
Ketiga sahabat Imel mangut-mangut mengerti, meskipun agak kesal juga sieh karna Imel tidak memberitahukan tentang hal itu sejak awal kepada mereka.
"Mel, lo bilang suami lo orang kaya, terus kenapa penampilan elo kucel kayak gini, kayak orang yang memiliki beban hidup yang sangat berat saja." komen Juli.
"Kalau tiap pagi lo bangun untuk menyapu, ngepel. masak, menyiram bunga dll, emangnya ada kesempatan untuk memperhatikan penampilan, gue masih waras seperti ini saja masih bersyukur." imel hanya mengatakan hal tersebut dalam hati, biarlah perlakuan Qianu yang bengis dan kejam menjadi rahasianya saja, dia tidak mau sahabat-sahabatnya khawatir kalau tahu bagaimana sikap Qianu kepadanya.
"Gue ingin mencoba gaya baru saja, lagian udah bosan gue tampil kece badai dan tampil cantik dengan seragam kinclong." alibi Imel menjawab kata-kata Juli.
"Jangan ngaco lo ya kalau ngomong, ya kali penampilan lo yang kumel begini lo bilang gaya baru."
"Ahh sudahlah, jangan pada cecar gue terus. lo mending pada makan gieh, ntar keburu bel masuk lagi."
Membenarkan apa yang dikatakan oleh Imel, ketiga remaja itu menyantap hidangan yang sejak tadi menganggur dihadapan mereka.
" Ngomong-ngomong Mel, gue penasaran nieh sama suami lo itu, kenalin donk ke kita-kita."
"Iya." sahut Nuri, "Gue juga penasaran."
"Kapan-kapan kenalin doi ke kita ya Mel."
"Mmmm, iya nanti deh." jawab Imel tidak yakin, bagaimana dia bisa memperkenalkan Qianu kepada sahabat-sahabatnya mengingat Qianu adalah orang yang kejam.
****
"Tuan, saya antarkan tuan terlebih dahulu ke perusahaan, setelah itu saya akan menjemput nona Imel, karna ini sudah jam pulang sekolah, nona pasti sudah menunggu."
Saat ini Qianu dan Hugo berada dijalan raya yang padat, Hugo baru mengantarkan tuannya bertemu dengan rekan bisnisnya, dan saat ini mereka dalam perjalanan kembali ke kantor.
"Jemput dia sekalian."
"Sekarang tuan."
"Tahun depan, ya sekaranglah, kamu bilang ini sudah jam pulang sekolahkan."
"Iya tuan, tuan mau ikut menjemput nona Imel."
"Hmmm."
"Baiklah kalau begitu tuan."
Hugo kemudian menjalankan mobilnya menuju sekolah Imel yaitu SMA PERTIWI.
****
Imel sudah menunggu Hugo sejak setengah jam yang lalu didepan sekolah, dia mulai kesal karna capek, sedangkan sahabatnya sudah sejak tadi sudah pada pulang.
"Katanya mau jemput, mana, masih belum datang juga, gak tahu apa kalau gue sudah capek dan lapar." rutuk Imel dengan wajah cembrut, mata tidak lepas memperhatikan jalan berharap mobil Hugo muncul.
"Lagian sik Qianu itu ngapain sieh pakai ngotot segala kalau aku harus dijemput sama Hugo, kenapa tidak membiarkan aku naik angkutan umum atau ojek online saja agar lebih simple"
Tentu saja Imel hanya bisa menumpahkan kekesalannya saat dibelakang saja, mana berani dia marah-marah kayak gini didepan Qianu, bisa- bisa dia kembali dikunciin dikamar mandi seperti waktu itu.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat didepannya, tanpa bertanya Imel tahu siapa sik pengendara mobil tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah sang mantan kekasih sik Rio.
"Ngapain sieh dia berhenti didekat gue, jangan bilang dia mau nyamperin gue." desis Imel saat mobil milik Rio berhenti didekatnya.
"Pura-pura gak lihat saja deh, malas gue lihat tampangnya yang menyebalkan itu."
Rio terlihat keluar dan mendekati Imel yang mengarahkan tatapannya ke arah lain, dia sekarang benar-benar ilfil sama laki-laki tidak bertanggung jawab seperti Rio, Imel bertanya-tanya, kok bisa dulu dia pacaran sama Rio.
