MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
NONTON PERTANDINGAN BASKET


__ADS_3

Gebi terlihat berlari menghampiri ketiga sahabatnya saat mereka keluar dari kelas.


"Ada apa Geb, tumben banget lo nyamperin saat pulang gini." tanya Nuri melihat sahabatnya itu menghampiri mereka saat baru keluar.


"Gue cuma mau ngasih tahu lo pada, ntar sore team basket sekolah kita bakalan tanding dengan team basket SMA TUNAS BANGSA, dan pertandingan itu akan diadakan di SMA TUNAS BANGSA." Gebi menginfokan perihal tersebut kepada sahabat-sahabatnya.


Dan sebagai informasi saja, SMA PERTIWI dan SMA TUNAS BANGSA merupakan musuh bebuyutan sejak dulu, entah apa yang melatarbelakangi permusuhan tersebut, allhu'alam hanya Allah yang tahu.


 "Jadi kita nonton yuk, nyemangatin team basket sekolah kita." ajak Gebi antusias.


"Gue mau banget donk, asyik sekalian ngecengin anak-anak SMA TUNAS BANGSA." semangat Nuri menanggapi ajakan Gebi.


"Huss, apaan seih lo Nur, diotak lo hanya ada cowok, cowok dan cowok saja, lagian apa lo gak ingat, cowok-cowok SMA TUNAS BANGSA itu bagaimanapun tampannya itu haram hukumnya untuk dideketin apalagi kalau sampai dipacarin, bisa-bisa lo dianggap penghianat." Juli memperingatkan Nuri.


Julikan juga sebagai kapten chers SMA PERTIWI pasti akan ikut ambil bagian meramaikan pertandingan tersebut sebagai pemandu sorak dan memberikan semangat kepada team basket sekolahnya yang akan bertanding nantinya.


"Ohh iya, duhh gue suka lupa." Nuri memukul keningnya pelan, "Kenapa sieh sekolah kita harus musuhan sama SMA TUNAS BANGSA, kan sayang gak bisa ngecengin cowok-cowok SMA TUNAS BANGSA yang terkenal keren dan ganteng-ganteng." Nuri terlihat nelangsa.


"Apa sieh yang ada diotak lo Nur, jelas-jelas anak-anak cowok di SMA kita jauh lebih tampan, ngapain sieh harus cari yang jauh."


"Dihh tampan apanya, sekelas Raskin, Miun dan Solihin yang lo bilang tampan, beuhhh, bahkan kodokpun tidak mau sama mereka."


"Ya bukan merekalah, maksud gue sekolah kitakan luas banget, kita punya stok cowok-cowok tampan dan manis, tinggal lo cari saja, kalau lo berpatokan nyari cowok tampan dikelas kita ya mana ada, yang rada-rada lumayan wajahnya ya cuma Renald, yang lainnnya teruma Miun and the genk wajahnya benar-benar dibawah standar."


"Hei hei, bisa stop gak bibir lo itu pada ngocol tentang cowok cakep, intinya sekarang adalah harus pada datanglah ya ntar sore buat nyemangetin team sekolah kita."


"Ya gue sieh wajib berada pada garis depan." kata Juli 


"Ya iyalah, lokan kapten chersnya."


"Itu siapa ya nama kapten basket SMA kita, Jeri ya."


"Jefri Nuri." Juli membenarkan.


"Ahh iya Jefri anak IPA I yang tampan itukan, bukannya dia teman kelas lo ya Geb."


Gebi tersenyum tipis dan mengangguk, "Iya, dia memang teman kelas gue, selain sebagai kapten basket, dia juga cerdas lho."


"Nahh kalau yang itu sieh oke, Geb, gue titip salam sama dia ya, dia belum punya pacarkan."


"Ya kali cowok sepopuler Jefri gak punya pacar." Juli menimpali, "Cowok secakep itu ya pasti adalah pacarnya Nur, pas latihan basket saja banyak tuh cewek-cewek yang setia nontonin dia sambil jerit-jerit manggil namanya."


"Yahh tuhkan, giliran yang cakep-cakep saja sudah pada sold out duluan."


"Namanya juga barang bagus."


Etdah deh remaja-remaja ini kalau bicara cowok cakep tidak ada habisnya, suka sambung menyambung menjadi satu membentuk pulau-pulau itulah Indonesai, e eh, kok jadi nyanyi sieh ini.


"Woee Mell, perasaan lo diem aja dah sejak tadi, napa lu, sakit." tegur  Gebi karna sejak tadi Imel tidak ikutan nimbrung.


"Gue baik-baik saja kok, hanya saja kayaknya gue gak bisa ikutan nonton sama kalian." Imel ingin sieh ngasih suport untuk team basket sekolahnya, tapi fikirnya pasti Qianu tidak akan mengizinkannya pergi, tadi saja dia ngirim pesan dan Qianu mewanti-wantinya supaya dia langsung pulang dan tidak keluyurun.


