
"Gue kok tiba-tiba ingin makan mi instan ya." gumam Imel yang saat ini tengah berbaring ditempat tidurnya.
"Mmm, apa minta tolong kak Irma untuk bikinin kali ya." Imel bermonolog sendiri, "Hmm, tapi jangan deh, enakkan bikin sendiri, tapi enakan juga sieh mi instan buatannya mbak Dijah." atas dasar itu, Imel bangun dari posisi berbaringnya dan keluar dari kamarnya.
Dan saat tiba didapur, Imel membuka lemari penyimpan bahan makanan untuk mencari mi instan, sayangnya, dia sama sekali tidak menemukan apa yang saat ini tengah dia cari.
"Nona, nona cari apa ya." tegur salah satu pelayan yang baru memasuki dapur.
"Aku mau cari mi instan, kok gak ada ya."
"Ohh mi instan memang gak ada nona, tuan tidak mengizinkan makanan cepat saji seperti itu ada lemari penyimpanan."
"Emang kenapa, mi instankan enak."
"Tuan tidak suka makan makanan yang tidak sehat nona."
"Ukh dasar payah memang, mi instankan enak." keluh Imel, dia saat ini benar-benar ingin makan mi instan.
"Apa aku minta tolong om Hugo untuk beliin kali ya." ucap Imel.
"Haii Mell, kamu sudah pulang." sapaan itu mengagetkan Imel, sapaan yang berasal dari Altan.
"Duhh kak Altan ini, bikin kaget saja."
Altan tersenyum tipis, "Gitu aja kaget, emang lagi ngelamunin apa sieh Mell, jangan banyak melamun lho, ntar kesambet lagi."
Melihat kedatangan Altan, pelayan barusan pamit pergi.
"Gak ngelamun, aku hanya ingin makan mi instan doank."
"Ya makanlah Mell, atau mau aku masakin gak."
"Ya justru itu, dirumah super besar ini tidak ada stok mi instan ya, benar-benar payah, padahalkan mi instan enak banget." Imel menelan ludahnya saat membayangkan menyeruput nikmatnya kuah dari mi instan.
"Mau makan mi instan diluar bersamaku gak, aku tahu lo tempat makan mi instan yang enak." Altan menawarkan.
"Benarkah kak Altan tahu tempat makan mi instan yang enak."
"Tentu saja."
"Jadi gimana Imel, mau pergi makan mi instan bareng aku."
Dan tanpa berfikir, Imel yang memang ingin banget makan mi instan itu mengiyakan ajakan dari Altan.
"Ya udah yuk kita berangkat."
Imel mengangguk.
Dan tanpa pamit kepada siapapun dan tanpa membawa ponsel, Imel pergi bersama dengan Altan.
Dan sekarang mobil Altan melaju dijalan raya, Altan beberapa kali curi-curi pandang ke arah Imel yang duduk disampingnya.
"Mell." panggilnya.
"Hmmm."
"Gimana keadaan kamu."
"Baik kak, kenapa kak Altan bertanya begitu."
"Ya karna kemarin waktu kita balik dari daerah pegunungan itu kamu jelas terlihat tidak baik-baik saja."
"Ohh itu, iya sieh memang kemarin aku tidak baik-baik saja, aku shock karna dikunciin dikamar mandi dalam jangka waktu yang cukup lama, tapi sekarang aku baik-baik saja kok." jawab Imel, dia juga tersenyum ke arah Altan untuk memberitahukan kalau dirinya sudah baik-baik saja sekarang.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, aku khawatir lho kemarin, aku ingin menghubungi kamu hanya untuk memastikan apakah kamu baik-baik saja, tapi gak enak sama suami kamu, ntar dia berfikir macam-macam lagi."
"Intinya sekarang aku sudah baik-baik saja kok kak, jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirin lagi kok."
Altan mengangguk, dia senang melihat Imel terlihat ceria begini, itu membuat suana hati Altan ikut membaik juga.
Setelah 20 menit berkendara, Altan menghentikan mobilnya disebuah warung sederhana.
"Ayok turun, inilah tempat mi instan yang enak itu."
__ADS_1
Imel mengangguk dan membuka pintu mobil.
Mereka berdua memasuki warung tersebut, hanya ada beberapa orang yang tengah makan disana.
"Duduk disana ya Mell, aku pesan mi instannya dulu." Altan menunjuk kursi kayu panjang.
Imel mengikuti intruksi Altan, dia berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh Altan, gak lama Altan datang menyusulnya.
