MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
PERTEMUAN BISNIS


__ADS_3

Qianu tersenyum menanggapi ucapan Nuri, "Terimakasih ya, karna kalian bersedia untuk menjaga istri saya."


"Sama-sama kak."


"Mel, aku berangkat ke kantor dulu, kamu baik-baik ya, kalau terjadi apa-apa, telpon aku." Qianu berpesan kepada sang istri.


Imel mengangguk, "Iya kak."


Entah dorongan darimana sehingga tiba-tiba Qianu mendekat dan mencium kening Imel dengan mesra, hal itu membuat Imel terkejut, namun dia hanya diam saat bibir Qianu menyentuh keningnya, sedangkan ketiga sahabat Imel pada heboh, tentunya dalam hati mengingat mereka tidak mungkin menjerit didepan Qianu, sebagai gantinya mereka senyum-senyum penuh arti deh.


Qianu kemudian menarik bibirnya dari kening Imel, tangannya yang kini mengelus pipi lembut Imel, "Oke, aku berangkat." ujarnya dengan suara lembut.


Imel yang masih tidak menyangka Qianu melakukan hal tersebut hanya mengangguk sampai kemudian Qianu kembali memasuki mobil.


"Akhhhh."


Terdengar suara teriakan nyaring dari ketiga sahabatnya Juli, Imel yang dicium, mereka yang jadi baper.


"Astaga Tuhan, apa itu tadi." heboh Nuri.


"Duhhh, manis banget gak sieh kak Qianu, sumpahlah jadi iri gue." sahut Juli.


"Imel yang diromantisin malah gue yang jadi baper." sambung Gebi.


"Apaan sieh lo pada lebay deh."


"Mell nih ya gue kasih tahu, lainkali kalau mau romantis-romantisan, jangan ditempat umum kayak gini donk, elahh, lo bikin yang jomblo iri saja."


"Makanya nikah sono, mau ngapa-ngapainkan halal jadinya, dimana-mana juga bebas.."


"Ogahlah yaww, guekan ingin menikmati masa muda gue dulu kali."


"Ngapain iri sieh kalau gitu, gak jelas lo ya."


Bertepatan dengan itu, suara bell berbunyi yang membuat mereka memutuskan untuk masuk.


*****


Saat ini Qianu tengah melakukan pertemuan bisnis dengan perusahaan yang dipimpin oleh Altan, perusahaan milik papa Altan memang sudah lama menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan milik papinya Imel sampai pada akhirnya perusahaan tersebut diambil alih oleh Qianu sedangkan kini karna papa Altan sudah tidak sanggup memimpin perusahaan sehingga perusahaan diwariskan kepada putranya yaitu Altan.


Pertemuan tersebut dilakukan disebuah restoran mewah, kedua pemimpin perusahaan tersebut memilih privite room agar pembicaraan mereka tidak terganggu, Qianu ditemani oleh sekertarisnya begitu juga dengan Altan, mereka membicarakan tentang kerjasama sebuah proyek yang saat ini akan mereka tangani.


Selama pertemuan itu, Altan sangat berusaha mengendalikan dirinya supaya tidak bangkit dan menerjang ke arah Qianu untuk memberikan pukulan pada pipi laki-laki itu, dia teringat dengan cerita Agnes yang menceritakan kalau Qianu sering menyiksa Imel.

__ADS_1


"Aku akan merebut Imel darimu Qianu, lihat saja nanti." batinnya mengepalkan tangannya, "Aku akan membuat Imel bahagia." janjinya.


"Sial." Qianu mengumpat dalam hati, "Kenapa aku harus berurusan dengan laki-laki sialan ini, kalau kerjasama ini tidak memberikan keuntungan besar untuk perusahaanku, aku sudah pasti membatalkan kerjasama ini." Qianu sangat gusar, apalagi saat mengingat foto Imel yang tengah tersenyum bahagia dengan laki-laki yang ada didepannnya saat ini.


Dan setelah pembicaraan tentang bisnis kelar, sebelum kembali keperusahaan masing-masing, mereka menikmati makan siang terlebih dahulu, para sekertaris yang masing-masing mendampingi boss mereka sieh bicara santai dan akrab, tapi boss masing-masing perusahaan yang terlihat tegang sehingga menciptakan atmosfer yang tidak enak, dan hal tersebut bisa dirasakan oleh masing-masing sekertaris dari kedua belah pihak, hal tersebut tentu saja membuat para sekertaris menanyakan hal yang sama dalam benak mereka masing-masing, kira-kira apa yang terjadi dengan boss mereka sehingga mereka menampakkan aura permusuhan yang begitu tampak jelas, padahal kedua perusahaan tersebut sudah bertahun-tahun menjalin kerjasama.


