MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
MANDI


__ADS_3

"Gadis ini benar-benar merepotkan." rutuk Qian saat meletakkan tubuh Imel disofa ruang tamu.


Para pelayan berjejer diruang tamu tersebut, mereka siap untuk mendapatkan perintah dari tuannya.


"Urus dia." perintah Qian kepada para pelayannya, "Kalau sampai saya pulang kantor gadis ini belum juga sadar, kalian semua akan merasakan akibatnya." ancam Qian.


Ancamanya itu tentu saja membuat para pelayan merinding ketakutan, pasalnya tuan mereka yang kejam itu tidak pernah main-main dengan ancamannya.


"Baik tuan." jawab para pelayan itu mencicit.


Suasananya selalu mencekam dimana ada Qiannya, sehingga saat Qian berlalu dari hadapan mereka, para pelayan tersebut menarik nafas lega.


Setelah kepergian Qian, para pelayan itu kemudian berusaha untuk menyadarkan Imel dengan menggunakan minyak kayu putih.


Butuh waktu beberapa menit untuk membuat Imel sadar, begitu melihat Imel membuka matanya, para pelayan itu terlihat menarik nafas lega dan mengelus dada dan dengan kompak mereka melafalkan.


"Alhamdulillah."


"Sykurlah dia bangun, kalau tidak, bisa habis kita." gumam salah satu pelayan.


Imel mengerjap-ngerjapkan matanya, 


heran dia karna beberapa orang berpakaian pelayan mengelilinginya.


"Kenapa semua orang mengerumuniku." batinnya.


Imel kemudian ingat apa yang terjadi beberapa saat yang lalu, hal itu membuat fikirannya menjadi ngelantur.


"Dimana aku, apa aku sudah mati, apa saat ini aku ada diakhirat." tuhkan, jadi ngaco dia.


Para pelayan itu saling melempar pandangan satu sama lain sebelum salah satu dari mereka berkata untuk menjawab pertanyaan Imel barusan, "Nona masih hidup, saat ini nona ada diruang tamu rumah tuan Qian, tadi nona hanya sekedar pingsan."


"Aku masih hidup ternyata, syukurlah." dalam hati Imel mendesah lega, pasalnya dia belum siap mati karna dosanya terlalu banyak, dia belum sempat bertaubat, dan kalau dia mati, Imel takut dimasukkan ke neraka.


Imel berusaha untuk mengangkat tubuhnya untuk mendudukkan bokongnya, salah satu pelayan dengan gesit mendekat dan membantu Imel untuk duduk.


"Terimakasih." gumam Imel.


"Sama-sama nona."


"Ini nona, nona sebaiknya minum dulu supaya perasaan nona menjadi lebih tenang." salah satu pelayan kemudian menyodorkan air putih kepada Imel.


Imel meraih gelas yang disodorkan oleh pelayan tersebut dan langsung meminum air putih tersebut sampai tandas tidak bersisa, sepertinya dia benar-benar kehausan.


"Terimakasih." gumam Imel kembali menyerahkan gelas tersebut kepada pelayan barusan.


"Nona sebaiknya istirahat dikamar saja." salah satu pelayan menyarankan.


"Tapi aku harus bekerja, kak Qian bilang…."


"Karna kondisi nona sedang dalam keadaan tidak sehat, sebaiknya nona istirahat saja, pulihkan diri nona dulu, tuan Qian pasti maklum kok."


"Tapi beneran tidak apa-apakan kalau aku istirahat." Imel memastikan, dia tidak mau kena amuk Qian kalau Qian melihatnya tidur.


"Sepertinya sieh begitu." jawab para pelayan itu tidak yakin.


Sampai salah satu pengawal masuk ke ruang tamu dengan aerphone ditelinganya, dia seperti bicara dengan seseorang.


"Iya tuan, nona Imel sudah sadar."


Sudah jelaskan kalau pengawal tersebut bicara dengan Qianu.


"........"


"Baik tuan." 


Setelah selesai berkomunikasi dengan tuannya, pengawal itu menatap Imel dan menyampaikan pesan tuannya.


"Tuan berpesan supaya nona untuk hari ini istirahat saja."


Mendengar perintah langsung dari yang mulia, barulah Imel langsung mengiyakan, "Baik." 


Dan dengan dibantu oleh salah satu pelayan yang memapah tubuhnya, mereka berjalan ke kamar belakang dimana kamar Imel berada.


"Terimakasih."


"Sama-sama nona."


