
"Maaf tuan kalau saya menggangu kesibukan tuan."
"Ada apa Hugo, kenapa kamu menelpon saya, apa ada sesuatu hal yang pentingkah." terdengar suara dingin Qianu dari seberang, sepertinya laki-laki itu siap untuk marah kalau ternyata Hugo menelponnya untuk hal yang tidak penting.
"Begini tuan, nona Imel minta untuk diantarkan jalan-jalan bersama dengan teman-temannya."
"Baiklah, antarkanlah istriku itu, jaga dan dilindungi dia Hugo, jaga dia dengan nyawamu."
"Pasti akan saya lakukan tuan." jawab Hugo patuh.
Setelah mendapat persetujuan dari tuannya, barulah Hugo tenang untuk mengantarkan nona mudannya dan teman-temannya untuk jalan-jalan.
"Bagaimana Hugo." tanya Imel begitu Hugo menurunkan ponsel dari telinganya.
"Tuan mengizinkan nona."
"Yesss." Imel dan ketiga sahabatnya kompakan pada bersorak.
Hugo kemudian membukakan pintu penumpang untuk nona majikannya, "Silahkan masuk nona."
"Gue duduk didepan deh ya." ujar Nuri yang diangguki oleh yang lainnya.
Kini mobil yang membawa empat gadis remaja yang disopiri oleh Hugo melaju membelah jalan raya bersama dengan mobil lainnya, dan yang namanya remaja kalau sudah pada ngumpul, tidak afdol tuh kalau gak ngerumpi, sesi rumpi dibuka oleh Gebi.
"Ehh, lo pada tahu belum kalau ada murid baru disekolah kita, cowok anak XI IPA 2, tuh cowok sumpah tampan banget."
"Ohh iya iya, tentu tahu donk kita." memang ya, yang namanya cowok tampan itu sudah pasti mereka pada tahu, tidak hanya mereka saja sieh yang tahu, tapi mahluk bernama cewek diseantero sekolah sudah pasti pada tahu.
"Buseett tuh cowok, baru saja sehari sudah jadi rebutan cewek-cewek SMA PERTIWI saja."
"Ya wajarlah direbutin, wajahnya itu rada-rada mirip opa Cha Eun Wo gitu, parah pokoknya cakep banget, pengganti kak Ari bangetlah itu."
Imel yang biasanya paling heboh saat membicarakan tentang cowok tampan paling nomer satu, kini hanya bisa terdiam dan tidak memberikan responnya sama sekali.
"Kok lo diem aja sieh Mell, gak asyik banget sieh lo, padahalkan kalau masalah cowok ganteng, elo paling juara dah hebohnya."
"Lo kalau berfikir pakai otak donk Nur, jangan pakai dengkul, ya kali gue ngomongin cowok cakep sedangkan gue sudah menikah, bisa digantung gue sama suami gue, memang dia gak ada disini sieh, tapi tuh dua telingannya yang saat ini tengah mengantarkan kita." Imel mengedikkan dagunya ke arah Hugo yang duduk menyetir dengan tenang dikursi pengemudi.
"Emang om Hugo orangnya tukang ngadu Mell." tanya Juli.
"Ya lo fikir saja sendiri, pergi sajakan harus kudu ngasih laporan dulu sama bossnya itu."
Gadis-gadis remaja itu pada membicarakan Hugo seolah-olah orangnya tidak ada disana saja.
"Maafkan saya nona, tapi ini demi kebaikan nona dan kebaikan saya, soalnya kalau tuan tahu kita pergi tanpa memberitahunya, tuan bisa marah besar nona."
"Itu namanya suami lo cinta sama lo Mell, sweet tahu itu, suami lo selalu ingin tahu kemana lo pergi, jadi jangan manyun gitu bibir lo."
"Hmmm."
"Ohh ya om Hugo, om Hugo sudah menikah belum." Nuri bertaya.
"Belum nona."
"Kalau pacar, punya gak." Juli turut menimpali.
Heran deh, mereka itu kok pada kepo dengan kehidupan Hugo.
"Tidak ada nona."
