MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
MELIHAT MATAHARI TERBENAM


__ADS_3

Dibawah latar belakang warna orange Imel berpose cantik dan imut, membuat Qianu yang mengambil foto tersebut menjadi gemes dibuatnya.


"Bagus gak kak hasilnya." tanya Imel setelah beberapa kali mengambil gambar.


"Hmm." Qianu hanya bergumam.


Imel mendekat ke arah Qianu untuk melihat hasil gambar yang diambil oleh Qianu dan memuji hasil jepretan suaminya itu, "Bagus kak, ahh kakak sepertinya berbakat untuk jadi potografer, apa kakak tidak tertarik gitu jadi potografer."


"Gak." jawab Qianu cepat, dia begitu sangat sibuk sehingga dia benar-benar tidak memiliki ide untuk mencari pekerjaan sampingan, lagian ngapain dia harus bekerja sampingan kalau dengan penghasilannya yang sekarang dia menjadi orang yang kaya raya dan bisa membeli apapun yang dia inginkan.


"Kak Qianu." panggil Imel yang membuat Qianu reflek menoleh ke arah kamera dan Imel dengan cepat menekan tombol kamera untuk mengambil gambar saat Qianu menoleh ke arah kamera.


"Bagaimanapun ekpresinya, yang namanya orang ganteng tetap kelihatan ganteng." puji Imel dalam hati saat melihat hasil jepretannya.


"Aku jadiin walpafer ponsel aku deh." dia kemudian mengganti tampilan depan ponselnya dengan gambar yang dia ambil bersama dengan Qianu.


"Ehh kak." Imel reflek menarik tangan Qianu dan membawanya ke tepi pantai, Qianu ikut melangkah tanpa protes, "Mataharinya sudah mau tenggelam tuh."


Imel mengarahkan kamera ponselnya untuk merekam detik-detik saat matahari akan terbenam diufuk barat, "Cantik ya kak." Imel tersenyum lebar, hari ini dia sangat bahagia, dan itu karna Qianu.


Melihat senyum wanita yang dia cintai membuat hati Qianu menghangat, dia ikut bahagia melihat Imel bahagia, dan saat ini, menurut Qianu, Imel begitu sangat cantik dengan rambut berantakannya yang diterbangkan oleh angin pantai, hal itu membuat Qianu tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Imel, sampai Imel menoleh ke arah Qianu.


Qianu buru-buru menatap ke arah depan saat dirinya kpergok menatap Imel, Imel tersenyum melihat tingkah sang suami, "Aku cantik ya kak sampai kakak tidak bisa mengalihkan pandangan kakak dariku." Imel menggoda.


"Geer kamu, yang bilang kamu cantik siapa." Qianu gak mau ngaku, dia gengsian orangnya.


"Dihh kak Qianu gak mau ngaku lagi, bikin aku gemes."


"Kamu sudah selesaikan melihat matahari terbenamnya."


"Ehh iya, kan mataharinya sudah terbenam gak ada yang perlu dilihat lagi."


Tanpa berkata apa-apa lagi, Qianu berbalik dan berniat masuk ke villa, Imel berlari menyusul Qianu.


"Kak, tunggu donk, main tinggal aja."


*****

__ADS_1


Vila milik Qianu begitu sangat nyaman dengan suasana tenang karna posisinya berada didekat pantai, suara deburan ombak menjadi musik alam yang membuat siapapun tenang saat mendengarnya.


Qianu sering menghabiskan waktunya divilla tersebut saat merasa jenuh dengan semua rutinitas melelahkan yang dia lakukan selama enam hari, dan berada ditempat ini selalu membuatnya mendapatkan ketenangan, dan saat ini, dia ke villa ingin menghabiskan waktu berdua dengan wanita yang dia cintai.


"Kak Qianu, makan malam sudah siap." beritahu Imel setelah menata makanan seadanya dimeja makan, dia membuat omlet dengan bahan-bahan seadanya yang terdapat dikulkas.


Dua kali sehari, ada orang yang ditugaskan untuk membersihkan villa tersebut, karna Qianu sangat jarang berada disana sehingga tidak heran, dikulkas tidak terdapat banyak bahan makanan yang bisa ditemukan.


Qianu yang saat ini tengah sibuk dengan ponselnya berdiri saat mendengar panggilan dari Imel dan bergegas ke meja makan, bau harum omlet buatan Imel menusuk sampai hidunganya dan itu membuat perutnya berontak hebat minta diisi, tadinya dia ingin memesan makanan, tapi Imel mencegahnya, dengan mengatakan kalau dia akan membuat makan malam dengan bahan-bahan yang ada dikulkas, Imel yang awalnya tidak bisa masak karna terbiasa dimasakin dan dilayanin, sejak menikah kini dia menjadi mahir memasak, dan dari makanan yang tidak layak dikonsumsi kini menjadi sangat enak dan menggugah selera orang yang melihatnya.


"Ayok kak duduk." Imel menarik kursi untuk Qianu.


