
Begitu tiba didepan Imel, Qianu melepaskan kaca mata hitam yang sejak tadi menutupi matanya, begitu mata tajam Qianu terekpos, beberapa cewek-cewek labil itu menjerit histeris, mereka benar-benar terpesona dengan mata Qianu yang tajam bak elang.
"Jantungku." salah satu dari cewek-cewek itu memegang jantungku, "Duhh, mau mati saja rasanya gue."
"Ihh, gemes deh, kok ada sieh mahluk setampan itu, jadikan aku makmummu donk mas."
"Beruntung banget dah jadi Imel, cowoknya cakep amet."
"Ya kalau cowok cakep tersebut adalah cowoknya Imel sieh sangat wajar, secara Imelnya itu cantik banget, jadi klop dah."
Qianu menjulurkan buket bunga yang dibawanya kehadapan Imel, Imel bukannya mengambil bunga yang disodorkan oleh Qianu, gadis itu malah masih terpaku menatap Qianu, dia masih belum mempercayai kalau yang berdiri dihadapannya saat ini adalah Qianu, suaminya.
Nuri yang berdiri disamping Imel menyenggol lengan sahabatnya itu karna Imel tidak kunjung mengambil bunga yang disodorkan oleh Qianu.
"Ini bunga untukku." gumam Imel untuk pertamakalinya buka suara.
"Hmmm." Qianu hanya menjawab dengan gumaman doank.
Imel kemudian mengambil buket bunga tersebut, "Terimakasih."
Qianu mengangguk, "Kita pulang sekarang." ujarnya langsung berbalik ke arah mobil.
"Jull, Nur, gue balik duluan oke." Imel melambaikan tangan sebelum mengejar Qianu.
Juli dan Nuri membalas untuk melepas kepergian sahabat mereka itu.
"Kata Imel kak Qianu pergi dan tidak ada kabar, dan itu apa namanya tadi." komen Nuri saat mobil Qianu telah pergi.
"Ya mungkin saja kak Qianu baru pulang dari bepergiannya dan sengaja menjemput Imel ke sekolah untuk ngasih kejutan pada Imel." sahut Juli.
"Udah ganteng, kaya, sweet lagi, bisa gak ya kita dapetin cowok yang kayak kak Qianu Jul."
"Udahh ahh, gak usah mimpi disiang bolong lo Nur, mending yuk ah kita balik."
****
Didalam mobil sepanjang dalam perjalanan, Imel beberapa kali curi-curi pandang ke arah Qianu yang duduk menyetir dengan tenang disampingnya, wajah laki-laki itu seperti biasa, terlihat datar dan dingin dengan pandangan lurus kedepan, kaca mata hitam kembali bertengger dimatanya, dan itu membuatnya terlihat keren sekaligus memiliki aura misterius.
Imel ingin bertanya, dia ingin menanyakan Qianu kemana saja sejak kemarin, namun Imel mengurungkan niatnya itu karna segan, takutnya Qianu marah lagi.
"Kenapa mandangin aku terus, apa aku sebegitu cakepnya ya." katanya tanpa menoleh sedikitpun pada Imel, meskipun begitu, dia tahu sejak tadi Imel curi-curi pandang kepadanya.
__ADS_1
"Ehhh itu…" Imel malu juga sieh kpergok memperhatikan Qianu, "Aku tidak memperhatikan kakak kok, kegeraan banget deh."
"Apa susahnya sieh ngaku, dasar cewek."
Dan kembali hening, tidak ada obrolan yang tercipta antara kedua insan tersebut.
Imel membuka jendela mobil untuk melihat pemandangan sepanjang jalan, seketika dia sadar, kalau jalan yang mereka lewati bukanlah jalan menuju rumah.
"Kak Qianu."
"Hmm."
"Inikan bukan jalan menuju rumahkan kak." beritahunya agak panik, dia fikir Qianu kesasar tidak ingat jalan pulang.
"Memang bukan." jawab Qianu santuy.
"Ehh, terus kita mau kemana."
"Ketempat yang indah dan tenang."
"Tempat yang indah dan tenang, dimana itu kak."
Imel terdiam mendengar kata-kata Qianu.
Mobil yang dikemudikan oleh Qianu terus melaju menuju luar kota, setelah dua jam lebih, Qianu menghentikan mobilnya disebuah rumah didekat pantai, karna perjalanan yang cukup jauh sehingga membuat Imel tertidur sepanjang dalam perjalanan.
