
Agnes kemudian menoleh ke belakang dimana Imel berdiri dan menatapnya dengan rasa penuh keingintahuan.
"Diaaaa...." tunjuknya.
"Aku..."
"Dia Imel, istriku." Qianu memotong ucapan Imel.
"Akhirnya aku diingat dan diakui juga."
"Hah." Agnes memutar bola matanya mendengar jawaban yang diberikan oleh Qianu sebelum kemudian gadis itu tertawa, "Hahaha."
Imel mengerutkan keningnya bingung saat melihat gadis bernama Agnes itu tertawa, "Ihh, kenapa dia ketawa sieh, emang ada yang lucu ya." batin Imel sewot.
"Qianu Qianu." Agnes memukul lengan Qianu karna dia berfikir kalau Qianu cuma bercanda, "Gak lucu tahu gak."
"Jadi dia berfikir kak Qianu bercanda, woee, aku itu beneran istrinya kak Qianu."
"Aku serius Nes, gadis ini adalah istriku, aku sudah menikah." Qianu memperjelas statusnya.
Mendengar konfirmasi itu membuat Agnes menghentikan tawanya, tiba-tiba saja dia merasakan sakit yang teramat sangat menusuk relung hatinya, "Kamu tidak seriuskan, kamu bercandakan Qianu." meskipun begitu Agnes masih menolak untuk percaya.
"Nes, aku tidak bercanda, dia benar-benar istriku yang aku nikahi."
Agnes adalah tipe wanita yang kuat dan tegas, gadis itu tidak gampang menangis, bahkan saat hatinya tengah teramat sakit saat ini tidak sebulir air matapun yang jatuh dari matanya.
"Kamu tega Qianu, kenapa kamu melakukan ini kepadaku." ujarnya dengan suara dingin, "Kamu tahukan kalau aku mencintaimu sejak dulu, aku bahkan menyusulmu kemari, tapi, apa yang kamu lakukan kepadaku, kamu benar-benar jahat."
Wajah Qianu tidak berubah sama sekali, wajah itu masih terlihat datar, dia tidak merasa bersalah sedikitpun karna telah membuat Agnes sakit hati seperti ini.
"Apa, jadi wanita ini mencintai kak Qianu."
"Nes, seharusnya kamu juga tahu kalau sejak dulu aku hanya menganggap kamu hanya sebagai adik saja, tidak lebih." kata Qianu, dia bahkan tidak meminta maaf, fikirnya buat apa dia meminta maaf, toh dia gak bersalah dalam hal ini, dia tidak pernahkan memberi harapan kepada Agnes, gadis itu saja yang terlalu berharap kepadanya.
"Tapi aku mencintaimu Qianu, aku tidak ingin menjadi adikmu." suara Agnes melengking.
"Tapi aku tidak bisa menganggap kamu lebih dari sekedar adik Agnes, bukankah perasaan tidak bisa dipaksakan."
Semakin sakitlah hati Agnes mendangar kata-kata Qianu tersebut, hanya sakit sieh memang dan tidak sampai membuat air matanya menetes, dalam hati, Agnes berusaha untuk menenangkan dirinya, "Oke Agnes, kamu harus tenang oke, masalah ini tidak bisa diselsaikan dengan kekerasan, yang ada malah membuat semuanya makin kacau, mulai detik ini yang harus kamu lakukan adalah, kamu harus pura-pura menerima semua ini, dan bersikap baiklah seperti biasanya, dan selama itu, kamu bisa mengatur rencana untuk memisahkan Qianu dengan gadis bodoh sialan itu, aku tidak rela Qianu bersama dengan wanita lain, Qianu harus menjadi milikku." tekadnya dalam hati.
"Ness." Qianu menyentuh lengan Agnes, melihat wajah Agnes yang sekarang memampangkan wajah sedih membuatnya merasa bersalah juga, "Maafkan aku, maafkan aku yang tidak bisa mencintaimu."
Agnes terdiam sesaat, sangat sulit baginya untuk berpura-pura menerima semua ini, tapi dia harus bisa meyakinkan Qianu kalau dia baik-baik saja, dia memaksakan dirinya tersenyum, meskipun senyumannya terlihat kaku, "Tidak apa-apa Qianu, kamu benar, cinta memang tidak bisa dipaksakan."
