
Entahlah apa yang terjadi dengannya, Qianu tiba-tiba saja ingin melihat Imel, sehingga begitu jam makan siang dia meminta Hugo untuk membawa Imel menemuinya untuk makan siang bareng, dan kini dia sudah duduk menunggu disebuah ruangan restoran dan Qianu memilih ruang vip.
Dia rasanya tidak sabar untuk menunggu kedatangan Imel.
Dan setelah 15 menit menunggu, Imel datang yang diantar oleh Hugo sampai depan pintu.
"Hugo, kamu tidak ikut makan bersama kami." tanya Imel saat Hugo akan pergi.
"Saya makannya nanti saja nona, sebaiknya nona sekarang masuk dan temui tuan Qianu."
"Hmm, baiklah."
Imel menemukan Qianu tengah duduk dan menoleh saat mendengar suara memasuki ruangan tempat dimana dia berada.
"Selamat siang kak." sapa Imel dan mengambil tempat duduk berhadapan dengan Qianu.
"Hmmm." gumamnya datar, Qianu ternyata bisa menyembunyikan perasaannya dengan sangat baik, padahal dia begitu sangat senang saat melihat kedatangan Imel barusan.
"Kakak kenapa tiba-tiba mengajakku makan siang bareng."
"Ingin saja, emang kenapa, kamu tidak suka makan siang bareng aku."
"Ehh gak kok kak, aku suka." jawab Imel cepat karna tidak mau Qianu marah.
Tidak lama pintu kembali terbuka dan beberapa pelayan masuk membawa makanan yang sebelumnya telah dipesan oleh Qianu.
Ada banyak menu makanan yang dipesan oleh Qianu, dan kebanyakan sieh menu makanan tersebut adalah menu makanan luar, dan Imel tentu saja tahu karna dulu saat masih kaya dia sering makan makanan seprti ini.
"Makan Mel, jangan cuma dilihatin doank." tegur Qianu saat melihat Imel terpaku melihat hidangan dimeja.
Imel mengangguk dan mulai menyantap hidangan didepannya, karna lapar, Imel makan dengan lahap tanpa memperdulikan Qianu yang sejak tadi menatapnya.
"Kamu kelaparan, kayak orang yang tidak makan tiga hari saja." komen Qianu melihat cara makan Imel yang tidak ada jaim-jaimnya.
"Iya kak aku lapar banget, soalnya tadi disekolah aku makannya sedikit."
"Akukan sudah memberikan kamu kartu, kenapa kamu tidak menggunakan kartu yang aku berikan untuk membeli makanan yang kamu inginkan."
"Iya kak, aku lupa." jawab Imel dengan polosnya.
"Kak kenapa kakak gak makan." Imel bertanya saat melihat makanan dipiring Qianu masih banyak.
"Aku sudah kenyang."
"Jangan gitu donk kak, jangan membuang-buang makanan, mubazir, diluar sana banyak lho orang yang tidak bisa makan karna tidak punya uang."
"Kenapa kamu malah menceramahi saya Imel."
"Maafkan aku kak, aku tidak bermaksud begitu."
"Apa aku menakutinya, sejak tadi kerjaannya minta maaf terus." batin Qianu.
****
Imel fikir setelah makan siang dengan Qianu, dia akan langsung diantarkan pulang oleh Hugo, nyatanya tidak, Qianu tidak membiarkan Imel pulang, dia membawa Imel turut serta ikut ke kantornga alias kantor yang dulunya milik papinya.
Saat melihat bangunan kantor tersebut, ingin rasanya Imel menangis karna tiba-tiba dia teringat sama papinya, dulu dia sering datang ke kantor dan menemani papinya bekerja.
"Kenapa kamu berdiri saja disitu, kamu gak mau masuk."
"Ahh iya." Imel mengangguk dan mengikuti Qianu dari belakang.
