
"Eee busettt, tahu gak sik Cahyo ini Anjirrr, dia punya bodygourd tahu gak, fikir-fikir lo pada ya kalau mau ngisengin dia." heboh sik Miun biang kerok kelas.
"Yang benar saja." Solihin tidak percaya.
"Elahh sik Soli ini tidak percaya lagi, gue lihat sendiri tuh saat bodygourd Imel yang tinggi besar dan otaknya yang kinclong itu memberi pelajaran pada Rio yang tadi merayu Imel."
Imel hanya mendengus mendengar pengaduan sik Miun, anak itu memang cowok, tapi bibirnya itu lho, nauzubillah deh, udah ngalah-ngalahin bibirnya cewek, nyablak banget, sehingga tidak heran kalau dia dijuluki radio satu sekolahan.
"Bener tuh Mell." Nuri meminta penjelasan dari Imel secara langsung saat mendengar koar-koar sik Miun.
"Iya." jawab Imel singkat.
"Hehh, beneran lo bawa-bawa bodygourd segala, udah kayak putri presiden aja lo ya." Juli menimpali.
"Itu Hugo anjir, ya memang dia bodygourd merangkap sopir juga sieh."
"Benar yang dikatakan oleh sik Miun kalau Hugo memberi pelajaran sama Rio karna ngerayu lo."
Imel mengangguk, "Ya Hugokan memang ditugaskan oleh kak Qianu untuk menjaga gue selama dia pergi ke luar negeri, jadi Hugo tidak suka aja melihat ada cowok yang gangguin gue." Imel menjelaskan, "Tapi ya gak beneran dihajar sieh, sik Miun jelek itu memang suka melebih-lebihkan, Hugo hanya memelintir tangannya Rio doank kok, tapi memang dasar sik Rionya saja yang banci, masak baru begitu doank dia mengaduh kayak cewek." Imel jadi tertawa saat mengingat kejadian barusan.
"Masak sieh, gila, pasti lucu banget deh."
"Coba saja gue ada di TKP, sudah pasti gue menjadi orang yang ketawanya paling kenceng."
Dan obrolan mereka tentang Rio terhenti saat pak Taofik alias yang sering mereka panggil dengan sebutan pak Top yang merupakan guru matimatika sekaligus yang masuk dalam jajaran gue kiler disekolah masuk ke kelas mereka untuk memulai pelajaran dijam pertama..
****
Agnes dan Altan kembali bertemu, entah apalagi yang akan direncanakan oleh dua orang itu, kalau penasaran, silahkan mengikuti percakapan mereka, begini bunyi percakapan mereka.
"Al, kita sepertinya harus pacaran." kata agnes, hal tersebut membuat Altan yang saat ini tengah mengunyah makanannya berhasil terbatuk-batuk hebat mendengar apa yang dikatakan oleh partnernya dalam memisahkan Qianu dan Imel.
Agnes tidak memperdulikan Altan yang kaget saat mendengar idenya, dia hanya menunggu sampai Altan selesai batuk-batuk yang merupakan efek samping dari rasa kagetnya tersebut.
"Gimana Altan, apa kamu setuju dengan ideku." tanyanya begitu Altan sudah membaik setelah meneguk jus jeruknya.
"Pacaran dengan kamu Agnes." Altan memperhatikan Agnes sejenak untuk menilai apakah gadis yang saat ini tengah ada dihadapannya itu layak atau tidak untuk menjadi pacarnya, cantik sieh memang, tapi licik, itu yang ada difikiran Altan, dia tentu saja lebih memilih Imel yang polos dan baik hati untuk dijadikan sebagai pacar, sehingga dia dengan tegas menolak keinginan Agnes tersebut, "Ya jelas aku tidak maulah, kamu fikir aku gila apa." ujarnya santai yang membuat Agnes menendang kakinya dari bawah meja.
"Awww, sakit Agnes, kenapa kamu malah menendangku sieh." protes Altan kesal.
"Heh sialan, kamu fikir aku mengajak kamu serius pacaran, fikir donk pakai otak, mana mau aku sama laki-laki tolol kayak kamu."
__ADS_1
"Wanita sialan, jangan mengata-ngataiku."
Tanpa mengindahkan kata-kata Altan, Agnes menjelaskan maksudnya, "Gini maksud aku ya Altan, dengarkan baik-baik supaya kamu tidak salah paham, kita pacaran, bukan pacaran beneran, tapi pura-pura, kamu dengar Altan, kita pacarannya itu pura-pura, kita tidak bener-benar pacaran." Agnes menekan setiap kata-katanya.
"Mau beneran kek, mau pura-pura kek, aku gak mau pacaran sama kamu Agnes, kamu itu galak, tukang ngatur, mana ada laki-laki yang betah pacaran sama kamu meskipun itu hanya pura-pura doank."
