
Hugo sangatlah cemas dengan kondisi nona mudanya, dokter yang memeriksa kondisi nona majikannya belum juga keluar dari ruangan.
Hugo dengan beberapa pengawal lainnya yang berbaju serba hitam menunggu diluar pintu, menunggu sang dokter yang tengah menangani nona muda mereka membawa kabar baik, karna kalau dokter membawa kabar buruk, habislah mereka.
"Tuhan, semoga nona baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa sama nona, kalau nona sampai kenapa-napa, tamatlah riwayatku." Hugo tidak henti-hentinya berdoa ditengah-tengah kepanikannya.
Sebenarnya tadi Hugo menghubungi Qianu, sayangnya panggilan tersebut tidak dijawab, entah mungkin saat ini Qianu lagi sibuk atau bagaimana, entahlah, yang jelas hal tersebut membuat Hugo lega karna dia tidak perlu mendengarkan omelan sang tuan lebih cepat, tapi meskipun begitu, cepat atau lambat, dia akan tetap kena omel jugakan kalau dia melaporkan apa yang menimpa nona mudanya.
"Apa sieh yang sebenarnya nona makan sampai sakit perut seperti itu, aku rasa semua pelayan yang bekerja dirumah tuan adalah pelayan-pelayan profesional yang tidak mungkin memasak makanan sembarangan."
Tadi juga Hugo menelpon kepala pelayan, Hugo meminta kepada kepala pelayan untuk mencari tahu makanan apa yang dihidangkan oleh sik pelayan kepada nona muda mereka, dan tentu saja yang paling penting adalah siapa yang memasak makanan yang dihidangkan hari ini.
Laki-laki tinggi besar dengan wajah sangar itu terlonjak kaget saat melihat pintu terbuka, laki-laki itu langsung menyongsong sang dokter dan mencecar dokter itu dengan pertanyaan, "Bagaimana dokter, nona tidak apa-apakan, nona saya baik-baik sajakan dokter, dan kenapa tiba-tiba nona jadi sakit perut dan bolak-balik buang air, dan..."
Dokter itu mengangkat tangannya sebagai kode untuk meminta Hugo berhenti nyerocos, karna kalau pertanyaan Hugo masih berlanjut, dia tidak tahu harus menjawab dari yang mana dulu.
.
Para pengawal lainnya juga sangat penasaran dengan kondisi nona muda mereka, sehingga mereka menunggu dokter yang menangani Imel untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Melihat kode yang diberikan oleh dokter yang tadi menangani Imel, Hugo otomatis mengerem bibirnya, dan saat melihat Hugo sudah bisa dikendalikan, barulah sang dokter menyampaikan analisanya
"Saya tidak tahu apa yang ada difikiran nona muda itu, entah apa tujuannya meminum obat pencuci perut dalam jumlah yang banyak, kalau mau langsing, nona muda itu memiliki bentuk tubuh yang bagus, jadi saya rasa dia tidak perlu meminum obat pencuci perut untuk menurunkan berat badanya, atau mungkin dia memiliki alasan lain meminum obat itu."
"Apa dokter, nona saya meminum obat pencuci perut."
Dokter itu mengangguk, "Itulah yang membuat perutnya mules-mules sampai pingsan begitu."
"Nona Imel tidak mungkin meminum obat itu, ini pasti ada yang berniat jahat kepada nona Imel." duga Hugo, "Apa ini perbuatan nona Agnes, perempuan itu hanya didepan saja dia bersikap manis dan terlihat menerima hubungan tuan dan nona, saya yakin dia sebenarnya tidak suka dengan hubungan tuan dan nona." Hugo menduga-duga.
"Apa hal ini perlu aku laporkan pada tuan." tentu saja Hugo harus melaporkan akan hal ini sama tuannya, "Tapi jangan dulu, mana mungkin aku mengatakan hal ini tanpa adanya bukti, mana mungkin tuan mempercayaiku, dan bisa jadikan nona Agnes membalikkan fakta." untuk sementara, Hugo mengurungkan niatnya tersebut karna tidak adanya bukti.
"Tapi sekarang nona Imel sudah sadar, dan dia bisa dibawa pulang." dokter itu melanjutkan.
Para pengawal dan juga Hugo terlihat menarik nafas lega, itu berarti mereka aman dari amukan Qianu.
"Kalau begitu, izinkanlah saya menemui nona saya dokter."
__ADS_1
"Tentu saja." dokter yang tadi menangani Imel menyingkir dan memberi jalan kepada bodygourd botak itu untuk menemui Imel, sedangkan yang lainnya menunggu diluar, hanya Hugo yang masuk.
Saat Hugo masuk, dia bisa melihat kalau nona majikannya saat ini terbaring lemah dibankar rumah sakit.
"Nona." tegurnya mendekati Imel.
Imel tidak membalas karna dia merasa sangat lemah saat ini.
Hugo menarik kursi dan duduk disamping bankar nona majikannya itu, Hugo menyalahkan dirinya atas insiden yang menimpa Imel, karna dia ditugaskan secara khusus oleh tuannya untuk menjaga Imel, ehh dia malah tidak bisa menjalankan perintah dengan baik.