Sementara Imel duduk dikursi yang berhadapan dengan Qianu, karna lapar, Imel langsung menyantap omlet bikinannya, "Hmmm." Imel memejamkan mata menikmati lezatnya omlet bikinannya saat berpindah dimulutnya, "Enak banget sumpah, aku tidak pernah menyangka kalau aku akan sejago ini masaknya." Imel memuji diri sendiri.


Qianu hanya menggeleng melihat tingkah sang istri, menurut Qianu, omlet itu memang enak sieh, tapi gak selebay itu juga kali ekpresinya.


"Menurut kak Qianu, kalau aku ikut kontes memasak yang ada ditv itu, aku akan menang gak."


"Rasa masakan standar begini saja kamu pakai gaya-gayaan ikut acara masak begitu." udah gengsi muji masakan Imel, ini malah menghina lagi, benar-benar deh Qianu ini bikin mood orang jadi jelek saja dia itu.


Kata-kata Qianu itu melemahkan semangat Imel saja, "Padahal masakanku enak kok menurutku, tapi dibilang standar sama dia, apa lidahnya kali ya yang bermasalah."


Setelah selesai menyantap makan malam yang ada kadarnya tapi enak, Imel membawa piring-piring kotor ke westafel untuk dicuci, sedangkan Qianu kembali keruang tamu.


Setelah selesai melakukan tugasnya, Imel menemui Qianu diruang tamu, dia ikut duduk disofa dan ikut nonton TV, saat ini layar televisi tengah menayangkan siaran bola luar negeri, wanita seperti Imel mana mengerti tentang bola, makanya hanya dua menit kemudian, dia sudah menguap.


"Kalau kamu ngantuk, tidur sana." ujar Qianu saat melihat Imel menguap.


"Hmm." Imel berdiri bersiap untuk ke kamar, namun saat dia akan melangkahkan kakinya, dia mengurungkan niatnya itu dan mengajukan pertanyaan kepada Qianu, "Kak Qianu, kita kapan pulangnya, besok aku sekolah lho, kakak juga besok kerjakan."


"Kamu bisa sekolah kalau aku suruh, dan aku akan bekerja kalau aku mau." jawabnya acuh tak acuh dengan pandangan tetap fokus pada televisi.


"Jadi besok aku gak sekolah gitu kak."


"Hmm."


Imel sieh tidak terlalu mempusingkan apakah dia sekolah atau tidak, toh kemampuan otaknya cuma segitu doank gak pinter-pinter dia, tapi ya sekolah menjadi semacam hiburan untuknya karna disekolah dia bisa bahagia dan bertemu dengan teman-temannya.

__ADS_1


"Lebih baik aku nitip izin sama Nuri dan Juli." gumamnya tanpa suara dan melanjutkan niatnya menuju kamar utama yang ada divilla milik suaminya.


Imel mengeluarkan ponselnya dari kantong celana training milik Qianu yang saat ini tengah dia kenakan, dia mulai menulis pesan digroup chat untuk memberitahukan sahabat-sahabatnya kalau besok dia tidak bisa masuk sekolah.


Imel : Izinin gue donk besok ya, gue gak masuk nieh.


Nuri : Kenapa, gak mungkin lo sakitkan


Juli : Secara lo udah bertemu dengan obatnya


Imel : Gue gak sakit, gue lagi bahagia malah


Nuri : Bahagia kenapa tuh, lo habis begituan sama kak Qianu


Imel : Ya gaklah, lo itu ya Nur, ngeres terus deh fikiran lo, orang bahagia dikit selalu deh dihubungin dengan hal itu


Juli : Terus kalau lo gak sakit dan saat ini lo lagi happy, kenapa lo gak masuk Cahyo, lo itu udah bodoh, dan gak masuk malah tambah bodoh lo


Imel : Sialan lo Jul


Nuri : Ehh Cahyo, kenapa lo gak bisa masuk besok


Imel : Gue lagi jauh dari kota soalnya, dan suami gue gak ngizinin gitu gue masuk sekolah besok.


Nuri : Elo ada dimana sieh sebenarnya


Imel : Di Villa milik suami gue, tempatnya indah dan keren banget dah, dekat pantai, gue juga tadi sempat lihat matahari terbenam dari bibir pantai lho.


Imel menginformasikan berharap sahabat-sahabatnya bakalan iri dengannya.


Juli : Lo berada divilla dekat pantai sekarang Mel, duhh pasti seru banget deh disana dengan debur ombak sebagai pengantar tidur.


Imel : Emang seru banget, ntar deh kapan-kapan ya gue ajakin lo pada kemari, yang terpenting sekarang adalah, besok lo izinin gue, terserahlah lo pada ngasih alasan apa sama pak Rafi.


Nuri : Kalau minta izin sama pak Rapi mah gampang itu, secara itu bapaknya sik panjull.


Ledek Nuri.

__ADS_1


Juli : Bapak lo juga Nurdin.


*****


__ADS_2