
Imel merasa sangat capek, sehingga setelah mandi dan melakukan aktifitas suami istri dikamar mandi, di tepar ditempat tidur, untungnya ini adalah hari minggu sehingga dia bisa tidur sepuasnya, dan lagipula sekarang, perlakuan Qianu kepadanya tidak seperti dulu lagi, Qianu tidak membiarkannya bekerja lagi sehingga Imel merasa aman dan bisa menghabiskan waktunya sepanjang hari ini untuk tidur.
Qianu mencium kening Imel yang terlihat kelelahan karna dia telah membuat Imel bekerja keras sepanjang malam dan tadi pagi juga saat dikamar mandi.
"Beristirahatlah gadis kecilku." bisiknya ditelinga Imel.
Sementara dia sudah rapi dengan jas formalnya, entah kemana tujuannya mengingat hari ini adalah hari minggu dan otomatis dia juga libur.
Imel tertidur sepanjang hari dan baru bangun saat dia merasakan perutnya melilit minta diisi, saat terbangun, tubuhnya lebih bertenaga dan tidak seperti tadi pagi.
Imel meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar, dia benar-benar kelaparan karna dia memutuskan untuk tidur sebelum sarapan.
Saat tiba didapur, beberapa pelayan yang berada disana menyapanya, termasuk juga Irma yang sudah dianggap sahabat oleh Imel.
"Selamat siang nona." sapa para pelayan tersebut sopan.
"Ini sudah siang ya." Imel meringis menyadari kalau dia sudah terlalu lama tertidur sampai matahari sudah meninggi.
"Mmm, bisakah saya minta tolong, saya lapar ingin makan." ujar Imel sopan.
"Ohh tentu saja nona, nona sebaiknya duduk, kami akan menyiapkan makanan untuk nona."
"Terimakasih." ucap Imel yang membuat para pelayan tersebut tidak enak hati karna Imel tidak seharusnya berterimakasih karna itu adalah kewajiban mereka untuk melayani istri tuan mereka.
Imel berjalan kemeja makan, menunggu makanan yang akan dibawakan oleh pelayan, sambil menunggu, Imel membuka ponselnya hanya sekedar memeriksa apakah ada chat masuk, dan beneran ada, ada beberapa chat yang dikirim oleh Altan, laki-laki yang Imel kenal dipesta pernikahan rekan bisnis Qianu waktu itu.
Altan : Pagi Imel, Imel kok ngilang sieh, gak pernah ada kabar beritanya.
Altan : Imel sibuk ya
Altan : Padahal Imel janji lho akan membalas pesan-pesanku, tapi ditunggu-tunggu, tidak ada satupun pesan balasan dari Imel.
Altan : Ini minggu lho Mel, Imel ada acara gak
Altan : Mau jalan gak
Altan : Imel yang cantik dan manis, bisa gak jawab pesanku
"Isshh, apa-apaan sieh sik Altan ini, dasar tukang teror." rutuk Imel.
Imel tidak berniat membalas pesan tersebut, selain dia tidak berminat untuk dekat dengan laki-laki manapun, dia juga sudah bersuami, yah meskipun suaminya tidak mencintainya, itulah yang Imel fikirkan saat ini meskipun akhir-akhir ini Qianu selalu bersikap manis kepadanya dan tidak memperlakukannya seperti dulu lagi.
Setelah beberapa menit menunggu, Irma membawakan makanan pada Imel, "Ini nona makanannya." Irma meletakkan makanan tersebut didepan Imel.
"Terimakasih kak Irma."
"Nona tidak perlu berterimakasih, itu memang sudah menjadi kewajiban saya untuk melayani nona."
"Meskipun begitu, aku harus tetap berterimakasih, kak Irma dan yang lainnyakan sudah bekerja keras."
"Terserah nona saja kalau gitu."
"Kalau gitu saya permisi nona, nona silahkan nikmati makanannya."
Irma sudah akan berbalik saat Imel menahannya dengan sebuah pertanyaan.
"Oh ya kak Irma, kak Qianu kemana, apa ditaman belakang, latihan menembak, atau dia lagi berenang." tanya Imel karna tidak melihat batang hidung suaminya.