Agnes sampai menarik nafas panjang saat mendengar kata-kata Altan tersebut, dia berusaha untuk menahan emosinya saat Altan dengan terang-terangan mengata-ngatainya didepan wajahnya sendiri, "Dengar dulu makanya penjelasanku Altan, ini semuanya untuk kebaikan kita."
"Dimana letak kebaikannya pacaran dengan kamu Agnes."
"Makanya dengarkan aku dulu sialan, jangan main potong saja." suara Agnes meninggi saking emosinya, "Gini ya, dengan kamu pura-pura sebagai pacarku, itu akan memudahkan kamu untuk datang ke rumah, nahh dengan begitu, kamu punya waktu untuk bertemu dengan Imelkan, kalau kamu pura-pura jadi pacarku, Qianu juga tidak akan mengusir kamu karna Qianu begitu sangat menghargaiku."
Altan terdiam, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Agnes, "Kamu memang ada benarnya juga sieh Ness, karna Imel itu sangat susah untuk aku dekati, wanita itu selalu saja membela suaminya, dia sepertinya diancam oleh Qianu sehingga dia tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepadaku setiap aku bertanya."
"Nahh, gimana, kamu setujukan dengan ideku Altan."
"Hmm, boleh juga sieh, memang tidak ada salahnya untuk dicoba." Altan menyetujui.
"Oke, mulai sekarang, kita resmi menjadi pasangan kekasih."
"Jangan dilupakan Agnes, pasangan kekasih pura-pura." Altan meluruskan.
"Iya, pasangan kekasih pura-pura, kamu fikir aku ingin banget gitu jadi kekasihmu, seleraku itu tinggi, kayak Qianu."
****
"Gue malas nieh dirumah, bagaimana kalau kita jalan-jalan." ajak Imel begitu bell pulang berdering dan saat ini dia dan yang lainnya tengah membereskan alat tulis mereka dan memasukkannya ditas.
"Boleh, gue setuju." Nuri langsung menyetujui idenya Imel, mereka sudah lama tidak pernah jalan bersama.
"Gimana Jul, lo ikut jugakan."
"Oke deh." Juli juga menyetujui.
"Sekarang giliran ngajakin sik Gebi, semoga saja tuh anak tidak ada kegiatan atau pertemuan dengan anak-anak sains."
"Ya udah kuyy, mending kita samperin ke kelasnya saja."
Setelah semuanya beres dan tas sudah mereka sampirkan dipunggung, mereka berjalan keluar untuk nyamperin Gebi dikelasnya yaitu kelas XI IPA 1, dan kebetulan saat mereka tiba, Gebi juga baru keluar dari kelasnya.
"Gebiii." teriak Nuri untuk menarik perhatian Gebi.
__ADS_1
Mendengar namanya dipanggil, otomatis Gebi menoleh ke arah sumber suara, dia melihat ketiga sahabatnya melambai ke arahnya.
"Geb, jalan yuk, udah lama nieh kita gak jalan bersama." ajak Imel begitu sudah didekat Gebi.
"Boleh, ayok."
Baik Imel, Juli dan juga Nuri kompak tersenyum lebar saat mendengar persetujuan dari Gebi, tumben-tumbenan mereka bisa pergi bareng setelah beberapa waktu mereka tidak pernah bisa pergi bersama.
"Kita naik apaan nieh tapi."
"Tenang saja, biar Hugo yang gue suruh ngantar kita."
"Hugo bodygourd suami lo itu."
"Iya."
"Ayokk ah jalan, Hugo pasti sudah ada diluar tuh nungguin."
Keempat gadis remaja itu berjalan keluar gerbang, dan benar saja, saat mereka sudah tiba diluar, mobil yang biasanya digunakan oleh Hugo untuk mengantarkan Imel sekolah sudah nangkring tuh diluar, dan Hugo keluar begitu melihat nona mudanya keluar.
"Siang nona, siang teman-temannya nona." sapa Hugo dengan suara ngebasnya.
"Siang Hugo." jawab Imel.
"Siang juga Hugo." ketiga sahabat Imel juga kompakan membalas sapaan Hugo.
"Hugo, kami mau jalan, anterin kami ya." pinta Imel.
"Nona mau jalan-jalan."
"Iya, aku bosan soalnya dirumah terus."
"Saya tanya sama tuan dulu nona, kalau tuan mengizinkan, maka saya akan membawa nona jalan-jalan."
Ketiga sahabat Imel pada saling lempar pandangan, mereka memikirkan hal yang sama dalam benak-benak masing, yaitu berfikir memang Imel anak kecil pakai main lapor-laporan segala.
"Yahh Hugo, masak pakai izin segala sieh, kayak anak kecil saja, lagiankan kak Qianu tidak akan tahu karna saat ini dia ada diluar negeri." protes Imel tidak setuju.
Namun Hugo tentunya tidak sependapat dengan Imel, "Meskipun begitu nona, saya harus tetap memberitahu tuan."
"Yahh, payah." desis Imel dengan suara kecil yang tidak bisa didengar oleh siapapun.
__ADS_1
*****