MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
DIKURUNG DIGUDANG


__ADS_3

Imel meminta Altan untuk menurunkannya didepan gerbang saja meskipun Altan sebenarnya memaksa Imel supaya dia bisa menurunkannya sampai didepan rumah utama, namun Imel dengan tegas menolak, dia tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nanti didalam mengingat Qianu sepertinya marah kepadanya, Imel mengambil kesimpulan ini karna Qianu tidak membalas pesan-pesannya yang terakhir.


"Semoga saja Agnes sudah pulang duluan." batin Imel saat memasuki rumah besar.


Dan saat melewati ruang tamu, Imel terkejut saat melihat Qianu duduk dengan menyilangkan kakinya disana, seperti biasa, wajah pria itu terlihat datar dan dingin, namun kali ini, wajah Qianu dua kali lebih dingin, dia menatap Imel tajam yang membuat Imel merinding ketakutan.


Imel rasanya ingin lari keluar saja dan tidak ingin berhadapan dengan Qianu, tapi tidak bisa karna Qianu sudah terlanjur melihatnya.


"Kesini kamu Mell." perintah Qianu dengan nada otoriter.


Imel takut sieh, tapi dia tetap mendekat, dia hanya meyakinkan dirinya sendiri, seseram-seramnya Qianu, laki-laki itu sudah pasti tidak akan menggigit.


Qianu berdiri saat Imel sudah berdiri dihadapannya, sedangkan Imel terlihat ketakutan, tidak kuat rasanya dia menatap mata tajam Qianu yang bak elang yang siap menerkamnya sehingga membuat Imel reflek menunduk padahal dia ingat betul kalau Qianu tidak suka saat bicara lawannya bicaranya tidak menatap matanya.


Qianu mencengkram dagu Imel dengan kuat sehingga membuat wajah Imel mendongak dan matanya bertemu dengan mata suaminya, Imel hanya meringis menahan sakit karna kulit dagunya terasa agak panas akibat kuatnya cengkraman Qianu tersebut.


"Kenapa bisa kamu berakhir berduan dengan laki-laki itu hah." Qianu memulai sesi introgasinya, suaranya benar-benar menakutkan.


Imel tidak langsung menjawab, gadis itu berusaha untuk menahan tangisnya, dia terbiasa dibesarkan dengan limpahan kasih sayang sehingga tidak heran kalau hatinya sensitif dan gampang menangis kalau dikasari seperti ini.


"Jawab Imel, kamu punya mulutkan." Qianu makin kuat mencengkram dagu Imel dan otomatis itu membuat Imel semakin ketakutan.


"Aku...hiks hiks." ternyata bagaimanapun Imel berusaha menahannya, tetap saja pada akhirnya dia tidak bisa menahan isakannya, disaat seperti ini yang selalu diingat oleh Imel adalah papinya, laki-laki yang selalu memberinya cinta dengan limpahan kasih sayang, laki-laki yang tidak pernah dan tidak akan pernah menyakitinya sampai kapanpun.


"Jangan menangis Imel." suara Qianu menggelegar, karna kalau Imel menangis, sudah bisa dipastikan dia akan merasa kasihan dan melepaskan Imel begitu saja.


Tidak mau membuat Qianu semakin bertambah marah, Imel berusaha untuk menghentikan tangisnya.


"Jawab pertanyaannku, kenapa bisa kamu bersama laki-laki itu sedangkan kamu pergi dengan Agnes."


"Kami tidak sengaja bertemu kak." jawabnya seperti dichat, dan memang itu benar adanyakan.


Qianu melepaskan dagu Imel dengan kasar sehingga membuat wajah Imel terlempar ke samping, Imel memegang dagunya yang terasa sakit.


Imel fikir, semuanya sudah berakhir, tapi ternyata dia salah, Qianu kembali menarik tangannya, lebih tepatnya sieh menyeret, dia membawa Imel kebelakang, tubuh Imel sempoyongan karna berusaha mengikuti langkah lebar Qianu yang menyeretnya sampai melewati taman belakang sampai Qianu menghentikan langkahnya dan berdiri tepat disebuah gudang yang sudah tidak difungsikan.