"Mmm, tuan tidak ada dirumah nona."
Mendengar hal tersebut, Imel yang tadi fokus dengan makanannya kini menoleh ke arah Irma.
"Tidak ada dirumah, dia ke kantor gitu, bukannya ini hari minggu ya."
__ADS_1
"Mmm kurang tahu juga sieh nona, tapi tadi pagi-pagi tuan terlihat pergi, tuan terlihat terburu-buru."
Imel mengernyitkan keningnya, berfikir kemana gerangan suaminya itu pergi, "Kak Qianu pergi kemana ya kira-kira."
"Hmmm, ya udah, terimakasih ya kak Irma atas informasinya."
"Iya nona sama-sama, saya tinggal kalau gitu."
Imel hanya mengangguk.
"Kak Qianu kemana ya, tidak seperti biasanya dia pergi dihari minggu kayak gini, biasanya dia selalu menghabiskan waktunya dirumah." Imel bertanya-tanya, "Hmm, tapi baguslah, aku bisa menikmati hariku seharian tanpa dia dengan tenang, kalau ada diakan bawaannya tegang mulu, aku bisa bersantai ria dan melakukan apapun tanpa dia." Imel tersenyum lebar saat memikirkan hal tersebut, fikirnya sehari tanpa Qianu pasti akan benar-benar menyenangkan untuknya meskipun hanya dihabiskan dengan berdiam diri dirumah, dia bisa nonton sepuasnya karna rumah Qianu yang besar ini dilengkapi dengan bioskop mini.
Dan sampai sore haripun Qianu belum ada tanda-tandanya pulang, dan Imel masih tidak peduli dan terlihat baik-baik saja, tapi begitu terang berubah menjadi gelap, Imel merasakan perasaan yang aneh, perasaan semacam kesepian yang menyusup ke relung hatinya, apalagi selama satu minggu terakhir ini dia selalu tidur bersama dengan Qianu, sehingga tidak heran dia merasa ada yang kurang saat dia tidur sendirian diranjang berukuran king size tersebut, Imel merasa gelisah dan tidak tenang, bukan karna dia khawatir dengan Qianu, karna dia yakin laki-laki itu baik-baik saja mengingat laki-laki itu selalu membawa pistol kemanapun dia pergi, ditambah lagi dengan keberadaan Hugo dan juga beberapa pengawal lainnya yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi, hanya saja, Imel merasa perasaannya agak berbeda saat dia tidur sendirian.
"Kok aku jadi aneh begini sieh, seharusnya aku senang kalau tidak ada kak Qianu, akukan bisa leluasa." Imel bermonolog sendiri, "Tapi kok aku merasa kesepian gini sieh."
Imel yang tadinya berbaring bangun dan duduk, dia lama-lama jadi kesal juga sama dirinya sendiri dan lebih-lebih sama Qianu yang tidak mengabarinya sama sekali.
"Dia kemana sieh sebenarnya, kenapa gak ngasih kabar sieh, apa dia akan pulang atau gak."
"Apa aku hubungin di aja kali ya." Imel meraih ponselnya, dia sudah mengetikkan chat untuk menanyakan keberadaan Qianu, namun disaat akan mengirimnya, dia membatalkan niatnya.
"Jangan ahh, nanti dia marah lagi sama aku kalau aku kepo." Imel kembali meletakkan ponselnya.
Dia kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkam matanya, sayangnya dia tidak bisa tidur sama sekali, fikirannya dipenuhi oleh bayang-bayang sang suami, dan hal itu membuatnya berteriak saking frustasinya.
"Akhhhhh, sialan, kenapa sieh aku kefikiran kak Qianu terus, sedangkan orang yang aku fikirkan saja tidak peduli denganku."
Imel kembali meraih ponselnya, karna tidak bisa tidur, dia memilih untuk curhat kepada sahabat-sahabatnya, dia berharap sieh salah satu dari sahabat-sahabatnya ada yang masih terjaga mengingat ini sudah tengah malam.
