
Satu jam kemudian, Qianu juga masuk menyusul Imel, Qianu melihat istrinya itu terbaring dengan posisi yang tidak seharusnya, dia hanya bisa menggeleng melihat sang istri.
"Dasar bocah, umurnya berapa sieh, tidurnya kayak anak balita saja." batinnya mendekat ke arah tempat tidur.
Qianu memperbaiki posisi tidur Imel sebelum dia juga ikut berbaring disamping istrinya dan memeluk Imel dari belakang.
"Aku merindukanmu." bisiknya, "Kamu adalah tempat pulang ternyaman untukku." kata-katanya diakhiri dengan mencium pipi Imel.
"Selamat malam sayang, aku mencintaimu." bisiknya mesra tepat ditelinga Imel.
****
Begitu pagi menjelang, dengan mata masih terpejam Qianu meraba-raba tempat tidur, karna tidak menemukan yang dicari, dia perlahan membuka matanya dan tidak menemukan istrinya ditempat tidur, Qianu berfikir Imel tengah berada dikamar mandi sehingga dia kembali memejamkan matanya, namun setelah 15 menit kemudian, dia kembali membuka matanya karna tidak mendengar suara Imel yang kembali masuk ke kamar.
"Kemana anak itu."
Qianu bergegas bangkit dan memeriksa keberadaan Imel dikamar mandi, saat tidak menemukan Imel disana, Qianu keluar karna fikirnya mungkin istri kecilnya itu tengah berada didapur membuat sarapan, tapi ternyata Imel juga tidak ada disana.
"Kemana sieh dia." Qianu jadi panik sendiri saat tidak menemukan Imel dimanapun divilla itu, dia khawatir Imel pergi tanpa pamit kepadanya.
Qianu kembali ke kamar, tujuannya adalah mencari ponselnya untuk menghubungi Imel, sayangnya Imel ternyata meninggalkan ponselnya dikamar.
"Sialan, dia tidak bawa ponsel lagi." geramnya mencengkram ponselnya dengan kuat.
Qianu beralih menelpon pengawalnya yaitu Hugo.
"Angkat brengsek." umpatnya tidak sabaran saat panggilannya belum juga mendapatkan jawaban.
"Iya tuan." terdengar suara Hugo dari seberang.
"Dari mana saja kamu brengsek, saya menelpon kamu sejak tadi." Qianu ngamuk.
"Maafkan saya tuan, tadi saya berada dikamar mandi." Hugo ketakutan mendengar bentakan bossnya itu.
"Tuan, apa terjadi sesuatu dengan tuan." Hugo bertanya takut-takut.
"Istriku hilang Hugo, cepat kamu kerahkan yang lainnya untuk mencari istriku, dia harus ditemukan dalam jangka waktu satu jam, kalau sampai dia tidak bisa ditemukan dalam jangka waktu yang telah saya tentukan, kalian akan tahu akibatnya."
Ancaman Qianu semakin membuat Hugo semakin mengkeret ketakutan, "Ba..baik tuan, saya akan mengerahkan yang lainnya untuk mencari nona Imel."
"Dan satu lagi Hugo, pastikan keadaan istri saya dalam keadaan baik-baik saja, saya tidak ingin Imel lecet sedikitpun, paham kamu Hugo."
"Baik tuan."
Begitu Qianu mengakhiri panggilannya, tidak mau hanya diam dan berpangku tangan menunggu kabar dari anak buahnya, Qianu keluar rumah untuk mencari Imel diluar, karna yang dia tahu, istrinya itu cendrung aktif dan tidak bisa berdiam diri.
Qianu mengedarkan matanya sejauh yang bisa dijangkau oleh mata telanjangnya, dan dari arah timur, dia melihat seorang gadis tengah berjalan santai ke arahnya, gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Imel, gadis yang telah membuatnya khawatir setengah mati.
Imel dengan santainya dengan senyum lebar dan melambaikan tangannya ke arah Qianu, dia tidak sadar apa kalau suaminya itu setengah mati khawatir kepadanya sampai menelpon Hugo segala dan mengancamnya.
Lega bercampur kesal itulah yang dirasakan oleh Qianu begitu melihat wanita yang dia cintai terlihat baik-baik saja, "Ahh syukurlah dia baik-baik saja."
"Kak Qianu." teriak Imel masih melambai ke arah suaminya, celana training milik Qianu yang dia kenakan digulung sampai lutut dengan sepatu ditenteng tangannya, sepertiny Imel habis main dipantai.