Melihat Agnes yang terlihat pasrah dan menerima semakin membuat Qianu semakin merasa bersalah, tadi saat Agnes marah-marah dan ngotot, dia sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun dan tidak peduli dengan perasaan Agnes, ternyata memang, raut wajah sedih dan juga kepasrahan disitulah letak kelemahan Qianu, meskipun terkenal dingin dan kejam, dibalik sikapnya itu dia masih memiliki belas kasih dan tidak tega melihat wanita bersedih apalagi menangis, hal itulah dulu yang membuatnya tidak tega menyakiti Imel lebih jauh sehingga membuatnya melenceng dari tujuan utamanya menikahi Imel.
"Meskipun begitu, kita masih bisa jadi kakak adikkan seperti yang kamu katakan." Agnes berusaha membuat suaranya senormal mungkin saat mengatakan hal tersebut, padahal dalam hatinya dia benar-benar tidak terima, dia hanya menginginkan Qianu menjadi miliknya.
"Tentu saja."
Imel hanya jadi penonton drama yang saat ini tengah berlangsung didepan matanya.
"Kalau begitu, bolehkah aku memelukmu, memelukmu sebagai seorang adik."
"Tentu saja."
Setelah mendapat izin, Agnes memeluk tubuh tegap Qianu dan Qianupun membalas.
Imel melihat sendiri apa yang terjadi dengan mata kepalanya sendiri dan mendengar apa yang dikatakan oleh kedua orang itu, antara Qianu dan Agnes tidak ada apa-apa, mereka hanyalah dua orang yang tidak memiliki hubungan sedarah yang kemudian memilih menjadi kakak beradik, tapi meskipun begitu, Imel rasanya kesal melihat kedua orang itu berpelukan, lebih tepatnya sieh cemburu, ingin rasanya dia mendorong tubuh Agnes yang memeluk suaminya dengan posesif dan menarik tubuh Qianu menjauh, tapi tentunya dia tidak bisa melakukan hal tersebut, jadinya dia hanya menjadi penonton dan berusaha untuk menghibur dirinya sendiri, "Tenang Mel, tenang, mereka tidak ada apa-apa, meskipun sik Agnes itu mencintai suamimu, tapi dia sudah menerima kalau Qianu sudah menikahimu, dan kini gadis itu sudah menganggap Qianu sebagai kakaknya sendiri, jadi, jangan cemburu oke." meskipun begitu, rasa cemburu itu tidak mudah dihempaskan begitu saja, hal itu membuat dadanya terasa sesak, seperti ada pasir sungai yang menyumbat dadanya, tiba-tiba saja sebulir kristal bening merembas dari sudut matanya yang dengan cepat meluncur menuruni pipinya, Imel dengan cepat menghapusnya.
Dari balik punggung Qianu, Agnes menatap Imel dengan pandangan penuh kebencian, "Aku akan membuat kalian berpisah, dan kamu gadis kecil, aku akan membuat hidupmu menderita." janjinya.
Agnes mengurai pelukannya, senyum palsu itu kembali dia sunggingkan dibibirnya, "Jadi Qianu, apakah kamu mau memperkenalkan istrimu secara resmi kepadaku."
"Tentu saja."
"Mell, kemari." Qianu melambaikan tangannya untuk meminta Imel mendekat.
Imel berjalan mendekat saat Qianu memintanya, begitu Imel berdiri disampingnya, Qianu merangkul bahu Imel, hati Agnes semakin panas saat melihat tangan Qianu menempel ditubuh gadis itu, Agnes jadi membayangkan apa yang pernah dilakukan Qianu dengan Imel, dan itu membuatnya mengepalkan tangannya saking geramnya, ingin rasanya dia menepis tangan Qianu, namun dia tidak bisa melakukan hal itu, namun disituasi seperti itu, Agnes masih berusaha untuk mempertahankan senyum palsu diwajahnya.
Imel tersenyum ke arah Agnes yang dibalas oleh Agnes dengan sangat terpaksa, "Apa sieh bagusnya gadis kecil ini sehingga Qianu mau menikahinya, cantik sieh memang, tapi cantikkan aku kemana-mana juga, dia juga terlihat bodoh."
__ADS_1
"Namanya Imelda Cahya Abadi, panggil saja dia Imel." Qianu menyebut nama panjang istrinya, "Dan Imel, kenalkan, gadis cantik ini adalah Agnes Jesica, putri dari om Ardan, orang yang telah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri, dan Agnes tentu saja sudah aku anggap seperti adikku sendiri."
