
Dan hari itu, Qianu tidak masuk kerja, dia memilih untuk merawat Imel, mengompres keningnya, bahkan sampai menyuapi Imel bubur dia lakukan sendiri.
"Mel, ayok bangun, kamu harus sarapan setelah itu baru minum obat." Qianu mengguncang tubuh Imel yang membuat gadis itu membuka matanya perlahan.
"Kak Qianu." desisnya lemah.
"Bangun dulu oke, kamu harus sarapan dan minum obat supaya kamu cepat sembuh."
Imel mengangguk patuh, dia dibantu oleh Qianu mengangkat tubuhnya untuk duduk, Qianu menyandarkan pungung Imel.
Qianu mengambil mangkuk berisi bubur yang dibawakan oleh pelayannya, "Ayok buka bibirnya." perintah Qianu saat mengarahkan sendok ke bibir Imel yang masih mengatup.
Imel dengan patuh melakukan apa yang diperintahkan oleh Qianu.
"Tidak enak." komennya saat tuh bubur sudah berpindah ke mulutnya.
"Gak usah banyak protes Mel, ayok telan saja supaya kamu cepat sembuh."
"Hmm."
Kembali Imel membuka bibirnya saat sendok berisi bubur diarahkan ke mulutnya.
"Sudah cukup kak, aku sudah kenyang."
"Bagaimana kamu bisa kenyang kalau kamu baru makan dua suap."
"Tapi aku sudah kenyang."
"Makan Imel." suara Qianu terdengar tegas yang membuat Imel tidak berani membantah, terpaksa deh Imel kembali membuka bibirnya untuk menerima suapan bubur itu lagi.
Dan tidak terasa, bubur dimangkuk tersebut kini habis tidak bersisa.
"Nahh, sekarang ayok minum obatnya." dengan telaten Qianu membantu Imel meminum obat.
"Sekarang kamu lebih baik istirahat." ujarnya setelah Imel menelan pil penurun panas.
Imel mengangguk.
Qianu kembali membantu Imel untuk membaringkan tubuhnya, menarik selimut untuk menutupi tubuh Imel sampai pinggang.
"Tidurlah."
Kali ini Imel tidak nurut, "Kak Qianu."
"Hmmm."
"Kakak tidak kerja."
"Aku kerjanya lewat rumah saja."
"Apa gara-gara aku kakak tidak kerja."
"Ya jelas bukanlah, kamu jangan kegeeran ya Mel, hanya saja aku malas ke kantor, dan aku bisa bekerja dari rumah." bantahnya karna gengsi untuk mengakuinya.
"Jadi sekarang Imel, kamu sebaiknya istirahat, jangan banyak bicara, karna kalau kamu sakit begini itu sangat merepotkan aku."
"Maafkan aku kak."
"Makanya kamu harus cepat sembuh."
Imel mengangguk lemah, dia benci sakit seperti ini karna dia hanya merepotkan Qianu saja, coba saja dulu saat dia masih tinggal bersama papinya, laki-laki itu dengan sangat telaten mengurusnya, mengingat papinya membuat bulir air matanya jatuh membasahi pipinya, saat ini dia merasa sangat sedih, apalagi dia sudah cukup lama tidak pernah melihat kondisi papinya, dia sangat ingin ke rumah sakit, sayangnya dia tidak akan pernah melakukan hal itu mengingat saat terakhir kalinya dia melakukan hal itu, Qianu benar-benar sangat marah kepadanya sampai laki-laki itu berniat untuk mencabut semua peralatan medis yang menunjang kehidupan papinya.
"Apa dia begitu kesakitan sampai menangis begitu, seandainya bisa, aku ingin menukar rasa sakitnya denganku." batinnya khawatir saat melihat air mata Imel yang jatuh membasahi pipi gadis itu, namun yang keluar dari bibirnya adalah, "Sudah deh gak usang cengeng, sakit begini doank jangan sedikit-dikit nangis." ketusnya, Qianu memang benar-benar tidak bisa mengungkapkan perasaannya, bukannya menghibur Imel, dia malah ngata-ngatain Imel cengeng.
Imel segera menghapus air matanya, dia tidak ingin Qianu marah karna dia menangis, laki-laki itukan tidak suka melihatnya menangis.