"Ini tempat paforitku saat masih SMA lho Mell." beritahunya tanpa diminta.
"Ohh, kakak masih sering kemari."
"Tidak sesering saat masih SMA, sudah jarang sekarang, hanya saat ingin nostalgia saja baru aku kemari."
10 menit kemudian, pemilik warung mendekat dan membawakan mi instan yang dipesan oleh Altan dan meletakkannya dimeja didepan mereka berdua.
"Terimakasih bik." ucap Altan.
"Sama-sama Altan."
"Siapa wanita cantik ini Altan." tanya sik bibik saat melihat Imel, ternya bibik pemilik warung itu kenal dengan Altan, "Apa dia pacarmu Altan."
Altan tidak mengiyakan ataupun mengatakan tidak, laki-laki tersebut hanya tersenyum penuh arti saat mendapatkan pertanyaan tersebut.
Melihat tingkah Altan itu, membuat Imel ingin mengklarifikasi tentang hubungannya dengan Altan supaya orang tidak salah paham, "Bukan, kami hanya..."
"Cantik sekali ya, cocok lho dengan kamu Altan." sik bibik memotong ucapan Imel.
"Ehh, guekan belum selesai menjelaskan, sudah main potong saja." protes Imel dalam hati.
"Tidak mau dikenalin nieh sama bibik."
"Ehh iya bik."
"Ini Imel bik, dan Imell, perkenalkan, ini bik Sita pemilik warung." Altan memperkenalkan.
Imel mengangguk sebagai sebuah sopan santun, begitu juga yang dilakukan oleh bibik pemilik warung yang bernama bik Sita tersebut.
"Pacarmu benar-benar cantik lho Altan, pinter banget kamu itu milih pacar." puji bik Sita, dan lagi-lagi Altan tidak mengklarifikasi tentang statusnya dengan Imel sehingga membuat Imel gemes sendiri.
"Bik kami itu..."
"Ya sudah, kalian makan saja, nikmati ya Altan, Imel mi instannya." lagi-lagi bik Sinta memotong ucapan Imel, Imel terpaksa kembali harus menelan kata-katanya yang sudah mencapai tenggorokan.
Bik Shita kembali kebelakang membiarkan Altan dan juga Imel nenikmati mi instan bikinannya.
Altan sudah mulai menyuapkan mi instan tersebut kemulutnya, sedangkan Imel malah sibuk memperhatikan Altan bukannya langsung makan, padahalkan dari rumah dia bilangnya ingin banget makan mi instan.
"Lho, kenapa gak dimakan sieh Mell itu mi instannya, tadi katanya ingin banget makan mi instan."
"Tadi kenapa kak Altan diam saja saat bibik pemilik warung itu bertanya apakah kita pacaran atau tidak." protes Imel dengan bibir cembrut.
"Ya itukan bukan sesuatu hal yang penting untuk ditanggepinkan Mell, jadi ya sudahlah."
Namun Imel tetap manyun.
“Ayok mending makan saja itu mi instannya Mell, enak banget sumpah, aku jamin kamu baklaan ketagihan dan akan menjadikan tempat ini sebagai tempat penjual mi instan terenak.”
Imel pada akhirnya mulai memakan mi instan tersebut, dan memang benar sih yang dikatakan oleh Altan kalau memang mi instan tersebut memang enak, tapi tetap saja bagi Imel kalau mi instan buatan mbak Dijahlah yang paling enak sejagat raya, mbak Dijah adalah salah satu pedagang dikantin di SMA PERTIWI.
“Gimana, enakkan Mel.”
“Enak sieh, tapi lebih enakan sieh mi instan buatan mbak Dijah.”
“Mbak Dijah, siapa itu mbak Dijah.”
“Pedagang mi instan dikantin sekolahku.”
“Ohhh.”
Altan begitu senang bisa menghabiskan waktu berdua begini dengan Imel, dia tidak pernah menyangka kalau kesempatan sperti ini akan datang juga pada akhirnya, dan itu gara-gara mi instan, dan ini untuk pertamakalinya Altan bersyukur karna dia mengenal penjual mi instan yang enak yaitu mbak Sita.
Altan terus menatap Imel yang menyantap mi instannya dengan lahap, laki-laki itu benar-benar memuji kecantikan wanita yang saat ini ada disampingnya, makan saja bisa kelihatan begitu cantik.
__ADS_1
“Bagaiamana caranya aku bisa mendapatkan Imel, aku benar-benar menginginkannya.” Batin Altan, “Tuhan, salahkah aku mencintai istri orang dan mengharapkannya menjadi milikku.”