Imel sewot sendiri dalam hati, pasalnya tadi Qianu bilang Agnes yang cantik, sedangkan dirinya tidak ada embel-embel cantiknya saat Qianu menyebutkan namanya, meskipun begitu, dia tetap berusaha untuk tetap bersikap ramah.
"Hai kak Agnes, aku Imel." Imel mengulurkan tangannya yang langsung dijabat oleh Agnes.
"Aku Agnes, panggil saja Agnes, gak usah pakai kak."
"Mmm, tapi gak enak kak, kakakkan lebih tua."
"Gak masalah, Qianu saja lebih tua dariku, tapi aku tidak pernah memanggilnya dengan embel-embel kakak."
"Ahh baiklah kalau begitu."
"Tangan gadis ini terlalu kecil, sangat mudah untuk meremukkannya." batin Agnes yang masih menggenggam tangan Imel sampai Imel menarik tangannya kembali.
"Qianu, selama aku disini, bisakah aku tinggal dirumahmu, gak mungkinkan aku langsung balik."
"Tentu saja Nes, rumahku adalah rumahmu juga."
"Terimakasih Qianu."
*****
Imel duduk bersandar ditempat tidur, matanya tidak lepas menatap Qianu yang tengah mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya.
"Agnes cantik ya kak." ucapnya tiba-tiba.
"Dia memang gadis cantik, pintar, anggun dan berkelas." Qianu memuji, "Gak kayak kamu, cantik doank tapi bodoh."
"Isshh." desis Imel kesal karna Qianu memuji wanita lain dengan terang-terangan didepannya, "Bener-bener deh kak Qianu itu, dia tidak menjaga perasaan istrinya sama sekali, malah dia ngata-ngatain aku lagi." Imel ingin menimpukkan bantal dikepala Qianu, tapi dia masih bisa menahan dirinya.
"Kalau Agnes cantik, pintar, anggun dan berkelas, kenapa tidak menikah dengannya saja, kenapa malah menikahi aku yang bodoh ini." nada suara Imel terdengar ketus.
"Buat apa aku menikahi gadis yang tidak aku cintai."
"Tapi kakak bilang dia sempurna."
"Kapan aku bilang begitu."
"Aku tidak bilang sempurnakan, tidak ada manusia yang sempurna didunia ini."
"Hmmm."
Qianu kemudian berjalan ketempat tidur dan membaringkan tubuhnya, "Sini." panggil Qianu menepuk ruang kosong disampingnya.
Imel reflek mendekat dan kini dia sudah berada dalam dekapan Qianu yang melingkarkan tangannya dipinggang Imel, "Tidur." perintahnya.
Bukannya tidur seperti yang diperintahkan oleh Qianu, dia kembali membuka bibirnya untuk bertanya, "Kak Qianu sudah berapa lama kenal dengan Agnes."
"Setengah dari umurku."
"Lama juga."
"Hmmm, lumayan."
"Kak Qianu pernah gak suka sama Agnes."
"Gak."
"Masak sieh, aku yakin, pasti banyak yang mau sama Agnes."
"Memang banyak." Qianu membenarkan.
"Terus kenapa kak Qianu tidak mau sama kak Agnes."
"Budek."
"Kak Agnes budek."
Qianu menghela panjang sebelum kembali berkata, "Kan aku sudah bilang, Agnes itu sudah aku anggap seperti adikku sendiri, jadi tidak mungkin aku menyukainya." Qianu mengulangi kata-katanya tadi siang.
__ADS_1
"Meskipun begitu, kaliankan tidak saudara kandung, bisa saja...."
Cup
Qianu mengecup bibir Imel, dan cara itu selalu ampuh untuk membuat bibir Imel yang sejak tadi ngocol langsung bungkam, "Diam dan tidur, aku mau istirahat supaya aku bisa bangun lebih pagi, mengerti Imel."
Imel mengangguk paham, meskipun ini bukan untuk pertamakalinya Qianu menciumnya, tapi hatinya selalu saja disko gila-gilaan.
*****
Keesokan paginya, Imel dan Qianu turun bersamaan kebawah menuju meja makan, Imel mengenakan seragam sekolahnya dan Qianu dengan stelan jas formalnya, dimeja makan, Agnes terlihat sibuk menata ini itu, dia mengalihkan perhatiannya saat mendengar gema langkah mendekat, dan ya, setiap kali melihat Qianu dan Imel, gadis itu harus terpaksa tersenyum dan menahan hatinya yang sakit.
"Pagi." sapanya.
"Pagi Nes." balas Qianu.