"Wahhh, kebetulan banget itu, om Hugo mau gak aku kenalin sama mbak Atun, ART dirumah kakakku." Juli menawarkan, "Mbak Atun itu cantik lho om Hugo, bodynya itu lho, beuhhh, kayak gitar spanyol." Juli mempromosikan ART kakaknya itu dengan sangat baik, sepertinya Juli sangat berbakat jadi agen asuransi.
"Tidak nona terimakasih, saya belum mau menjalin sebuah hubungan." tolak Hugo halus.
"Ehh, kenapa om Hugo tidak mau, apa om Hugo sudah punya gebetan." cecar Juli, kayaknya gadis itu sangat berminat untuk menjodohkan ARTnya itu dengan Hugo.
"Tidak ada sieh nona, hanya saja, saya mau fokus kerja dulu."
"Ya kerja sambil pacaran donk Hugo, asyik tahu gak, ada yang ngingetin makan, ada yang nelponin dan nanyain kabar, ada yang dikangenin, intinya seru banget deh kalau punya pacar, jadi, mau ya om Hugo aku kenalin dengan mbak Atun." nieh sik Juliansari Amarta ternyata pantang menyerah orangnya.
__ADS_1
"Om Hugo juga gak bakalan rugi lho kalau dapetin mbak Atun, mbak Atun itukan pinter masak, cantik pula, sehingga wajar saja mbak Atun jadi rebutan para satpam komplek diperumahan kak Agus." ini juga Gebi ikutan meramaikan suasana, entah apa yang terjadi dengan para gadis remaja itu, pada ngebet banget deh mau ngejodohin Hugo dan mbak Atun.
"Tuh om, dengar sendirikan, mbak Atun itu cantik dan jadi rebutan para satpam komplek, mau ya o. Hugo ya, dijamin om Hugo gak bakalan menyesal."
"Maaf nona, tapi saya tetap pada pendirian saya, saya belum ada niatan dulu untuk membina sebuah hubungan gitu, karna prioriras saya adalah tuan Qianu."
"Ahh sik om Hugo mah gak asyik, gak seru, payah."
"Heii lo pada, stop ya ngata-ngatain Hugo dan menjodoh-jodohkannya kalau orangnya gak mau." sahut Imel membela bodygourd suaminya itu, "Lagian dirumahnya kak Qianu tuh banyak tahu para pelayan yang masih lajang dan juga janda, ya gak kalah cantiklah sama mbak Atun, tinggal pilih ajalah itu satu, tapi Hugonya gak berminat tuh."
"Apa om Hugo seleranya tinggi banget ya, yang seperti Kim Kardhasihan gak om tipenya."
"Atau yang seperti Kyle Jenner kali."
"Aduhh nona, tidak seperti itu jugalah, mana mungkin saya yang seorang bodygourd dan berwajah standar ini standarnya kayak sosialita kelas atas holywood itu, bisa ditertawakan saya sama kodok nona." Hugo jadi terkekeh, dia jadi terhibur dengan clotehan sahabat-sahabat nona majikannya yang tentu seumuran dengan Imel sehingga wajar kalau gadis-gadis itu bicaranya ceplas-ceplos begitu.
"Teman-teman nona kok pada lucu-lucu begini sieh." ujar Hugo dalam hati.
"Sudah ya lo pada, jangan ganggu Hugo donk pliss, biarkan Hugo fokus untuk menyetir demi keselamatan lo pada supaya bisa selamat sampai tujuan." Imel memperingatkan.
"Heh lo Imell, yang sopan donk itu congor lo, masak lo manggil om Hugo dengan panggilan nama doank, om Hugokan seumuran sama bapak tercinta kita pak Rapi."
"Gak apa-apa nona, nona Imel memang seharusnya memanggil saya Hugo." timpal Hugo cepat.
"Mereka benar saja sieh Hugo, kok aku baru menyadari ya kalau itu memang tidak sopan, aku harusnya manggil kamu dengan panggilan om."
"Ehh tidak apa-apa nona, panggil saja saya Hugo tanpa harus ada embel-embel om."
"Tapi aku mau manggilnga om supaya sama seperti teman-temanku, bagaimana om Hugo."
"Terserah nona sajalah, bagaimana supaya agar nona senang saja." pasrah Hugo pada akhirnya.
****
Keempat gadis remaja yang masih mengenakan seragam putih abu-abunya itu keluar dari mobil saat Hugo menghentikan mobil diparkiran disebuah pusat perbelanjaan.