"Padahal tuan mempercayakan hal paling berharga yang dia miliki kepadaku, aku malah gagal menjaga kepercayaan tuan, entah apa yang tuan lakukan kalau tahu orang kepercayaannya gagal menjalankan perintahnya." Hugo memang orang kepercayaan Qianu, kemanapun dia pergi, dia selalu mengikutsertakan Hugo, tapi untuk kali ini, Qianu mempercayai Hugo untuk menjaga Imel selama dia pergi keluar negeri untuk melakukan perjalanan bisnis.
"Hugo." tegur Imel saat dilihatnya bodygourd suaminya itu terlihat melamun, "Hugo." ulang Imel, barulah Hugo sadar dari lamunannya.
"Ehh iya nona, apa nona membutuhkan sesuatu."
"Tenggorokanku kering Hugo, bisakah kamu memberikanku minum."
"Tentu saja nona." Hugo menuangkan air dari teko kaca kegelas dan membantu Imel untuk minum, setelah Imel selesai, dia kembali meletakkan gelas itu dinakas.
"Bagaimana perasaan nona sekarang."
"Jangan berterimakasih nona, itu sudah menjadi tugas saya untuk selalu menjaga nona dan memastikan nona baik-baik saja, justru saya yang seharusnya meminta maaf sama nona karna tidak bisa menjaga nona Imel dengan baik, saya benar-benar merasa menyesal nona, saya siap menerima hukuman apapun dari nona." Hugo menunduk, fikirnya, dia memang layak untuk dihukum.
"Apa sieh yang kamu katakan Hugo, ini jelas bukan kesalahan kamu, jadi mana mungkin saya menyalahkan kamu, apalagi sampai menghukum segala."
"Nona Imel benar-benar wanita yang baik, bahkan dia tidak menyalahkanku sedikitpun atas apa yang menimpanya." batin Hugo terharu karna Imel tidak menyakahkannya sedikitpun atas apa yang menimpa dirinya.
"Terimakasih nona karna nona tidak menyalahkan saya."
Saat itu, ponsel Hugo disaku celananya berdering, dia merogoh kantong celananya untuk melihat siapa yang menghubunginya, dan nama yang tertera dilayar ponselnya berhasil membuat Hugo pucat pasi, rasanya dia tidak siap untuk mengakui kesalahannya pada tuannya karna lalai dalam menjalankan tugas, meskipun Imel sendiri bilang kalau itu bukan salahnya, tetap saja Hugo menyalahkan dirinya, karna ktledorannya Imel sampai berbaring dirumah sakit seperti ini.
"Siapa Hugo." Imel bertanya saat dilihatnya tangan Hugo terlihat bergetar, rasanya Hugo tidak sanggup mendengar amukan tuannya kalau dia menceritakan apa yang menimpa Imel.
"Tuan Qianu nona."
"Angkat, tapi jangan bilang aku dirumah sakit, katakan padanya kalau semuanya baik-baik saja." Imel sadar betul kalau Hugo pasti bakalan dimarahin habis-habisan oleh suaminya kalau dia tahu kalau dirinya tengah terbaring dirumah sakit.
__ADS_1
"Tapi nona, tuan pasti akan bertambah sangat marah kalau dia dibohongin."
"Makanya, gak ada yang boleh ngomong tentang hal ini sama Qianu, kamu tahukan Hugo apa yang harus kamu lakukan."
Hugo mengangguk paham apa yang dimaksud oleh Imel.
"Sekarang angkatlah Hugo, jangan biarkan Qianu lama menunggu karna itu akan membuat darah tingginya naik."
Hugo tersenyum kecil mendengar clotehan istri tuannya.
"Aktifkan pembesar suaranya Hugo."
Hugo menjawab dengan anggukan.
"Selamat malam tuan Qianu." sapa Hugo formal.
"Disini masih siang Hugo."
"Maafkan saya tuan." bahkan begituan doank Hugo minta maaf segala.
"Hugo, bagaimana keadaan dirumah saat ini, apa semuanya baik-baik saja."
Hugo melirik ke arah Imel sebelum menjawab pertanyaan tuannya, Imel mengangguk untuk meyakinkan Hugo supaya dia menjawab seperti yang telah dia anjurkan barusan.
"Iya tuan, semuanya baik-baik saja, tuan tidak perlu khawatir."
"Bagaimana dengan istrikku."
Hati Imel rasanya gimana gitu saat mendengar Qianu memanggilnya dengan panggilan istriku.
"Nona Imel baik-baik saja tuan, nona saat ini tengah istirahat."
Imel mengacungkan jari jempolnya mendengar balasan Hugo.
"Baguslah, bilang sama dia kalau saya akan balik lusa."
"Baik tuan, saya akan menyampaikannya pada nona Imel."
__ADS_1
Dan karna tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Qianu memutus sambungan, sebelum dia memutus sambungan, dia berpesan pada Hugo untuk menjaga istrinya dengan baik yang diiyakan dengan mantap oleh Hugo, Hugo berjanji akan menjaga istri bossnya, bahkan dengan nyawanyapun sekalian, Hugo berjanji tidak akan membiarkan hal seperti ini lagi terjadi.
*****