Imel : Woeee, masih ada yang masih hidup gak lo
Juli : Nape lo Cahyo teriak-teriak kayak tarzan
Nuri : Tumben banget lo masih idup dijam segini, baru selesai ngecas lo
Ternyata ketiga sahabatnya masih pada on, dan Imel bersyukur dia bisa mengeluarkan keluh kesahnya kepada mereka, meskipun bukan pemberi solusi yang baik, tapi seenggaknya Imel sering terhibur dengan cletukan sahabat-sahabatnya tersebut.
Imel : Gue galau nieh
Gebi : Tuhkan benar
Nuri : Nape lo
Imel : Menurut kalian kalau suami gak pulang-pulang dari sejak pagi sampai sekarang kenapa tuh
Nuri : Sudah pasti selingkuh tuh
Nuri mengetik tanpa berfikir
Juli : Jangan sembarangan lo kalau ngomong Nurdin, kak Qianukan orang sibuk, ya kalau dia gak pulang sampai sekarang ya kemungkinannya ya dia kerjalah, kerja untuk menafkahi kekasih halalnya.
Gebi : Emang dia gak bilang dia mau pergi kemana sama lo Mel
Imel : Itu dia, dia gak pamit sama gue, dia main pergi aja waktu gue tidur
Juli : Terus, dia gak hubungin elo gitu ngasih kabar
Imel : Gak
Gebi : Karna dia gak hubungin elo, lo juga gak hubungin dia dan gak nanyain dia dimana gitu
Imel : Gak
__ADS_1
Juli : Jangan bilang lo gak hubungin suami lo karna gengsi
Salah satu alasannya memang itu sieh selain takut dimarahin juga.
Imel : Iya
Gebi : Tolol lo, jangan sok donk lo, ingat Mel, lo sama kak Qianu sudah menjadi suami istri, jadi jangan merasa gengsi hanya untuk menghubungi suami lo
Disemprot dah tuh sama bibir cabenya Gebi.
Nuri : Baca tuh Mel, jangan besaran gengsi lo
Juli : Gue yakin, suami lo pasti bakalan senang banget kalau lo hubungin dia lebih dulu
Gebi : Lagian lo gak khawatir apa, suami lo belum pulang sampai jam segini, tapi lonya malah enak tidur-tiduran kayak gini
Imel : Iya deh, gue hubungin suami gue dulu kalau gitu.
Nuri : Sana gieh hubungin
Karna ucapan sahabat-sahabatnya tersebut, Imel kembali menggerakkan tangannya untuk hanya sekedar mencaritahu keadaan suaminya meskipun hanya sekedar melalui chat.
Imel : Kak Qianu, kakak dimana, kenapa belum pulang sampai sekarang, apa kakak baik-baik saja, aku khawatir lho.
Namun ternyata, chat Imel hanya centang satu abu-abu yang artinya Qianu tidak aktif sama sekali.
"Gak aktif lagi, dimana sieh dia sebenarnya, apa susahnya sieh cuma ngirim pesan doank untuk memberitahu supaya gue gak khawatir."
Sepanjang malam itu, Imel benar-benar tidak bisa tidur, dia galau berat, dia tidak pernah menyangka kalau dia bisa galau seperti ini hanya gara-gara Qianu.
"Tuhan, jagalah dia, meskipun dia sering jahat sama aku, tapi aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk sama kak Qianu."
****
Sementara itu, beribu-ribu kilometer jauhnya dari posisi dimana Imel berada, Qianu juga terlihat gelisah, laki-laki itu terlihat tidak tenang dalam tidurnya, sama seperti Imel yang tidak bisa tidur karna memikirkanya, Qianu juga terjaga sepanjang pagi itu, dia sudah menelpon kepala pelayannya dan menanyakan keadaan Imel hanya untuk membuat hatinya tenang, dan kepala pelayan itu mengabarkan kalau nona mereka baik-baik saja dan makan dengan baik, meskipun begitu, Qianu masih merasa tidak tenang, dia ingin cepat-cepat pulang dan berada disisi Imel sekarang, dia ingin memeluk gadis kecilnya.
Tadi pagi dia mendapatkan panggilan mendadak dari orang kepercayaannya yang mengurus perusahaannya di negara XX yang sedang mengalami masalah yang membuatnya harus terbang tanpa sempat berpamitan dengan Imel yang waktu itu tertidur pulas.