"Apa, lo gak bisa ikut, yang benar saja lo Mell."


"Perasaan ya Mel, sejak lo nikah lo jarang banget gitu bisa kumpul-kumpul bareng kami, ya kami tahu sieh lo udah nikah dan tidak sebebas saat lo masih lajang dan ada beberapa pekerjaan yang mungkin yang harus lo kerjakan, tapi ya luangin waktulah Mel sekali-kali untuk kumpul-kumpul sama kita-kita, tanpa lo rasanya semua kurang gitu." kata Juli berharap Imel ikutan nonton tadi sore.


"Masalah izin suami lagi ya Mel." imbuh Nuri, "Kak Qianukan orangnya super baik, ya kali dia tidak ngizinin elo nonton, lagiankan lo sama kita-kita ini."


"Ya diakan baik cuma didepan lo pada, dia memang berlagak sebagai suami idaman depan orang lain, tapi saat kami berdua, dia tidak ubahnya bak iblis tampan." suara hati Imel yang tidak mungkin dia ungkapkan dihadapan teman-temannya.


"Apa kak Qianu posesif Mel, tipe yang cemburuan gitu gak." kepo Gebi.


"Mmm gak juga, dia biasa-biasa aja sieh."


"Terus apa masalahnya, apa perlu gue yang mintain izin kayak yang waktu itu." tawar Nuri.


"Gak usah, ntar gue aja yang ngomong sama dia."


"Tapi lo pasti datangkan Mel."


"Mmm, gue gak janji sieh."


"Gak bisa ya Imel, lo harus kudu datang titik." ini sieh pemaksaan namanya.


"Ya gue usahin deh, tapi gak janji."


"Pokoknya kami tungguin lo dan bakalan nyediain tempat duduk untuk lo."


"Hmmm, iya pokoknya bakalan gue usahain untuk datang." janji Imel untuk menenangkan ketiga sahabatnya.


ponsel yang ada disaku kemeja Imel berbunyi yang merupakan panggilan dari Hugo.


"Iya Hugo, ini aku sudah keluar."


"......" 


"Ohh sudah sampai ya, baiklah aku akan keluar sekarang." setelah itu Imel memutus sambungan.

__ADS_1


"Gue duluan ya, jemputan gue udah nunggu tuh, byeee." Imel berjalan setengah berlari.


"Ingat ya Mell lo harus datang, awas lo kalau gak, kami pecat lo sebagai sahabat." Juli mengancam.


"Iya bakalan gue usahain." Imel berteriak.


****


Imel : Kak Qianu, aku boleh nonton pertandingan basket gak, aku perginya sama sahabat-sahabatku.


Imel ingin nonton, lagian pertandingan basket antar sekolah sangat jarang diadakan, dan biasanya akan sangat seru kalau ngasih suport dan berteriak bersama dengan teman-temannya yang lain, tapi Imel ragu Qianu akan mengizinkanya, bahkan chatnya saja belum dibalas oleh Qianu padahal centang dua abu-abu.


Imel hanya mondar-mandir diruangan besar yang merupakan kamar Qianu dan yang sekarang juga menjadi kamarnya, dia menunggu balasan chat yang dia kirim.


Ping


Imel dengan cepat memeriksa ponselnya karna berfikir itu merupakan balasan dari Qianu, namun harapannya tidak terwujud karna ternyata chat tersebut dari Juli di chat group.


Juli : Woee, udah pada otw belum nieh, pada buruan gieh, udah rame ini.


Juli sik kapten chers tentu saja lebih dulu sampai disekolah bersama anggota chers lainnya.


Nuri : Ini gue sudah mau otw


Gebi : Gue juga


Nuri : Melll, Imelll, Cahyo Abadi, lo dimana


Imel : Iya ini gue


Juli : Datang lo Mell


Imel : Iya, tapi ini chat minta izin gue masih belum dibalas sama kak Qianu.


Nuri : Pokoknya kami tunggu elo deh Mel.


Gebi : Oke, deh semuanya, ketemu di SMA TUNAS BANGSA, jangan lupa siapin tenaga supaya bisa berteriak kenceng untuk ngasih semangat ke team basket SMA kita


Nuri : Tenang saja, masalah teriak-teriak, gue gak usah lo ragukan.


Gak lama, ponsel Imel berdering, dia menemukan nama Qianu terpampang dengan huruf besar dilayar ponselnya.


"Duhh, kenapa gak balasnya pakai chat aja, guekan gak takut-takut banget walaupun dia marah kalau balasnya lewat chat, kalau nelpon kayak gini dan marah-marah langsungkan bikin gue sport jantung."


