
Wanita yang entah Imel tidak tahu namanya itu sejak tadi terus memuji Imel, Imel sieh udah biasa mendapatkan pujian, tapi kalau tiap satu menit sekali dilontarkan oleh orang yang sama lama-lama bosan juga dia mendengarnya.
Setelah selesai merias wajah Imel, seorang wanita yang Imel yakini adalah karyawan disalon kecantikan itu mendatangi mereka dan membawa sebuah gaun berwarna pink pucat dan menyerahkannya pada wanita yang mendandani Imel.
"Sekarang nona, nona silahkan ganti pakaian nona dan kenakan gaun indah yang akan tambah mempercantik tampilan nona." sik wanita menyerahkan gaun tersebut pada Imel.
"Ini sebenarnya mau ngapain sieh, dibawa salon kecantikan dan didandani, sekarang disuruh pakai gaun segala lagi, jangan bilang ini mau ke pesta nikahan." batin Imel yang dipenuhi oleh rasa penasaran.
"Ayok nona cantik diganti pakaiannya, jangan membiarkan tuan Qianu menunggu, nanti laki-laki tampan itu bisa ngamuk." bisik wanita itu ditelinga Imel.
Membenarkan apa yang dikatakan oleh wanita barusan membuat Imel buru-buru masuk ke ruang ganti.
Lima menit kemudian, Imel keluar dan memperlihatkan penampilannya pada Qianu, namun Qianu yang sibuk dengan ponselnya tidak memperhatikan saat Imel keluar.
"Tuan." tegur sik wanita yang membuat Qianu mendongak dan pandangannya langsung bersitatap dengan mata bulat dan cantik milik Imel, untuk sesaat Qianu sempat terpaku melihat betapa cantiknya putri dari Satya Cahya Abadi, laki-laki yang telah menghancurkan keluarganya, perempuan yang kini telah berstatus sebagai istrinya yang dia nikahi karna ingin balas dendam, seandainya saja Imel bukan anak dari Satya Cahya Abadi, mungkin Qianu akan beneran cinta sama gadis yang saat ini berdiri anggun dihadapannya, namun sayangnya, dendam menutup hatinya dari yang namanya cinta.
"Tuhkan nona, tuan Qianu terpesona dengan kecantikan nona." sik wanita berbisik.
Dalam hati Imel menjawab, "Emang gue peduli dia terpesona apa gak."
"Bagaimana tuan, apa anda menyukai hasil kerja saya." tanya sik wanita berharap mendapat pujian.
Qianu tersadar dari keterpanaannya, dia mencoba mengembalikan wajahnya ke mode datar, "Hmmm." gumamnya tanpa ekpresi.
Qianu bangkit dari duduknya dan memberi perintah, "Kita berangkat sekarang."
__ADS_1
Dia kemudian berjalan duluan, Imel mengikutinya dibelakang.
"Terimakasih tuan dan nona telah berkunjung ke salon kami." Imel bisa mendengar suara sik wanita pemilik salon yang turun langsung mendandaninya barusan.
Begitu mereka tiba didepan mobil, Hugo langsunh sigap membuka pintu untuk majikannya.
"Terimakasih Hugo." imbuh Imel tersenyum tipis untuk menghargai apa yang Hugo lakukan meskipun itu memang sudah menjadi tugasnya.
"Sama-sama nona."
"Gadis ini terlalu ganjen, dia tersenyum kepada setiap laki-laki."
"Jalan Hugo."
"Baik tuan."
"Turun." perintah Qianu saat melihat Imel hanya memperhatikan orang-orang yang berseliweran dari jendela mobil.
Melihat pesta-pesta seperti ini, Imel jadi teringat sama papinya, dulu semasa papinya masih sehat, dia tidak pernah absen untuk mengajak Imel untuk ikut ke setiap pesta yang papinya datangi dan memperkenalkannya dengan bangga didepan rekan bisnisnya, meskipun Imel tidak pintar dan memiliki otak pas-pasan dan tidak pernah membanggakan papinya dalam bidang akademik atau mendapat prestasi dibidang lainnya, tapi papi Satya selalu membanggakan putrinya dan selalu mengatakan betapa beruntungnya dia punya anak seperti Imel, mengingat papinya, Imel jadi sedih, dia kangen sama papinya, sudah beberapa hari ini dia tidak pernah pergi ke rumah sakit menjenguk sang papi, entah bagaimana kabarnya Imel tidak tahu karna Qianu sama sekali tidak mengizinkannya untuk menjenguk papinya, dan Imel harus menuruti apa yang diperintahkan oleh Qianu kalau dia tidak mau pengobatan papinya dihentikan, dan Imel tidak mau hal itu sampai terjadi, Imel ingin papinya bisa sehat seperti sediakala agar mereka bisa bersama-sama kembali.