"Mmm, bisa tidak, kamu jangan memanggilku nona, aku bukan majikan kalian disini, posisi kita sama."


"Tidak bisa nona, biar bagaimanapun, nona adalah istrinya tuan Qian."


"Istri apaan yang diperlakukan seperti ini, disiksa dan dijadikan pembantu." batin Imel sedih.


"Meskipun begitu, bisakah kamu tidak memanggilku nona, panggil saja Imel." Imel berusaha membujuk pelayan yang Imel taksir umurnya sekitar duapuluhan itu.


"Tidak berani saya nona, saya takut kalau tuan Qian marah, tuan kalau marah itu menyeramkan."


Imel terkekeh mendengar penuturan pelayan itu, "Kamu benar, dia kok mirip beast ya."


"Astaga nona, jangan bilang begitu, kalau tuan dengar, bisa bahaya, nona bisa kena hukum."


"Dia tidak akan dengar, kitakan cuma berdua disini."


"Iya nona, tapi saya harap nona hati-hati kalau bicara, jaga ucapan nona, soalnya tuan punya banyak telinga, nona tahukan maksud saya."


Imel mengangguk mengerti.


"Sudahlah nona, nona sebaiknya istirahat, saya sudah kelamaan berada disini, nanti saya bisa kena marah oleh kepala pelayan karna saya masih memiliki banyak tugas yang harus saya selsaikan." sik pelayan bergegas pergi.


"Heiii." panggil Imel karna tidak tahu nama sik pelayan.

__ADS_1


Pelayan tersebut reflek berbalik, "Apa nona butuh sesuatu."


Imel menggeleng, "Siapa namamu."


"Irma nona, nama saya Irma."


"Irma, apa kamu berteman denganku."


"Tentu saja nona, saya akan dengan senang hati menjadi temannya nona." 


*****


Qian yang akan memasuki mobil berhenti sesaat dan menatap Hugo yang masih berdiri disamping mobil, dia menunggu tuannya masuk dan akan menutup pintu mobil kembali.


"Hugo." 


"Iya tuan."


"Aku ingin gadis itu menyambut kedatanganku."


"Baik tuan." 


"Dan satu lagi, aku ingin dia memakai pakaian pelayan seperti yang lainnya."


"Baik tuan."


Setelah menutup pintu untuk tuannya, Hugo berjalan kedepan dan duduk dikursi pengemudi, laki-laki itu terlihat menghubungi salah satu pengawal yang ada dirumah guna memberitahukan perintah dari tuannya.


Setelah menyampaikan amanat sang tuan, Hugo menjalankan mobilnya keluar dari area perusahaan, perusahaan milik Satya yang direbut oleh Qian dan kini perusahaan tersebut sudah menjadi milik Qianu sepenuhnya.


****


Imel memang dasarnya cantik dan imut, sehingga tanpa polesan make up diwajahnya membuatnya tampak menggemaskan dalam balutan baju pelayan dengan bandana sebagai pemanis dikepalanya.


Dan saat ini Imel tengah memperhatikan dirinya didepan cermin kecil yang terdapat dikamarnya.


"Kalau papi tahu putri kesayangannya kini jadikan sebagai pelayan, dia pasti sedih, dirumahkan dia tidak pernah membiarkanku bekerja meskipun hanya seuprit." Imel selalu bersedih saat mengingat papinya.


"Ayok nona, sebentar lagi tuan akan tiba." peringat Irma saat membuka pintu kamar Imel sekaligus membuyarkan ingatan Imel tentang papinya.


"Iya." ujarnya mendekati Irma.


Dua gadis itu berjalan kedepan untuk menunggu kedatangan sang tuan besar.


Dalam hati Imel berkata, "Harus gitu dia sambut begini, kalau dia datang ya datang saja, ngerepotin orang saja."


"Nona cantik sekali." puji Irma menyuarakan isi hatinya.


"Ahh iya, aku memang cantik." narsisnya, "Disekolahku, aku gadis tercantik lho, apa ya istilah yang sering digunakan…" Imel terlihat mengingat sebutan untuk idola sekolah.


"Primadona." sambut Irma.


"Iya, nona memang cantik, jadi wajar saja mendapat predikat sebagai primadona dan banyak yang suka."


Imel jadi ingat sama suasana sekolahnya, terutama suasana kelasnya  dan teman-teman kelasnya, dia rindu, terutama sama ketiga sahabatnya yaitu Nuri, Juli dan Gebi, Imel sudah beberapa hari ini tidak masuk karna menunggu papinya yang sedang sakit.