"Selamat datang tuan Qianu." sapa satpam membukakan pintu untuk Qianu, dan sik satpam heran melihat Imel yang datang bersama Qianu, tentu saja sik satpam mengenali Imel yang merupakan anak dari mantan bossnya yang dulu.
"Selamat datang nona Imel."
Imel tersenyum, "Terimakasih pak Reno." balas Imel karna lumayan mengenal satpam yang bernama pak Reno tersebut.
"Bapak apa kabarnya, apa bapak sehat." dari dulu Imel sering bertanya tentang kabar pak Reno saat dia datang ke kantor untuk menemui papinya.
"Saya sehat nona, terimakasih karna telah menanyakan kabar saya."
"Mell." panggil Qianu karna menyadari Imel tidak ada disampingnya.
"Iya kak."
__ADS_1
"Saya pergi dulu pak."
"Iya nona."
Imel berlari menyusul Qianu yang terlihat menahan kesal diwajahnya, entah kenapa dia tidak suka melihat Imel berakrab ria dengan laki-laki lain meskipun laki-laki tersebut adalah satpam.
"Kenapa kamu jadi wanita ganjen sieh, setiap laki-laki kamu tebar pesona dan senyum-senyum gak jelas." desis Qianu dengan suara hanya Imel yang bisa mendengarnya.
"Maafkan saya kak." lagi-lagi Imel hanya bisa meminta maaf.
Qianu kini menarik tangan Imel dan dengan cepat membawanya ke lantai dimana ruangannya berada.
Saat akan memasuki lift, kebetulan mereka berpapasan dengan Damar, Damar kaget sekaligus senang karna tidak menyangka Imel datang dikantor bekas papinya.
"Nona Imel." senyum Damar saat melihat Imel.
"Om Damar." sapa Imel.
Damar terlihat ingin memeluk Imel, namun dia menghentikan niatnya saat melihat tatapan horor yang diberikan oleh atasnya yang baru, tatapan yang mengartikan 'Jangan coba-coba sentuh istriku kalau kamu tidak mau berakhir di UGD' begitu kira-kira arti dari tatapan Qianu.
"Saya senang bisa melihat nona lagi, nona apa kabarnya." yang namanya dua orang yang saling mengenal dan lama tidak bertemu tentu saja yang ditanyakan adalah kabar.
"Aku baik om, om sendiri bagaimana."
"Om juga baik Mel."
"Oke sudah cukup basa-basinya, Damar, lakukan apa yang akan kamu lakukan." intrufsi Qianu.
"Baik pak Qianu."
Qianu kembali membawa Imel memasuki lift.
"Byee om." Imel melambaikan tangannya yang dibalas oleh senyuman tipis oleh Damar.
"Sudah aku bilang jangan bersikap ramah pada setiap laki-laki, kamu budek Imel, kamu tidak mengindahkan kata-kataku hah." Qianu membentak Imel saat mereka berada didalam lift berdua.
"Maafkan aku kak." lagi-lagi Imel hanya bisa minta maaf, "Itu om Damar, dia sudah ku anggap seperti ayahku sendiri, jadi wajar saja aku akrab sama dia." Imel menjelaskan supaya Qianu tidak marah-marah kepadanya.
"Meskipun begitu dia tetap orang lain dan bukan papamu yang sesungguhnya Imel, jadi jaga sikapmu."
Saat tiba diruangan yang dulunya adalah ruangan kerja papinya, Imel teringat bayangan papinya yang bekerja dan duduk dikursi yang sekarang menjadi milik Qianu.
Saat papinya sibuk bekerja, Imel akan duduk disofa dan bermain ponsel sampai tertidur, dan saat jam kerja papinya sudah berakhir barulah papinya membangunkannya, mengingat hal tersebut membuat Imel benar-benar kangen sama papinya, ingin rasanya dia berlari ke rumah sakit dan memeluk papinya, tapi sayangnya hal itu tidak bisa dia lakukan.
"Buat dirimu nyaman Imel sampai aku pulang kerja." kata Qianu.
