
"Ekhemmm, ekhem ekhem."
Ketiga gadis remaja itu kompakan menggoda Hugo saat Hugo akan mengantarkan mereka pulang satu persatu ke rumah masing-masing.
Yang pertama buka suara adalah Nuri.
"Gimana tuh om Hugo kesan pertamanya bertemu dengan Ayang Atun."
Hugo akan menjawab, namun Gebi lebih dulu buka suara, "Gimana om, cantik banget donk mbak Atunnya." sambil menaik turunkan alisanya.
"Ada rasa-rasa gak gitu saat om Hugo berada didekat mbak Atun." Imel turut menimpali, "Seperti ada rasa getaran-getaran gimana gitu."
"Ya ampun gadis-gadis labil ini, bener-benar deh mereka ini, tidak bisakah mereka membiarkanku bicara, untungnya nona majikan dan juga teman-temannya, kalau bukan, sudah saya turunkan mereka ditengah jalan begini." Hugo hanya bisa menyuarakan kekesalannya dalam hati.
"Hmm, itu...kami..hmmm, apa ya namanya." tiba-tiba saja Hugo ngomongnya jadi tidak jelas begitu, "Yahh begitulah nona." lha, ini tambah tidak jelas.
Ketiga gadis remaja itu saling melempar pandangan satu sama lain, karna jelas apa yang dikatakan oleh Hugo tidak jelas begitu.
"Om Hugo, pliss deh ah ngomongnya yang jelas agar kami ngerti." imbuh Gebi.
"Atau gara-gara bertemu dengan wanita cantik seperti mbak Atun sehingga om Hugo jadi tidak bisa mendeskripsikan perasaannya dengan baik." sahut Imel.
"Ya Allah om Hugo, badan aja yang gede, didekat wanita langsung ko begitu." timpal Nuri.
Duhh tiga remaja itu malah pada ngeledekin Hugo dah tuh, kan tambah malu donk Hugonya.
Ya memang sieh, Hugo memiliki ketertarikan sama mbak Atun, dan mbak Atun juga begitu sebaliknya sama Hugo, Allahu'alam sieh tapi, hanya Tuhanlah dan author yang tahu akan perasaan mereka.
"Jadi gimana nieh om Hugo, bisakan dijelaskan bagaimana perasaan om Hugo kepada mbak Atun, duhh kepo aku ini."
"Hmm, saya..yah memang ada ketertarikan kok sama Atun."
"Nahh tuhkan, apa aku bilang, mbak Atun itu cantik om, haha." Imel mentertawakan Hugo.
"Kenapa lo ketawa sieh Mell, ada yang lucu emang." protes Gebi.
"Ya gak ada, hanya saja gue mentertawakan om Hugo karna kemarin sok-sok'an jual mahal gitu dia gak mau kenalan sama mbak Atun, gue sampai maksa-maksa gitu tahu gak." curhat Imel.
"Dihh dasar ya om Hugo sok jual mahal gitu."
Hugo senyum malu-malu karna membenarkan apa yang dikatakan oleh sang nona majikan.
"Apa menurut om Hugo, mbak Atunnya tertarik gak sama om Hugo."
"Duhh." Hugo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Saya kurang tahu kalau itu nona."
"Gaslah kuyy tanyain sik panjulll, telpon dia telpon dia cepat." perintah Gebi yang membuat Imel langsung mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
"Eh eh, nona mau ngapain." panik Hugo.
"Mau nelpon Julilah om Hugo untuk nanyain apakah mbak Atun juga suka sama om Hugo, Juli saat ini pasti tengah mengintrogasi Artnya tersebut." jawab Imel mulai mendial nomernya Juli.
"Duhh, jangan donk nona, saya tidak siap mendengar kalau saya mendapat penolakan."
"Cieee yang takut ditolak, tenang saja om, felingku mengatakan kalau mbak Atun itu juga menyukai om Hugo." Nuri menenangkan.
"Ayok Cahyo ditelpon sik panjullnya."
"Elahh ini juga sudah gue telpon, namun belum diangkat sama sik panjull itu."
Beberapa detik kemudian.
"Eh eh diangkat diangkat." Imel memberitahu, dia kemudian mengaktifkan pembesar suara supaya teman-temannya dan juga Hugo bisa mendengar suara Juli.
"Panjulll, gimana kabar mbak Atun, elo udah nyari tahu belum bagaimana perasaannya terhadap om Hugo." tanya Imel langsung.
"Pastinya donk, ini lagi gue introgasi dianya."
"Gimana hasil introgasi elo."
"Suka katanya dia sama bodygourd laki lo itu Cahyo."