Qianu berlari menyongsong kedatangan Imel, laki-laki itu langsung memeluk Imel, Imel hanya bisa mengerutkan keningnya heran karna suaminya tiba-tiba memeluknya begini.
"Kak Qianu kenapa sieh." bertanya-tanya dalam hati.
"Aku benar-benar sangat khawatir, terimakasih Tuhan karna telah menjaganya dan mengembalikannya dengan utuh." batinnya penuh syukur, namun lain dihati lain dibibir, Qianu mengurai pelukannya dan memarahi Imel, "Kamu dari mana saja sieh, membuat orang khawatir saja, hp ditinggal lagi, kalau kamu kenapa-napa gimana, kalau ada yang menculik kamu gimana, punya otak dipakai donk." bentaknya dengan suara tinggi.
Imel sieh sudah biasa mendengar Qianu berterik-teriak dan membentaknya, meskipun begitu, tetap saja Imel ketakutan, "Ak..aku..min ta maaf kak." suara Imel terdengar mencicit, "Aku tidak bermaksud untuk membuat kakak khawatir, aku hanya jalan-jalan untuk menyaksikan matahari terbit." Imel menunduk, dia tidak berani menatap mata tajam Qianu, dia berharap Qianu tidak memarahinya lagi.
Qianu marah saking khawatirnya, sehingga tidak sadar dia membentak-bentak Imel sampai ketakutan begitu, sadar dirinya membuat Imel ketakutan, timbul penyesalan dalam diri Qianu, "Apa yang telah aku lakukan, aku telah membuatnya ketakutan."
Qianu menarik Imel dan kembali memeluk gadis itu, hanya memeluk, tidak ada kata-kata maaf keluar dari bibirnya, dia hanya berkata, "Lain kali kalau mau kemana-mana, kasih tahu aku dulu, jangan main pergi saja, itu membuatku khawatir, kamu tahu tidak betapa paniknya aku saat tidak menemukan kamu dimanapun divilla."
Imel hanya mengangguk dalam pelukan suaminya, Imel baru menyadari kalau suaminya itu marah-marah karna mengkhawatirkan dirinya, kini ketakutannya berubah menjadi rasa haru, terharu karna Qianu ternyata mengkhawatirkannya, "Maafkan aku kak." gumamnya membalas pelukan Qianu.
"Hmm."
__ADS_1
"Akhh senangnya dikhawatirin kayak gini." batinnya.
*****
Sementara Qianu saat ini berada dikamar mandi, sedangkan Imel hanya berbaring malas-malasan ditempat tidur saat dia mendengar suara ponsel berdering, karna suara deringan ponselnya dan milik Qianu sama sehingga dia beranggapan kalau deringan tersebut berasal dari ponselnya.
"Ahh siapa sieh nelpon gue, pasti Juli, atau gak Nuri atau Gebi, mengganggu ketenangan gue saja mereka itu." fikirnya.
Dengan malas-malasan Imel meraba nakas untuk mencari ponselnya, dan setelah dilihat ternyata bukan ponselnya yang berdering, "Ternyata bukan punyaku yang bunyi."
Imel menoleh ke arah meja rias dimana disana tergeletak ponsel milik Qianu, "Ternyata ponsel kak Qianu yang berbunyi."
Imel membiarkan dan tidak berniat untuk menjawab, karna biar bagaimanapun, menjawab panggilan dari ponsel orang lain meskipun itu milik suami sendiri itu tidaklah sopan, tapi saat ponsel tersebut kembali berdering untuk kedua kalinya, Imel berteriak untuk memberitahu Qianu, "Kak Qianuuuu, ponsel kakak tuh bunyi."
Tidak ada sahutan, Qianu mungkin tidak mendengar karna asyik dengan aktifitasnya dikamar mandi.
Karna penasaran, Imel akhirnya mendekat hanya sekedar untuk melihat siapa sebenarnya yang menelpon suaminya, Imel bisa melihat nama Hugo tertera dilayar, "Hugo." gumamnya, "Angkat gak ya.'' dia terlihat mempertimbangkan.
"Angkat saja deh." Imel akhirnya memilih untuk menjawab panggilan dari pengawal suaminya tersebut.
"Tuan Qianu, maafkan kami tuan, kami belum menemukan nona Imel, tapi kami berjanji akan menemukan nona Imel segera, jadi tolong ampuni kami tuan."