Hugo juga ikutan turun, namun dengan cepat ditahan oleh Imel, "Ehh eh om, om tungguin kami saja ya dimobil, kami tidak akan lama lho didalam, iyakan girls." wanita selalu saja begitu, saat mereka bilang tidak akan lama, tapi nyatanya wanita selalu menghabiskan banyak waktu, terutama dalam hal dandan dan berbelanja.
"Duhh om Hugo, ini tuh tempat umum ya, jadi gak ada yang akan berniat jahat sama kami, jadi mendingan om tetap dimobil deh ya tungguin."
"Saya harus tetap ikut nona, tolong mengertilah, saya ditugaskan untuk menjaga dan melindungi nona selama tuan ada diluar negeri, jadi saya tidak bisa lepas tangan begitu saja membiarkan nona jalan-jalan tanpa pengawasan dari saya " Hugo menjelaskan supaya nona majikannya itu mengerti akan tugasnya.
"Etdahh, baiklah kalau kamu memaksa, tapi jauh-jauh ya jaraknya, jangan dekat-dekat."
"Iya nona."
"Biarin sajalah Mel om Hugo ikut masuk, kalau ada yang gangguin kitakan om Hugo bisa ngelindungin kita." ucap Nuri.
"Iye Mell, ngapain lo ngelarang-ngelarang om Hugo ikut masuk ke dalam, lagian om Hugo bisa mati bosan kalau ngedekam terus dimobil." Juli juga menyetujui ucapan Nuri.
Ketiga sahabat Juli pada tidak keberatan tuh kalau Hugo ikut masuk dan menjaga mereka, hanya saja tadi Imel berfikir kalau ketiga sahabatnya akan risih kalau Hugo mengikuti mereka.
"Udah yuk masuk, mau ngapain dulu nieh kita."
"Masuk ke toko kosmetik." yang menyarankan hal itu tentu saja adalah Imel, Imelkan selalu begitu, kalau pergi kepusat perbelanjaan seperti ini, tempat yang pertamakali dia kunjungi adalah toko kosmetik.
"Ke toko yang menjual pakain dalam sajalah dulu yang kita datangi, gue mau beli beha sama cd nieh, bh dan cd gue udah pada melar tuh, longgar sudah gak enak untuk dikenakan." timpal Nuri tanpa sensor, dia gak sadar apa kalau Hugo tengah bersama dengan mereka.
"Heh, ada om Hugo tuh, lo kalau ngomong disensor dikit kek." peringat Gebi.
"Hehe, kebiasaan suka keceplosan."
"Mending kita ngisi perut dulu gieh ya, sumpah gue laper banget, biar semangat gitu muter-muterin mallnya sampai betiss segede talas bogor." timpal Juli.
"Gue setuju dengan Juli, kuy kita makan dulu."
Akhirnya mereka berempat, ditambah dengan Hugo jadinya berlima mereka memutuskan untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu, dan setelah kenyang, barulah mereka jalan-jalan memasuki setiap toko yang ada dimall tersebut.
Dan selama nona mudanya berjalan-jalan mengelilingi mall bersama dengan ketiga sahabatnya, Hugo selalu melaporkan apa yang dilakukan oleh Imel kepada tuannya, Imel sedang memilih bajulah, membeli kosmetiklah, sedangkan makanlah, pokoknya sedikitpun tidak ada yang terlewat, Hugo juga mengirim beberapa foto Imel yang sedang tertawa bahagia bersama dengan ketiga sahabatnya kepada sang boss.
__ADS_1
Mereka kini memasuki toko yang menjual aksesoris-aksesoris lucu, dan kemanapun keempat gadis remaja itu pergi, Hugo dengan sabarnya mengikuti mereka tanpa mengeluh sedikitpun.
"Ehh, lihat deh." Juli memperlihat sebuah gelang cantik yang terbuat dari perak kepada sahabat-sahabatnya, "Lucu ya."
"Iya, keren."
"Ada empat lho jumlahnya, bagaimana kalau kita menjadikan gelang ini sebagai gelang persahabatan, mau gak."
"Oke banget itu."
"Om Hugo, om Hugo mau juga gak memakai gelang persahabatan kayak kita, kita beliin lho, kan om adalah bagian dari kita-kita juga lho." Nuri yang agak rada-rada gesrek menawarkan.