"Kamu mau melamun seperti itu atau ikut masuk denganku kedalam." ujar Qianu dengan suara tajamnya yang menyadarkan Imel.
"Ehh iya." Imel tersadar dan buru-buru menyusul Qianu.
Saat tiba didalam sudah banyak para tamu yang berdatangan, seorang laki-laki yang menggandeng wanita berjalan mendekati mereka, sepertinya dua orang itu adalah pasangan pasutri, mereka sudah berumur tapi masih tampak mesra dan romantis, bikin orang yang melihatnya iri saja, bahkan Imelpun merasa iri dengan keromantisan pasangan tersebut, dia berharap suatu saat nanti akan menemukan pasangan hidup yang cocok, yang mencintainya dan menyayanginya dan tentunya akan menemaninya sampai rambutnya ubanan bahkan sampai maut memisahkan, membayangkan hal tersebut membuat Imel jadi senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Pasangan pasutri itu tampak tersenyum kepada Qianu.
"Tuan muda Barata, selamat datang, selamat datang dirumah kami yang sederhana ini." sambut sik laki-laki itu tampak ramah dan merendah.
"Terimakasih tuan Markus, senang bertemu dengan anda." sapa Qian menyalami laki-laki tua itu.
"Saya dan istri saya yang seharusnya berterimakasih karna tuan muda Barata berkenan menghadiri pesta ulang tahun pernikahan kami sekaligus untuk mengumumkan cucu kami sebagai pewaris perusahaan yang telah saya rintis dari nol, saya harap, meskipun perusahaan telah berganti pemimpin, perusahaan kita akan tetap menjalin hubungan kerjasama yang saling menguntungkan."
Qianu tersenyum datar menggapi ucapan laki-laki yang bernama tuan Markus yang merupakan rekan bisnisnya, "Tentu saja tuan Markus, berganti pemimpin, bukan berarti hubungan kerjasama yang telah kita bangun akan terputus bukan."
"Iya anda benar tuan muda Barata."
"Oh ya, kenalkan, wanita cantik ini adalah istri saya, Karen, wanita yang saya nikahi 50 tahun yang lalu." laki-laki tua yang bernama Markus tersebut memperkenalkan wanita yang menggandeng tangannya itu dengan bangga.
"50 tahun yang lalu, busett, berarti ini adalah ulang tahun emas pernikahan mereka, mereka yang menjalani kisah cinta selama itu, malah gue yang baper, akankah gue menemukan laki-laki yang mencintai gue seperti opa Markus yang mencintai oma Karen." wanitakan memang begitu, baperanlah orangnya karna selalu membawa-bawa perasaan.
"Halo nyonya, senang bertemu dengan wanita secantik anda." Qianu meraih tangan Karen dan mengecup punggung tangan wanita yang merupakan rekan istrinya.
Karen tersenyum manis, "Kamu bisa saja."
"Gue gak mau dikenalin juga nieh, cuma dianggurin doank." batin Imel karna dicuekin sejak tadi.
"Dan siapa wanita muda dan cantik yang ada disamping anda tuan Barata, apakah dia pacar anda." tanya Markus karna dia tidak tahu kalau Qianu sudah menikah.
"Dia adalah...." Qianu terdiam sesaat, dia tidak mungkin memperkenalkan Imel sebagai istrinya, karna niatnya menikahi Imel hanya balas dendam doank, "Saudara sepupu saya."
__ADS_1
"Perkenalkan tuan dan nyonya, saya Imel, saudara sepupu tuan Qianu." Imel memperkenalkan dirinya secara resmi dan menjabat tangan tuan Markus dan nyonya Karen.
***