Nuri dan Gebi pada terlihat antusias deh tuh mendengar informasi yang disampaikan oleh Juli barusan, sedangkan Hugo senyum-senyum sendiri.
"Yang benar lo."
"Om Hugo bilangnya juga ada ketertarikan sama mbak Atun, jadi panjull, kayaknya usaha kita untuk mencomblangkan mereka tidak sia-sia."
"Wahh akhirnya berhasil juga, gila, gue rasanya bersuka ria banget ini."
"Ya udahlah ya, sekarang biarkanlah mereka pada pdkt dululah, tugas kita ya tinggal memantau saja."
"Oke sip."
Setelah itu, Imel mematikan sambungan, dia tersenyum dan senyumnya bisa dilihat oleh Hugo lewat pantulan spion depan, "Dengar sendirikan om Hugo kalau mbak Atun bilangnya suka sama om."
Hugo hanya tersenyum malu menanggapi ucapan nona majikannya, tidak dikasih tahu juga dia sudah tahu mengingat tadi dia mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh nona majikannya karna pembesar suara yang diaktifkan.
"Cie om Hugo malu-malu ciee."
"Ada yang bentar lagi jadian nieh."
"Lo pada tahu tidak, suami gue bilang, kalau om Hugo nantinya meni kah, dia akan membuatkan pesta mewah untuk om Hugo."
"Duhh beruntungnya."
__ADS_1
"Makanya om, cepatan nikah donk biar kami cepat kondangan gitu."
"Nikah sama siapa sieh nona, orang saya saja tidak punya pacar."
"Heii, itu mbak Atun mau dikemanain donk, gak diakuin gitu."
"Bukan begitu nona, tapikan hubungan kami itu belum pasti lho nona."
"Makanya buru pastiin ya Hugo, kejar mbak Atun sampai dapat, lagiankan juga mbak Atun sudah ngasih lampu ijo tuh untuk om Hugo."
"Iya om, bener tuh, jangan sok-sok'an jual mahal deh ya, mbak Atunkan cantik, ART primadona gitu lho dikomplek perumahannya kak Agus, ntar kalau om Hugo tidak cepat-cepat meresmikan mbak Atun, keburu diembat mbak Atunnya sama satpam kompek."
"Hmm, iya nona." hanya itu jawaban yang bisa diberikan oleh Hugo supaya nona majikannya dan juga teman-temannya pada berhenti berkoar-koar.
"Secepatnya kami ingin mendengar kabar bahagia lho om Hugo."
"Iya nona, tunggu saja ya, saya pasti akan mengundang nona Nuri, nona Gebi dan juga nona Juli nantinya kalau saya akan menikah." diiyain sajalah sama Hugo agar cepat supaya nieh tiga abg labil tidak mencecarnya lagi.
"Sipp itu Hugo."
****
Saat turun dari mobil, Imel bisa melihat mobil milik Altan terparkir didepan rumah, ya begitulah, semenjak pacaran dengan Agnes, Altan rajin sekali datang kerumah suaminya, Imel sih maklum ya, namanya juga orang lagi dimabuk asmara gitu, jadi bawaannya ingin bertemu mulu, Imel hanya tidak tahu kalau Altan sering ke rumah suaminya hanya untuk melihatnya.
"Itu mobilnya tuan Altankan nona." komen Hugo terlihat tidak suka saat melihat mobil Altan terparkir didepan rumah tuannya.
"Iya."
"Tuan Altan rajin amet ya nona datang kemari, hampir tiap hari."
"Kayak om Hugo tidak pernah jatuh cinta saja, kalau orang jatuh cinta itukan tiap hari ingin bertemu terus." jelas Imel.
"Hmmm."
"Ya sudah om Hugo, aku masuk dulu."
"Baik nona."
Imel kemudian melangkah kakinya memasuki rumah besar milik sang suami, dan saat dia masuk, dia tidak menemukan Agnes dan Altan diruang tamu ataupun diruang tengah, yahh Imel sieh tidak terlalu kepo dimana mereka berada, entah dikamar tidur atau dikamar mandi, terserahlah Imel tidak peduli, itukan bukan urusannya donk, oleh karna itu Imel melangkahkan kakinya menuju kamarnya ke lantai dua.
Namun sebelum dia menaiki tangga pertama, suara Irma temannya yang merupakan pelayan dirumah Qianu menghentikannya.
"Nona Imel, apa nona akan makan, saya siapkan makan ya untuk nona."
"Ohh itu tidak perlu kok kak Irma, aku sudah makan kok tadi dirumahnya Juli."
"Baiklah kalau begitu nona." Irma pamit undur diri setelah mengatahui kalau sang nona tidak ingin makan.
__ADS_1
Sedangkan Imel melanjutkan perjalanannya ke kamarnya.
****