh orang yang dia sayang.
****
Imel : Woee, bagaimana keadaan sekolah, perasaan anteng ayem saja
Juli : Sangat baik-baik saja tanpa elo
Imel : Pasti para penggemar gue pada nyariinkan
Nuri : Ada tuh, sik Raskin, Miun, Solii dan juga beberapa anak cowok yang bisa dibilang tidak normal pada kangen tuh sama lo
Imel : Ihh, amit-amitlah gue dikangenin sama anak-anak itu
Gebi : Lo masih belum sehat Mell
Imel : Iya, gue harus memulihkan wajah gue dulu baru dah gue masuk sekolah
Juli : Cepetan gieh lo sehat, dan terus masuk, soalnya ada yang rindu berat sama lo tuh.
Imel : Siapa
Juli : Ya bapak lolah, pak Rapi
__ADS_1
Imel : Itu mah bapak kesayangan elo
Nuri : Mel, pasti sangat membosankan kan berada seharian dirumah mulu
Imel : Ya gak juga sieh selagi gue megang ponsel
Nuri : Kalau gue mah, sudah pasti mati bosan
Juli : Jelas saja kalau lo mati bosan Nurdin, lokan kere, gak pernah punya quota internet
Gebi : Wk wk wk, skak mat lo
Imel : Wk wk
Nuri : Ihh teman lucnut emang lo bertiga ya, hobi banget menghina dan mentertawakan gue
Imel berkirim chat beberapa saat dengan ketiga sahabatnya setelah memutuskan untuk mengakhirinya, dan kini Imel merasa mengantuk, mulutnya terbuka lebar karna menguap.
"Ukhhh, ngantuknya gue." begitu kepalanya menyentuh bantal, hanya butuh waktu kurang lima menit saat Imel sudah terbang ke alam mimpi.
****
Disaat Imel saat ini tengah tidur dengan damai, ada seseorang yang tengah merenakan hal jahat kepadanya, orang itu tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah Agnes, wanita itu benar-benar lahir bathin pada Imel.
"Kamu harus mati Imel, aku tidak akan sudi melihat kamu hidup bahagia bersama dengan Qianu." Agnes tertawa jahat, tangannya memberi tanda silang berwarna merah tebal diwajah Imel.
Ting
Tong
Disaat Agnes tengah membayangkan niat jahatnya pada Imel, bell apartmen yang dia sewa berbunyi, itu menandakan adanya tamu berkunjung ke apartmennya.
Agnes sudah menduga siapa yang datang, "Ini pasti Altan."
Dan benar saja, diambang pintu, Altan berdiri dengan gagahnya, laki-laki itu masih mengenakan jas kerjanya.
Altan sebenarnya tampan, tapi sayangnya, Agnes yang sudah dibutakan oleh seorang mahluk bernama Qianu membuat Imel tidak bisa melihat ketampanan Altan.
"Kamu tinggal disini setelah diusir oleh Qianu." lisan Altan.
"Ralat Altan, aku itu tidak diusir, aku yang pergi sendiri tanpa paksaan."
Memang benar sieh, itu karna Agnes lebih dulu mengatakan kalau dia ingin pergi dari rumah Qianu sebelum Qianu mengeluarkan ucapan pengusirannya waktu itu.
"Apa kata kamu deh, sekarang aku harap kamu mengizinkan aku masuk Agnes, karna kaki sudah mulai kesemutan karna kamu bukannya mengajakku langsung masuk kedalam, kamu lebih dulu mengintrogasiku."
__ADS_1
Agnes menggeser tubuhnya kesamping, "Silahkan masuk Altan."
****