Imel hanya mengangguk dan berjalan menuju sofa tempat dimana dia selalu menunggu papinya sebelum pulang kerja.
Tidak mungkin hanya duduk diam seperti patung dan hanya menonton Qianu yang tengah sibuk bekerja Imel memilih untuk menghilangkan kebosanannya dengan chat dengan sahabat-sahabatnya.
Imel megarahkan kamera ponselnya kearah Qianu untuk mengambil gambar suaminya itu diam-diam, dan foto tersebut dikirim ke group chat dengan caption.
Menemani suami yang lagi kerja.
Nuri : Duhh yang gak mau jauh-jauh dari suami gantengnya
Gebi : Bikin iri saja lo Mel
Juli : Jangan pamer-pamer lo Mel, tuhh nelangsakan sahabat lo yang dua
Nuri : Sik panjull, emang lo gak iri, lokan juga gak ada pacar.
Juli : Gue ada, Arikan
Gebi : Dihhh kak Arikan pergi jauh tanpa ada kabar, emang bisa gitu diharapin
Imel : Heii, jangan bahas kak Ari donk lo pada, ntar Juli jadi sedih lagi
Nuri : Ahh iya benar
Gebi : Sekarang lo ada dikantor suami lo Mel
Imel : Iya, gue diajak makan siang terus setelah itu diajaklah gue ke kantor untuk nemenin dia kerja
Juli : Asyiik donk Mel lo bisa mandang wajah suami lo setiap saat, pasti kak Qianu cinta banget ya sama elo sampai gak mau jauh-jauh sama elo
__ADS_1
"Gak Jul, suami gue gak cinta sama gue, tapi entahlah, akhir-akhir ini memang sikapnya agak berubah gitu gak kayak dulu lagi meskipun tetap kasar sieh."
Imel : Makanya buruan pada nikah gieh lo pada
Juli : Ogah ah gue nikah muda, gue mau ngejar impian gue dulu baru nikah
Gebi : Gue juga, nikah itukan capek
Nuri : Gue juga gak mau kayak lo Mel, gue ingin menikmati masa-masa remaja gue dulu, baru setelah puas menikamati masa muda gue nikah.
Imel : Dihh dasar
Saat merasa bosan, waktu begitu lambat berjalan, begitu juga yang dirasakan oleh Imel, menunggu Qianu bekerja membuatnya mengantuk, dia berulangkali menguap sampai pada akhirnya matanya sudah tidak bisa untuk diajak kompromi dan dia kemudian tertidur.
Qianu menggeleng saat melihat Imel tertidur, dia kelihatannya saja sibuk, padahal mah sejak tadi terus curi-curi pandang ke arah Imel, sejak tadi dia bertanya-tanya dengan siapa gerangan Imel berchat ria, kepo sieh, tapi dia gengsi untuk bertanya secara langsung, dan saat jam kerja berakhir, Qianu mendesah lega, dia menoleh ke arah sofa dimana Imel masih terlelap disana.
"Bocah ini, kebo banget kalau tidur." komennya mendekati Imel.
Qianu sangat suka saat melihat Imel tertidur begini, menurut Qianu, Imel dua kali lebih cantik saat tertidur.
"Apa yang aku lakukan." Qianu menggeleng, "Aku tidak boleh jatuh cinta sama gadis ini, dia adalah putri dari laki-laki yang telah menghancurkan keluargaku, aku tidak boleh menaruh rasa padanya, seharusnya aku fokus dengan balas dendamku." Qianu mengingat niat awalnya menikahi Imel, mengingat hal tersebut membuat Qianu berusaha untuk menghilangkan rasa suka yang sedikit demi sedikit mulai tumbuh dihatinya.
"Imell, bangun, kita pulang sekarang." dia berusaha untuk membangunkan Imel, kini sikapnya kembali dingin dan datar.