Imel bisa mendengar suara Hugo terdengar ketakutan, "Apa, jadi kak Qianu meminta Hugo dan yang pengawal lainnya untuk mencariku, sekhawatir itukah kak Qianu kepadaku." mengetahui fakta tersebut seketika membuat Imel tersenyum lebar dan berbunga-bunga, "Apa kak Qianu mulai menyukaiku kali ya, tapi masak iya, wajah kak Qianu tidak pernah menampakkan kalau dia suka sama aku." Imel menandaskan praduganya itu.
"Tuan, tolong jangan marah tuan, kami janji akan menemukan nona Imel segera." kata-kata Hugo tersebut menyadarkan Imel dari fikirannya yang bercabang kemana-mana.
"Hugo."
"Nona Imel." suara Hugo terdengar heran saat mengetahui kalau Imel, gadis yang sejak tadi dia cari yang menjawab.
"Kamu tidak perlu mencariku Hugo, aku sudah berada divilla."
Imel bisa mendengar helaan nafas lega dari seberang.
"Syukurlah kalau nona sekarang tengah bersama dengan tuan, nona tidak tahu bagaimana takutnya kami menghadapi kemarahan tuan kalau nona belum berhasil kami temukan."
"Ekhem." Qianu tahu-tahunya sudah keluar dari kamar mandi dan tepat berada dibelakang Imel.
Mendengar suara deheman tersebut membuat Imel reflek berbalik, Imel selalu terpesona dan menelan ludah saat melihat tubuh suaminya yang menurutnya sempurna, bagi Imel, melihat tubuh suaminya yang setengah telanjang begitu merupakan pemandangan terindah yang pernah disaksikan oleh indra penglihatannya sehingga membuatnya sampai menganga tanpa sadar.
"Air liurmu tuh, ngeces." respon Qianu yang membuat Imel kembali menutup bibirnya dan mengusap bibirnya.
"Ihh." desis Imel agak kesal karna sadar kalau Qianu membohonginya.
Qianu berjalan ke arah lemari untuk mencari pakaian yang akan dia kenakan, dia belum sadar kalau ponsel yang masih ditempelkan oleh Imel ditelinganya itu adalah ponsel miliknya.
"Kak, Qianu."
"Hmmm." gumamnya sembari memasukkan kaus melewati kepalanya.
"Ini Hugo yang nelpon." Imel memberitahu yang membuat Qianu berbalik dengan cepat, laki-laki itu menatap Imel dengan tajam, sepertinya dia tidak suka Imel menjawab telponnya sembarangan.
"Mana bisa aku berfikiran kalau kak Qianu itu mencintaiku, lihat saja tatapannya, mana ada laki-laki yang jatuh cinta kepada perempuan tatapannya horor begitu, ihh, ini akunya saja yang kepedean." Imel merutuk dirinya sendiri yang sering kegeeran dan menganggap orang menyukainya.
Imel menyerahkan ponsel tersebut kepada pemiliknya dengan takut-takut, Imel sadar diri juga sieh dia memang tidak seharusnya menjawab panggilan dari ponsel milik orang lain, tapi rasa kepo membuatnya mengesampingkan hal tersebut.
Qianu merebut ponselnya dengan kasar, "Lain kali, apapun yang terjadi, jangan pernah sekali-kali menjawab telpon orang lain, kamu tahu, itu namanya tidak sopan." Qianu memperingatkan.
Imel mengangguk paham, "Maafkan aku kak."
"Hmm, ada apa Hugo kamu menelpon." tanya Qianu saat ponsel itu sudah ditempelkan ditelinganya.
"Mmm, maaf tuan kalau saya mengganggu tuan." sambungan yang masih terhubung membuat Hugo mendengar saat Imel kena marah oleh sang boss, "Saya tidak tahu kalau nona Imel telah kembali."
"Dia sudah disini bersamaku, jadi Hugo, kalau tidak ada sesuatu yang penting, sebaiknya kamu jangan menghubungi saya lagi."
"Baik tuan, sekali lagi, maafkanlah saya."
Qianu kembali melanjutkan aktifitasnya begitu memutus sambungan dengan pengawalnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih berdiri disitu, kamu tidak ingin mandi."
"Ahh iya." mendengar kata-kata Qianu membuat Imel bergegas ke kamar mandi.
****
Mereka menghabiskan dua hari divilla sebelum Qianu memutuskan untuk kembali ke kota, tidak banyak hal yang dia lakukan selama divilla, yang dia lakukan hanya memandang istrinya berlama-lama saat bermain dipinggir pantai, memang, melihat wanita yang kita cintai itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kita bahagia, begitu juga yang dirasakan oleh Qianu, meskipun yah laki-laki itu tidak pernah mengungkapkan perasaannya dan tidak pernah menunjukkan rasa cintanya kepada Imel secara langsung, dia terlalu gengsi untuk mengungkapkannya.