"Kita sudah sampai." beritahu Qianu.
Namun kalau hanya dibangunin cuma satu kali begitu mana mempan membuat Imel terbangun, sehingga hal itu membuat Qianu mengguncang lengan Imel dengan cukup kuat.
"Bangun, kita sudah sampai."
Imel mulai bergerak yang kemudian disusul dengan membuka kelopak matanya perlahan, Imel mengerjap-ngerjap, dia berusaha membuat matanya berdaptasi dengan sinar terang yang menembus kornea matanya.
"Kita sudah sampai." gumamnya dengan suara khas bangun tidurnya.
"Hmm, ayok turun."
"Kita dimana sieh ini."
Imel yang nyawanya belum terkumpul sempurna menoleh kesampinganya, matanya langsung disambut dengan birunya bentangan air laut dengan ombak yang memanggil-manggil untuk didatangi, seketika itu, mata Imel on sempurna mengetahui dimana sekarang dia berada.
__ADS_1
"Pantai." teriaknya antusias dan langsung keluar membuka pintu mobil, dia berlari kearah pantai.
Melihat kelakuan Imel membuat Qianu hanya menggeleng.
"Dasar bocah."
"Akhhh pantai." teriak Imel senang, dia seperti orang yang baru pertamakali ke pantai saja.
"Ya Tuhan, indah banget." pujinya, Imel memang suka pantai, sudah cukup lama dia tidak ke pantai sehingga tidak heran dia terlihat begitu antusias.
Imel kemudian melepas sepatunya dan bermain air, Imel terlihat begitu bahagia.
Qianu bersandar dikap mobilnya memperhatikan Imel, dia ikut tersenyum melihat kebahagian gadis yang telah mencuri hatinya itu, "Sial, ternyata aku benar-benar sudah jatuh dalam pesona gadis kecil itu." umpatnya tidak lepas memperhatikan Imel, gadis itu melambai ke arahnya, senyum manisnya tidak pernah lepas dari bibirnya.
Qianu berusaha melawan perasaannya, dia tidak seharusnya jatuh cinta sama Imel, dia seharusnya membuat Imel menderita untuk membayar perbuatan papanya dimasa lalu, namun sayangnya, semakin Qianu berusaha untuk menghilangkan perasaannya kepada Imel, semakin kuat pula perasaan cinta yang dia rasakan, hal itu tentu membuatnya tersiksa.
"Ma, pa." desisnya pilu, "Maafkan putramu ini karna telah mengkhianati kalian, maafkan Qianu karna jatuh cinta sama gadis yang merupakan anak dari laki-laki yang telah menghancurkan keluarga kita."
"Seharusnya aku membuat gadis itu menderita, bukannya aku malah mencintainya seperti ini." Qianu seperti makan buah simalakama.
Imel terlihat berlari ke arah Qianu, wajahnya terlihat cerah dan senyumnya terus mengembang dan begitu tiba didepan Qianu, dia berkata, "Kak, lihat sunset yuk."
"Gak." tolak Qianu mentah-mentah, "Aku mau istirahat." Qianu akan pergi meninggalkan Imel dan masuk ke rumah yang merupakan vila pribadinya, namun entah keberanian dari mana sehingga Imel menahan lengannya yang membuatnya refleks berhenti.
"Kak, ayoklah."
"Aku bilang aku mau istirahat, gak usah maksa deh."
"Kak Qianu pliss kali ini saja."
"Dengar ya Imel aku kasih tahu sama kamu, aku tidak suka sunset, sunrise atau apalah itu namanya, itu hanya buang-buang waktu saja."
"Tapi kak Qianu." Imel masih berusaha untuk membujuk, "Meskipun kak Qianu tidak suka, bisakah kak Qianu menjadi suka relawan untuk mengambil fotoku, plisss." Imel bahkan sampai menangkupkan tangannya didepan dadanya, "Pasti sangat indah berfoto dengan latar belakang matahari tenggelam."
"Ya kak Qianu ya, pliss, walaupun kakak tidak suka, jadi juru foto ya kak." Imel masih membujuk.
Karna tidak tega melihat Imel yang terus merengek, akhirnya Qianu menyerah juga, "Hmm, baiklah."
"Yeyyy, terimakasih kak Qianu." Imel spontan memeluk Qianu saking senangnya.
****
__ADS_1