Hugo tersenyum tipis menanggapi ucapan Nuri, "Tidak nona terimakasih."
"Yahh Hugo mah gak asyik, ini gak mau, itu gak mau, jadi maunya apa donk"
"Nur, bisa gak seih elo jangan kerjaannya menggangu om Hugo melulu." seru Imel.
"Yeelah Imel, posesif amet seih lo sama om Hugo."
"Udah ah yuk jalan lagi, masih banyak nieh yang harus kita kunjungi."
"Bukannya kita mau balik ya setelah ini."
"Temenin gue ketoko baju dulu, gue mau beliin sik April hadiah ulang tahun dulu." sahut Juli.
"Sik April ulang tahun Jul, kapan."
"Lusa, tuh anak berulang tahun yang ke 15."
"Dihhh, udah dewasa aja adik lho itu ya."
Mereka itu seperti tidak ada capeknya, masuk ke suatu toko ke toko lainnya, dan begitu cepat kaki mereka melangkah, dan kini mereka sudah memilih-milih baju disalah satu toko baju.
"Ehh Mell." Gebi menarik tangan Imel untuk memperlihatkan sahabatnya itu sesuatu.
"Lihat tuhh." tunjuk Gebi pada baju kaos pasangan yang ada tulisan mama papanya.
"Kenapa lo nunjukin tuh baju sama gue Geb, itukan baju pasangan."
"Ya jelaslah gue nunjukin tuh baju sama lo tolol, gak mungkin gue nunjukin tuh baju sama Nurikan, sama Juli juga gak, apalagi sama om Hugo tambah tidak mungkin juga, karna gue dan mereka itu tidak ada pasaangannya, jadi Imelda Cahya Abadi, karna berhubung cuma lo yang punya pasangan, makanya gue nunjukinnya ke elo, begitu ceritanya."
"Wahh keren ya tuh baju." Nuri tahu-tahunya sudah ada didekat dua orang itu, "Kalau gue ada pacar, sudah gue beli tuh baju."
"Mell, cuma dilihatin doank nieh, gak berniat gitu lo membelinya, lokan butuh baju couple kayak gitu agar romantis."
Karna tidak ada respon dari Imel sehingga Gebi menyenggol lengan Imel, "Heh, mau lo beli gak tuh."
"Gue lagi berfikirlah ini, kalau gue beli kak Qianu suka gak ya."
"Baju keren begitu ya pasti kak Qianu sukalah Mell."
"Tapi masalahnya ya, kak Qianu itu bukan tipe laki-laki yang alay gitu yang suka sama baju pasangan gitu."
"Setahu gue sieh ya Mell, suami itu pasti akan sangat senang kalau istrinya membelikan mereka suatu barang, terharu gitu mereka."
"Sok tahu lo ya, pacaran aja kagak pernah."
"Guekan sering lihat dikehidupan babe sama ibu gue Cahyo, babe gue suka muji-muji baju yang ibu gue belikan, padahal mah baju yang ibu gue belikan untuk babe gue aslinya jelek."
Tadinya sieh Imel sama sekali tidak berniat untuk membeli baju couple tersebut, tapi kemudian dia berubah fikiran dan akhirnya membeli baju itu juga, dia hanya berharap semoga Qianu suka dengan baju tersebut.
*****
Sementara itu jauh diseberang, Qianu tersenyum sambil melihat layar ponselnya yang memampangkan wajah Imel yang sedang tersenyum bahagia seoalah-olah tidak ada yang membebaninya, gadis kecil itu benar-benar mengalihkan dunianya.
"Siall, seharusnya aku tidak melihat fotonya, jadi ingin pulangkan aku." Qianu merutuk dirinya sendiri.
Saat pergi-pergi begini, Qianu memang tidak pernah menghubungi Imel, baik hanya sekedar mengirim chat apalagi menelpon gadis itu, karna kalau dia sampai mendengar suara Imel, sudah bisa dipastikan dia akan langsung pulang dan menemui gadisnya itu.
__ADS_1
"Sabarlah Qianu, sebentar lagi kamu akan pulang dan bisa menemui pujaan hatimu dan melepas rindu." dia berusaha menguatkan dirinya sendiri.
****