MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
TENGGELAM


__ADS_3

"Apa lihat-lihat." bentak Qianu saat Imel menatapnya dengan pandangan mupeng.


Imel langsung membuang pandangannya dibentak begitu, "Apaan sieh dia, gak dilihat salah, dilihat salah, apa sieh sebenarnya maunya." rutuk Imel hanya bisa menyuarakan kekesalannya dalam hati.


"Aku ingin berenang, jadi kamu bersihkan air kolam renang ini."


Imel menoleh ke arah kolam renang, air kolam itu terlihat bersih dan jernih, "Tapikan itu airnya sudah bersih kak, apanya yang mau dibersihin." protes Imel, dia yakin Qianu hanya berniat mengerjainya saja.


"Aku bilang bersihin ya bersihin, kamu gak lihat itu ada daun yang mengambang."


"Tapi itukan daunnya cuma dua buah."


"Meskipun cuma dua buah, itu tetap namanya sampah." tandas Qianu, "Sekarang cepat sana bersihkan, waktu kamu lima menit, kalau tidak bersih dalam waktu lima menit, kamu yang akan aku ceburkan kedalam."


"Iya iya aku bersihkan."


Imel mengambil alat untuk menjaring beberapa helai daun yang terapung ditengah kolam renang,  sementara Qianu duduk santai dikursi pinggir kolam renang menjemur kulitnya.


"Cuma daun beberapa helai ini doank dia pakai komplein, dasar cowok menyebalkan." rutuk Imel mulai melakukan apa yang diperintahkan oleh Qian.


Namun karna area pinggir kolam renang itu licin sehingga membuat Imel terpleset dan tergelincir kedalam kolam renang.


"Dasar gadis ceroboh." desis Qianu saat melihat Imel terjatuh.


Imel yang tidak bisa berenang timbul tenggelam dipermukaan kolam renang, "Tolong…" dia berusaha meminta pertolongan.


"Ciehhh, pura-pura gak bisa berenang lagi, dia fikir aku akan ketipu apa dengan aktingnya."


"Tolonggggg." teriak Imel untuk terakhirkalinya sebelum dia benar-benar klelep kedalam air kolam renang.


Qianu tetap cuek, dia bahkan membraingakan tubuhnya tanpa beban, tapi setelah beberapa detik Imel tidak juga muncul dipermukaan, rasa khawatir mulai menjalari hatinya, dia langsung berdiri dan berlari ke arah kolam renang dan menceburkan tubuhnya kedalam, Qianu berenang agak ketengah untuk menggapai tubuh Imel dan membawanya kembali naik ke permukaan, gadis itu terlihat tidak sadarkan diri saat Qianu membaringkannya dilantai.


Qianu memberi pertolongan pertama, dia menumpuk tangannya didada Imel dan menekan dada tersebut beberap kali, namun tidak ada yang terjadi, Imel tetap terbaring dan tidak bergerak sama sekali, Qianu kembali menekan tangannya dan menekan dada Imel dengan sedikit lebih kuat.


"Ayok sadarlah Imelll." dia mulai agak panik juga, meskipun dia berniat membalas rasa sakit hati keluarganya pada keturunan Satya, tapi dia tidak sampai ingin membunuh Imel juga, dia hanya ingin membuat Imel menderita.


Karna cara yang dilakukan tidak membuahkan hasil juga, Qianu terpaksa menggunak cara terakhir yang bisa dia lakukan, caranya adalah, dengan memberi nafas buatan untuk Imel.


Qianu mendekatkan bibirnya dan mulai memberi nafas buatan untuk Imel, dan cara itu ternyata berhasil, air yang sempat tertelan dan menyumbat paru-paru Imel muncrat bak air mancur ke permukaan.


Ukhuk


Ukhuk

__ADS_1


Imel terbatuk-batuk sambil memegang dadanya yang terasa agak sakit.


Sedangkan Qianu, dia terduduk, antara merasa lega dan kesal sekaligus secara bersamaan.


"Dasar gadis ceroboh, gak berguna, disuruh membersihkan kolam renang saja tidak becus, kerjaanmu hanya bisa menyusahkanku doank." omel Qianu.


Udah tenggelam dan hampir kehilangan nyawa, dan sekarang malah dimarah-marahin, siapa yang tidak sedih coba, begitu juga dengan Imel, air matanya jatuh tanpa bisa dikontrol, dengan cepat Imel menghapusnya, karna kalau Qianu melihatnya menangis, sudah bisa dipastikan laki-laki itu akan tambah marah kepadanya dengan mengatakannya gadis cengeng.


"Maafkan aku…aku terpleset." Imel hanya bisa menunduk sedih.