Imel menarik nafas panjang sebelum menjawab telpon dari Qianu, dia menguatkan mentalnya terlebih dahulu untuk menerima setiap bentakan yang akan Qianu ucapkan, meskipun Qianu biasa marah-marah kepadanya hampir tiap hari, itu bukan berarti dia terbiasa.


"Kamu dimana." ternyata Qianu tidak marah-marah seperti yang Imel fikirkan, buktinya Qianu bertanya dengan nada suara yang biasa-biasa saja. 


"Dirumah kak."


"Keluar." perintah Qianu yang membuat Imel  kebingungan.


"Ehh, keluar."


"Iya keluar."


"Ngap…" 


Tut tut tut, panggilan dimatikan begitu saja tanpa permisi, "Akukan minta izin mau pergi nonto basket, kenapa malah disuruh keluar."


Meskipun bingung untuk apa dia disuruh keluar, tapi toh Imel keluar juga.


Dan saat Imel sudah berada diluar, tepat didepannya dia menemukan Qianu berdiri didepan mobil dan sepertinya laki-laki itu tengah menunggunya.


"Kak Qianu ngapain…."


"Masuk."


"Ehhh."


"Kamu mau nonton pertandingan basket team sekolah kamukan, ayok masuk."


"Ohh iya." Imel senang mengetahui fakta kalau Qianu mengizinkannya dan Qianu sendirilah yang mengantarkannya bukan Hugo.


Imel sudah duduk nyaman dengan seatbel yang melingkari tubuh bagian atasnya saat Qianu mulai menjalankan mobil.


Imel baru menyadari kalau suaminya itu memakai pakaian kasual, padahal Imel yakin dia baru pulang dari kantor, Imel tidak tahu saja kalau Qianu memang selalu membawa baju ganti untuk urusan tertentu, dan seperti sekarang ini, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa hanya untuk menemani Imel pergi nonton, entah kenapa tiba-tiba ada dorongan dari dalam dirinya untuk ikut nonton pertandingan basket antar anak SMA tersebut, fikirnya hitung-hitung untuk merefres otaknya yang mumet oleh pekerjaan, selain itu juga, alasan utamanya yang sebenarnya adalah karna dia khawatir, khawatir kalau Imel digoda oleh cowok-cowok iseng, secara gitu istrinya sangat cantik dan sudah pasti sangat rentan untuk digoda dan diisengi oleh cowok-cowok nakal, dan membayangkan hal itu saja membuat Qianu geram.


"Terimakasih kak Qianu karna telah mengizinkan aku nonton dan kakak sudah mau bersusah payah mengantarkan aku juga." ungkap Imel saat mobil sudah mulai berjalan membelah jalan raya.


"Kamu jangan geer ya Imel, aku juga ingin nonton pertandingan basket, hitung-hitung ingin bernostalgia dengan masa lalu." alibinya. 


"Kakak mau ikut nonton."


"Hmmm."


"Tapi disanakan anak-anak SMA semua kak."

__ADS_1


"Terus."


"Emang kakak nyaman gitu diantara anak-anak SMA."


"Emang kenapa kalau aku diantara anak-anak SMA, aku bahkan sering berada diantara bapak-bapak."


Imel jadi kesal sendiri dalam hati, bukan begitu maksudnya, maksudnyakan dia jadi tidak leluasa kalau berada didekat Qianu, ya bukannya dia mau macam-macam sieh dengan lirik sana lirik sini, kadangkan memang sikap absurdnya suka tiba-tiba keluar saat bersama dengan teman-temannya dan itu biasanya reflek tanpa direncanakan.


"Kenpa kamu menghela nafas begitu, kamu tidak suka gitu saya ikutan nonton."


"Bukan kak bukan, aku…tentu saja senang kakak ikutan nonton." bohongnya hanya karna tidak mau Qianu marah.


"Baguslah kalau begitu." 


SMA TUNAS BANGSA memiliki dua lapangan basket, satu out dor dan satunya lagi in dor, dan kali ini pertandingan basket diadakan di ruangan in dor.


Sejak kedatangannya bersama dengan Qianu, Qianu yang tubuhnya mencolok dan  sangat tinggi dibandingkan dengan yang lainnya dengan wajah tampan khas asinya begitu mencuri perhatian dari para abg-abg labil, beberapa diantara mereka bahkan berbisik satu sama lain tentang betapa tampannya laki-laki tersebut.


Yang jadi pusat perhatian sieh cuek-cuek bebek, tapi Imel yang risih karna beberapa abg-abg itu memandangnya iri seolah-olah ingin mendorong Imel jauh-jauh dari Qianu.


Imel berusaha menghubungi salah satu sahabatnya untuk mencaritahu keberadaan mereka.