"Apa yang aku lakukan, kenapa aku malah memarahinya, duhh bodoh-bodoh." Qianu merutuki dirinya sendiri dalam hati, "Tidurlah sekarang, supaya saat bangun nanti panas kamu sudah agak mendingan." Qianu berusaha membuat suaranya terdengar lembut.
Imel mengangguk paham, meskipun tidak akan bisa tidur, tapi dia akan berusaha untuk memejamkan matanya.
****
Agnes saat ini tengah duduk disebuah cafe, dia tengah menunggu seseorang disana, Imel tersenyum saat melihat orang yang dia tunggu terlihat memasuki cafe, Agnes melambaikan tangannya untuk menarik perhatian laki-laki itu.
Laki-laki yang tidak lain adalah Altan berjalan mendekati Agnes, kening laki-laki itu mengerut karna tiba-tiba dirinya ditelpon oleh nomer yang tidak dia kenal dan memintanya untuk bertemu, awalnya sieh Altan tidak mengindahkan ajakan ketemu dari perempuan yang mengajaknya bertemu, tapi saat mendengar nama Imel disebut-sebut, barulah Altan setuju untuk bertemu.
__ADS_1
"Agneskan, wanita yang barusan menghubungiku." tanya Altan untuk memastikan.
Agnes mengangguk, senyum licik tersungging dibibirnya, wanita licik ini ternyata bergerak cepat untuk mencaritahu tentang Altan, dia tahu nama Altan saat mendengar pertengkaran Imel dan Qianu, dan dia meminta orang suruhannya untuk mencaritahu tentang Altan dan menunjukkan fotonya Altan kepada orang suruhannya itu, dan karna Altan merupakan pewaris sebuah perusahaan besar dikota ini sehingga tidak sulit memang untuk mencaritahu latar belakang tentang Altan dan mendapatkan nomernya.
"Dengan Altan Atmajokan." Agnes juga bertanya untuk memastikan apakah benar laki-laki yang saat ini ada dihadapannya adalah Altan, meskipun itu sebenarnya tidak perlu sieh mengingat Agnes pernah melihat Altan saat bersama dengan Agnes, dan gadis itu memiliki foto Altan yang diambilnya secara diam-diamkan diponselnya.
Altan mengangguk menjawab pertanyaan Agnes.
"Silahkan duduk Altan." Agnes mempersilahkan dengan menunjuk kursi yang berhadapan dengan kursi yang dia duduki.
"Anda mau minum apa tuan Altan." Agnes menawarkan saat Altan sudah duduk berhadapan dengannya.
"Saya harap anda tidak perlu bersikap formal begitu dengan saya nona Agnes, panggil saja saya Altan."
Agnes mengangguk paham, "Saya harap juga kamu bisa bersikap biasa saja sama saya, cukup panggil saya Agnes."
"Oke."
"Jadi, kamu mau minum apa Altan." Agnes mengulangi.
"Orange jus."
Agnes melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan Altan.
Dan begitu pelayan itu telah berlalu, kini Agnes memusatkan perhatiannya sama Altan yang memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu, ingin tahu kenapa wanita yang tidak dikenalnya dan tiba-tiba menghubunginya dan memintanya untuk bertemu seperti ini, Altan tahu sieh gadis yang saat ini ada dihadapanya memintanya untuk bertemu ada kaitannya dengan Imel, dan persoalan yang lebih tepatnya itulah yang membuat Altan penasaran.
"Oke, saya minta maaf sebelumnya karna telah meminta kamu untuk datang menemui saya disini padahal saat ini mungkin kamu tengah lagi sibuk-sibuknya." Agnes memulai.
"Tidak masalah, kalau menyangkut masalah Imel, saya pasti akan datang." secinta itukah Altan dengan Imel, padahal gadis itu tidak pernah menggubris setiap telpon dan juga chatnya.
"Laki-laki ini ternyata benar-benar mencintai Imel, sudah pasti dia bisa diajak untuk kerja sama." Agnes tersenyum senang dalam hati mengetahui akan fakta tersebut meskipun sebenarnya dia heran juga sieh kenapa dua laki-laki tampan dan juga kaya cinta matin sama Imel, memang sieh gadis itu cantik, tapi kalau bodohkan percuma juga, fikir Agnes, "Apa kebodohannya itu kali ya yang jadi daya tariknya." simpul Agnes dalam hati.