Imel hanya menatap gudang tersebut tanpa tahu apa yang akan Qianu lakukan kepadanya, masih dengan mencengkram pergelangan tangan Imel Qianu mendekat ke arah pintu, dengan kakinya dia menendang pintu gudang tersebut sampai terbuka lebar.


Qianu kemudian mendorong tubuh Imel kedalam, tubuh Imel sempoyangan dan jatuh ke lantai berdebu gudang tersebut.


"Awhhh." Imel mengaduh karna bokongnya terasa sakit.


"Kamu tahukan Imel, kalau aku tidak suka dengan orang yang tidak mematuhi perintahku." kata Qianu dengan suara dinginnya, "Dan kamu harus menerima hukumanmu dengan tidur digudang ini malam ini."


Imel yang sibuk membersihkan bagian belakang roknya langsung menoleh kearah Qianu, dia menatap Qianu tidak percaya.


"Kamu tidak seriuskan kak, kakak tidak mungkin...."


"Kamu harus ingat Imel, aku lunak kepadamu bukan berarti membuatmu bisa sesuka hatimu melakukan apapun yang kamu inginkan." potong Qianu.


"Tapi aku..."


Belum selesai Imel melakukan pembelaan, Qianu sudah menarik grendel dan menutup pintu gudang tersebut dan menguncinya dengan kunci yang memang tersemat dilubang kunci, dari dalam Imel menggedor-gedor berharap Qianu bisa berbelas kasih kepadanya.


"Kak Qianu buka pintu kak Qianu, aku takut disini kak." teriak Imel disertai suara tangisan.

__ADS_1


"Kak Qianu buka kak."


Mendengar jeritan istrinya membuat Qianu tidak tega, tapi dia benar-benar marah saat melihat foto Imel yang tengah tersenyum bersama dengan laki-laki lain, itu membuat hatinya panas, sehingga dengan mengingat foto tersebut membuat rasa tidak teganya menguar begitu saja dan membuatnya berlalu dari gudang itu, karna kalau dia lebih lama berada disana, bisa dipastikan kalau dia akan kembali membuka gudang itu dan memeluk Imel serta membawanya kembali ke rumah besar.


Sementara Qianu tengah menyalurkan amarahnyan pada sang istri, disebuah kamar, Agnes yang merupakan penyebab amarah Qianu tersenyum lebar saat mengetahui kalau apa yang dia lakukan memacu amarah Qianu, gadis itu tidak menyesal pergi dengan Imel meskipun harus mendengar ocehan Imel yang amat sangat membosankan.


"Ini ada adalah permulaan Imel, kamu akan mendapatkan lebih daripada ini karna kamu telah berani merebut Qianuku." Agnes tertawa jahat, "Siapapun tidak boleh bersama dengan Qianu, karna Qianu adalah milikku dan akan tetap jadi milikku selamanya."


****


Setelah lelah berteriak, Imel duduk bersandar dipintu dengan memeluk lututnya, dia menangis sesenggukan karna merasa kasihan dengan dirinya sendiri.


"Hiks hiks, papi, aku takut papi." keluhnya.


"Kenapa kak Qianu bisa setega ini sama aku tanpa mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu, hiks hiks, jahat sekali dia." Imel terus meratap dengan air mata yang semakin deras bercucuran.


Tiba-tiba sesuatu berwarna abu-abu kehitaman melintas tepat melintas didekat kakinya yang membuat Imel berteriak ketakutan dan melompat saking kagetnya.


"Aaaaaa." Imel berlari menjauh saat melihat tikus tersebut.


"Huss huss, sana pergi, jangan dekat-dekat aku tikus." usirnya dengan mengibaskan tangannya berharap tikus tersebut pergi, "Pergi tikus jelek, jangan dekat-dekat sama aku."


"Kak Qianu, buka pintunya, aku tidak mau bermalam bersama tikus disini." rengeknya kembali menangis.


****


Saat kembali memasuki rumah, Qianu berpapasan dengan Agnes yang baru keluar dari kamarnya, gadis itu bertanya, "Imel mana Qianu, apa dia sudah pulang, tadi karna sakit perut aku meninggalkannya direstoran karna aku fikir kamu yang akan menjemputnya." ujarnya tanpa merasa berdosa.


"Dia ada digudang." jawab Qianu acuh tak acuh dan berjalan melewati Agnes.