"Pagi juga Nes." Imel juga membalas.
"Apa sieh yang ada difikiran Qianu, bisa-bisanya dia menikahi bocah yang masih mengenakan seragam begini."
"Duduk Qianu, aku sudah membuat makanan kesukaan kamu untuk sarapan, ada spageti, salad buah dan jus apel."
Qianu dan Imel duduk.
"Agnes memang sangat mengenal Qianu, sedangkan aku, makanan kak Qianu saja aku tidak tahu." desah Imel merasa dirinya tidak apa-apanya dibandingkan dengan Agnes yang sempurna.
"Terimakasih Nes karna kamu telah repot-repot menyiapkan sarapan seperti ini, padahalkan kamu tidak perlu melakukan ini, pelayan disini cukup banyak untuk menyiapkan sarapan, dengan adanya kamu, aku yakin mereka hanya berdiam diri dan tidak punya kerjaan untuk dilakukan."
Agnes tersenyum anggun menanggapi ucapan Qianu, "Meskipun begitu, aku hanya ingin melakukannya, bukannya kamu sangat suka makan masakanku."
"Tentu saja, masakanmu selalu menjadi yang terbaik."
Mendapat pujian itu membuat Agnes tersenyum lebar, "Kamu dengar itu bocah, Qianu bilang masakanku yang terbaik, sedangkan kamu, apa yang bisa kamu lakukan."
"Kayaknya aku harus kursus masak, akukan juga ingin menyenangkan suamiku dengan masakanku agar tidak memuji masakan wanita lain lagi."
Imel akan mengambilkan makanan untuk suaminya, namun Agnes mendahuluinya, hal itu membuat Imel kembali menarik tangannya.
"Nes, biarkan Imel melakukan tugasnya sebagai istri bisakan." kata Qianu saat melihat Agnes akan mengambilkannya makanan.
"Ohh iya, hehe sori, habisnya kebiasaan sieh, dulukan aku yang sering ngelayanin kamu saat kamu makan." Agnes pura-pura cengengesan padahalkan hatinya sakit.
Imel tidak bisa tidak menahan senyumnya saat Qianu mengatakan hal tersebut, dia meraih piring yang disodorkan oleh Agnes dan mulai mengambilkan makanan untuk suaminya itu.
"Kamu juga harus makan yang banyak." Qianu memegang puncak kepala Imel.
"Iya."
"Ukhh sialan, kok cuacanya tiba-tiba jadi sangat panas begini ya padahal masih sangat pagi."
"Nes." panggil Qianu saat menelan makanannya, "Rencana kamu apa hari ini."
"Mmm, gak tahu." jawab Agnes, "Aku sieh ingin keluar jalan-jalan gitu menikmati keindahan kota, tapi gak enak melakukan hal itu sendiri, pasti boring gak punya teman untuk diajak ngobrol." keluhnya, "Sepulang kerja, kamu mau gak nemenin aku."
"Sama aku saja Nes." Imel menawarkan diri sebelum Qianu sempat memberi jawaban, "Hari ini aku hanya ada satu mata kuliah, jadi aku punya banyak waktu bebas, dan aku fikir aku bisa menemani kamu untuk jalan-jalan muter-muterin kota."
"Aku gak ngajak kamu." desis Agnes dalam hati.
"Nahh tuh, sama Imel saja Nes, dijamin Imel anaknya asyik."
"Hmm, baiklah." ujar Agnes terpaksa.
****
Agnes ikut ke kampus Imel, dan mengenalkannya sama kedua sahabatnya, Agnes juga ikut perkuliahan, karna Agnes super cantik sehingga teman-teman kelas Imel khususnya yang cowok kebanyakan tidak bisa mengalihkan mata mereka dari sosok Agnes yang begitu berkilau, bahkan beberapa teman-teman kelas Imel meminta nomer Agnes yang hanya ditanggapi dengan senyuman tipis oleh Agnes.
Dan seperti janjinya, begitu perkuliahan berakhir, Imel menemani Agnes untuk jalan-jalan mengelilingi kota, Imel sudah seperti pemandu wisata, dia menjelaskan banyak hal sepanjang perjalanan yang mereka lewati, Agnes hanya pura-pura antusias mendengarkan padahal dalam hatinya bete parah karna harus mendengarkan ocehan Imel yang menurutnya tidaklah penting.
"Mel, aku boleh tanya sesuatu gak."
"Boleh, kamu mau tanya apa memangnya."
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa menikah dengan Qianu."
*****