Saat mereka tiba didekat pintu utama, beberapa orang pengawal berjejer disisi kanan, sedangkan beberapa pelayan berjejer disisi kiri.


"Ya salam, lebay banget dah laki-laki itu, dia sudah kayak presiden saja disambut seperti ini." batin Imel tidak habis fikir dengan jalan fikiran Qian yang mengharuskan para pengawal dan pelayannya harus menyambutnya seperti ini, "Dia benar-benar gila hormat."


"Ayok nona, kita berdiri disini." Irma menarik tangan Imel dan membawanya berdiri dimana para pelayan berdiri.


Beberapa pengawal melirik ke arah Imel, mereka takjub dengan kecantikan dari gadis belia itu, benar-benar masih muda dan fress, itu yang ada difikiran mereka.


Gak lama kemudian, mobil yang membawa Qian berhenti tepat didepan rumah, Hugo segera turun guna membukakan pintu untuk tuannya.


"Selamat datang tuan." koor para pengawal dan pelayan bersamaan, termasuk juga Imel yang mengikuti apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.


Qian melirik ke arah barisan para pelayan, matanya terhenti pada sosok belia yang menunduk.


"Kamu." Qian menunjuk Imel.


Yang ditunjuk tidak sadar karna dia masih betah menunduk.


"Nona, nona dipanggil sama tuan." bisik Irma memberitahu.


Imel langsung mendongak dan menoleh ke arah Qian, mata hitam bak elang itu menatapnya tajam.


"Kenapa sieh dia itu menakutkan sekali, bisa tidak dia jangan menakuti orang seperti itu." 


"Kamu, ikut saya ke kamar." perintah Qian.


Setelah memberi perintah, dia kembali melanjutkan perjalanannya.


Glekk, Imel menelan salivanya, mendengar kata-kata kamar yang keluar dari bibir Qian membuatnya takut dan panas dingin, mendengar kata kamar tentu saja membuatnya berfikir ke arah yang biasa dilakukan oleh pasangan suami istri.


"Mau apa lagi dia, jangan bilang dia mau..."


"Nona, ayok sana, tuan meminta nona mengikutinya kekamar." Irma menyadarkan Imel.


"Dia mau ngapain nyuruh aku ke kamar ya Irma."


"Mana saya tahu nona, yang jelas nona harus kesana sekarang, nanti kalau nona kelamaan, tuan bisa marah."


"Iya, aku akan menyusulnya." ujarnya ragu mengikuti Qian dibelakang.


Melihat punggung kokoh Qian yang dibalut jas hitam saja membuat Imel takut.


"Semoga saja dia tidak berbuat macam-macam." doa Imel dalam hati.


Kamar Qianu terletak dilantai dua, saat tiba didepan sebuah pintu, Qian menghentikan kakinya.

__ADS_1


"Buka." perintahnya.


"Harus aku juga yang membuka pintu." sempat-sempatnya Imel protes dalam hati sebelum maju kedepan dan membuka pintu besar berwarna coklat tua tersebut.


Begitu pintu terbuka sempurna, Imel bisa melihat apa yang terdapat didalam ruangan yang merupakan kamar Qian, kamar yang begitu luas dan mewah dan didominasi oleh warna hitam dan abu-abu, benar-benar warna yang menggambarkan kepribadian pemiliknya, suram dan mencekam.


"Minggir." Qianu mendorong lengan Imel saat Imel hanya terpaku saking takjubnya menatap kamar Qian.


Tubuh Imel terdorong kesamping, tapi untungnya dia tidak sampai jatuh karna dia berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya.


Karna tidak dipersilahkan untuk masuk sehingga Imel hanya bisa berdiri mematung ditempatnya.


"Kamu kenapa masih berdiri seperti patung selamat datang disana hah." bentak Qian.


Tidak ingin Qian kembali membentaknya, Imel dengan langkah cepat memasuki kamar Qian.


"Tutup pintu."


"Tutup pintu." ulang Imel gemetaran, dia semakin yakin kalau Qian akan macam-macam kepadanya.


"Apa yang kamu tunggu, cepatan tutup pintunya." bentak Qian tidak sabaran.


"I...iya."


Setelah pintu tertutup.


"Lakukan tugasmu sebagai istri."


"Tu...tugas, tugas apa." Imel fikir tugas yang dimaksud adalah melayani kebutuhan Qian sebagai seorang laki-laki.