"Hai Mel." sapa Rio ramah dengan senyum pepsodentnya.
Hawa-hawanya, Rio sepertinya ada tanda-tanda nieh untuk ngajak balikan.
"Hmmm." gumam Imel masih tidak mau menatap Rio seolah-olah menganggap Rio adalah mahluk astral yang tidak kasat mata.
"Nunggu jemputan ya Mell."
"Sudah tahu nanya." Imel menjawab ketus.
"Mau gue anterin gak."
"Ya gak maulah."
"Kok Imel gitu sieh sekarang, cuek banget dah."
"Ya suka-suka guelah, kenapa malah jadi elo yang sewot."
Namanya juga orang yang tengah ingin mendapatkan hati sik gadis kembali, sehingga meskipun kata-kata Imel ketus tidak membuat Rio tersinggung.
__ADS_1
"Mell, kok nomer lo gak aktif sieh, gue udah sering lho nelpon lo dan ngechat lo."
"Ngapain lo ngehubungin gue."
"Ya mau dengar suara lo yang merdu itulah Mel, guekan kangen."
"Ihh, pengen muntah gue."
"Mell." Rio meraih tangan Imel yang langsung ditepis oleh Imel.
"Apaan sieh lo pegang-pegang."
"Pliss Mel, jangan cuek kayak gini donk, gue ingin balikan sama elo, sumpah gue nyesal banget waktu itu." Rio berusaha membujuk Imel.
"Sorry ya Rio, hati gue sudah tidak punya tempat untuk yang namanya mantan, buat apa gue kembali sama elo kalau yang mau sama gue cowok satu sekolahan." ya memang banyak sieh yang mau sama lo Mel, tapi gak satu sekolahan juga kali.
"Ayoklah Mell balikan sama gue, gue berjanji akan memberikan apapun yang lo inginkan, gue benar-benar cinta sama elo." Rio berusaha mendekati Imel dan menyentuh Imel, hal itu membuat Imel risih.
"Apa-apaan sieh lo Rio, enyah lo dari hadapan gue, enek gue lihat wajah lo."
"Masak lo gak mau memberi gue kesempatan sekali lagi sieh Mel, gue benar-benar cinta lho sama lo."
"Gak."
Rio meraih lengan Imel.
"Jangan pegang-pegang Rio."
"Jangan pegang gadis itu." terdengar sebuah teriakan dari suara bariton dari seorang laki-laki.
Rio dan Imel reflek menoleh ke arah sumber suara, dan tanpa melihat, sebenarnya Imel tahu siapa pemilik suara tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah suaranya Qianu.
Qianu terlihat mengintimidasi dengan penampilannya yang serba hitam apalagi kacamata hitam membingkai matanya sehingga membuat Rio reflek sedikit mundur kebelakang.
"Kak Qianu, dia ngapain disini, bukannya yang jemput aku Hugo ya." batin Imel.
"Siapa laki-laki itu Mell, gak mungkin kakak lokan karna setahu gue elo anak tunggal." Rio bertanya, dan pertanyaannya diabaikan oleh Imel.
Begitu tiba didekat Imel, Qianu melepas kacamatanya, matanya yang tajam bak elang itu memandang Rio, pandangannya yang penuh dengan ancaman.
Tatapan horor itu berhasil membuat Rio bergidik ngeri, tapi dia berusaha untuk terlihat sok berani dan tidak mau terimidasi.
"Siapa sieh sebenarnya laki-laki ini, dia sudah seperti ketua mafia seperti difilm yakuza jepang." Rio berkomentar dalam hati.
Rio menelan ludah mendengar ancaman tersebut, namun dia sok-sok'an berani dan menjawab, "Emangnya kenapa, apa urusannya sama elo, gadis ini adalah pacar gue, jadi wajar saja donk kalau gue dekat-dekat sama dia." Rio ngaku-ngaku.
Mendengar pengakuan palsu dari bibir Rio tidak pelak membuat Imel meradang dan dengan cepat membantah.
"Heh Rio, jangan ngaku-ngaku lo ya, kita itu sudah putus ya, jadi kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi."
"Tapi gue masih cinta sama elo Mel, gue mau balikan sama elo." masih ngotot saja sik Rio itu ngajak balikan.