“Kak Altan makan donk, kenapa malah lihatin aku begitu sieh.” Ternyata Imel tahu sejak tadi Altan terus memperhatikannya, dan itu membuatnya risih.
“Mell.”
“Apa.” Ketus Imel.
“Aku boleh nanya gak sama kamu.”
“Kak Altan mau nanya apaan.” Kata Imel tanpa menoleh ke arah Altan.
“Apa sieh rahasianya sampai kamu jadi cantik begini hem.”
Pertanyaan Altan barusan membuat Imel menoleh ke arah Altan, dia mendelikkan matanya, “Kak Altan, sebaiknya ka Altan makan deh, jangan menanyakan hal ngaco begitu.”
“Lho, kok ngaco sieh Mell, kecantikan kamu itu nyata lho, salahkah kalau aku bertanya kenapa kamu bisa secantik ini.”
“Agnes jauh lebih cantik dari aku.”
“Cantikkn juga kamu Mell.”
Imel mendengus, dia mulai agak dibuat kesal oleh sikapnya Altan,”Kalau kak Agnes tahu kak Altan muji aku, dia pasti marah dan mutusin kak Altan, hayo, mau emangnya diputusin sama Agnes.”
Dalam hati Altan menjawab, “Bodo amat, orang aku dan dia gak pacaran.” Jawabnya dilisan, “Akhh, tentu saja tidak donk, masak putus sieh, orang aku dan dia baru saja pacaran.”
“Makanya, jangan ngegombalin orang sembarangan.” Imbuh Imel,” Nieh aku kasih tahu ya kak Altan, wanita itu paling tidak suka saat laki-laki yang dia cintai memuji-muji wanita lain apalagi mujinya didepan sik wanita, ingat itu ya kak Altan, jangan lakukan itu lagi.”
“Aku gak janji, habisnya saat lihat kamu, aku jadi terpana dan sering ingin muji.”
“Kak Altan ini menyebalkan sekali sieh jadi cowok.” dungut Imel, dia cepat-cepat menghabiskan mi yang ada dalam mangkuknya, dia ingin segera pulang dan jauh-jauh dari mahluk yang bernama Altan.
Melihat cara makan Imel yang seperti orang yang diburu waktu membuat Altan memperingatkan Imel, “Mell, jangan cepat-cepat napa makannya.”
Namun Imel ternyata tidak memperdulikan peringatan Altan, sampai pada akhirnya dia tersedak dan batuk-batuk.
Ukhuk ukhuk
“Nah tuhkan, apa aku bilang.” Kata Altan sembari menyodorkan gelas berisi es teh kepada Imel, “Nieh minum dulu agar tenggorokanmu baikan.”
Imel mengambil gelas yang disodorkan oleh Altan dan meneguk isinya sampai tinggal tersisa hanya tinggal setengahnya, setelah cairan berwarna coklat tua itu mengaliri tenggorokannya barulah Imel merasa lega.
“Pelan-pelan makannya Mell.”
“Aku ingin cepat pulang.” Imel memberitahu alasannya yang cepat menyantap mi instannya.
“Kenapa Mell, kenapa tiba-tiba kamu ingin cepat pulang.” Padahal Altan sudah senang banget bisa menghabiskan waktu berdua kayak gini dengan Imel, dan sekarang Imel mendadak ingin pulang.
“Tanya saja sama diri kakak sendiri.”
“Kamu marah karna aku bilang cantik ya.”
Imel hanya diam tidak menannggapi.
“tapi kenapa kamu harus marah sieh, kan itu memang kenyataannya Mell.”
“Aku tidak suka karna kak Altan tidak menghargai Agnes sebagai pacarnya kakak.”
“Hmm, baiklah Imell, aku minta maaf oke.”
“Kenapa kakak minta maafnya sama aku, kenapa tidak minta maaf sama Agnes.”
“Iya nanti, kan gak mungkinkan aku minta maaf karna saat ini Agnesnya lagi tidak ada disini.”
“Ditelponkan bisa.”
“Nanti sajalah Mell aku minta maafnya secara lannmgsung, gak enak rasanya minta maaf lewat telpon.”
“Hmm, beneran ya kak Altan nanti minta maaf sama Agnes, karna sebagai sesama wanita, aku juga pasti sangat kesal, bukan kesal lagi sieh, tapi marah kalau kak Altan muji wanita lain.”
"Iya iya baiklah, aku tidak akan memuji wanita lain lagi." janji Altan.
***
__ADS_1
*****