"Dasar gadis bloon." rutuk Qian, "Aku mau mandi, lepaskan jas dan kemejaku, badanku terasa lengket."


"I….iya."


Imel mendekat ragu, tangannya gemetar saat mencoba melepaskan jas yang dikenakan oleh Qian.


Begitu pakaain bagian atas Qianu tanggal semua, Imel bisa melihat dada bidang laki-laki itu, ditambah lagi perutnya yang kotak-kotak yang sering lihat difilm-film, reflek Imel menelan ludahnya.


"Siapkan air hangat sana dengan aroma therapi, aku mau berendam." ujar Qian tidak memperhatikan raut wajah Imel.


"Iya." Imel bergeges menuju kamar mandi, melakukan apa yang diperintahkan oleh Qian, mengisi bathub dengan air panas dan memberi minyak dengan aroma yang diminta oleh Qianu.


"Syukurlah dia hanya mau mandi, aku fikir dia akan macam-macam."


Imel berbalik saat didengarnya suara langkah mendekat ke arahnya, reflek saja dia menoleh dan menemukan Qian yang kini hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, dan tanpa peringatan Qian meloloskan handuk tersebut dari pinggangnya, hal tersebut tentu saja membuat Imel kaget dan membuang pandangannya saat matanya dengan sangat jelas melihat aset berharga milil Qian, jantung Imel rasanya sudah mau copot saja.


"Apa sieh yang dia lakukan, main telanjang saja didepan orang, dia tahu gak sieh, apa yang dia lakukan itu tidak baik untuk kesehatan jantung gue, untung gue gak punya riwayat penyakit jantung seperti papi."


"Pijit kepalaku." perintah Qian yang kini sudah masuk ke bathub.


"Mmm iya." 


Imel mulai memegang kepala Qian dan melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya tersebut.


Sepertinya Qian menikmati pijitan dari tangan Imel, tanpa sadar itu membuatnya terlelap dan mendengkur halus.


"Astaganaga, dia tidur lagi, terus mau sampai kapan aku mijitin kepalanya, masak sampai besok sieh, bisa pegal tanganku." protes Imel dalam hati saat melihat Qian memejamkan matanya.


"Mmmm, kak." setelah setengah jam, Imel yang tangannya terasa pegal-pegal berusaha untuk membangunkan Qian dengan sangat hati-hati, takutnya Qian marah lagi.


"Kak Qian." Imel sampai menowel pipi Qianu karna Qian tidak mau bangun juga.


Barulah Qian menggeliat dan menemukan Imel diatas kepalanya.


"Gila, berguna juga gadis manja ini, pijitannya sampai membuat aku terlelap." pujian yang hanya dia lontarkan dalam hati.


"Kamu keluar, aku mau membersihkan diri." 


"Baik." 


Saat Imel berjalan menuju pintu keluar kamar mandi,  Qian kembali memanggilnya.


"Bawakan teh untukku, aku mau, kamu sendiri yang membuatnya."


"Baik." jawab Imel ragu, pasalnya dia belum pernah membuat teh sebelumnya.


****


Saat Qianu sudah keluar dari kamar mandi, dia menemukan Imel berdiri menunggunya, tangan gadis itu membawa nampan berisi teko dan cangkir teh.


"Ini tehnya kak, saya letakkan dimeja ya." Imel dengan cepat meletakkan teko dan cangkir tersebut diatas meja karna dia ingin buru-buru keluar dari kamar suram itu, rasanya dia tidak tahan berada lama-lama didekat Qianu.


"Saya permisi kak." pamit Imel dengan pedenya.


"Siapa yang menyuruh kamu pergi, duduk." 


Karna tidak punya pilihan lain, Imel terpaksa harus menurut.


Qian duduk disamping Imel dan meraih remote untuk menyalakan TV, dilayar tipis tersebut menayangkan sebuah berita tentang pasar saham.


"Kamu disini bukan untuk jadi patung."


"Ohh iya." mengerti maksud Qian, Imel menuangkan teh untuk Qian dan menyerahkannya.


Byurrrrr


Begitu cairan berwarna coklat itu berpindah ke mulutnya, Qianu langsung menyemburkannya, karna Qian merasakan teh tersebut pahit dilidahnya.


"Ya Tuhan, pasti dia marah sama aku, apa aku salah ya memasukkan takaran gulanya." Imel mencicit ketakutan, apalagi saat Qianu mentapnya dengan matanya yang tajam.


*****

__ADS_1


__ADS_2