"Tapi gue gak mau balikan sama lo, lo manusia atau bukan sieh, susah banget dah mengertinya."
"Kamu dengar sendiri." Qianu menimpali, "Gadis ini tidak mau sama kamu, jadi, bisakan kamu berhenti mendekatinya, kamu sebagai laki-laki seharusnya punya harga diri, kalau perempuan tidak mau, berhenti untuk mengejarnya."
"Jangan ikut campur lo ya, lo itu bukan siapa-siapanya Imel." suara Rio meninggi karna tersinggung dengan ucapan Qianu.
"Wahh, nieh anak cari mati, kalau Qianu beneran marah, bisa habis dia." batin Imel takjub dengan keberanian Rio.
"Jadi, sampai kapanpun, gue akan tetap mengejar Imel sampai Imel menjadi milikku."
"Sepertinya kata-kata tidak bisa membuat bocah kecil sepertimu mengerti, baiklah, mungkin dengan sedikit pelajaran bisa membuat bibirmu itu bisa dibuat untuk bertutur kata sopan."
"Hugo." panggil Qian.
Hugo tahu maksud tuannya memanggilnya, laki-laki bertubuh kekar itu mendekat untuk melakukan perintah sang tuan, namun baru saja dua langkah, Rio langsung lari terbirit-birit, dia sadar diri juga ternyata kalau dirinya tidak akan sanggup untuk menghadapi Hugo yang tinggi besar bak pegulat.
"Dasar bocah tengik." umpat Qianu.
Imel tersenyum melihat Rio yang terbirit-birit, "Rasain lo Rio."
Imel kemudian merasakan lengannya ditarik dengan kasar dan dibawa ke mobil.
"Jangan bilang dia juga marah kepadaku, memangnya apa salahku."
Qianu menghempaskan tubuh Imel dengan kasar dikursi penumpang depan, saking kerasnya dia dihempaskan membuat Imel merasakan sakit dibokongnya, setelah itu Qian menutup pintu dengan kasar sehingga membuat Imel berjengit kaget.
"Ya Tuhan, dia benar-benar marah, tapi apa salahku, aku tidak mendekati Rio, Riolah yang menggodaku." Imel ketakutan, karna kalau Qianu marah, sudah pasti dia akan dihukum.
__ADS_1
Qianu berjalan memutari mobil, sebelum dia benar-benar masuk, dia berkata kepada Hugo, "Kamu balik pakai taksi Hugo."
"Baik tuan."
Dan kini Qianu sudah duduk dikursi pengemudi, rahangnya mengeras, dan dari raut wajahnya tanpa perlu bertanya Qianu jelas marah, dia mencengkram setir dengan kuat.
"Apa aku akan dihukum, tapi aku tidak melakukan apa-apa." Imel bertanya-tanya dalam hati, dengan takut-takut dia menoleh ke arah Qianu yang duduk disampingnya.
Qianu mulai menjalankan mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi, hal tersebut tentu saja membuat Imel ketakutan, dia mencengkram seatbel yang melingkar ditubuhnya dengan erat.
"Apa yang dia lakukan, apa dia mau mengajakku mati bersama, kalau mau mati, kenapa ngajak-ngajak." Imel hanya bisa bergumam dalam hati, tidak mungkin baginya untuk bersuara saat Qian dalam keadaan marah begini.
"Dasar gadis ganjen." setelah sekian lama terdiam, Qianu akhirnya buka suara dengan kalimat yang menyakitkan, "Sudah bersuami masih saja menggoda laki-laki lain."
Imel menoleh karna dikatakan ganjen, tentu saja dia tidak terima dikatakan begitu, "Apa sieh maksudmu, aku tidak ganjen, aku tidak menggoda Rio, dialah yang menggodaku, kakak lihat sendirikan tadi."
Seharusnya sieh Qianu tidak perlu marah, toh juga dia tidak mencintai Imelkan, dia hanya menikahi Imel karna sebuah dendam, tapi ya yang namanya laki-laki, kadang egonya tidak bisa ditebak, kadang suka marah-marah tidak jelas, seperti Qianu saat ini.
"Kalau kamu tidak memulai, mana mungkin dia akan menggodamu, kamu fikir kamu itu cantik apa sampai laki-laki tertarik mendekatimu."
