
Saat itu Imel tengah duduk disamping papinya, gadis itu tidak pernah meninggalkan sisi papinya, gadis itu terus meratap dan dan menangis didepan tubuh papinya yang terbaring.
"Papi, jangan tinggalkan Imel ya, Imel tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini, kalau papi ninggalin Imel, Imel sama siapa coba, Imel akan sebatang kara pi, emang papi tega membiarkan Imel hidup sendirian." keluhnya sambil memegang tangan papinya yang terasa dingin.
"Cepat sembuh ya papi kesayanganku, Imel rindu senyum papi." Imel mencium tangan papinya.
Tiba-tiba, ruangan tempat papinya dirawat terbuka, beberapa orang dokter masuk ke ruangan tersebut, Imel berfikir kalau dokter-dokter itu akan memeriksa kondisi papinya sehingga Imel menyingkir untuk memberikan ruang, namun ternyata Imel salah, dokter-dokter itu bukannya memeriksa kondisi papinya, yang mereka lakukan adalah mencabut alat-alat bantu yang menunjang kehidupan papinya selama beberapa hari ini.
"Apa yang kalian lakukan." teriak Imel mendekati para dokter tersebut, "Kenapa kalian melepaskan selang-selang itu dari tubuh papiku, papiku butuh itu untuk bertahan hidup."
Mendengar jeritan Imel, untuk sesaat para dokter tadi menghentikan aktifitas mereka dan salah satu dari mereka mencoba untuk menjelaskan.
"Maafkan kami nona, kami harus melepaskan alat-alat bantu yang menunjang kehidupan pasien karna anda tidak sanggup membayar biaya tagihan rumah sakit yang sudah membengkak."
Iya, karna bangkrut, Imel tidak bisa membayar biaya rumah sakit, Imel tidak punya keluarga sehingga dia tidak punya siapapun untuk membantunya, Damar memang membantu, tapi ya karna dia memiliki keterbatasan, Damar hanya membantu sebisanya saja.
"Ya Tuhan, saya mohon dokter, jangan lakukan itu, papi saya harus hidup." Imel menghiba dengan air mata yang mengalir deras.
"Maaf nona, tidak bisa, kami hanya menjalankan kebijakan dari rumah sakit." jawab sik dokter dan kembali melakukan apa yang sempat tertunda barusan.
"Dokter jangan, saya mohon dokter." Imel berusaha mencegah dokter-dokter itu dengan menahan tangan mereka, "Kasihanilah kami dokter, saya berjanji, saya akan berusaha mencari uang untuk membayar biaya rumah sakit papi saya." Imel memohon, air matanya mengalir deras, kalau alat-alat bantu itu dilepas, bisa dipastikan papinya tidak akan bertahan.
"Jangan lepaskan alat bantu kehidupan papi saya, dia bisa mati, tolong kasih saya waktu."
"Tidak bisa nona, anda sudah...."
Sik dokter belum menyelsaikan ucapannya saat pintu ruangan tersebut kembali terbuka, kali ini yang datang adalah Qianu, dibelakangnya berdiri lima orang pengawal yang semuanya berbaju hitam, wajah laki-laki yang selalu menampakkan wajah datar itu melangkah masuk, sementara Imel dan para dokter terpaku melihat laki-laki yang baru datang tersebut.
__ADS_1
"Dia...." gumam Imel dalam hati, tentu saja dia ingat sama laki-laki itu, laki-laki yang pernah memakaikan jaketnya ditubuh Imel saat dirinya diturunkan ditengah jalan oleh Rio, Imel tentu saja tidak akan lupa wajah laki-laki itu mengingat dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, dan pada saat itu, wajah Qian terlihat begitu hangat dan lembut, tidak sedingin sekarang yang memancarkan aura menakutkan, "Bukankah dia laki-laki yang waktu itu memakaikan jaketnya ketubuhku, dia ngapain disini." heran Imel.
"Tuan Qianu." para dokter tersebut ternyata mengenali Qian dan terlihat menghormati Qian.
"Kamu putrinya Satya Cahya Abadikan, Imelda Cahya Abadi." ujar Qianu menatap Imel tanpa mengindahkan sapaan para dokter.
Makin dibuat bingunglah sik Imel sehingga dia bukannya menjawab pertanyaannya Qian dia malah bergumam dalam hati, "Darimana dia bisa tahu, apa dia rekan bisnisnya papi."