Bertepatan dengan itu, pelayan yang membawa pesanan Altan datang menghampiri meja mereka, Altan langsung menyeruput orange jus yang dia pesan begitu pelayan yang mengantarkannya berlalu, sedangkan Agnes kembali melanjutkan ucapannya.
"Apa kamu tahu kalau Imel sudah menikah."
Informasi yang dikatakan oleh Agnes tersebut membuat Altan tersedak minumannya sendiri yang membuatnya terbatuk-batuk hebat.
Ukhuk
Ukhuk
"Imel, wanita yang kamu sukai adalah istri orang, dan orang itu adalah Qianu Bharata."
Saat pertamakali bertemu dengan Imel, Altan melihat saat Qianu memanggil Imel, dan pada waktu itu, dia tidak pernah berfikir kalau Qianu adalah suaminya Imel, dia fikir gadis itu masih belum menikah, mana pernah dia menyangka kalau gadis yang dia taksir adalah istri dari rekan bisnisnya.
Untuk sesaat, Altan hanya bisa terpaku tanpa reaksi apa-apa, dia masih mencerna apa yang barusan dikatakan oleh gadis yang bernama Agnes.
"Jadi…Imel telah menikah, dan suaminya adalah Qianu." ulangnyanya.
Agnes mengangguk untuk membenarkan.
Mengetahui fakta itu, Altan merasa dia tidak punya kesempatan untuk mendekati Imel, kalau hanya sekedar berstatus sebagai kekasih sieh masih bisa untuk direbut, tapi kalau sudah menjadi istri orang, bagaimana bisa dia melakukan hal itu.
Sampai Agnes melanjutkan ucapannya dan kata-kata Agnes selanjutnya memberikannya harapan untuk mendapatkan Imel.
"Tapi kamu tahu Altan, Imel menikah karna terpaksa, dan dia tidak bahagia dengan pernikahannya." bohongnya.
"Apa yang kamu katakan benar."
"Tentu saja, apa untungnya saya berbohong."
"Dan apa hubunganmu dengan Imel, kenapa kamu tahu tentang kehidupan Imel dengan Qianu."
"Tentu saja saya tahu, saya adalah sahabatnya Qianu, kami bersahabat sejak masih remaja, dan saya tahu banyak tentang Qianu, kamu tahu Qianu itu orangnya keras, kejam dan suka main tangan, selama dia menikahi Imel, Qianu sering memukul Imel." Agnes benar-benar pintar mengarang bebas, mungkin saat sekolah dulu nilai bahasa indonesianya 100.
Altan sudah mencintai Imel sejak pandangan pertama, kemarin dia bertekad untuk mendapatkan Imel bagaimanapun caranya, dan mendengar cerita Agnes tentang perlakuan Qianu kepada Imel itu membuatnya geram.
"Sialan, bisa-bisanya Qianu menyakiti Imel, benar-benar banci dia beraninya hanya sama perempuan." wajah Altan merah padam.
Melihat raut wajah Altan yang seperti menahan kesal membuat Agnes tertawa dalam hati, dia bersorak dalam hati karna rencananya ternyata berhasil, "Yess, laki-laki ini percaya dengan ceritaku, ini akan semakin mempermudah rencanaku untuk memisahkan Qianu dan Imel."
Agnes semakin bersemangat untuk menceritakan cerita bohongnya, "Jadi Altan, tolong selamatkan Imel, Imel tersiksa dan terus menangis karna Qianu terus saja menyiksanya."
Altan terlihat menarik nafas panjang, dia tidak pernah menyangka ternyata ada laki-laki sekejam Qianu yang tega menyiksa perempuan, "Aku berjanji akan merebut Imel dari Qianu dan akan memberi kehidupan yang bahagia untuk Imel." janji Altan pada diri sendiri.
__ADS_1
"Aku akan membantumu Altan, meskipun aku bersahabat dengan Qianu, tapi aku tidak suka melihat kaumku dizolimi."
*****
"Kamu habis dari mana Nes." tanya Qianu saat berpapasan dengan Agnes diruang tamu, saat itu Agnes baru pulang dari pertemuannya dengan Altan.
"Mmm, cuma jalan-jalan doank." jawabnya santai, padahalkan dia baru saja merencanakan niat jahat untuk memisahkan Qianu dan juga Imel.
"Sama siapa, aku lihat mobil digarasi lengkap."
"Aku naik taksi Qianu."