"Aku tidak seperti itu, aku sama sekali tidak menggoda Rio seperti yang kakak katakan." Imel masih berusaha membela diri.
Qianu masih saja menjalankan mobil tanpa mengurangi kecepatan, bahkan beberapa mobil yang menghalangi jalannya dia salip seolah-olah jalan itu milik nenek moyangnya.
"Kak, bisa pelan gak."
Qianu tidak mengindahkan permintaan Imel.
"Kak, pelankan laju mobilnya, nanti kakak bisa nabrak."
"Kalau nabrak kenapa, kamu takut mati."
Imel reflek mengangguk.
"Ya baguslah, kalau kamu mati nanti papimu akan menyusulmu ke akhirat." ucap Qianu dengan entengnya.
Mendengar nama papinya disebut-sebut membuat air mata Imel jatuh tanpa bisa dibendung.
"Dasar gadis cengeng, gitu saja nangis." ledek Qianu, "Kamu fikir aku akan membiarkan kamu mati secepat itu, kamu harus merasakan terlebih dahulu apa yang telah papi kamu lakukan pada keluargaku."
"Apa maksud kakak, memangnya papiku melakukan apa sama keluarga kakak."
"Kamu tahu, kalau papi yang kamu bangga-banggakan itu adalah orang jahat dan licik."
"Papiku bukan orang seperti itu, dia orang yang baik." Imel membantah, dia kenal papinya, papinya tidak seperti yang Qian katakan.
"Hmmm." Qian tersenyum sinis, "Dia tidak mungkin jatuh miskin seperti ini kalau dia adalah orang yang baik."
Imel menolak percaya apa yang dikatakan oleh Qian, dia yakin papinya adalah orang yang baik, laki-laki lembut dan penyayang, berbanding terbalik dengan Qian yang jahat dan kasar.
****
Imel sangat bersykur karna dia sampai dirumah dengan selamat dan utuh, tadinya dia pesimis tidak bisa selamat mengingat cara Qianu yang membawa mobil seperti orang yang kesetanan.
"Terimakasih Tuhan karna engkau masih memberikan hamba kesempatan untuk hidup." doa yang Imel panjatkan dalam hati.
Sedangkan Qianu, setelah mengantarkan Imel sampai rumah, dia kembali ke kantor.
Imel memasuki rumah besar tersebut dimana seabrek tugas sudah menunggu untuk dia selesaikan, kalau dulu sepulang sekolah dia langsung bersantai dan bobok siang cantik, tapi sekarang, dia harus melakukan beberapa pekerjaan, meskipun sebenarnya semua pekerjaan bisa dibereskan oleh para pelayan yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang, tapi ini adalah perintah Qianu, dan perintah itu harus dia turuti kalau tidak mau kena hukum.
Kini Imel sudah mengenakan seragam pelayan, siap untuk melakukan tugasnya.
Kepala pelayan yang biasa dipanggil bu Tin sudah menunggunya diruang tamu untuk memberitahu apa yang harus Imel lakukan.
"Ikut saya nona."
Imel jadi heran sendiri, jelas-jelas kalau Qianu memperlakukannya seperti pembantu dirumah ini, tapi para pelayan dan pengawal tetap saja memanggilnya nona, suatu hal yang tidak dipahami oleh Imel.
Bu Tin berhenti disebuah pintu, dari dalam sakunya dia mengeluarkan kunci dan memasukkannya ke lubang kunci, dan sebelum membuka pintu tersebut, bu Tin berkata, "Ini adalah perpustakaan pribadi tuan Qianu, dia tidak membiarkan sembarang orang memasukinya, hanya saya yang diizinkan untuk masuk dan membersihkannya, dan sekarang tuan meminta nona untuk membersihkannya secara khusus." jelas bu Tin.
Imel mangut-mangut sebagai pertanda kalau dia mengerti.
"Saya harap nona bekerja dengan baik, karna kalau ada sesuatu yang tidak pada tempatnya, itu bisa memicu kemarah tuan."
"Baiklah, aku akan bekerja dengan baik."
"Baguslah kalau nona mengerti."
"Sekarang, sebaiknya nona mulai bekerja."
__ADS_1
Bu Tin membuka pintu tersebut dan membiarkan Imel masuk.
***