Imel terbangun, dia menyadari dimana saat ini dirinya berada, dia segera bangkit dari posisi berbaringnya dan menatap Qianu yang berdiri dihadapannya dan menatapnya.
"Kak Qianu sudah selesai kerja, apa kita pulang sekarang." Imel bertanya.
"Hmmm, ayok bangun, kita pulang sekarang." perintah Qianu.
"Iya kak."
Qianu berjalan lebih dulu, Imel masih agak oleng, nyawanya belum terkumpul semua, namun dia berusaha bangkit dan mengejar Qianu, sayangnya karna masih belum sadar sepenuhnya, Imel yang terburu-buru mengejar Qianu menabrak tembok.
"Awwh sialan, benjol dah kepala gue, dasar tembok sialan." lha, emang dasarlah sik Imel ini, dia malah menyalahkan tembok yang tidak tahu apa-apa, dia yang tadinya ngantuk kini matanya on sempurna setelah jidatnya mencium tembok.
Qianu yang sok cool berusaha menahan senyumnya saat mengetahui apa yang terjadi dibelakangnya, "Dasar gadis ceroboh." batinnya.
****
Rumah Qianu sangat besar dan mewah, tapi Imel merasa kesepian dirumah besar tersebut, dia punya sieh teman yaitu Irma, tapi merekakan tidak boleh ngobrol banyak karna mereka harus kerja, dan Imel masih melakukan rutinitasnya saat pertama datang ke rumah Qianu yaitu memakai pakain pelayan dan bekerja seperti pelayan lainnya, dan kebetulan saat ini Imel punya kesempatan ngobrol lebih banyak dengan Irma karna mereka ditugaskan mengerjakan pekerjaan yang sama yaitu membersihkan pajangan-pajangan yang berada disebuah lemari khusus.
"Kak Irma." panggil Inel.
"Ada apa nona."
"Kak Irma gak capek ya kerja terus tiap hari kayak gini."
"Ya capek sieh nona, tapi mau bagaimana lagi, kalau saya tidak bekerja bagaimana nasib keluarga saya dikampung."
"Ohh."
"Sejak kerja dengan kak Qianu, kakak pernah pulang kampung."
"Belum pernah nona, saya belum pernah pulang kampung, dan saya tidak pulang juga tidak apa-apa yang penting saya bisa tetap mengirimkan uang untuk keluarga saya dirumah, meskipun tidak diizinkan pulang kampung, tapi kerja dengan tuan Qianu gajinya besar nona, kalau uangnya saya kumpulkan itu bisa buat beli sawah dikampung."
"Apa kak Irma tidak rindu gitu dengan keluarga kak Irma dikampung."
"Kalau dibilang rindu, tentu saja rindu nona, tapi ya mau bagaimana lagi, saya harus bekerja supaya mereka disana bisa makan dan mencukupi kebutuhan hidup mereka."
Imel kasihan juga mendengar cerita Irma, dia heran, kenapa Qianu tidak memberikan cuti untuk para pekerjanya, merekakan manusia bukan robot yang bisa dipaksa bekerja terus menerus.
"Saya tidak seberuntung nona."
"Heh, apa katanya, beruntung, beruntung darimananya coba." rutuk Imel dalam hati karna dia tidak merasa beruntung seperti yang dikatakan oleh Irma.
"Beruntung apa maksud kak Irma, aku merasa tidak beruntung, bahkan aku merasa menderita."
"Ya nona beruntung karna nona masih bisa sekolah, saya hanya tamatan SMP, ingin melanjutkan tapi tidak ada biaya, yahh, jadinya saya merantau ke Jakarta ini, karna saya tidak berpendidikan tinggi, saya ingin menyekolahkan adik saya tinggi-tinggi supaya dia bisa mendapatkan yang jauh lebih baik nantinya."
"Amin." Imel mengaminkan, "Harapan kakak sangat mulia, Tuhan pasti akan mengabulkan permintaan kakak."
"Amin gusti Allah."
****
__ADS_1