Dilubuk hati Qianu, ada rasa bersalah juga, namun bayangan Imel tersenyum sama laki-laki lain seperti difoto itu membuatnya menekan rasa bersalahnya, supaya benaknya tidak dipenuhi oleh rasa bersalah, Qianu melangkah kakinya menuju perpustakaan, fikirnya dengan membaca mungkin fikirannya bisa teralihkan.


Namun ternyata, setelah 20 menit berlalu berada diperpustakaan dan menjadikan buku-buku tebal sebagai pelarian ternyata tidak kunjung membuat rasa bersalah itu sirna begitu saja, fikirannya jadi tidak fokus pada apa yang dibaca karna benaknya melulu dipenuhi oleh Imel dan Imel, sehingga pada menit ke 30, Qianu menyerah dan memutuskan untuk menutup buka yang dibacanya dan berjalan cepat keluar menuju arah gudang, Qianu tidak tahan sehingga dia memilih untuk mengakhiri hukuman yang dia berikan kepada Imel, padahal rencana awalnya, untuk memberi efek jera pada Imel dia akan membiarkan gadis itu semalaman berada digudang.


"Qianu kamu mau kemana." Agnes bertanya saat Qianu melintas dihadapannya, Qianu terus berjalan tanpa mengindahkan pertanyaan Agnes.


Karna penasaran, Agnes mengikuti Qianu dibelakang.


Dan saat Qianu tiba didepan pintu gudang, dia tidak lagi mendengar suara jeritan Imel yang berteriak-teriak memintanya untuk mengeluarkannya dari gudang tersebut, dan ternyata itu membuatnya khawatir sehingga dia bergegas berlari ke arah pintu dan membuka pintu tersebut, saat pintu gudang terbuka sempurna, dia bisa melihat gadis itu memeluk lututnya dan menelungkupkan wajahnya berjarak satu dua meter dari tempatnya berdiri.


Dan saat mendengar suara pintu terbuka, Imel mendongak, dia bisa melihat Qianu berdiri diambang pintu, melihat Qianu kembali membuat Imel yang sejak tadi menangis terlihat senang sehingga dia bangun dan langsung berlari menghambur ke arah Qianu dan memeluk laki-laki itu dengan erat.


"Kak Qianu, hu hu hu." Imel menangis tersedu-sedu dalam pelukan sang suami, "Jangan tinggalkan aku, aku tidak mau digudang, aku takut, disini banyak tikus dan kecoaknya, hu hu."


Kasihan tentu saja itu yang dirasakan oleh Qianu saat melihat Imel menangis tersedu-sedu begini, sehingga dia membalas memeluk Imel untuk meyakinkan gadis itu kalau dia tidak akan meninggalkannya lagi.


Qianu seperti orang yang memiliki dua kepribadian, kadang dia tanpa belas kasih memberi hukuman pada Imel, tapi setelah melakukan hal itu, dia merasa menyesal telah melakukannya.


"Apa, semudah itukah Qianu luluh dengan gadis bodoh itu, apa sieh sebenarnya yang telah dilakukan oleh gadis bodoh ini sama Qianu sampai membuat Qianu jadi lunak begini." Angel merasa tidak terima dengan semua ini.


"Kita sebaiknya masuk ya." ajaknya Qianu saat Imel sudah mulai tenang, meskipun merasa bersalah, tapi Qianu gengsi untuk meminta maaf.


Imel hanya mengangguk, rasanya suaranya habis karna sejak tadi dia kebanyakan berteriak dan menangis.


Dengan merangkul tubuh Imel Qianu membawa gadis itu masuk dan melewati Agnes yang mengepalkan tangannya saking geramnya.

__ADS_1


"Siall, Qianu kenapa bisa seperti ini sieh, seharusnya dia membiarkan gadis bodoh itu ngedekam seharian di gudang."


Agnes hanya menatap punggung Qianu dan Imel yang berjalan menuju rumah besar.


"Sepertinya aku harus cepat-cepat bikin rencana untuk segera memisahkan mereka, tidak tahan aku kalau harus melihat mereka berpelukan setiap hari."


*****


Mungkin karna merasa bersalah dengan Imel sehingga malamnya Qianu mengajak Imel makan malam diluar, Imel sebenarnya malas kemana-mana, rasanya dicapek, capek hati dan fisik sehingga yang dia inginkan saat ini adalah hanya tidur, tapi tidak mungkin baginya untuk menolak ajakan Qianu.