"Masuk sana, ganti pakaianmu, kamu bisa masuk angin karna mengenakan pakain basah begitu, aku tidak ingin repot karna harus mengurus kamu yang sakit."


"Baik kak." Imel buru-buru pergi.


"Dasar gadis ceroboh, bisanya hanya menyusahkanku saja."


****


Tok


Tok


"Nona Imel." suara Irma memanggil Imel dari balik pintu.


Saat ini Imel lagi beristirahat ditempat tidurnya, "Masuk Irma."


Imel sebenarnya malas untuk bangun, dia juga sangat malas bertemu dengan Qianu apalagi tadi pagi Qianu membentak-bentaknya dengan demikian rupa, tapi ya gak mungkin dia menolak perintah itukan.


"Baiklah, saya akan menemuinya." ujar Imel mengangkat tubuhnya dengan paksa.


Sepanjang perjalanan menuju kamar Qianu, Imel bertanya-tanya, apalagi yang Qianu ingin dia lakukan, sampai dia sudah tiba didepan pintu kamar yang tertutup, tangannya mengepal untuk mengetuk pintu berwarna coklat tua itu.


"Masuk." terdengar perintah dari dalam.


Imel menghela nafas sebelum mendorong pintu dan memasuki kamar suram milik Qianu.


"Kakak memanggilku." tanya Imel untuk memastikan.


Saat ini Qianu berdiri membelakanginya, laki-laki itu terlihat rapi dengan stelan jas formalnya, mendengar pertanyaan Imel, Qianu berbalik dan berkata, "Kamu ikut aku malam ini."


"Ikut kakak, kemana kak."


"Kamu tidak memiliki hak untuk bertanya, tugasmu adalah menuruti apa yang aku katakan."

__ADS_1


"Dasar Hitler." umpat Imel dalam hati.


Merasa penampilannya sudah sempurna, Qianu berjalan menuju pintu keluar, "Kenapa kamu hanya diam saja, kamu tidak dengar apa yang aku katakan." bentaknya saat Imel hanya berdiri mematung ditempatnya.


Imel buru-buru melangkahkan kakinya mengikuti Qianu.


"Apa aku tidak perlu ganti baju dulu." imbuh Imel saat sadar akan pakaian yang dia kenakan tidak layak untuk dibawa keluar.


"Pakai itu saja."


"Tapi…."


Qianu menghentikan langkahnya dan menatap Imel, pandangan itu mampu membungkam Imel dan dalam waktu dekat dia tidak akan bersuara lagi.


Dan kini mereka sudah duduk dikursi penumpang, Imel masih bertanya-tanya dalam hati, kemana gerangan Qianu akan membawanya, pertanyaan yang tentu saja tidak akan terjawab olehnya, bertanya secara langsungpun tidak membantu mengingat Qianu menolak untuk memberitahunya.


"Jalan Hugo."


"Baik tuan."


Mobil berhenti disebuah salon kecantikan mewah dan terkenal dikota ini.


Makin heranlah Imel saat melihat dimana mobil berhenti, "Lho, kenapa berhenti disini, inikan salon kecantikan."


"Yang bilang kandang kambing siapa." respon Qianu menyebalkan.


"Turun." perintahnya karna Imel hanya menatap bangunan salon kecantikan tersebut.


Imel hanya mengikuti Qianu, dia tidak bertanya-tanya lagi, karna setiap kali dia bersuara, Qianu bawaannya ingin marah-marah terus kepadanya.


Saat mereka memasuki salon kecantikan tersebut, seorang wanita cantik tapi agak berumur berjalan mendekati mereka dan memberi penyambutan yang ramah.


"Selamat datang tuan Qianu, selamat datang nona." sapa sik Wanita dengan senyum ramahnya, "Apa ada yang bisa saya bantu tuan."


Qianu melirik ke arah Imel, "Buat gadis ini cantik."


Pandangan sik wanita beralih pada Imel yang berada disamping Qianu, wanita itu meneliti penampilan Imel untuk sesaat sebelum memberi komentar, "Cantik sekali, gadis yang anda bawa benar-benar memiliki kecantikan yang natural, tinggal dikasih sedikit polesan make up, dia akan bertambah wah."


"Jadi Qianu membawaku kesini hanya untuk mendandaniku, tapi dalam rangka apa." tanya Imel dalam hati.


"Lakukan yang terbaik."


"Baik tuan, serahkan semuanya kepada saya, saya tidak akan mengecewakan tuan." ucap sik wanita penuh percaya diri, "Ayok cantik ikuti saya, kita akan membuat kamu semakin cantik dan bersinar dan membuat semua orang kagun." ujar sik wanita lebay.

__ADS_1


Imel hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh wanita tersebut tanpa membantah.


****


__ADS_2