Dan sekarang, masalah yang terjadi diperusahaannya bisa ditangani oleh Qianu dengan cepat sehingga dia bisa kembali ke negaranya, kalau dulu dia malas kembali ke tanah airnya karna peristiwa kelam yang pernah dialaminya, dia kembali hanya untuk membalaskan dendam orang tuanya, kini Qianu terlihat tidak sabaran untuk segera kembali, karna ada seseorang yang membuatnya bersemangat untuk kembali, siapa lagi kalau bukan Imel, gadis yang saat ini menguasai relung hatinya.
"Hugo, sore ini kita kembali." perintahnya pada pengawalnya tersebut.
"Tapi tuan, apa tuan tidak bertemu dengan tuan Ardan dulu, tuan Ardan telah menyiapkan acara makan malam untuk menyambut kedatangan tuan." beritahu Hugo.
Qianu lupa akan hal itu, saking kangennya dengan Imel, dia melupakan undangan makan malam dari sahabat papanya itu, hal tersebut membuat Qianu mendesah dalam hati, disatu sisi, dia ingin segera pulang dan bertemu dengan Imel, disatu sisi, dia tidak mungkin mengabaikan undangan makan malam dari Ardan, laki-laki yang begitu dia segani dan hormati, atas campur tangan laki-laki itulah sehingga membuat kehidupannya menjadi lebih baik seperti sekarang sehingga dia berhasil membalaskan dendam masa lalu orang tuanya kepada Satya Cahya Abadi, Qianu memang berhasil membuat Satya Cahya Abadi hancur, bahkan dia berhasil mengambil alih perusahaan milik laki-laki tersebut, tapi sayangnya, Qianu terjebak dan termakan rencananya sendiri karna dia jatuh cinta beneran sama putri dari laki-laki yang telah menghancurkan keluarganya, setengah mati Qianu menekan perasaannya, sayangnya dia tidak bisa mengabaikan perasaannya pada Imel begitu saja, dia sudah terlanjur mencintai gadis itu sehingga membuatnya tersiksa antara melanjutkan balas dendamnya atau berhenti dan mulai kehidupannya yang baru dengan putri dari Satya Cahya Abadi.
"Bagaimana tuan, apakah kita pulang sore ini atau..."
"Saya akan memenuhi undangan makan malam dari om Ardan dulu Hugo, setelah itu kita akan langsung kembali, Imel sendirian dirumah, saya takut terjadi apa-apa sama anak itu."
Inginnya Hugo mengatakan, 'Nona Imel tidak sendirian dirumah, ada banyak pelayan dan juga pelayan yang bersamanya dan akan menjaganya, jadi tuan seharusnya tidak perlu khawatir' namun Hugo lebih memilih diam, karna kalau salah ngomong bisa-bisa Qianu akan memarahinya.
"Tuan sepertinya sangat mengkhawatirkan nona Imel, apa tuan sekarang benar-benar jatuh cinta dengan anak musuhnya itu, tuan tidak ingat apa niat awalnya menikahi nona Imel."
"Hugo, berhenti dipusat perbelanjaan yang biasa kita datangi."
"Baik tuan."
Hugo mematuhi perintah tuannya dengan menghentikan mobil yang dia kendarai disebuah pusat perbelanjaan yang diperuntukkan untuk kalangan atas, sebuah pusat perbelanjaan yang menjual barang-barang mewah dari brand-brand ternama di dunia.
Qianu membeli banyak barang, mulai dari tas, sepatu, gaun, dan beberapa aksesoris, semua benda tersebut dibelinya untuk Imel, selama ini dia memang tidak pernah membelikan Imel apa-apa.
"Imel pasti suka." gumamnya.
__ADS_1
Qianu tersenyum dalam hati membayangkan ekpresi Imel saat pulang nanti dan memberikan barang-barang mewah tersebut, karna setahunya, wanita sangat suka jika dihadiahi barang-barang mewah, "Aku sudah tidak sabar untuk segera kembali, tapi sayangnya Imel harus menunggu."
*****