Qianu menghentikan mobil miliknya didepan rumah besarnya, Hugo dan pengawal lainnya telah menunggu kedatangan sang tuan, dan begitu mobil berhenti, Hugo dan salah satu pengawal lainnya masing-masing membukakan pintu untuk Qianu dan Imel.
"Selamat datang tuan."
Qianu yang datar tidak menanggapi sapaan Hugo.
"Selamat datang nona."
"Terimakasih Hugo." gadis itu selalu saja bersikap sopan dan tersenyum kepada siapapun sehingga tidak heran, para pelayan dan pengawal Qianu menyukai Imel.
"Tuan..." Hugo akan mengatakan sesuatu, namun sebelum ucapannya keluar sempurna dari bibirnya, terlihat seorang wanita cantik keluar dengan anggun dari dalam rumah, wanita cantik itu tersenyum manis saat melihat laki-laki yang dia cintai, wanita itu adalah Agnes.
"Qianu." panggilnya dengan suara merdunya.
"Agnes."
Itulah hal yang ingin disampaikan oleh Hugo kepada tuannya, namun ternyata, agnes lebih dulu menampakkan dirinya.
Kaget sieh saat melihat Agnes tiba-tiba ada dirumahnya, namun Qianu tidak menampakkan kekagetannya tersebut, seperti biasa, wajah laki-laki itu terlihat lempeng tanpa ekpresi.
"Siapa gadis cantik itu." batin Imel saat melihat Agnes.
Agnes berjalan mendekat dengan langkah pasti mendekati Qianu, wajah gadis itu terlihat berbunga-bunga karna bisa melihat laki-laki yang dia cintai, padahal, saat Qianu pergi waktu, Agnes terlihat sangat marah, tapi begitulah yang namanya perempuan, perasaanya cepat sekali berubah.
"Qianu." Agnes memeluk Qianu dan mencium pipi laki-laki itu.
Melihat adegan itu seketika membuat hati Imel rasanya panas membara, seperti ada kuah cabe yang disiramkan dihatinya, "Siapa sieh wanita itu, main peluk dan cium sembarangan." ingin rasanya Imel menjambak rambut lebat dan indah gadis yang telah memeluk dan mencium Qianu, "Sial, kak Qianu malah cuma diam aja lagi dipeluk dan cium begitu, coba kalau aku, cuma disapa doank oleh cowok pasti aku dibilang cewek ganjen dan murahan."
"Aku senang bertemu kamu Qianu." mata indah itu kentara sekali menampakkan sebuah kerinduan yang mendalam, Agnes belum menyadari kehadiran Imel disana.
Qianu tidak mungkin membalas ucapan kerinduan yang dilontarkan oleh Agnes, karna dia memang tidak mencintai gadis itu, kalau dibilang rindu, iya memang dia merindukan Agnes, tapi rindu karna dia menganggap Agnes sebagai adiknya sendiri.
"Nes, kamu ngapain disini." tanyanya tidak membalas ucapan kerinduan yang dilontarkan oleh Agnes.
"Ya mau ketemu kamulah Qianu, masak mau ketemu Hugo sieh." ujarnya berusaha untuk bercanda.
"Bukannya kamu kuliah."
"Aku mengambil cuti untuk sementara karna ingin menemui kamu."
"Apa om Ardan dan tante Tiara tahu kamu datang menemuiku."
"Tahu kok."
"Terus."
"Ya terus mereka mengizinkan, ya meskipun awalnya gak sieh, tapi karna aku putri kesayangan mereka, akhirnya mereka mengizinkanku deh, dan tadaaa, aku sekarang ada dihadapan kamu, kamu senangkan."
"Kamu tidak seharusnya kemari Agnes, kamu seharusnya kuliah dan belajar."
"Jadi kamu gak suka aku kesini." ini nada suaranya rada-rada ngambek.
"Bukan begitu Agnes, hanya saja kuliah kamu itu lebih penting."
"Kamu juga penting kok." lisannya, "Lebih penting malah dari apapun dimuka bumi ini." tambahnya dalam hati.
"Helowww, ada aku lho disini, kak Qianu, kakak masih ingatkan kalau kakak memiliki istri, kenalin kek atau apa, ini malah sibuk sendiri, bikin kesal aja." Imel berteriak untuk memberitahukan keberadaannya, namun mana bisa didengar oleh Qianu saat Imel hanya berteriak dalam hati.
"Ihh, benar-benar menyebalkan."
*****
__ADS_1