"Lain kali kalau kamu mau pergi, bilang sama aku Nes, dan pastikan kamu diantar oleh sopir, kamu disini adalah tanggung jawabku, kalau terjadi apa-apa sama kamu, aku tidak tahu harus menjelaskan apa sama om dan tante."
"Baiklah, aku minta maaf karna pergi tanpa pamit."
"Hmmm."
"Oh ya Qianu, bagaimana keadaan Imel, apa istrimu itu sudah baikan sekarang." diluar Agnes terlihat manis dan peduli, padahal didalam dia merencanakan hal yang jahat, kalau diibaratkan dengan buah, Agnes persis seperti buah kedondong, diluar bagus, didalam berduri.
"Keadaannya sudah membaik, panasnya sudah menurun."
"Ohh syukurlah, aku sangat khawatir soalnya dengan keadaan istrimu itu."
"Terimakasih atas perhatianmu Agnes."
"Sudah seharusnyakan, aku sudah menganggap Imel sudah seperti adikku sendiri." bohongnya, gadis ini benar-benar pinter akting.
*****
Pengaruh dari obat penurun panas yang dia konsumsi ternyata membuatnya tidur nyenyak, sehingga Imel terbangun saat gelap sudah merayap, Imel merasa sudah agak baikan sekarang, badannya sudah tidak terlalu panas lagi seperti yang tadi siang dia rasakan.
Imel bisa merasakan sebuah tangan kekar melingkar diperutnya, dan Imel yakin itu adalah tangan suaminya, Imel berbalik, dan wajahnya langsung berhadapan dengan wajah suaminya, laki-laki yang kadang sering memarahinya dan membentaknya, dan kadang juga laki-laki itu bersikap manis dan baik padanya, sikap Qianu yang seperti itu kadang membuat Imel bingung, bingung karna apakah Qianu mencintainya atau tidak.
Dari bias sinar rembulan yang masuk melalui celah gorden, meskipun tidak terlalu jelas tapi Imel bisa melihat wajah suaminya yang kini tertidur lelap, wajah itu terlihat damai dan tenang, sangat berbeda saat Qianu dalam keadaan terjaga, wajah yang ditampilkan cendrung datar dan seringnya marah-marah, hal itukan membuat orang takut saja.
"Dia lebih baik tidur, kalau tidur begini dia terlihat manis." desis Imel meneliti wajah suaminya.
Saat Imel tengah fokus-fokusnya memperhatikan wajah Qianu begitu, tanpa peringatan Qianu membuka matanya, hal itu tentu saja membuat Imel terkejut karna kpergok telah memperhatikan wajah suaminya itu, tadinya Imel berfikir kalau Qianu akan memarahinya, tapi ternyata tidak.
"Maafkan aku kak, aku..."
"Apa kondisimu sudah membaik." tanyanya sebelum Imel menyelsaikan ucapannya.
"Ehh." gumam Imel karna tidak menyangka Qianu akan menanyakan hal tersebut.
"Apa keadaanmu sudah membaik." Qianu kembali mengulangi pertanyaannya saat Imel belum kunjung menjawab pertanyaannya.
"Aku..iya, keadaanku sudah membaik." jawab Imel sesuai dengan fakta.
Qianu mengarahkan telapak tangannya kekening Imel, kening Imel tidak sepanas tadi siang, keningnya agak menghangat.
"Apa kamu lapar." tanya Qianu.
"Tidak." jawab Imel cepat dilisannya, tapi perutnya mengatakan tidak, karna saat diselsai mengatakan tidak, perutnya langsung berbunyi nyaring.
Krukkk
Imel langsung memegang perutnya yang telah mengkhianatinya, sumpah dia rasanya benar-benar malu, Imel berfikir pasti Qianu saat ini tengah mentertawakannya.
"Kamu lapar rupanya."
Imel mengangguk malu, percuma sajakan bohong, toh perutnya mengatakan dengan lantang kalau dia lapar.
"Kamu mau makan apa."
"Mmmm, apa saja kak." pasrah Imel.
"Oke, kamu mau makan disini, atau kita turun kebawah." Qianu menawarkan.
Imel bukannya manja, tapi saat ini karna kondisi tubuhnya masih lemah sehingga dia memilih untuk makan dikamar saja untuk saat ini.
"Aku mau makan disini saja kak."
"Baiklah, aku akan meminta pelayan untuk membawakan makanan kemari."
__ADS_1
*****