"Kita duduk dimana, pegal juga kakiku lama-lama berdiri kayak gini." komen Qianu yang mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru yang bisa dijangkau oleh matanya.


"Bentar kak, aku hubungin Nuri dulu untuk mencaritahu dimana keberadaan mereka." 


Imel mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Nuri.


"Lo dimana, gue udah didalam nieh."


"Arah jam 12 Mell."


Imel bisa melihat Nuri melambai-lambaikan tangannya untuk menarik perhatian Imel, Imel balik melambaikan tangannya.


Melihat Imel melambai-lambaikan tangannya, Qianu menoleh ke arah pandangan Imel.


"Wahh hebat lo ya Mell, dikawal langsung oleh bodygourd pribadi, duhh senangnya jadi Imel, kemana-kemana diintilin mulu sama bodygourd pribadi berwajah tampan, jadi Iri Hayati."


"Jangan lebay lo Nur, mendingan sisain satu, eh dua kursi kosong untuk gue dan kak Qianu."


"Oke, perintah siap untuk dilaksanakan bu boss."


"Ahh lo emang bisa aja deh Nur." 


Gebi kembali memasukkan ponselnya.


"Kak, kita kesana yuk." Imel menunjuk ke arah Nuri yang terus-terusan melambaikan tangannya.


Qianu mengangguk dan mengikuti Imel berjalan mendekati dimana Nuri dan Gebi berada.


"Hai kak Qianu." Gebi dan Nuri menyapa kompak begitu mereka telah tiba.


"Haii Gebi, Nuri." balas Qianu, ternyata dia masih ingat nama-nama sahabat istrinya.


"Wahh senangnya, kak Qianu ternyata masih inget dengan nama kita Geb."


"Juli mana." Qianu bertanya karna tidak melihat sahabat Imel yang satu itu.


"Tuhhh." Gebi menunjuk ke pinggir lapangan ke arah gadis berpakain minim dengan rambut diikat tinggi dengan membawa pom pom, "Dia jadi pemandu sorak untuk memberi semangat untuk team basket sekolah kami kak." beritahu Nuri.


"Juliiiiiii." teriak Nuri tiba-tiba dengan suara keras untuk menarik perhatian Juli, Juli yang jaraknya lumayan jauh berhasil menoleh dan melambaikan tangannya, tapi itu lho, efek dari suara Nuri membuat kuping orang pekak, sehingga reflek, Imel dan Gebi dan beberapa orang lainnya yang berada disekitarnya menyumpal telinga mereka.


"Astagaa lo itu ya Nur, bisa gak sieh gak usah teriak-teriak, kalau kami budek gimana." protes Gebi.


"Yang pentingkan lo gak budek." jawab Nuri tanpa rasa bersalah dan balas melambai ke arah Juli, dia mengepalkan tangannya untuk memberi semangat pada Juli.


"Semangattt." ucapnya tanpa kata yang dibalas oleh Juli dengan hal yang sama.


"Pertandingannya sudah dimulai." heboh Gebi dan Imel saat melihat wasit meniup pluit.


Qianu duduk disamping Imel, cowok itu terlihat tenang dengan pandangan lurus kedepan untuk menyaksikan pertandingan yang sebentar lagi akan dimulai.


"Sumpah itu Jefri keren banget anjirrr." puji Nuri saat melihat kapten basket SMA PERTIWI, Nuri tidak melepaskan kontak matanya pada cowok jangkung berbadan atletis itu.


Sementara itu Gebi yang duduk disamping Nuri hanya senyum-senyum misterius, tidak ada yang tahu arti senyum itu kecuali dia.


Pada dasarnya, Imel yang juga tidak bisa diam apalagi saat bersama dengan sahabat-sahabatnyapun mulai mengomentari.


"Ehh lihat dehh, tuh cowok dari SMA lawan yang kulitnya sawo mateng manis ya, kayak lo Nur kulitnya." yah yang namanya anak remaja,8kalau muji itu emang tidak jauh-jauh dari yang namanya wajah, Imel melupakan fakta kalau saat ini dia tengah bersama suaminya, dia tidak tahu apa wajah Qianu disampingnya sudah kayak mau nelen orang mendengar Imel memuji cowok lain didepan hidungnya sendiri.


"Cakepan Jefrilah kemana-mana." Gebi membantah.


"Jefri emang cakep sieh seperti kata lo Geb, tapi inikan menurut selera, kalau gue sieh lebih suka yang kulitnya agak rada-rada coklat gitu, putih banget membosankan kayak kulit vampire."


Imel memang benar-benar tidak ingat kalau Qianu ada disampingnya atau bagaimana, dia gak ingat apa kalau Qianu memiliki kulih putih pucat, kata-katanya itu membuat Qianu tersinggung.


****

__ADS_1


__ADS_2