"Bagaimana kabar Imel Qianu." disela-sela suapannya Altan bertanya.


Masing-masing sekertaris tentunya saling melempar pandangan satu sama lain saat Altan menanyakan tentang Imel, mereka bertanya-tanya, siapakah Imel yang dimaksud.


"Saya rasa anda tidak perlu tahukan keadaan istri saya." jawab Qianu tajam untuk memberitahu kalau Imel itu adalah miliknya yang tidak bisa diganggu gugat.


Arya yang merupakan sekertaris Altan bergumam dalam hati, "Lho, kenapa tiba-tiba pak Altan bertanya tentang istrinya pak Qianu, memangnya pak Altan kenal dengan istri pak Qianu."


"Gak ada salahnyakan kalau saya menanyakan tentang teman saya."


Qianu terlihat mendesah gusar, tapi pada akhirnya dia menjawab, "Istri saya sangat baik-baik saja, sangat baik malah karna dia saya limpahkan dengan kasih sayang."


"Oh ya, benarkah itu."


"Jadi Altan, saya harap anda tidak usah menyebut-nyebut tentang istri saya, istri saya bukanlah bagian dari kerjasama, saya harap anda fokus pada proyek kerjasama kita." tegas Qianu tidak bisa dibantah.


Altan akhirnyapun terdiam dan tidak membahas tentang Imel lagi dan melanjutkan makannya, begitu juga dengan Qianu, meskipun begitu Qianu masih merasa sangat kesal dengan Altan, dia tahu rekan bisnisnya itu menyukai Imel, dan tentu saja dia tidak menyukai akan fakta tersebut, hal tersebut ingin membuatnya melenyapkan Altan dari muka bumi ini.


****


"Kak Agnes." gumam Imel melihat gadis yang merupakan wanita yang sudah dianggap seperti adik sendiri oleh suaminya.


"Mell, siapa wanita cantik itu, dia melambai ke arah lo tuh, lo kenal emang sama dia." Juli yang berada disamping Imel bertanya karna kebetulan mereka keluar bareng, sedangkan Nuri masih ada urusan.


"Itu Agnes, putri dari sahabatnya almarhum papanya Qianu." jelas Imel.


"Ehh dia manggil tuh, samparin gieh sana.%


"Baiklah gue kesana dulu." Imel menyebrang untuk menemui Agnes yang menunggunya diseberang jalan, sedangkan Juli berjalan ke arah adiknya yang tengah menunggunya.


"Hai Mel, baru pulang sekolah." sapa Agnes basa-basi dan sok ramah, padahal dalam hatinya sieh kesal parah sama Imel.


"Iya, ini baru saja pulang."


"Kamu ngapain disini."


"Jemput kamu." jawab Agnes.

__ADS_1


"Jemput aku." ulang Imel tidak percaya.


"Iya."


"Aku mau ngajak kamu jalan-jalan, maukan Mel."


"Tapi..."


"Kamu tenang saja, aku sudah izin kok sama Qianu, dan suami kamu itu mengizinkan."


"Benarkah."


"Iya."


"Jadi Imel, daripada buang-buang waktu, mending cepetan masuk gieh ke mobil."


Tanpa rasa curiga sedikitpun Imel mengangguk dan masuk ke mobil, Imel membuka pintu penumpang dibelakang, namun dicegah oleh Agnes.


"Mell, duduk didepan, aku bawa mobil sendiri, ntar kalau kamu duduk dibelakang nanti aku dikira sopir lagi."


"Kamu bawa mobil sendiri." ulang Imel heran.


"Iya, emang kenapa."


"Kenapa kamu tidak minta sopir yang nganterin."


"Duh ngapain sieh, lagian aku senang kok bawa mobil sendiri, bebas gitu mau kemana saja." alibinya.


"Ohh begitu."


"Ayok masuk Mell."


Saat berada didalam mobil, Imel bertanya, "Ini kita mau jalan kemana."


"Ke mall aja gimana, mau gak."


"Iya."


Mobil meluncur dengan mulus dijalan raya, Imel masih duduk dengan tenang, sampai tiba-tiba jalan mobil agak tersendat-sendat, menyadari apa yang terjadi, Agnes segera menepikan mobil agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lainnya.


"Ini kenapa."


"Mogok." jawab Agnes sambil lalu dan membuka pintu mobil, gadis itu berjalan kedepan untuk memeriksa apa yang terjadi.

__ADS_1


*****


__ADS_2