Dan saat Imel keluar dari kamar mandi, diatas tempat tidur, dia menemukan tiba buah kotak dengan ukuran berbeda berderet berada diatas tempat tidur.


Saat Imel mendekat, dia menemukan sebuah kertas yang berisi tulisan tangan yang berbunyi.


Pakai apa yang ada dikotak ini, aku tunggu dibawah.


Setelah membaca tulisan pada kertas tersebut, Imel langsung membuka tutup kotak yang paling besar terlebih dahulu, didalamnya dia menemukan sebuah gaun berwarna silver, Imel mengangkatnya dan membentangkan gaun tersebut didepan matanya, Imel akui gaun itu sangatlah cantik, tapi dia tidak punya waktu untuk mengagumi keindahan dari gaun itu karna yang ada difikirannya saat ini adalah kenapa Qianu memintanya memakai gaun tersebut.


"Apa kak Qianu mau mengajak aku pergi." tanyanya pada diri sendiri.


"Apa dia mau ngajak aku ke pesta lagi seperti waktu itu kali ya."


"Hmmm." Imel terlihat mendesah, "Apapun itu, aku harus nurutkan, kalau aku gak mau dia menghukumku lagi."


Imel kemudian beralih membuka kotak kedua, kotak itu lebih kecil, ternyata isinya adalah sepatu yang warnanya senada dengan gaun barusan, dan yang terakhir dia membuka kotak yang paling kecil yang isinya adalah tas tangan yang juga berwarna silver.


Karna tidak mungkin memakai gaun indah itu dengan muka polos, Imel memoleskan make up diwajahnya, tidak terlalu tebal dan tidak natural juga, kalau dalam hal dandan, Imel memang jagonya, dia yang memang dasarnya cantik bertambah semakin cantik dengan polesan make up diwajahnya yang mulus tanpa jerawat seupilpun, dan begitu proses make up selesai, Imel beralih dengan menata rambutnya, dia mengkriting rambutnya dengan menggunakan catokan.


"Oke sempurna." pujinya saat melihat tampilannya dicermin.


Dan setelah semuanya siap, Imel turun untuk menemui Qianu yang sudah menunggunya dibawah.


Imel bisa melihat Qianu tengah duduk disofa ruang tamu, laki-laki itu tidak melihat kedatangan Imel karna dia sibuk dengan ponselnya, barulah saat Imel sudah semakin dekat dan gema suara sepatu hak yang digunakan Imel terdengar jelas barulah Qianu mendongak, dia melihat Imel tengah berjalan kearahnya, seperti biasa, mau pakai apapun dan riasan bagaimanapun, bagi Qianu, Imel tetap cantik, meskipun begitu, Qianu gengsi untuk memuji istrinya secara langsung, pujian itu hanya cukup dia berikan dalam hati saja.


"Cantik sekali dia."


Qianu berdiri menyambut kedatangan Imel, begitu juga dengan gadis itu yang langsung berhenti saat berada didekat suaminya.


"Apa kamu sudah siap." Qianu bertanya dengan wajahnya yang selalu konsisten dengan kedatarannya.


"Iya."


"Oke, sebaiknya kita berangkat sekarang." setelah mengatakan hal tersebut, laki-laki itu langsung berbalik tanpa menggenggam tangan Imel atau melakukan apapun, benar-benar laki-laki yang sangat datar tanpa ekpresi, heran deh, kenapa Agnes begitu sangat tergila-gila dengan laki-laki seperti Qianu.


Imel memang tidak berharap Qianu memperlakukannya dengan manis, sehingga tanpa protes, baik protes secara langsung atau protes dihati dia mengekor dibelakang Qianu.


Imel bisa melihat Qianu masuk ke kursi pengemudi yang berarti kalau mereka akan pergi berdua.


"Selamat malam nona." sapa Hugo saat dia membuka pintu untuk Imel.


"Malam Hugo." balas Imel sebelum masuk dan duduk disamping Qianu.


Setelah Imel duduk dengan nyaman, barulah Qianu menjalankan mobilnya keluar dari area rumahnya.


****

__ADS_1


__ADS_2