"Saya bisa membantu kamu untuk melunasi biaya rumah sakit papi kamu, bahkan saya akan membiayai pengobatannya sampai papi kamu sembuh total asal..."
"Asal apa." potong Imel antusias, wajahnya kini terlihat ceria saking senangnya ada orang baik yang tiba-tiba datang membantunya yang tengah dalam kesusahan, intinya, Imel akan melakukan apapun untuk kesembuhan papinya.
"Asal kamu mau menikah denganku."
"Menikah." ulang Imel tidak percaya dengan bibir menganga.
Tentu saja, salah satu impian Imel adalah menikah, menikah karna dijodohkan dengan laki-laki dingin, tampan dan seorang Ceo, benar-benar dah sik Imel, dia adalah salah satu gadis yang merupakan korban dari novel online, dia fikir kehidupan pernikahan seperti dinovel-novel yang dia baca apa akan seindah dinovel, tapi untuk saat ini, Imel tidak pernah menyangka kalau keinginannya itu akan terwujud disaat seperti ini, disaat keadaannya susah dan papinya terbaring koma.
Tentu saja Imel mau, apalagi laki-laki yang saat ini mengajaknya menikah adalah laki-laki tampan, dingin, dan Imel yakin kalau laki-laki bernama Qianu itu adalah orang kaya, pokoknya tipenya dia bangetlah, ditambah lagi, sejak awal dia memang menyukai laki-laki ini, tapi fikirnya, apa etis menikah disaat kondisi papinya yang seperti ini, Imel ingin papinyalah yang akan jadi wali nikahnya nanti.
Melihat Imel hanya terdiam, Qianu berkata dengan tidak sabaran, "Cabut semua alat bantu yang menunjang kehidupan laki-laki itu." perintahnya dengan suara dinginnya.
Setelah itu, Qianu berbalik dan berniat pergi.
"Jangannnn, jangan lakukan itu aku mohon ." Imel berlari dan menahan lengan Qianu, "Baiklah, aku mau menikah denganmu, asal jangan lepaskan alat bantu kehidupan dari tubuh papiku."
"Bagus, memang itu yang seharusnya kamu lakukan sebagai anak yang baik."
__ADS_1
Dan pernikahan sederhana itupun berlangung didalam ruangan dimana papi Imel dirawat, disaksikan oleh beberapa dokter dan para pengawal Qianu, mereka dinikahkan oleh wali hakim.
Begitu gadis belia yang kini duduk disampingnya sah menjadi istrinya, Qianu tersenyum sinis, "Putrimu juga akan merasakan apa yang telah kamu lakukan kepada keluargaku Satya, dia akan aku buat menderita."
Imel terlihat sedih, sedih karna dia menikah karna papinya, laki-laki yang sangat dia sayangi tidak bisa menyaksikan pernikahannya, dari dulu salah satu harapan dari papinya adalah bisa menyaksikan putri kesayangannya itu menikah.
Imel meraih tangan Qianu dan menciumnya, Imel berharap Qian mencium keningnya layaknya pengantin pada umumnya, tapi sayangnya laki-laki itu tidak melakukan hal itu.
"Kamu sudah resmi menjadi istriku, jadi kamu harus melakukan apapun yang aku perintahkan."
Kata-kata itu terdengar menakutkan bagi Imel sehingga membuatnya bergidik ngeri.
Qian berdiri, dan dengan nada penuh perintah berkata, "Kamu ikut aku pulang sekarang."
"Tapi aku harus jagain papi, kasihan papi tidak ada yang...."
"Kamu berani membantah perintahku hah." suara Qianu meninggi, dia paling tidak suka dibantah.
Imel mencicit ketakutan, ini untuk pertama kalinya dia dibentak seperti itu.
"Kamu ikut pulang denganku atau alat-alat yang telah dipasang oleh team dokter itu kembali dilepas."
"Ya Tuhan, apa sebenarnya maksudnya menikahiku, apa aku benar-benar akan dijadikan sebagai istrinya, kenapa belum apa-apa dia sudah main bentak kayak gini."
"Kenapa kamu masih duduk dan bengong, ayok jalan."
"I iii ya."
__ADS_1
Imel merasa takut dengan Qian, Imel bisa merasakan kalau laki-laki hangat dan baik yang meminjamkan jaketnya waktu berbeda dengan laki-laki yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya itu.
*****